AMARA

AMARA
Kembali



Amara meletakkan dirinya di atas kasur busa yang empuk. Ia menatap langit-langit kamar. Wajahnya penuh dengan keringat dan peluh. Ia menyeka keringatnya dan mengambil ponsel. Ia menghembuskan nafasnya. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membuka ponsel melalui tombol yang tersedia di ponselnya. Lalu membuka sebuah aplikasi chat untuk menghubungi temannya.


Amara mengirimkan pesan kepada Renata. Jari jemarinya terlihat sibuk menekan tombol di keyboard-nya.


Amara mendengus kesal.


"Aduh, kenapa listriknya mati sih"


Amara merasa kepanasan, lantas pendingin ruangan yang di kamarnya itu mati.


"Eh untung gue masih ada sisa kuota, jadi pesannya tersampaikan ke Renata" ucap Amara menghembuskan napas lega.


"Gue siap-siap dulu"


Amara bangkit dan mandi. Ia bersiap-siap untuk pergi karena ada janji dengan Renata. Setelah Amara selesai bersiap-siap, ia segera memakai baju yang menurutnya cocok untuk dirinya. Ia pun berkaca.


Amara bergumam.


"Bagusnya digerai apa di ikat ya?"


Amara merasa bingung, lalu tak lama kemudian, ia sudah membuat keputusan.


"Mending aku ikat aja deh, biar gak panas"


Amara pun mengambilnya ikat rambutnya dan mengikat rambutnya. Tak lupa, Amara menambahkan beberapa aksesoris rambut untuk memperindah tampilannya.


"Ujungnya mending gue catok deh" ucap Amara lalu mengambil alat catok rambut miliknya dan mulai mencatok ujung rambut Amara.


"Haha, lumayan" tawa Amara ketika melihat dirinya sendiri di cermin.


Ia pun menyiapkan barang-barangnya dan pergi mengambil motor milik ibunya dan pergi ke rumah Renata.


Saat sampai, Amara memanggil Renata. Ia bertemu dengan ayah Renata. Ia menyapanya dengan sopan.


Ia berbincang-bincang sebentar dengan ayah Renata sembari menunggu Renata bersiap. Setelah Renata siap, mereka pun berangkat.


Mereka sedang dalam perjalanan menggunakan motor.


Amara dan Renata melihat banyak bunga mawar di pinggir jalan. Mereka berwarna merah cerah, memperindah jalanan di kota ini. Tak lama kemudian, mereka tiba di tujuan mereka, yaitu taman. Taman yang mereka datangi terakhir kali ketika mereka berdua tidur di atas rerumputan di tengah-tengah taman itu.


Amara memarkirkan motornya di parkiran.


Amara memandangi taman yang penuh dengan tumbuhan itu dengan seksama. Banyak tumbuhan yang menari terkena angin. Rambut Renata terbang terbawa angin. Renata tampak merenung. Menikmati angin-angin yang berhembus menyentuh atmosfer bumi.


"Eh Ren, ayo! Ngapain lo bengong?" ucap Renata menyadarkan Renata.


Renata langsung mengangguk dan berkata "ayo!". Lalu keduanya pun masuk ke dalam taman tersebut.


Keduanya berjalan sambil mengamati sekeliling mereka. Semuanya tampak sama persis ketika terakhir kali mereka datang ke sini. Mereka merasa senang, entah kenapa mereka sangat nyaman berada di taman itu. Taman yang membuat hati mereka berdua sejuk. Hamparan rumput yang hijau sungguh membuat jiwa tenang. Taman ini bagaikan rumah. Banyak sekali orang yang datang kemari dengan alasan serupa. Dapat membuat hati mereka sejuk dan tenang sama seperti Amara dan Renata.


Mereka mencari bangku taman guna mereka duduki. Mereka pun menemukan tempat yang pas untuk mereka menikmati pemandangan ditaman itu. Mereka duduk di sebuah bangku taman dan di sebelah mereka terdapat bunga Lily berwarna putih.


"Agak bau ya" celetuk Renata tiba-tiba.


"Masa ga nyium sih? Hidung lo masih oke kan?" kesal Renata.


"Tenang aja, hidung gue baik-baik aja kok" balas Amara lagi.


"Ini tuh bau busuk gitu loh, tapi gatau dari mana asalnya" ujar Renata menjelaskan.


"Oh, yang lo maksud tuh bau busuk? Kalo itu gue nyium Ren" ucap Amara.


Renata kini menghela napas panjang, berusaha memendam amarahnya.


"Ih elo gimana sih"


Amara pun hanya nyengir melihat Renata yang tampak putus asa.


"Gatau deh, gue mau ngelamun dulu" ucap Renata.


"Oke, gue beli jajan dulu ya" ucap Amara kemudian pergi meninggalkan Renata yang tengah melamun.


Amara pergi ke luar taman dan mencari pedagang snack dan camilan. Ia menemukan seorang pedagang yang berjualan di bawah pohon cemara. Amara pun langsung menghampiri.


"Halo neng, mau beli?" sapa penjual itu dengan ramah.


"Ah iya mas, aku mau beli minuman botol 2 sama snack ini ya" ucap Amara sembari mengambil snack yang ada di depannya.


"Oh, ini neng" ucap penjual itu sembari memberikan 2 botol minuman kepada Amara. Amara menerimanya dan membayar sesuai dengan harga barang yang ia beli. Lalu ia bergegas menyusul Renata ke tempat mereka tadi bersama.


Amara berjalan dengan pelan, ia melihat banyak sekali orang yang ada disini. Ia melihat anak-anak yang sedang berlarian. Mereka mengingatkan tentang masa kecil Amara. Tanpa sadar ia tersenyum. Lalu, tak terasa Amara sudah berada di tempat Renata menunggunya. Ia lalu memberikan sebuah kantong keresek berisi barang yang ia beli tadi.


Sembari menyodorkan keresek itu, Amara melihat jika jauh di belakang kursi yang mereka duduki terdapat sebuah tong sampah. Amara pun mengernyitkan dahinya dan langsung menutup hidung.


"Pindah yok Ren, bau yang tadi lo bicarain tuh berasal dari tong sampah itu" ucap Amara sambil menunjuk ke arah tong sampah.


"Duh, yaudah deh ayo pindah" Renata menyetujuinya dan langsung pindah tempat.


"Sayang banget, padahal enak banget rasanya kalo duduk di sana, eh malah ada tong sampah sialan itu. Ga rela gue" omel Renata.


"Udah Ren, daripada bau kan" ucap Amara menenangkan Renata.


Mereka pun pindah ke sebelah bangku tempat duduk mereka yang tadi. Bau itu tak tercium sampai ke tempat mereka sekarang. Walau begitu, Renata masih saja mendumel kesal.


Mereka pun memakan snack yang Amara beli. Mereka berada di taman itu sampai sore.


Saat sore tiba, Amara pun mengajak Renata untuk kembali ke rumah.


"Ren, ayo pulang. Udah sore, gue dicariin sama mama nanti"


"Oke, gue yang nyetir motor lo ya?" pinta Renata.


"Boleh" ucap Amara lalu memberikan kunci motornya.


Mereka pun pergi ke tempat parkiran. Mengambil motor lalu melesat melewati kota hingga sampai ke rumah mereka masing-masing.