
Kami berpura pura menerima ajakan ayah untuk pindah ke rumah nya dan satu atap dengan ibu tiri ku, ya Bu Sonya sekarang adalah ibu tiriku ayah menyuruh ku untuk bisa menerima dia sebagai ibu tiri.
Sebelum ayah mengajak kami, ibu sudah jauh lebih baik bahkan ibu sudah memaafkan ayah namun tidak denganku rasa sakit yang di derita ibu tak sebanding dengan kata maaf darinya, dan ibu sudah meminta ku melupakan semua dendam itu dan mulai hidup baru.
Meskipun ibu sudah memaafkan ayah tapi ibu tak mau menikah dengannya bagi ibu menikah dengan orang yang dulu pernah menyakiti nya sama saja dia mengorbankan prasaan nya untuk kedua kali, aku paham betul bagaimana prasaan ibu dan jujur saja aku pun merasakannya dan aku tidak akan pernah bisa melupakan nya.
Hari ini aku dan ibu serta paman, bibi pindah ke rumah ayah, dan waw lihat ibu tiriku ini dia sangat senang menyambut kami hahaha bahkan aku membawa kembali bi marni pembantu yang awalnya bekerja dengan dia, bukan kami yang pertama kali di tanyain melainkan bi marni, dan aku sempat mendengarnya.
"Bibi, kemana saja.? Aku kesusahan dan aku juga tak ada teman mengobrol." Aku langsung melirik bi marni dan menatap nya, mungkin bi Marni mengerti arti tatapan ku itu dia langsung memberi jawaban yang cukup membuat Bu Sonya kaget.
"Maaf Bu, sekarang majikan saya hanya non Amara dan nyonya lia jadi maaf saya tidak ada lagi keperluan apapun dengan ibu meskipun saya berada di rumah ini." Ucap bi marni sambil berlalu pergi.
Hahaha rasain emang nya enak siapa suruh karena kamu memaksa ayah menikah jadi ibu yang menjadi korbannya kita lihat saja sampai mana kau bertahan di sini, rasa sakit yang ibuku derita harus kau rasakan.
Aku trus melangkah dan sekilas aku melihat kamar Sinta, yang lumayan bagus dan luas anak kecil itu sekarang sudah besar saja kemana dia? Kenapa dia gak ada di rumah ini.?
Aku pernah melihat satu kamar yang menurut ku sangat luas dan bagus dengan nuansa ungu aku sangat menyukai nya, tanpa pikir panjang aku meminta ayah untuk menempati kamar itu dan ayah langsung mengiyakan permintaan ku, sedangkan ibu berada di sebelah kamar milik nya, bibi dan paman berada di sebelah kamar damar, ya semua kamar utama berada di lantai dua sedang kan kamar tamu semua berada di lantai bawah, tentu saja aku sudah tau seluk beluk rumah ini karena dulu aku pernah bekerja di sini meskipun hanya sebagai juru masak saja.
"Hei mas itu kan kamar kesayanganku." Ucap Bu Sonya, oh ini kamar kesayangannya rupanya
"Diam, sekarang kamar ini menjadi milik Amara biar dia tidur di kamar ini."
"Tetapi mas..."
"Aku bilang diam kau punya telinga kan.? Atau kau sudah siap bercerai denganku.?"
Bu Sonya hanya bisa pasrah dengan apa yang ayahku katakan, dan aku sangat senang melihat adegan ini, jadi Bu Sonya semenjak dia tau aku anaknya ayah Dani, dia memohon padanya untuk tidak menceraikan nya.? Uh sungguh miris sekali.
Dan aku meminta kamar Bi Marni berada di dekat ku karena aku takut kalau bi marni akan di hancur oleh Bu Sonya dan itu tidak akan pernah ku biarkan.
Malam pun tiba aku sengaja meminta masakan yang berbeda karena siapa tau Bu Sonya nekad meracuni kami sekeluarga, mana ada yang tau bukan.? Awalnya Bu Sonya tak terima tapi karena perlawanan dari ayah lah yang membuat nya bungkam.
"Ahhh mbak Amara, kemana saja selama ini.? Aku rindu mbak." Ucapnya sambil memeluk ku
"Hei anak manis sini duduk samping mbak, apakah kau masih di suapi.? Aku tak kemana kemana aku hanya beristirahat sejenak dan lihat sekarang aku berada di dekat mu lagi bukan.?"
"Shuttt mbak Amara jangan lah seperti itu, aku malu banyak orang di sini hehehe, tapi aku kangen di suapi mbak Amara dan sekarang aku minta mbak siapin aku ha hitung hitung bayar hutang karena telah meninggalkan aku begitu saja."
Aku pun mulai menyuapi Sinta, dia sangat lahap setiap kali aku menyuapi nya sama seperti waktu dia masih kecil, dia akan banyak makan jika aku yang menyuapinya ku ku lirik Bu Sonya dan dia menatap ku dengan sinis mungkin dia merasa tersaingi oleh kehadiran ku karena semua di rumah ini beralih perhatian padaku dan bukan padanya lagi.
Setelah selesai makan malam kami berkumpul di ruang tv, dan bi marni tak pernah jauh dariku dia terus menerus berada di dekat ku dan aku tak akan pernah bisa memberikan celah untuk bu sonya mendekati bi marni.
Ku rasa mengantuk aku, ibu, paman dan bibi pergi ke kamar masing masing untuk tidur dan di ikuti oleh BI marni, saat bi marni melangkah aku mendengar kalau Bu Sonya memanggil nya dan menyuruh dia untuk menemui nya di belakang aku sengaja memelankan jalanku karena ingin mendengar apa jawaban dari BI marni.
"Bi, bisa temui aku di belakang.? Aku ingin bicara denganmu di belakang.!"
"Maaf Bu, tadi saya sudah memberitahu kan ibu bukan.? Kalau saya hanya akan patuh dengan perintah non amara, ibu, bibi dan pamannya, tanpa terkecuali karena Non Amara yang menggaji saja, jadi kalau ibu mau bicara bicaralah sekarang saya sudah mengantuk."
Bagus bi Marni menolak nya tuh.
"Bi saya ini yang punya rumah ini jadi saya yang berkuasa bukan Amara atau siapapun itu."
"Maaf Bu, bukannya bapak sudah memberikannya pada Amara.? Dan di sana juga terdapat nama amara serta tanda tangan ibu juga ada."
"A-apa...? Jangan bercanda kau bi."
"Jika tidak percaya tanyakan saja pada tuan, saya permisi saya mengantuk."
Emangnya enak siapa suruh nyakitin ibuku hah.? Ini baru permulaan Bu Sonya aku akan membuat semua anak anakmu benci padamu.
Dan benar saja saat aku berada di dalam kamar sayup sayup aku mendengar mereka bertengkar bahkan Bu Sonya di tampar oleh ayah karena mengatai ku anak haram, apakah dia tidak sadar kalau damar juga nk haram.? Bakan dengan tega menjebak orang lain demi menyelamatkan hidupnya. Dan mengorbankan ibuku yang malang karena ulah ayah dan semua berawal dari Bu sonya, ya aku tau semua itu saat ayah datang dan menjelaskan semuanya padaku awalnya aku sangat marah pada ayah, ank mana yang tak sakit hati jika mendengar semua ini.