
sebentar lagi bu sonya, sebentar lagi penderitaan mu akan berakhir silahkan nikmati saja hari harimu dengan penuh tekanan ini sungguh sangat menyenangkan bagiku, melihat reaksi bu sonya yang melongo saat itu semakin membuatku bersemangat untuk mengerjai nya.
tapi memang benar rumah ini sudah menjadi atas namaku saat bu sonya keluar ayah memberikan semua nya padaku tapi aku membagi tiga dengan kedua saudaraku karena mau bagaimanapun mereka tetap saudara dan aku sudah berhasil menghasut mereka untuk ikut membenci ibunya.
sinta adik kandungku semakin dekat denganku ia bahkan tak mau tidur terpisah dariku dan setiap kali bu sonya meminta nya untuk duduk berdua, ia selalu saja menolak dengan berbagai alasan dan bahkan sempat suatu ketika mereka adu mulut berdua.
Sebenarnya aku tak tega melihat Bu Sonya di perlakukan seperti itu oleh anaknya bahkan di bentak tapi ini semua hanya sebuah pelajaran saja untuk dia, yang sebenarnya di belakang bu sonya aku selalu menasehati Sinta untuk tetap menghormati ibunya mau salah apapun ibunya dia tetap ibu bagi Sinta yang telah rela melahirkan nya di dunia dengan bertaruh nyawa.
Aku tak akan Setega itu memisahkan anak dan ibu aku hanya ingin ia merasakan bagaimana rasanya tak bisa menjangkau orang yang sangat di sayangi, dan Sinta pun mengangguk setiap aku menjelaskan itu semua padanya.
Bahkan aku memberitahukan masalalu keluargaku dan sangkut pautnya dengan bu Sonya, ya dia berhak tau karena dia sudah besar dan dia tau mana yang baik dan mana yang tidak.
Sore hari tiba ayah sudah pulang dari kantor hal pertama yang ayah lakukan sekarang adalah mencium kening ibu padahal di samping ayah ada bu sonya yang tengah memperhatikannya tapi ayah tak memperdulikan keberadaan bu sonya, ayah berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar dan di susul oleh ibu, kita lihat saja bu Sonya sampai kapan kau akan bertahan di rumah ini dengan semua keromantisan ayah dan ibu.
Aku tau ia sangat terpukul dengan kejadian ini semua terlihat jelas di raut wajahnya ku lirik bibi dan paman mereka seperti memberikan ku kode untuk segera mengakhiri balas dendam ini namun akuĀ menolak nya dengan bahasa isyarat karena aku masih ingin menikmati permainan ini, sungguh ini sangat menyenangkan bagiku aku akan berhenti di saat aku sudah puas dengan semuanya aku akan merelakan nya lepas begitu saja dari rumah ini.
Atau mungkin akan ku depak saja dia dari rumah ku toh rumah ini sudah menjadi milikku seutuhnya, saat kami masih menonton terdengar suara bel berbunyi dan di buka kan oleh bi edoh dan ternyata yang pulang adalah sinta adik kecil ku yang manja.
Awalnya sinta tak mempedulikan sonya namun aku menatapnya dan mengangguk untuk memberikan nya kode agar ia tak lupa siapa Bu Sonya di dalam hidupnya, ia pun mengerti dan menyalami Bu Sonya lalu ia mengeluarkan barang barang yang dia bawa padahal dia masih sangat cape tapi ia terlihat sangat antusias memberikan oleh oleh yang ia bawa itu.
"ini untuk ibuku" memberikan kantong pada ibunya
"ini untuk bunda dan ayah, ini untuk paman dan bibi, ini untuk mas damar dan ini untuk kaka ku tersayang. ngomong ngomong mana mas damar.? mana ayah dan bunda.?"
"makasih yah. ayah dan bundamu sedang berada di dalam kamar sedangkan mas mu sedang pergi dengan calon istrinya itu." sinta hanya mengangguk mendengarkan penuturan.
"kalau begitu aku pamit ke kamar dulu ya mau bersih bersih karena badanku sudah sangat lengket dan ini membuatku tak nyaman. dahh semua assalamu'alaikum."
"waalaikumsalam." ucap kami serempak
"amara sudahlah nak hentikan semua ini toh ayah da ibumu sudah bersatu nak jadi bibi rasa semuanya sudah berakhir."
"betul kata bibi mu itu nak, kita sudah terlalu lama membuat sakit hati bu sonya."
"tapi aku rasa ini semua tak sebanding dengan apa yang selama ini ibu rasakan bi,paman kalian juga tau bukan kalau obu bertahun tahun menahan amarah dan sakit hati karena ulah wanita itu, amara mohon ijinkan amara untuk bermain sebentar lagi amara janji."
"bibi menyesal memberikan mu nama amara yang artinya amarah lia, dan lihat pak karena ulah ku memberikan nama itu padanya sekarang dia menjadi keras kepala."
"sudah bu biarkan saja amara bermain sebentar, kita hanya bisa berdoa untuk kesejahteraan keluarga kita. baik lah nak kami memberikan ijin padamu namun paman mohon jangan kau terlalu lama bermain gunakan juga hati nurani mu itu yah,"
"baik paman aku janji."
"kalau begitu kami masuk ke dalam kamar dulu yah." aku hanya mengangguk menanggapi perkataan paman tak lama setelah paman pergi datang damar ke rumah.
"pada kemana orang orang.?"
"di kamar masing masing."
"oh ya sudah aku masuk dulu."
"hmm..."
si bucin itu pasti sudah menghambur hamburkan uang, tidak aku tidak akan biarkan uangku habis oleh nya aku akan menyuruh ayah cepat menikahi dia dengan wanita itu agar dia pergi menjauh dari rumah ku dan tak akan lagi menghambur hamburkan uang dengan boros, ya aku memang terlihat pelit namun aku lakukan itu karena aku tau bagaimana susahnya mencari uang.
bibi dulu sering mengajarkan aku untuk tidak membeli barang yang tidak berguna dan mengajarkan aku untuk tidak boros karena mencari uang itu sangatlah susah, paman dulu sampai harus bekerja lembur agar bisa mencukupi kebutuhan rumah, dan tak jarang bibi pun membuat kue pesanan para warga jelas aku pun membantu bibi mengerjakan itu semua karena oleh sebab itulah aku jauh lebih bisa menghargai uang.
dan itu pun aku ajarkan pada adikku mau bagaimanapun juga aku harus mengajarkan adikku hal hal yang positif dan bisa bermanfaat dalam jangka waktu yang lama, bayangkan saja jika misalnya ayah menjadi bangkrut pasti semua akan syok dan menolak untuk hidup sederhana karena sudah terbiasa hidup mewah, namun tidak dengan didikan yang aku terapkan pada sinta, agar ia nanti tidak syok saat beberpa hal mungkin terjadi, dan sinta selalu saja anteng saat aku berikan nasihat padanya, sungguh gadis yang lugu dan penurut semoga saja kau tak mendapatkan karma atas tingkah ayah dan mas mu dulu, di keluarga kecilku yang laki laki hanya ada damar saja anak laki laki tertua di antara kami namun sifatnya tidak menunjukkan bahwa dia berhak menjadi panutan adik adiknya ini.