AMARA

AMARA
Bab 21



S*a* wanita itu membatasi pergerakan bi marni padahal aku ingin sekali banyak bertanya padanya banyak sekali pertanyaan yang aku ingin tanyakan termasuk bagaimana Lia dan mas Dani bisa bertemu.


Rupanya mas dani telah membelikan rumah serta mobil untuk anak haram itu, sungguh aku tak rela jika itu terjadi aku tak akan pernah rela kita lihat saja sampai kapan kau akan bertahan di rumah ini aku akan biarkan malam ini kau tidur dengan nyenyak tapi tidak untuk kedepannya.


Keesokan harinya kami semua bersiap untuk sarapan namun lebih sialnya lagi rupanya wanita ****** itu meminta BI marni untuk memasak masakan lain untuk nya dan keluarga kampungnya itu, parah nya lagi mas dani memberikan kebebasan pada keluarga kampung itu untuk melakukan apapun di rumah ini aku tak terima karena hanya aku nyonya di rumah ini dan tak akan ada lagi nyonya lainnya.


Semenjak ayah dan ibu meninggal semua usahanya bangkrut dan kini aku hanya mengharap kan nafkah dari mas Dani, jika dia menceraikan aku dan tidak memberikan harta sedikit pun pada ku dan anakku lalu kami mau makan apa?


Aku benar benar harus melakukan tindakan yang ekstra untuk melawan mereka, karna yang ku lawan bukan hanya Lia melainkan Amara, wanita b*r*n*s*k itu dia sudah membuat anakku kehilangan akal dan memaksa inggin menikah dengan wanita s*a*a* itu.


Saat kami tengah sarapan mas Dani mengumumkan kalau dia akan mencari ruko untuk tempat usaha pamannya amara, dan Amara di berikan perusahaan oleh mas Dani sedangkan Lia akan di bawa ke kantor nya, tentu saja aku senang karena aku bisa mengintrogasi bi marni, namun semua itu hanya harapan saja rupanya Lia membawa serta bi marni dengannya kemanapun dia pergi sungguh s*a*.


Setiap kali aku menolak tentang pernyataan mas Dani, dia selalu mengancam akan menceraikan aku tentu saja aku takut aku takut karena aku tak punya apa apa, bodohnya damar kenapa dia dulu tak mau saat mas dani akan memberikan satu perusahaan milik nya.


Mas Dani memiliki beberapa perusahaan yang tersebar di beberapa kota bahkan sudah banyak brand yang sudah di keluarkan oleh perusahaan suamiku ini, ah sungguh aku menyesal karena perbuatan anakku damar kenapa dia sangat bodoh andai saja saat itu dia menerima itu semua pasti aku tak akan ketakutan sampai seperti ini.


Ku lirik Lia dengan tatapan tak suka, namun lain dengan lirikan mas Dani seperti nya dia menyukai wanita s*a*a* itu bahkan dia terus saja senyum senyum saat melihat lia, tidak ini tidak bisa di biarkan aku harus segera menyingkir kan Lia dan keluarga nya aku akan membuat mereka tak betah berada di rumah ini.


Tak terasa lia sudah satu bulan berada di rumah ini dan sudah berbagai cara aku lakukan untuk mengusir nya namun dia tetap bertahan dengan gigih, ternya damar masih saja suka dengan amara si gadis kampungan dan kurang ajar itu menyesal aku telah berbuat baik padanya.


Kalau aku tau dia anak mas Dani tak akan ku biarkan dia bekerja di sini sampai mas Dani memiliki celah untuk mencari anak kandung nya, ya damar memang bukan anak kandung nya karena dulu aku menjebak nya agar tidur dengan ku dan seolah dialah melakukan nya padahal bukan.


Ku kira Dani lelaki b*d*h yang bisa ku bohongi rupanya dugaan ku salah dia lelaki yang sangat pintar dia bisa tau semuanya, terkadang aku berpikir kalau dia menyuruh orang orang nya mencari tau tentang semua ini tapi ternyata aku salah.


Dia memiliki feeling yang kuat dia menghitung saat kejadian dan usia kandunganku saat itu, berulang kali aku berucap menyesal tapi rasanya tak berguna karena ini semua sudah terjadi.


"Bi edoh, tolong buatkan saya bandrek ya bi rasanya saya akan demam" pintaku pada bi edoh art di rumah ini yang sudah mengganti kan bi marni, dan rupanya mereka satu kampung bahkan teman nya bi marni aku bisa mencari informasi lewat bi edoh soal ini semua.


"Baik Bu."


Setelah beberpa saat menunggu akhirnya pesananku datang saat bi edoh akan pergi aku menahannya dan aku akan menanyai semua nya pada b edoh, aku rasa dia akan tau karena pastinya Bi Marni cerita dengannya tentang semua ini.


"Bi, apakah bibi tau persoalan antara mereka?"


"Itu keluarga kampungan itu dan apa bibi tau soal bi marni? Kenapa dia begitu berubah ya Bi?"


"Oh keluarga nyonya lia, saya tak tau Bu bi marni tak banyak cerita pada saya, dia hanya bilang kalau dia senang bekerja dengan non Amara."


"Sejak kapan Lia di panggil nyonya? Bibi tau kan di rumah ini nyonya nya hanya saya."


"Maaf Bu, kata tuan saya harus membiasakan diri untuk memanggil nyonya lia karena menurut tuan sebentar lagi nyonya lia akan menjadi nyonya yang sebenarnya dan satu satunya di rumah ini, kalau begitu saya pamit kebelakang lagi ya Bu, saya harus masak karena sebentar lagi masuk makan malam."


"Oh ya silahkan" ucapku singkat sungguh aku tak menyangka mas Dani akan berbuat sejauh ini. Aku tak akan tinggal diam aku akan mencegah itu semua sebelum semuanya terlambat sungguh aku tak akan rela kalau semua ini terjadi.


Awas saja lia jangan di kira aku sudah kalah darimu hahaha tidak Lia aku tidak akan kalah darimu justru kamu yang akan kalah dan pergi dari rumah ini.


Semakin hari mas Dani semakin akrab dengan lia bahkan kedua anakku juga sangat akrab dengannya sungguh aku iri melihat ini semua yang dulu aku ada di posisi itu tapi sekarang Lia yang menggantikan ku, aku gak akan membiarkan ini terjadi.


"Mas malam ini kamu gak tidur di kamar tamu kan?"


"Aku tetap tidur di kamar tamu, dan apakah kamu lupa kalau kamu sudah ku talak satu tempo hari?"


"Tapi kan baru talak satu bukan talak tiga kita masih suami istri mas."


"Jadi kau mau aku talak tiga sekaligus dan kau sudah siap meninggal rumah ku ini? Oh ya anak anak ayah apa kalian mau ikut dengan ibu kalian atau dengan ayah dan calon ibu tiri kalian nak?" S*a* kenapa mas Dani malah nanya anak anak jelas saja mereka akan memilih kehidupan mewah.


"Aku mau tinggal dengan bunda dan mbak Amara ayah." Ucap Sinta kenapa dia memilih Lia sih daripada aku ibunya.


"Aku ikut ayah saja" ucap Damar.


"Kau sudah sangat itu bukan? Mereka ingin tinggal bersama ku jadi apa kau sudah siap Sonya?"


Aku diam tak bergeming jelas saja aku akan kalah dengan nya, ku lihat Lia dan amara menyunggingkan senyum mencemooh ku kurang ajar sekali mereka awas saja tunggu pembalasanku nanti.