AMARA

AMARA
Bab 63 S2 Syarat



"Tapi ayah. Aku tidak mungkin menikah dengan putri teman ayah itu, bahkan aku tidak mengenali nya, bagaimana mungkin aku bisa menikahi dia.?" Ucap amar pada sang ayah.


"Itu sudah keputusan akhir. Dan kamu tidak bisa lagi menawar, jika kamu tidak ingin menikahi wulan. Maka silahkan keluar dari rumah ini dan kembalikan semua fasilitas yang ayah berikan." Jawab hartawan.


Hartawan adalah pengusaha terkaya di kota nya. Ia memiliki seorang putra yang bernama amar. Namun, sebelum Amar mewarisi semua harta kekayaan nya, ia memberikan syarat pada sang putra untuk menikahi Wulan, putri dari sahabat nya dulu sewaktu sekolah.


"Aku tidak akan menikahi gadis itu ayah, Sampai kapanpun aku tidak akan menikahinya titik." Ucap Amar


"Jika kamu terus menolak, maka silahkan keluar dari rumah ini sekarang juga dan serahkan semua fasilitas yang telah ayah berikan." Ucap Hartawan lantang.


"Sudah, ayah. Jangan terlalu keras pada anak kita, ia sudah besar biarkan ia memilih pilihan nya sendiri." Bela rosa istri Hartawan.


"Tidak bisa bu, hai Amar mau kemana kamu? Ayah belum selesai bicara." Tanya hartawan, saat melihat damar yang akan keluar.


"Sudahlah, ayah. Bebas kan aku, kenapa ayah memberikan syarat yang begitu berat? Apa ayah tidak sayang denganku?" Tanya nya.


"Lihat lah, bu. Ini kah hasil didikan mu selama ini? Aku cape cape bekerja untuk semua kebutuhan keluarga kita, tapi apa? Anak ku satu satunya selalu membantah perintahku." Ucap hartawan, kecewa dengan perkataan Amar padanya.


Hartawan berlalu pergi, meninggalkan ibu dan anak itu. Ia merasa kecewa dengan sikap amar, ia hanya ingin membalas budi pada sang sahabat.


Karena dulu. Saat orang tua Hartawan bangkrut, orang tua Andi lah yang membantu nya. Bahkan rosa dan Hartawan pun menikah karena perjodohan.


Almarhum ibunda, Rosa. Dulu memiliki hutang yang sangat banyak pada Bumi Hartawan, Sang ayah Hartawan.


Itulah sebabnya, Rosa tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama sepeti mereka, tapi ia juga tidak bisa mengelak. Bahwa memang benar suaminya itu memiliki hutang pada Andi ayah dari wulan.


Hati Hartawan sangat kesal dengan sikap sang anak. Ia merasa tidak ada harga dirinya, di depan putra nya itu.


Ia juga merasa telah gagal. Karena sedari dulu ia tidak pernah memberikan perhatian pada sang anak, bahkan ia pernah berselingkuh dengan seorang wanita penghibur.


Tok


Tok


Tok


"Ayah. Apa ayah masih marah dengan putra kita?" Tanya sang istri.


"Aku hanya ingin membalas budi. Pada keluarga mereka bu, itu saja." Jawab Hartawan.


"Ayah. Jangan lakukan hal yang sama persis dengan apa yang orang tua kita lakukan dulu, biarkan anak itu dengan pilihannya sendiri." Jelas Rosa.


"Kamu trus saja membela anak mu itu, pantas saja ia sekarang berani membatah perintah ku, begini kah kau membalaskan semua ini Rosa? Jika seperti ini menyesal aku menikahi mu dulu." Ucap hartawan lantang.


"Maksud mu apa mas? Kalau dulu tidak ada hutang piutang antara keluarga kita, aku juga tidak ingin menikah dengan mu mas. Aku sudah memiliki kekasih, tapi sayang aku harus patuh pada orang tua ku dan menikah denganmu." Tangis Rosa pecah, ia merasa kecewa dengan penuturan sang suami.


"Pergi sana, bersenang senanglah dengan para wanita penghibur mu itu." Usir Rosa.


"Dengan senang hati." Hartawan benar benar pergi meninggalkan sang istri, meskipun Rosa sedang menangis.


Ia benar benar pergi menuju sebuah club' malam terkenal di kotanya, di sana ia bertemu dengan teman teman sesama pengusaha hidung belang.


Setelah sekian lama ia berada di club' malam itu, ia memutuskan untuk kembali pulang, awalnya ia tidak ingin kembali setelah bersenang senang dengan para LC di sana.


Namun, salah satu teman nya memaksa ia harus pulang, apa lagi ia dan sang istri sedang di landa masalah.


"Sudahlah aku tidak ingin pulang, istriku seperti binatang. Ia tidak mengerti dengan semua ini, lebih baik aku bermain dengan para wanita cantik ini." Ucap nya.


"Lebih baik kamu pulang har. Selesaikan masalah mu dengan istri dan anakmu di rumah, bukan seperti ini. Bagaimana jika ada pemberitaan mengenai mu lagi? Ingat dulu kamu hampir celaka atas ulah mu sendiri, dan jangan ulangi kesalahan yang sama."


"Andi. pasti akan mengerti itu. Aku yakin ia tidak akan memaksakan kehendak nya, ia orang baik meskipun ia miskin tapi ia tidak akan memanfaatkan mu." Sambung nya.


"Aku tidak peduli, bagiku janji tetap janji. Dan alangkah lebih baik lagi, kamu tidak perlu ikut campur urusan ku yang satu ini." Jawab hartawan. Memang ia sangat keras kepala dan tidak mau di bantah, hanya almarhum orang tua nya lah yang bisa mengalahkan ego nya.


Ia mencontoh perilaku sang ayah, dulu sang ayah juga memperlakukan ibunya seperti ini, bahkan ia dengan tega mengurung sang ibu di kamar mandi karena Intan tak mau menuruti kemauan sang ayah.


"Kamu tau. Aku dulu menikah dengan Rosa karena terpaksa, kamu tau bukan seperti apa ayah ku? Dan pasti kamu juga tau bagaimana ia mendidik ku dengan sangat keras. Aku menyesal telah melepaskan Rosa mengasuh Amar sendirian, dan lihat ia sekarang menjadi anak pembangkang, ia membantah ku. Aku kecewa dengan istriku itu,, seharusnya ia merayu anakku agar Amar mau menikah dengan Wulan."


"Wulan anak yang cantik. Ia juga ****, dulu saat aku bangkrut Andi lah yang membantuku, bahkan kamu tau persis bagaimana kisah ku dengan Andi." Sambung nya.


"Ya aku tau itu. Tapi tak semestinya kamu melakukan hal yang sama pada putramu har, ia sudah dewasa biarkan ia bebas."


"Sudah cukup, biarkan aku bersenang senang dulu dengan para wanita ini. Dan dimana mantan ku berada? Indah si gadis cantik itu?"


"Indah sudah keluar om, ia menikah dengan salah satu pelanggan nya." Ucap salah satu wanita itu.


"Hmm. Baiklah layani aku sekarang." Titah nya.


Dan para wanita itu pun melayani nya dengan semangat. Setelah satu jam bermain, ia menyudahi permainannya, ia putuskan untuk kembali pulang.


"Sudah hentikan. Ini bayaran untuk kalian, dan cepat bersihkan bekas nya, aku akan pulang." Perintah nya pada para gadis.


Bahkan ia tidak tau malu lagi, ia bermain di depan sang temannya.


"Aku pulang." Ucapnya yang di balas dengan anggukan.


"Hallo. Dimana kamu? Saya akan pulang cepat tunggu saya di lobby saya tidak ingin menunggu." Ia mengakhiri telfonnya dengan sang supir.


Sepanjang perjalanan ia hanya sibuk dengan ponselnya, ia sedang berkomunikasi dengan Andi sang sahabat, ia berjanji akan terus membujuk putranya untuk menikahi Wulan putri dari andi sahabatnya itu.