
Aku benar benar muak dengan kehadiran mereka di rumah ini, mereka membuat ku sesak nafas bahkan mereka seperti sengaja bersikap sangat manis dengan seisi rumah ini bahkan sejak kemarin aku tak melihat bi marni kemana dia?
Aku curiga mereka menyuruh BI Marni berhenti dari rumah ini karena siapa lagi yang berani melakukan ini semua selain mereka, toh bi marni selama ini dekat dengan mereka dan tak ada orang yang berani memerintahkan nya selain mereka dan keluarga kampung nya itu.
S*a*n*a aku belum sempat tanya tanya dengan bi marni, dan lihat sekarang bi edoh yang mereka hasut setelah mereka menghasut kedua anakku lalu sekarang pembantu di sini juga mereka ambil.
Sebenarnya mereka mau nya apa? Jika mereka inginkan harta kenapa tak minta langsung saja pada mas dani? Tapi kalau mereka menginginkan sebuah pernikahan antara mas dani dan dia, kenapa mereka tak minta langsung di nikahi saja. Tapi ini?
Mereka masih saja seperti ini, bahkan pa RT pun memaklumi nya sungguh kenapa semua orang jadi berpihak pada wanita sialan itu.
"Arrrrrgh ..." Teriakku
Hari ini mas Dani ke kantor seperti biasa namun ada satu pemandangan yang menurut ku luar biasa, ya si wanita j*l*n* itu tidak ikut dengan mas Dani hahaha ini akan aku manfaat kan untuk membalas semuanya pada dia karena dia sudah berani mengambil ma dani dariku.
Aku menghampiri dia yang sedang duduk Sorang diri di taman belakang rumah, tumben dia sendirian biasanya sama amara atau lengket dengan mas Dani tapi ini hahaha ini adalah hari kemenangan ku.
"Heh wanita s*a*a*, enak sekali ya kamu tinggal di sini dasar wanita kampung."
Dia menoleh ke arahku lalu melanjutkan lagi membaca majalah tanpa menghiraukan perkataan ku, ahh dasar wanita kampungan.
"Heh, cepat buatkan aku minuman kopi aku sangat haus."
Lagi lagi dia diam seribu bahasa, apa dia tuli? Kenapa dari tadi diam saja saat aku bicara dengannya?
"Heh denger ga sih?" Dia kembali menoleh namun kali ini berbeda.
"Dengar sini ya, aku memang wanita kampung tapi lihat siapa yang sebenarnya kampungan hahaha kasihan ih."
"Dan dengar sini ya mas dani akan ku dapatkan tinggal selangkah lagi, dan kamu akan di depak dari rumah ini, eh tunggu jangan langsung di depak deh aku akan membuatmu menderita terlebih dahulu hahaha."
Kurang ajar sekali dia beraninya mengancam ku, saat aku akan menampar Lia muncul mas Dani dan Amara dari arah belakang, dan sontak mas Dani menahan tanganku yang akan menampar Lia. Anak s*a*l*n itu menghampiri ku dengan wajah yang menurut ku sangat menyeramkan.
"Dengar sini ya Nene lampir, berani kau sentuh ibuku dengan tanganmu yang kotor itu, akan ku pastikan tanganmu patah."
Deg
Aku kaget saat mendengar ancaman Amara, seketika nyaliku menciut aku kelabakan tapi aku harus bersikap biasa saja dan jangan memperlihatkan keterkejutan ku padanya ku tatap Amara dengan lekat.
"Apa liat-liat? Udah siap ku patahkan?"
"Berani kau ngancam aku dasar parasit, yang Tiba tiba muncul di hidup keluarga ku jangan coba coba mengambil milikku Amara atau aku akan..."
"Akan apa? Ini baru permulaan Tante aku akan balaskan rasa sakit yang pernah di derita oleh ibuku, apa kau hilang ingatan wahai tante kau yang sudah membuat semuanya seperti ini andai kau tak pernah menjebak ayah dengan mengaku hamil anaknya mungkin aku tak akan mengganggumu tapi tak apa aku akan lakukan apa yang Tante lakukan dulu tapi dengar versi baru."
"Ada apa ini?"
"Ayah ... Tante Sonya memarahiku katanya aku merebut ayah darinya bahkan dia mengusir ibu dan aku dari sini."
"Apa? Aku tak ada bicara seperti itu, hei anak haram kapan aku bilang seperti itu padamu hah?"
"Cukup Sonya kali ini kau sangat keterlaluan sudah bicara lancang pada putriku, sekarang juga kau kembali ke kamar dan jangan pernah mengganggu putriku atau Lia."
"Kenapa mas? Kenapa kau membela mereka? Aku yang istrimu bukan mereka."
"Cepat masuk."
Ku lirik Amara dan lia mereka tersenyum puas melihat ku seperti ini, awas saja kau akan aku buat kau jauh merasakan sakit daripada aku. Dengan langkah terpaksa aku melangkah menuju kamar, sedangkan di dalam kamar aku berselancar internet di hp ku.
Saat tengah asyik secroll beranda ku, ada status nya Amara lewat dengan di sertai sebuah foto.
"Keluarga bahagia semoga cepat terwujud yah ayah dan ibu."
Apa mereka akan menikah? Oh tuhan aku tak mau menyetujui nya tapi aku sudah berjanji akan setuju dengan semua keputusan mas Dani, aku harus apa sekarang? Aku tak mau itu semua terjadi.
Keesokan harinya kami sarapan seperti biasa namun lagi lagi mataku di buat sakit oleh perbuatan mereka, mereka sengaja memamerkan kemesraan depan ku bahkan sekarang Lia merespon apa yang di lakukan mas Dani, ihh sangat m*n*i*i*a* ini semua.
"Sayang nanti kamu pergi belanja sama damar ya nak."
"Siap ayah."
"Dan belilah apa yang perlu di beli untuk liburan nanti "
Apa mereka akan liburan? Kenapa tidak ada yang memberitahukan aku? Atau mereka sengaja tak ingin membawaku? Ku lirik mas Dani masih mesra mesra dengan Lia sungguh ini pemandangan yang membuat mataku iritasi.
Terlihat pula damar sangat bahagia dan Sinta putriku dia tetap saja dekat dengan Amara, aku benar benar sendiri saat ini kenapa mereka begitu tega berbuat jahat seperti ini.
Apa benar yang di katakan Amara.? Dia akan membalas semua yang sudah terjadi pada ibu nya? Tapi kenapa? Kenapa dia berbuat seperti itu?
Mas Dani andai kau tau hati ini terluka melihat semuanya mas, aku tak rela kau dengan wanita lain, aku yang seharusnya berada di posisi itu bukan mereka seharusnya kau bahagia dengan keluarga kecil kita mas.
Memang dulu mas dani pernah berkata kalau suatu saat dia menemukan Lia dia akan bertanggung jawab dan akan memperlakukan lia dengan sangat baik tapi apakah harus secepat ini? Bahkan aku belum ada persiapan sama sekali.
Mas Dani pergi ke kantor tapi kali ini dia hanya berpamitan dengan Lia dan anak anak tapi tidak denganku.
Paman dan bibinya di belikan rumah terpisah dengan Amara dan lia, mereka bilang agar lebih dekat dari tempat usaha aku tak tau mereka tinggal dimana dan aku pun tak tau lokasi tempat usahanya mereka dimana. Tak ada yang memberitahukan itu padaku mereka seolah bungkam apa mereka sengaja melakukan ini padaku? Agar aku tidak menggangu mereka?