
Aku Dinda, anak dari papa Aldy dan mama Intan, aku memiliki adik seorang lelaki yang bernama Arkana. Menurut para tetangga di tempat tinggal ku, bahwa aku dan Arkana bukanlah anak kandung papa Aldy. Aku anak dari mama dan ayah Damar. Namun, sayang ayah harus meninggal karena kecelakaan bersama tante Sinta, awalnya aku tidak mempercayai apa yang orang orang di luar sana.
Tapi suatu hari aku mencuri dengar obrolan papa dan mama, mereka berbicara mengenai masa depan ku dan adikku ini. Aku tak tau kenapa mama menyembunyikan semua ini? Meskipun sejak awal aku sudah merasa janggal, karena dari segi wajah dan sifat kami berbeda dengan papa.
"Mas. Aku khawatir jika nanti Dinda mengetahui semuanya. Aku takut jika itu semua terjadi dan Dinda atau Arkana akan berontak lalu pergi meninggalkan aku mas, aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa" ucap mama saat itu.
"Kamu tenang sayang, kita akan berusaha memberitahu mereka dengan bahasa yang gampang di mengerti. Mereka sudah besar sayang, dan mereka pasti sudah bisa memilih dan memilah." Jawab papa.
"Aku khawatir pada Dinda, mas. Apa mas tidak melihat sifatnya sangat mirip dengan almarhum ayahnya? Andai semua ini tidak terjadi mungkin aku tidak cemas seperti ini."
"Sabar sayang, aku akan selalu membantu mu."
Kira kira seperti itulah isi percakapan mereka, aku tidak percaya begitu saja, aku mencari informasi yang sangat detail sampai akhirnya aku tau siapa ayah kandungku sendiri. Itupun saat aku mendapatkan informasi dari dengan salah satu pengunjung club' malam, ntah bagaimana ia bisa tau seluk beluk keluarga ku itu.
Setelah mendengarkan percakapan singkat antara mama dan papa, aku memutuskan untuk ke sebuah club. Dan akan menginap di rumah Silvi. Aku menoleh ke arahnya dan ia juga sudah tau arah jalan pikiran kita sama?
Bugh
Tiba tiba saja seorang wanita tua, sekitar seumuran dengan mamaku. menabrak badanku yang tengah berjalan menuju bar.
"Hei apa kamu tidak melihat ku sebesar ini?" Ucap ku.
"Oh, sorry aku tidak sengaja." Ucapnya berlalu pergi, dan membisikkan sesuatu padaku.
"Anak sama ayah sama saja, sama sama p*lac*r. Cuih, jika kamu menginginkan sebuah informasi mengenai siapa ayahmu, maka temui aku di lantai dua club' ini."
Lalu ia pergi meninggalkan aku, dengan sejuta pertanyaan yang bersarang di benakku.
Karena aku kepo, aku pun mengikuti instruksi dari nya. Di lantai dua sana ada sebuah ruangan VVIP.
Tok
Tok
Tok
Aku masih berusaha mengetuk pintu nya, aku lupa bahwa di sini ada bel.
Ting
Tong
Cklek
Tuh kan di bukain, pastilah mereka tidak bisa mendengar suara ketukan pintu. Karena di tempat ini sangat ramai, namun tidak dengan ruangan yang aku pijak saat ini.
"Ckckck akhirnya kamu datang juga." Ucapnya.
"Cepat katakan, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Minum lah dulu, santai."
"Cepat katakan ..." aku membentak nya.
"Oke, baiklah. Ayahmu itu Damar bukan Aldy, Aldy hanyalah seorang duda tanpa anak. Jdi wajar jika sifat mu dengan Aldy berbeda."
"Aku tidak percaya dengan kata-katamu. Dan siapa kamu?"
Tanpa menjawab, aku langsung pulang. Tapi tidak pulang ke apartemen melainkan ke rumah mama.
Papa memberikanku apartemen sebagai hadiah ulang tahunku. Itu sebabnya aku jarang sekali pulang kerumahnya papa. Aku pulang dengan prasaan marah berkecamuk. Aku harus menanyakan ini semua pada mama. Namun sebelum itu, aku ingin memenangkan hati dan pikiranku yang lelah ini, aku lelah dengan semua kenyataan demi kenyataan.
Keesokan harinya ...
Aku pulang ke rumah tujuan utamaku adalah mama, aku akan bertanya mengenai ini semua padanya.
Tak butuh waktu lama aku sudah berada di rumah, kebetulan papa juga libur. Tapi kemana arkana? Tumben dia tidak ada die rumah, aku duduk di samping mama dan papa.
"Mah. Boleh aku bertanya?" Tanya ku pada mama.
"Ya tanyakan lah nak." Jawab mama.
"Siapa papa kandung ku?" Tanya ku lagi. Jujur semenjak hari itu aku menjadi sering kepikiran dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa?
Ibu kaget dan langsung menoleh ke arah papa, seperti meminta bantuan tapi papa mengangguk mengizinkan mama.
"Papa mu ya papa Aldy." Jawab nya gugup.
"Tidak perlu bohong ma, aku sudah tau semuanya. Tapi aku ingin dengar semua itu dari mama." Jawab ku tenang.
"Dengar dari siapa nak? Apa yang kamu dengar?" Kulihat mama sudah mulai khawatir dengan semua ini.
"Aku bukan anak kandung papa Aldy."
"Apa? Tau dari mana?"
"Sudah lah ma. Lebih baik mama katakan saja yang sebenarnya padaku."
"Baiklah nak. Ayah kandung mu, itu Damar. Ia meninggal kecelakaan bersama tante mu Sinta namanya. Ayah mencintai tante Amara, tapi tante Amara menolak nya karena Amara bilang kalau mereka itu saudara seayah. Lalu mama dan ayahmu menikah tapi pernikahan kami ternyata tidak di dasari oleh cinta. Ayahmu membeli mama dari kakekmu." Jelas mama.
"Lalu? Kenapa ia bisa kecelakaan bersama tante Sinta?"
"Ayahmu memiliki fantasi yang luar biasa, ia sering berganti ganti pasangan, meskipun sudah menikah dengan mama mu ini dan melahirkan mu. Mama sangat mencintainya tapi tidak dengannya, lalu ia mengincar Sinta dan parahnya lagi ia menghamili dua adiknya." Papar mama pada ku.
"Du-dua?" Tanya ku tidak percaya.
"Ya. Pertama Sinta dan yang kedua Tasya. Mereka dihamili secara bersamaan, dan mama tau itu. Ibu menginginkan mas damar untuk membalaskan dendam pada keluarga nya. Menurut nya keluarga Amara itu musuhnya, karena mereka telah merebut kake mu, ayah mertua mama. Pak Dani lebih condong ke mama Lia istri keduanya yang telah melahirkan Amara. Begitu juga dengan anak anaknya, rumah yang dulu milik tange Sonya di gantikan oleh Amara, ayahmu di berikan sebuah perusahaan untuk ia kelola tapi sayang semuanya bangkrut. Ibunya ayahmu itu seorang pelacur, dan sifat itulah menurun ke ayahmu sampai akhirnya ia meninggal dunia bersama Sinta adiknya."
"Maafkan mama nak, mama menyembunyikan semua ini. Karena ibu tidak ingin kalian mengetahui hal yang sebenarnya, mama tidak ingin kalian merasa kan apa yang mama rasakan dulu dan kalian memiliki dendam. Tenanglah nak, sekarang ada papa aldy yang tulus mencintai dan menyayangi kalian."
"Jadi semua ini gara-gara tante Amara?"
"Bukan nak, ini salah papamu yang terlalu cinta dengan mbak Amara."
"Sudahlah ma. Aku akan membuat mereka merasakan apa yang mama rasakan dulu." Ucap ku berlalu meninggalkan mama.
"Jangan nak. Mama mohon jangan lakukan hal yang sama seperti ayahmu, sudah cukup membuat mama khawatir, mama sudah khawatir melihat mu yang trus berganti ganti pasangan. Mama takut kamu seperti ayahmu."
Aku tidak mengindahkan perkataan mama, aku akan tetap membuat mereka merasakan apa yang telah mamaku rasakan, dan tak berselang lama mama mendapatkan telfon dari tante amara. Ia bilang bahwa wulan minggu depan akan menikah, kenapa pernikahan nya mendadak sekali? Apa jangan jangan ia hamil duluan? Tapi rasanya tidak mungkin karena ia anak yang alim, bahkan keluar rumah pun hanya untuk mengajar saja.
Aku heran kenapa dia tidak begitu tertarik dengan dunia luar? Apa dia tidak memiliki teman? Kasian sekali dia. Tapi siapa lelaki yang menjadi suaminya itu? Nanti akan aku cari tau setelah itu aku akan mulai menyusun strategi untuk merebutnya, dan membuat wulan merasakan apa yang mama rasakan.