
Jakarta, kemarin.
Setelah mengantarkan Azzam dan keluarganya yang lain ke bandara internasional Soekarno-Hatta, Edward langsung Segera bergegas menuju mansion Ayah Adam.
Dia sengaja tidak memberitahu Agatha tentang kedatangannya ini. Hingga kini dia pun belum memberitahu sang pujaan hati jika dia sudah ada di Indonesia.
Edward pergi seorang diri, sedangkan Jo sudah lebih dulu dia minta untuk pulang ke rumah Azzam.
Beberapa menit di perjalanan, akhirnya dia sampai di sebuah Mansion mewah keluarga Malik. Gerbang tinggi itu terbuka menyambut kedatangannya.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna Edward pun turun, saat ini waktu masih menunjukkan pukul 3 sore. Edward yakin jika Agatha sedang berada di rumah.
Edward masuk dan disambut oleh beberapa pelayan, salah satunya langsung mengantarkan Edward untuk menuju ruang tengah. Di sana ada acil Aida dan amang Yudha yang sedang duduk bersama.
Edward pun menyapa keduanya dan memberi hormat.
"Loh, kamu sudah disini? kata Agatha kamu tidak jadi datang," ucap Aida, sedikit terkejut dengan kedatangan Edward ke rumah ini, pasalnya Agatha sudah pergi sedari tadi pagi untuk menginap di rumah Alesha.
Saat diingatkan tentang Edward yang akan datang Agatha mengatakan jika kekasihnya itu tidak jadi berkunjung ke Indonesia.
"Aku bohong Tante, karena ingin memberinya kejutan," jawab Edward yang mendadak bingung.
Aida dan Yudha terkekeh ketika mendengar ucapan Edward itu. Agatha dibohongi pun dia akan menganggapnya jika itu adalah sungguhan. Bahkan gadis yang beranjak dewasa itu pun sudah bersungut-sungut merasa kecewa lalu memutuskan untuk menginap di rumah Alesha.
Edward terperangah saat mendengar tante Aida mengatakan jika Agatha sudah tidak di rumah.
"Temui dulu om Adam dan tante Haura, Setelah itu kamu bisa menemui Agatha di rumah Alesha," ucapan Aida memberi solusi dan Edward pun menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian Haura dan Adam pun turun dari lantai 2 menemui Edward di ruang tengah lantai 1 Mansion ini.
Di sana mereka berbincang sejenak, membuat Edward tidak lagi canggung ketika berada di tengah-tengah keluarga Malik.
Om Adam yang terlihat begitu menakutkan di matanya ternyata memiliki sikap yang begitu lembut, mengayomi dan begitu berwibawa.
Edward sampai tidak menyangka jika pria ini adalah Ayah dari Azzam, seorang pria yang selama ini selalu ia maki-maki dengan kata brengsek.
Tante Haura pun begitu bersahaja, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya begitu menenangkan bagi siapapun yang mendengarnya.
"Mulai sekarang jangan panggil om dan tante lagi, kamu bisa memanggil kami dengan sebutan ayah dan ibu seperti Agatha," ucap ayah Adam.
Membuat Edward melayang dengan senyum yang terus terkembang, Aida dan Yuda yang melihat itu hanya menahan kekehannya agar tidak jadi tawa, merasa lucu dengan tingkah anak muda zaman sekarang.
"Terlepas nanti kamu dan Agatha berjodoh atau tidak tapi sekarang kita sudah menjadi keluarga," tim pelatih Adam lagi dan Edward menganggukkan kepalanya.
Setelah 1 jam bercengkrama akhirnya Edward pamit untuk menemui Agatha di rumah Alesha.
Ayah Adam dan Ibu Aura juga Acil Aida dan nama Yudha pun mengantar kepergian Edward hingga sampai di teras Mansion.
"Mas, kamu sudah merestui antara Edward dan Agatha?" tanya ada pada sang kakak.
Adam yang ditanya pun tidak langsung menjawab Dia menatap adiknya terlebih dahulu.
"Sekarang apapun pilihan anak-anakku aku akan merestui nya, Jika pilihan mereka salah maka aku akan merangkulnya untuk membantu mereka memilih pilihan yang lain," jelas Adam membuat Haura tersenyum seraya memeluk erat lengan sang suami.
Pun Aida dan Yudha pula yang ikut tersenyum.
Mereka semua sudah menjadi orang tua dan sudah berusaha sebaik mungkin untuk membimbing anak-anaknya agar dapat menjalani hidup dengan baik.
Namun mereka sadar satu hal jika anak-anak mereka pun mempunyai takdirnya sendiri untuk dijalani. Dan baik buruknya itu akan menjadi proses pendewasaan mereka. Seperti yang sudah mereka alami di masa lalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama perjalanan itu Edward mencoba menghubungi Agatha dan untungnya panggilannya langsung mendapatkan jawaban dari gadis diujung sana.
"Halo, Assalamualaikum Bang," Jawab Agatha dengan suaranya yang terdengar lemah, malas-malasan.
"Kamu di mana?" tanya Edward pura-pura tidak tahu, padahal dia terus menekan pedal gasnya menuju rumah Alesha.
"Di rumah Alesha."
"Sudah makan?"
"Tadi sudah, sekarang kan bukan waktunya makan, sebentar lagi aku mau mandi," jawab Agatha apa adanya, memang itulah jadwal yang sudah ia susun rapi. Tiap jam 4.30 sore dia akan mandi.
"Jangan mandi dulu keluarlah sebentar, Aku menunggumu di depan gerbang rumah Alesha."
Mendengar itu kedua netra Agatha langsung membola, dia bahkan langsung bangkit dari tidurnya di atas ranjang.
"Abang di mana?"
"Di depan gerbang rumah Alesha," jawab Edward yakin dan dia pun menghentikan mobilnya tepat di tempat yang baru saja disebut.
"Bohong!"
"Tidak."
"Sumpah!"
"Iya, Keluarnya jangan sampai ketahuan semua orang, mengendap-ngendap lah aku akan menunggu di sini."
"Kenapa begitu? kenapa Abang tidak masuk saja ke sini jika sudah sampai di depan rumah Alesha?"
"Aku tidak membawa apa-apa, aku tadi hanya sempat memberikan oleh-oleh untuk ayah Adam dan ibu Haura. Temui aku sebentar sore ini, nanti malam aku akan kembali datang ke sini menemui Om Agra dan tante Sarah."
"Ya sudah nanti malam saja kita bertemunya, aku takut jika harus mengendap-endap," Jawab Agatha jujur bahkan ketika mengatakan itu dia sudah bergidik merasa takut.
Takut ketahuan oleh Papa Agra dan Mama Sarah, sedangkan Alesha saat ini sepupunya itu sedang mandi. Dan mandi Alesha sangat lama.
Namun Edward langsung mendesah kesal ketika mendengar jawaban Agatha itu, bicara dengan gadisnya ini memang bukanlah perkara mudah.
"Ya sudah kalau tidak mau menemui ku sekarang, aku akan kembali ke Singapura," ancaman Arnold dengan suaranya yang mulai ketus.
"Jangan! Aku kan kangen!" ceplos Agatha tanpa sadar sehingga berhasil membuat senyum Edward kembali muncul di bibirnya.
"Aku tunggu lima menit, jika kamu tidak datang juga aku akan segera pergi dari sini."
Mendengar itu Agatha langsung memutuskan sambungan teleponnya dan berperang dengan waktu. 5 menit keluar dari rumah ini tanpa diketahui semua orang dan berhasil menemui Edward dengan selamat.
"Ya Allah, lindungi hamba," doa Agatha lalu keluar dari dalam kamar dengan mengendap.
Di rumah nampak sepi karena Papa Agra dan mama Sarah pun sedang berada di kamarnya untuk mandi sore. hanya beberapa pelayan yang lalu-lalang. Namun seperti itu saja sudah berhasil membuat Agatha takut.
Sampai Akhirnya dia berhasil keluar dengan jantungnya yang berdegup kencang lalu berlari menuju Gerbang dan membukanya secara perlahan.
Edward yang melihat itu mengulum senyum namun dia tetap diam membiarkan sang kekasih masuk sendiri ke dalam mobilnya.
Brak!
Agatha menutup pintu mobil.