
Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya kami semua sampai di kediaman Hartawan. Tanpa banyak bicara aku langsung turun dari mobil, dan menuju rumah nya itu, aku gedor pintu nya sampai mereka semua keluar.
Dorrrr..
Dorrrr
Dorrrr
Suara pintu aku gedor dari luar. Hingga akhirnya terdengar suara dari dalam yang menyahut.
"Iyah, tunggu sebentar." Teriak dari dalam.
Cklek
"Eh bu Amara. Mari masuk bu." Ajak Putri sang art.
"Bapak sama ibu ada?"
"Ada bu. Mari." Aku pun mengikuti nya, dan mas Andi serta Wulan juga, beruntung Luna tidak ikut. Karena jika ia ikut maka ia akan terbawa emosi.
Sampai kami tiba di ruang tengah, terlihat Rosa dan Hartawan sedang menonton tv pun kaget karena tiba tiba saja aku datang ke rumah mereka.
"Eh ada besan. Kapan datang?" Tanya Rosa.
"Apa kalian tidak mendengar dari tadi aku gedor pintu?" Balasku, malas sekali rasanya ramah dengan mereka, karena mereka telah membiarkan anakku di perlakukan tidak adil oleh putranya.
"Sayang tenang sayang. Maafkan istri ku Wan, ia hanya sedang emosi saja." Ucap mas Andi.
"Tidak perlu meminta maaf dengannya mas. Mereka saja tidak pernah meminta maaf pada kita. lalu untuk apa kita meminta maaf pada mereka?"
"Ada apa? Tolong jelaskan."
Aku melempar selembaran kertas hasil tes nya Wulan. Lalu hartawan memungut nya dan bertanya padaku.
"Amplop apa ini?"
"Buka." Ia pun mulai membuka nya dan membaca nya dengan teliti. Sontak membuat nya kaget saat tau isi dari surat itu.
"Ma-maksud nya wulan dan amar. Mereka
..?"
"Ya. Wulan selama ini sudah di perlakukan tidak adil, dan parahnya lagi ia memiliki hubungan dengan saudarinya Wulan."
"Saudari?" Tanya Rosa.
"Iya. Ia menjalin hubungan dengan Dinda, sepupu dari Wulan. Pantas saja kami tidak di perbolehkan datang kemari rupanya ia memiliki hubungan yang spesial dengan wanita lain. Dasar murah*n."
"Apa?" Rosa kaget saat aku melontarkan ucapan murah*n untuk anaknya. Memang benar seperti itu adanya."
"Sabar sayang, Amara hanya sedang emosi saja. Lebih baik kamu tenang, biar amara meluapkan emosi nya dulu."
Aku marah meluap luap, sedangkan suami dan anakku hanya diam menyaksikan apa yang aku lakukan. Aku bukan hanya marah karena mereka tidak pernah berhubungan suami istri, tapi aku sangat marah karena amar menjalin hubungan dengan saudarinya anakku, kenapa harus Dinda? Dan sekarang wulan lah yang menjadi korban. Kenapa harus anakku? Sungguh ini tidak adil rasanya, sedari dulu aku tak pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, anakku sudah menikah pun kami jarang bertemu. Karena Amar melarang kami untuk bertemu, entah apa alasannya. Saat aku masih dalam lingkaran emosi, tiba tiba Amar datang. Berani sekali dia pulang di saat sedang emosi seperti ini.
"Assalamualaikum, mamy aku ingin bicara ..." Ucap nya terpotong karena telah lebih dulu terpotong karena melihat kami. Sangat kebetulan sekali ia berada di sini, jadi aku bisa langsung berbicara apa adanya dengan semua yang ada di sini.
"Waalaikumssalam, sayang. Sini nak ada yang ingin kami bicarakan denganmu." Kata Rosa pada anaknya.
"Ada apa mamy?"
"Jangan belaga tidak mengerti, kamu jelas tau apa yang sedang terjadi saat ini, dan jangan berpura pura lagi. Aku tak ingin anakku jauh lebih sakit hati, jika kamu terpaksa dengan semua ini maka lepaskan dia."
"Tapi bu. Aku benar benar tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu, bahkan namanya saja aku tidak ingat dia siapa."
"Wulan. Kemasi semua baju bajumu, hari ini kamu ikut ibu pulang ke rumah dan untuk amar kami menunggu surat cerai dari mu, jika kamu tidak mengurusnya, maka kami yang akan mengirimkan mu surat cerai itu."
"Apa?" Ucap mereka serempak. Sekarang wulan sedang ke kamar nya dan berkemas baju. Terlihat Amar mengikuti nya dari belakang, aku tidak tahu apa yang di buat olehnya.
"Enggak bisa gitu dong bu, kenapa main cerai saja? Bukankah anakku pernah berkata kalau tidak boleh ada satu orang pun yang ikut campur dengan rumah tangganya? Lagian aku sangat menyayangi nya, sedari dulu aku inginkan anak perempuan tapi tuhan belum berkenan."
"Adopsi saja. Atau ngga suruh saja ia menikah dengan Dinda, bukan kah wanita itu juga cantik."
"Aku tidak menyukainya."
Mas Andi dan mas Hartawan hanya diam saja mendengarkan semuanya, karena mas Andi tahu bagaimana aku. Aku hanya tidak ingin masalalu terulang lagi, cukup aku saja yang merasakan perih nya memiliki ibu dua. Aku tidak menyukai Dinda saat ia tumbuh menjadi anak yang bebas. Ia benar benar mewarisi watak nene dan ayahnya. Ia liar dan bebas, bahkan aku sering mendengar bahwa ia juga sering ke club' malam gan berganti ganti pasangan.
Itulah sebabnya aku percaya saja ucapannya saat ia bilang ia sayang pada amar, karena wanita sejenis itu akan menghalalkan segala cara agar keinginan nya cepat terwujud, aku tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan anakku terluka oleh perbuatan wanita jal*ng itu.
Tak lama kemudian mereka datang lagi, terlihat Wulan menarik koper nya yang berisi baju baju.
"Ayok kita pulang." Ucapku padanya. Ia pun menurut dan berpamitan dengan mertuanya tapi aku larang.
"Mamy. Aku..."
"Cepat. Tidak usah berpamitan segala." Ia pun kaget dan menyusul kami, kami pulang ke rumah dan aku masih di selimuti amarah. Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tak ada yang berani bersuara termasuk mas Andi. selama puluhan tahun, baru kali ini aku kembali marah yang luar biasa. Aku merasa sakit hati saat mendengar semuanya, aku tak mau anakku terluka lebih jauh, maafkan aku jika caraku yang salah.
Dalam keheningan akhirnya mas andi beranikan bicara padaku.
"Sayang. Aku lapar, tadi di kantor belum sempat makan." Katanya. Ya tuhan berdosa sekali aku pada suamiku ini, aku membiarkannya kelaparan dan mengutamakan emosi ku.
"Ya tuhan, mas. Maafkan aku, kalau begitu kita singgah dulu di rumah makan atau restoran. Kita makan sama-sama ya. Maafkan aku karena aku terlalu emosi dan membiarkan mu kelaparan." Ucapku sambil menunduk.
"Tidak apa sayan. Aku tau kamu pasti emosi bukan? Tidak masalah, sekarang Wulan sudah bersama kita dan kamu jangan emosi lagi ya."
"Tapi mas, aku..."
"Shuttt.. jangan bahas di sini. Nanti kita bahas di rumah saja sekarang kita cari tempat makan dulu ya sayang." Ucap mas Andi sambil memegang tanganku. Kami pun mencari restoran untuk makan, aku melirik ke belakang tempat duduk Wulan, terlihat ia termenung saja. Apa mungkin ia mencintai Amar?