
Ibu menegur ku karena aku membiarkan nya terlalu sibuk menyiapkan makanan untuk aku sarapan. Tapi kan itu semua bukan aku yang nyuruh, toh dia sendiri yang melakukan itu semua tanpa ku komandoi.
"Sayang. Kamu sudah makan nak?" Tanya ibu pada Wulan.
"Belum bu. Tunggu mas Amar selesai dulu apa yang dia perlukan baru aku makan." Ibu menoleh ke arahku.
"Amar. Kamu ini kenapa sih? Kenapa kamu membiarkan istrimu tidak sarapan dulu? Dan kenapa kamu tidak meminta bi Ijah saja yang menyiapkan semuanya?"
"Apa sih mam. Bukan aku yang menyuruhnya, tapi dia mau sendiri. Bukannya sudah ku katakan bahwa tidak boleh ada yang ikut campur urusan rumah tanggaku?"
"Tapi ..."
"Wulan. Apa kamu lihat hah.? Jangan pernah sok peduli padaku, gara gara kamu. Aku dan mamy harus bertengkar sepagi ini ... oh tuhan hilang mood ku pagi ini."
"Maafkan aku mas. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu."
"Alah perse**n dengan istri yang baik. Lebih baik kamu hentikan aktivitas mu itu dan cepat makan."
"Ba-baik." Lalu aku menoleh ke arah mamy. Yang sedang memperhatikan aku dan wulan.
"Apa mamy sudah puas? Sudahlah. Aku sudah tidak selera makan."
Lalu aku bangkit dan meninggalkan mereka semua yang tengah sarapan. Berdosa Kah aku karena sudah membentak orang tuaku sendiri? Tapi aku kesal, bukankah sudah perjanjian awal bahwa mereka tidak boleh ikut campur urusan rumah tanggaku ini.
Aku berangkat menuju kantor dengan prasaan yang jengkel, sepanjang perjalanan aku hanya mengomel saja ada diriku sendiri. Sungguh aku merasa kesal dengan semua ini.
Sesampainya di kantor tidak satu orang pun yang ku sapa, walaupun mereka menyapa ku. Aku langsung menuju keruangan ku. Bahkan aku tidak mood untuk mengikuti meeting, semua ku serahkan pada asisten ku itu. Ntalah rasanya aku sangat tidak ingin melakukan sesuatu hari ini.
Tok..
Tok..
Tok...
"Siapa?"
"Permisi tuan, saya Dea. Ada yang ingin bertemu dengan tuan."
"Siapa yang mencariku?"
"Katanya dari keluarga istri tuan."
Astaga. Apakah itu tante Amara? Atau bahkan om Andi?
"Oh. Suruh masuk."
Ceklekkk
Pintu ruanganku terbuka. Tapi ko ...! Dia bukannya wanita yang saat itu ada di rumah mertuaku? Yang genit seperti ulat bulu itu? Mau apa dia kemari?
"Hai. Amar ..." sapanya padaku.
"Ya. Ada apa mencari ku?"
"Ayolah Amar. Kami semua tau, bahwa pernikahan mu dengan wulan itu hanya keterpaksaan saja."
"Jangan sok tau kamu."
"Masih saja menyangkal. Buktinya baru saja menikah, kamu sudah masuk kerja. Biasanya kan kalau pasangan pengantin baru yang menikah karena cinta itu suka berbulan madu."
"Apa urusanmu sudah selesai? Jika sudah silahkan keluar ruanganku. Karena aku akan berkerja kembali."
Sungguh ini cewek apa urat malunya sudah hilang ya? Kenapa ia tidak malu sekali merayu suami dari saudaranya. Oh tuhan. Ia menghampiri ku, mataku rasanya ingin keluar saja melihat ini semua. Apa yang akan ia lakukan? Saat ia semakin brutal tiba tiba riki masuk ke dalam ruanganku.
Cklekkk
"Oh tuhan, Amar. Apa yang kau lakukan? Dan siapa wanita itu? Bukannya istrimu itu berjilbab?" Tanya Riki sahabat ku.
"Ah Riki. Kebetulan sekali." Aku langsung bangkit dari duduk ku, dan wanita itu langsung jatuh tersungkur.
Brugh
"Keluar dari ruanganku atau aku panggilkan satpam agar menyeret mu keluar." Ia bangkit dan berjalan ke arah luar ruanganku. Beruntung Riki datang jika tidak. Aku ga bisa bayangin gimana nasib ku ini, aku tidak munafik. Jika saja wanita itu terus menggoda ku bisa bisa aku hilang kendali.
"Dasar cwok aneh di kasih enak malah nolak." Ucapnya sambil berlalu keluar ruanganku, aku hanya menggeleng saja melihat tingkah nya itu. Lalu Riki melirik ku dengan tatapan penuh tanya. Aku yakin dia akan menanyakan ini semua padaku.
"Apa?" Kataku, karena risih melihat nya trus menatap ku seperti itu.
"Gil* sih lo. Udah dapet bini cantik, baik, sabar. Masih aja lo cari mangsa lain. Kasih gue Napa satu." Ucapnya.
"Bersisik lo, ahh. Dia bukan simpanan gue. Dia itu saudaranya Wulan, kalau ga salah namanya itu Dinda. Anak dari om Aldi dan tante Intan."
"Oh. Trus dia ngapain ke sini?"
"Ya mana gue tau? Tanya aja ke orang nya langsung, gua ga urus."
"Ye.. Gue kan cuman nanya aja sih! Udahlah lupain, sekarang cari makan kuy. Gue laper ni bentar lagi meeting butuh asupan yang banyak. Lo sih nyuruh tiba tiba, harusnya kan lo sendiri yang turun. Kenapa jadi gue sih korbannya?"
"Udah sih. Emang dah tugas lo kaya gitu kan. Dah sana cari makan, gue udah sarapan tadi pagi di rumah."
"What ...? Seorang Amar sarapan di rumah? Bener bener keren istri lo itu bisa bikin amar hartawan yang dulu tidak pernah sarapan kini sarapan di rumah."
"Sok tau lo. Gue pernah sarapan ya sama kedua orang tua die rumah. Dala mau balik ajalah males gue kerja. Pokonya selesaikan semua dengan benar, ajak tuh si Dea."
"Nanti kapan kapan mau maen ke rumah lo, pingin liat bini lo pagi pagi. Pasti cantik nih beuh..."
Plug
Aku melemparnya menggunakan map yang ada di hadapan ku, lalu aku pergi meninggalkan nya yang cengengesan itu. Aku menuju parkiran, dan ternyata cewek tadi masih saja menungguku di loby. Ia menoleh ke arahku yang berjalan menuju arah parkiran.
"Amar ..." teriaknya yang sontak membuat para karyawan di kantor menoleh ke arahku, pasalnya mereka tau siapa istriku karena papa menggelar acara yang sangat mewah dan semua karyawan di undangnya.
"Hei ... Tunggu. Sombong amat sih." Ucapnya sambil trus mengejar ku yang meninggal nya. Sampai akhirnya aku sampai di dekat mobilku terparkir, ia masih saja mengikuti ku. Dan tiba tiba masuk ke dalam.
"Hei tidak sopan. Kamu mau apa sih hah? Dari Tadi kamu ngikutin saja mulu, apa kamu lupa dengan apa yang udah saya ucapkan tadi ha?"
"Ihh marah marah mulu. Ayolah kita bersenang senang saja, kamu jangan munafik sayang. Tenang saja aku bisa ko menyimpan semua rahasia kita."
Astaga ini prempuan buat darahku semakin naik saja, kenapa sih ia harus bersaudara dengan istriku? Dan kenapa sifatnya berbeda? Bukankah mereka satu keluarga? Ahh sudahlah, aku tidak mau memikirkan semua itu, toh percuma. Karena aku baru mengenal mereka.
"Keluar atau aku seret kamu."
"Ga mau. Aku ga mau keluar, aku mau ikut kamu kemanapun kamu pergi."
Tanpa banyak bicara aku langsung keluar dari mobilku dan menyeret nya keluar. Sungguh prempuan ini sangat menguji kesabaran ku saja. Sesudah ia keluar, aku langsung melakukan mobilku menuju rumah. Namun, saat di perjalanan tiba tiba badanku panas, seperti nya aku akan demam.
Akhirnya aku sampai juga di depan rumah, setelah beberpa saat mengendarai mobil dengan badan yang sedikit meriang ini.
Aku turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Saat aku melewati ruang tv, aku melihat mamy dan wulan sedang mengobrol.
"Loh mas. Ko sudah pulang? Bukannya baru saja pergi?"
"Aku meriang." Ucapku pelan tapi ternyata ia bisa mendengar perkataan ku itu. Ia langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri ku, lalau mengusap kening ku ini.
"Ya ampun mas. Panas sekali badanmu, ayok masuk kamar dan beristirahat. Sini biar aku bantu ya."
Aku hanya menurut saja, aku tidak bisa melawan perlakuan nya. Karena keadaan ku sedang tidak sehat. Jadi aku menurut saja.
Ia memapah ku dengan sangat teliti dan hati hati, hingga sampai ke dalam kamar. Di sana ia membaringkan ku tidur, lalu ia membuka pakaian ku.
"Tunggu ..." Ucapku menghentikan aktivitas nya.
"Kenapa mas? Kata ibuku kalau lagi demam meriang itu jangan pake baju kaya gini, tapi harus pake baju yang adem biar ga panas."
"Aku bisa sendiri."
Aku mencoba membuka bajuku dengan sendirinya tapi kepada ku terasa sakit sekali. Rasanya mau pasrah saja.
Bug
"Tuh kan mas. Sudah biarkan aku saja yang membuka nya. Tenang aku tidak akan memperkosa mu ko." Lagi lagi aku menurut saja dengannya. Bahkan ia mengelap badanku dan menyuapi ku dengan bubur buatannya sendiri, selagi aku sakit. Sungguh ini enak sekali buburnya, ternyata benar menurut riki. Ia sangat lah cantik bahkan cantik wulan daripada mantan mantan kekasih ku yang lain. Tapi aku merasa bodong amat. Toh mereka tidak memberikan aku makan dan pekerjaan. Malah aku yang memberikan pekerjaan untukmu itu, sekarang aku ingin makan terlebih dahulu.