
Kami mendatangi pernikahan Wulan, ternyata hanya di gelar sederhana saja, katanya suaminya itu anak dari konglomerat tapi ko nikahannya hanya seperti ini saja?
Ia dan adiknya arkana berada di ruang tengah bersama luna. Sementara para ibu ibu dan bapak bapak berada di ruang tamu, karena setelah akad nanti mereka akan mengobrol biasa. Acara pernikahan akan di gelar pukul sembilan pagi, dan mungkin mempelai pria nya akan datang sebentar lagi. Benar saja ia datang bersama rombongan, acara pun di gelar.
Setelah ijab kabul di ucapkan, semua sanak saudara dan teman teman di suguhkan dengan makanan yang nikmat nikmat, saat suami dari wulan membuka masker, astaga ... Kaget aku liat wajahnya yang tampan itu, ia begitu tampan dan menarik.
Kenapa harus Wulan sih? Kenapa bukan aku? Ini menjadi daftar baru dalam misi balas dendam ku. Meskipun ibu tidak mengijinkan aku untuk melakukan ini semua, tapi aku akan tetap melakukan nya karena aku tak ingin mereka hidup bahagia sedangkan ibu selama bertahun tahun menyimpan semu luka ini.
Kami semua duduk di ruangan tengah seperti tadi, seperti biasa kami hanya sibuk dengan hp masing masing, sampai mereka kaget saat mendengar perkataan ku.
"Wulan. Biarkan aku saja yang mengisi kekosongan hati suamimu itu, aku tau kalian hanya di jodohkan dan pernikahan ini kalian tidak pernah menginginkan nya. Jadi biarkan aku yang menggantikan mu, terserah kalian mau cerai apa tidak yang jelas amar akan menjadi milikku kamu suka atau tidak." Sontak mereka menoleh ke arahku. Arkana menegur ku atas apa yang sudah ku katakan barusan.
"Ka. Apa sih? Mas Amar itu suaminya mbak Wulan, apa kaka lupa? Jangan bertindak seperti itu ka." Apa sih anak itu? Apa ia tidak tau betapa tersiksanya ibu? Kenapa ia malah pro terhadap Wulan? Dan bukan aku kaka kandung nya.
"Mbak. Kenapa mbak mau suami dari kaka ku? Apa mbak tidak laku lagi? Bukan kah mbak sering berganti ganti pasangan?" Ucap Luna. Berani sekali anak ingusan ini.
"Terserah intinya aku akan merebut suami kaka mu itu. Dan kamu arkana, aku ini Kaka mu jadi jangan pernah ikut campur urusan ku, paham?"
Mereka semua diam, sampai akhirnya kami di panggil ke depan untuk ikut berkumpul, sebelum pergi Wulan menatap ku dengan tajam. Apa maksudnya dia menatapku seperti itu? Apa ia berani padaku? Aku masih duduk biarkan saja mereka duluan, orang cantik mh belakangan datangnya hahaha.
Wulan lewat depan ku, ia menoleh ke arah ku dan berkata.
"Maaf mbak, aku tidak akan pernah melepaskan suamiku untuk wanita manapun. Dan aku akan berusaha membuat rasa cinta itu tumbuh, silahkan berjuang selagi ia belum mencintai ku." Ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan ku yang kaget mendengar penuturan nya. Kenapa wanita pendiam seperti ia bisa berkata seperti itu? Selama ini ia tidak pernah membantah apapun yang aku ucapkan tapi sekarang?
Aku menyusul mereka yang sudah lebih dulu ke depan, mereka berencana akan membawa Wulan pulang ke rumah mereka. Arghhhhh aku sangat menginginkan lelaki itu, biarkan saja aku menjadi madunya. Justru itu akan semakin memudahkan aku untuk membalaskan semuanya.
Aku trus mencari cari perhatian pada mereka. Kita lihat saja nanti aku akan datang kembali, dan membuat mereka berpisah untuk selamanya.
Kami sekeluarga pun pamit pulang, saat di rumah nanti aku akan menceritakan semuanya pada Arkana, agar ia menajdi berada di pihak ku dan tidak lagi salah dalam membela.
Tak terasa akhirnya kami sampai di rumah, kami semua langsung masuk ke dalam, Arkana seperti biasa ia akan menghabiskan waktu di dalam kamar dan akan turun jika ada pekerjaan mendesak dan makan. Aku menyusul nya ke dalam kamar, terlihat ia sedang mengganti pakaian.
Cklekk (suara pintu di buka)
"Ka. Kalau kamar ku itu ketuk dulu." Protes nya.
"Alah. Dulu saja tidak perlu, kenapa sekarang harus di ketuk?"
"Bedalah ka. Dulu aku belum besar, dan sekarang aku sudah besar ka."
"Sudahlah, perkara ngetuk doang sih."
"Ada apa kaka ke kamarku?" Tanya nya.
"Aku ingin memberitahukan sesuatu padamu, ini semua mengenai ibu dan keluarga dari ayah." Ucap ku. Aku akan mencoba membuat nya membenci keluarga Tante Amara.
"Kenapa mereka?"
"Ternyata kita bukan anak kandung dari papa, ayah kandung kita sudah meninggal saat kita masih kecil." Dan aku mulai menceritakan semuanya sedetail mungkin pada adikku ini. Respon darinya benar benar di luar dugaan ku.
"Oh."
"Apa? Cuman oh doang? Apa kamu tidak marah atau lainnya?" Sungguh aku tidak percaya dengan respon yang dia berikan mengenai informasi ini.
"Ma-maksud mu? Bagaimana bisa kamu mengetahui semuanya? Sedangkan aku baru saja mengetahui nya beberapa minggu yang lalu."
"Sudahlah ka. Intinya jangan pernah melakukan apa yang telah ayah lakukan dulu, ayah dan kake lah yang salah, dan satu lagi apa kaka tau kalau nene kita yang bernama sonya sudah melakukan kejahatan yang teramat fatal?"
"Bukannya nene kita hanya nek Lia saja?"
"Tanya kan pada ibu, siapa nene yang bernama nek Lia. Sekarang kaka keluar, aku ingin istirahat karena nanti akan ada meeting."
"Kau berhutang penjelasan padaku Arkana?"
Aku keluar kamar dengan penuh pertanyaan, ini di luar dugaan ku, aku berniat ingin membuat arka ikut serta denganku tapi kenapa malah aku yang kebingungan sendiri? Ahhh bikin kesal saja, belum lagi aku harus merencanakan sesuatu untuk merebut Amar dari Wulan. Apapun alasan yang keluar nanti, aku tidak peduli aku akan tetap membalaskan semuanya.
Singkat cerita.
Sudah satu minggu, Wulan menikah dengan lelaki itu, aku berniat untuk mengunjungi rumah Amar. Tapi sebelum itu aku akan ke kantor nya terlebih dahulu. Aku berdandan secantik mungkin, aku tidak ingin membuat pertemuan ini gagal. Dari sinilah aku memulai semuanya.
Aku sampai di depan perusahaan Lal Grup. Perusahan milik amar, aku tidak tau apa singkatan dari Lal itu dan aku tidak mau tau apapun itu.
Aku langsung menuju pusat informasi untuk menanyakan dimana ruangan Amar.
"Selamat pagi mbak. Ada yang bisa kami bantu?"ucap salah satu pekerja di sana.
"Ya. Aku ingin bertemu dengan amar, dimana ruangannya?" Ucap ku.
"Maaf mbak, apakah mbak sudah memiliki janji dengan tuan?"
"Ya."
"Baik tunggu sebentar, boleh saya tau. Mbak ini siapnya tuan?"
"Saya kaka iparnya." Ucapku sombong.
"Oh begitu, silahkan masuk, menuju lantai enam, ruangannya ada di ujung. Dan ada tulisan tuan Amar Hartawan." Lagi lagi aku mengangguk, inilah yang aku incar. Ia adalah anak dari Hartawan. Pria terkaya di negara ini.
Aku berjalan menyusuri lorong lorong kantor ini, sampai akhirnya aku menemukan ruangan dan aku tidak tau siapa pemilik ruangan itu.
Apa di sini semua karyawan di gaji hanya untuk maen game saja? Aku trus bertanya pada tuhan lewat hati. Aku tidak mungkin curhat pada manusia, nanti di buat untuk berfantasi pula.
"Maaf nyonya. Nyonya mau bertemu dengan siapa."
"Ya saya. Mau bertemu dengan bos kalia."
"Apa nyonya sudah membuat janji? "
"Sudah bilang saja aku saudara istrinya."
"Oh baik mbak. Silahkan masuk saja."
Aku langsung masuk ke dalam sana, tapi lagi lagi aku di hadang oleh pekerjanya. Huff banyak sekali sih pekerja dia ni bikin bt aja.