AMARA

AMARA
Perpustakaan



Saat ini, Amara tengah mengerjakan ulangan. Ia sudah belajar dengan keras sebelum ulangan itu berlangsung. Jadi ia tak perlu merasa cemas. Soal-soal yang muncul pun terasa mudah baginya.


"Baik, waktu selesai. Silahkan lembar jawaban dikumpulkan ke depan" ucap bu guru sambil merapikan alat-alatnya.


"Amara pun menyetor hasil ulangannya ke bangku yang ada di depannya. Ia juga mengambil setoran dari bangku yang berada di belakangnya.


Setelah selesai ulangan, mereka pun istirahat. Seperti biasa, Amara, Renata, dan Reza pergi menuju ke kantin. Ia membeli jajanan yang sudah biasa mereka beli.


Kini, mereka sedang berbincang-bincang di meja kantin sembari memakan camilan yang mereka beli.


"Duh susah banget tadi ulangannya. Gue ga belajar lagi" ujar Renata patah semangat.


"Lagian lo ga belajar, padahal kalo lo belajar kerasa enak banget tuh soal. Ada semua di buku" balas Amara.


"Mata lo enak, susah tau" timpal Reza.


"Dih, salah siapa ga belajar. Kena batunya kan" oceh Amara pada dua sahabatnya.


Setelah jam pelajaran usai, terlihat Amara dan Reza yang kini tengah mengobrol di depan pintu kelas.


"Temenin ke perpus kota mau ga?" pinta Amara.


"Mau-mau aja si, kalo ada upahnya tapi", sungguh, Amara kini sangat ingin memukul wajah Reza yang sangat membuatnya emosi. Bagaimana tidak, jika diminta untuk menemaninya saja meminta upah. Namun, Amara hanya pasrah dan memilih untuk memberikan Reza upah daripada ia tidak jadi perpustakaan.


"Iya-iya".


"Nah gitu dong... Asik nih dapet dua puluh rebu" ucap Reza dengan girang.


"Iya cepetan" ucap Amara.


"Siap" balas Reza dengan senang.


Mereka berdua pergi ke arah parkiran tempat motor Reza diparkirkan. Saat mereka siap, mereka pun bergegas pergi ke perpustakaan kota menggunakan motor Reza.


Sesampainya di sana, mereka masuk ke dalam perpustakaan itu. Terdapat beberapa orang yang sedang memilih-milih buku yang diletakkan dalam rak buku, Ada juga yang tengah membaca sebuah buku sambil bersantai. Banyak juga pelajar yang seumuran dengan mereka datang ke perpustakaan untuk mencari buku untuk belajar.


Amara sibuk mencari buku yang ia butuhkan. Sedangkan Reza hanya mengekori Amara. Reza bingung ia harus melakukan apa. Karena ini adalah pertama kali baginya pergi ke perpustakaan kota. Ia hanya mendengar cerita dari teman-temannya tentang perpustakaan kota yang terkenal indah dan damai. Suasana yang berbeda dengan perpustakaan yang berada di sekolah-sekolah yang pernah ia jumpai. Perpustakaan ini terasa begit sunyi namun tenang. Terasa sangat nyaman.


"Eh Ra, mau cari buku apa?" bisik Reza pada Amara, takut menganggu pengunjung lain yang sedang membaca.


"Gue mau cari buku sejarah gitu Za, tapi ini belum ketemu yang cocok sama kebutuhan gue" balas Amara dengan berbisik juga.


"Gitu ya, kalo gitu gue baca buku dulu ya. Boleh kan?" izin Reza pada Amara.


Reza kini merasa senang, ia pun segera mencari buku bacaan yang pas untuk dirinya. Setelah dirasa cukup lama ia mencari-cari, ia pun menemukan buku bacaan yang pas untuknya. Ia pun tersenyum senang dan mengambil buku itu dari dalam rak. Ia membawa sebuah buku novel tebal di tangannya dan mulai mencari tempat duduk. Lalu ia pun mulai membaca.


Di lain sisi, Amara sedari tadi sedang mencari buku sejarah untuk dirinya. Ia tak kunjung menemukan buku yang pas.


Amara hampir putus asa, namun ia memilih tetap berusaha mencari. Ia mencari di semua rak yang ada di dalam perpustakaan.


Tak lama kemudian, usahanya pun membuahkan hasil.Ia berhasil menemukan buku sejarah yang ia car-cari sejak tadi.


Amara merasa sangat senang dan ia menuju ke tempat Reza.


Ia mencari tempat duduk Reza. Tak lama kemudian, bola matanya menangkap seorang remaja berbaju sekolah yang sama dengan seragam milik Amara tengah sibuk membaca di pinggir jendela. Amara pun segera menghampiri.


Ia menepuk pelan bahu Reza. Reza pun menoleh karena merasa jika ada yang menepuk bahunya.


"Udah selesai?" ucap Reza pelan.


Amara mengangguk. "Udah, yuk ke mbak-mbak pustakawan yang ada disitu" tunjuk Amara menuju ke arah pustakawan yang berada di balik kasir.


"Oke"


Setelah melontarkan kalimat tersebut, Reza pun berdiri dan mengembalikan buku yang ia baca tadi ke dalam rak tempat buku tersebut disimpan. Lalu, Reza dan Amara pun pergi ke kasir untuk meminjam buku sejarah yang dipilih oleh Amara.


Setelah selesai, mereka pun pergi ke luar. Mereka menuju ke tempat parkir. Mereka duduk di sebuah bangku dan di samping mereka terdapat pohon besar.


Amara dan Reza duduk di bangku tersebut. Mereka merasakan hawa sejuk ketika angin berhembus mengenai kulit mereka.


"Adem banget disini, gue jadi enggan buat pulang" ujar Amara.


"Disini aja dulu, nikmatin semua yang ada disini. Kalo lo udah puas, kita pulang. Okay?" jawab Reza.


"Oke Za".


Mereka pun menikmati hembusan angin di bawah pohon besar yang terasa sangat sejuk. Hal itu pun membuat Amara mengantuk. Tanpa sadar, Amara meletakkan kepalanya di pundak Reza. Reza yang kaget pun menoleh pada Amara dan membenarkan posisi kepala Amara agar ia merasa nyaman. Sambil menunggu Amara tertidur cukup lama, Reza pun memainkan ponselnya karena bosan.


Setelah beberapa menit, Reza pun membangunkan Amara yang sedang terlelap.


"Hei Ra, bangun. Ayo pulang" ujar Reza membangunkan Amara.


Amara yang mendengar ucapan Reza pun kini perlahan-lahan mulai membuka matanya. Ia berusaha menyeimbangkan kesadarannya agar ia tersadar secara penuh. Setelah kesadarannya kembali, Amara pun mengangguk dan pergi pulang bersama dengan Reza.