AMARA

AMARA
Pengakuan Reza



"Kak bangun" ucap Maeza membangunkan Amara sembari menggoyangkan Amara agar ia segera bangun.


"....."


Maeza tak mendapat jawaban ataupun respon dari Amara. Ia yang kesal lalu pergi menuju ke luar dan mengadu pada ibunya.


"Mah, ini kakak ngga mau bangun. Cape deh ma udah dibangunin tapi ga bangun-bangun. Mana tidurnya kaya kebo" keluh Maeza pada ibunya.


"Yaudah biar nanti mama yang bangunin. Sekarang kamu mandi dulu biar seger" ucap sang ibu.


Setelah mengatakan itu, ibu Amara pun pergi ke kamar Amara sambil mengambil gayung yang berisi air yang sebelumnya ia sediakan untuk berjaga-jaga ketika Amara yang tak mau bangun.


Saat sampai di depan kasur Amara, ibu Amara pun menggoyangkan pelan tubuh Amara.


"Hei Ra, ayo bangun udah siang nih" ucap ibu Amara.


Setelah menunggu cukup lama namun si ibu tak mendapat respon apa-apa dari Amara, ia pun mengambil air dan mengusapkannya pada wajah Amara. Amara yang kaget karena merasakan sensasi dingin pada wajahnya pun reflek mengumpat.


"Astaga, kamu jangan kaya gitu. Jaga omongan mu" omel ibu Amara sembari meletakkan gayung tersebut di sebuah meja kecil Amara.


"Maaf ma, aku kan kaget" jelas Amara sambil cengengesan.


"Yaudah, cepet rapihkan tempat tidurmu terus mandi" suruh ibu Amara sebelum ia meninggalkan kamar Amara.


Amara hanya mengangguk lalu bergegas membereskan tempat tidurnya lalu pergi mandi. Setelah selesai mandi, ia pun merebahkan , diri di atas sofa sembari memainkan ponsel.


"DEEKKK!!! SINI BENTAR" teriak Amara pada Maeza. Maeza yang tadinya sedang berada di dalam kamarnya pun dengan sangat amat terpaksa.


Setelah berada di hadapan Amara, Maeza pun bertanya padanya.


"Apaan? Ganggu aja sih" tanya Maeza merasa kesal.


"Beliin gue susu kotak dong di warung Bu Sri" ucap Amara dengan enteng sembari mengulurkan tangannya yang menggenggam uang bernilai dua puluh ribu rupiah.


"Lo punya hak apa nyuruh-nyuruh gue?" kesal Maeza pada kakaknya.


"Gue kan kakak lo, jadi ya gue punya hak dong. Secara lo lebih muda dari gue. Lagian tanpa gue lo ga bakal lahir di dunia ini" jelas Amara panjang lebar.


Maeza yang sedari tadi menahan emosinya pun kini terpaksa harus berangkat pergi ke warung Bu Sri untuk membelikan kakaknya susu kotak.


"SISA UANGNYA BOLEH BUAT LO DEH DEK!!" teriak Amara sembari memastikan Maeza agar ia belum pergi ke warung.


Amara pun melanjutkan kegiatannya yang tadi. Ia hanya memainkan ponselnya dan memakan camilan yang ia sediakan.


"Nih susu kotak lo" ucap Maeza sinis sembari memberikan susu kotak tersebut pada Amara.


"Wah, thank you dek. Lop yu".


"Dih, oh iya btw tadi gue ketemu kak Reza. Dia ngasih tau ke gue kalo mau ngajak ketemuan di depan warungnya Bu Sri" ujar Maeza.


"Hah? Jam berapa emangnya?" tanya Amara bingung.


"Gak tau, tapi katanya kakak disuruh telpon kak Reza" jawab Maeza dengan jujur.


Amara pun langsung menelepon Reza. Ia berkata pada Reza tentang apa yang dikatakan oleh adiknya. Setelah mereka selesai bertelepon, Amara pun kini mengetahui di waktu kapan ia akan pergi menemui Reza.


"Jam berapa kak?" tanya Maeza penasaran.


"Nanti jam tiga sore" jawab Amara seadanya.


"Ciee, mau ngapain hayo. Mau pacaran yaa?" goda Maeza pada kakaknya.


Amara yang mendengar ucapan adiknya itu pun langsung bergidik ngeri.


"Enak aja!! Sembarangan lo dek" ucap Amara berusaha mengangkal dugaan Maeza. Maeza pun tertawa dan pergi menuju ke kamarnya.


Beberapa jam kemudian, jarum jam menunjukkan pukul dua lebih empat puluh menit. Amara pun bersiap-siap karena ia sudah berjanjian dengan Reza agar menemuinya di warung Bu Sri. Setelah penampilannya dirasa rapi, Amara pun berangkat menuju ke warung Bu Sri. Sebagai anak yang berbakti, Amara tak lupa meminta izin kepada ibunya dan memberitahukan tujuannya untuk menemui Reza.


Setelah sampai di depan warung, Amara melihat ke sekeliling. Matanya bergerak mencari dimana keberadaan orang yang mengajaknya untuk bertemu. Setelah ia melihat Reza, ia pun langsung menghampiri.


Reza duduk di dalam kursi warung ibu Sri sambil memainkan ponsel dan segelas es teh di atas mejanya.


"Oi! Ngapain ngajak ketemuan? Kangen yaa??" ucap Amara setelah ia duduk di sebelah Reza.


"Iya" jawab Reza singkat.


"Bercanda aja Za, jangan serius-serius deh. Ngeri" ucap Amara merasa geli.


"Tapi gue emang kangen, gimana dong?" kata Reza. Yang sekarang ini dirasakan Amara ketika mendengar ucapan Reza ialah geli. Ia geli terhadap kata-kata manis Reza yang membuatnya seperti tak mengenal kepribadian Reza yang satu ini. Meskipun mereka telah bersama, namun Amara merasa aneh ketika Reza menunjukkan sisi tersembunyi yang ada pada dirinya.


"Kalo bercanda jangan gitu dong, ngeri amat" ujar Amara.


"Gue serius, ga bercanda Ra. Beneran deh, gue suka sama lo"