
Alhamdulillah aku dan mas Amar, resmi menjadi suami istri yang sesungguhnya. Aku telah menunaikan kewajiban ku sebagai istri padanya. Meskipun di waktu yang sangat singkat tapi mas Amar bisa sangat hati hati memulai semua itu pelan pelan, ia tak hentinya mengecup keningku dan berterimakasih padaku.
"Sayang. Sakit ya.? Maafkan mas mu ini yah, mas janji tidak akan melakukan nya lagi."
"Tidak apa mas. Ini sudah menjadi kewajiban ku harus melakukan nya, jangan berkecil hati sayang." Kami berpelukan dalam balutan selimut, hingga sore hari pun tiba. Aku bangkit dari kasur menuju kamar mandi, untuk membersihkan badanku.
Dua puluh menit kemudian aku selesai mandi, saat aku keluar dari dalam ternyata mas amar sudah duduk manis di atas kasur, dan rupanya seprai bekas tadi kami bergulat pun sudah di ganti oleh nya.
Sungguh aku bahagia sekali melihat perubahan mas Amar ini, semoga kami tetap harmonis sampai kapanpun. Ia trus memperhatikan ku yang membuat aku malu.
"Sayang. Kamu lucu jalan seperti itu, udah kaya bebek hahaha." Ucapnya tertawa melihat jalan ku yang sedikit n*ang**ng karena menahan perih bekas tadi.
"Yee. Ini kan ulah mu juga mas."
Lalu ia memelukku dari belakang. "Maafkan mas ya sayang. Mas janji tidak melakukan itu lagi, mas tidak ingin menyakiti mu lagi."
"Mas. Aku sudah wudhu ahhhh." Gerutu ku, karena aku akan melaksanakan sholat.
"Hahaha. Maaf sayang, mas tidak tau. Apa kamu akan melaksanakan sholat sayang.?"
"Iya. Aku mau pakai baju dulu dan wudhu lagi. Gara gara mas kan aku jadi batal wudhu nya."
"Ya maaf kan ga tau. Tumben kamu tidak mengajak mas.?"
"Cepat lah mandi, kita berjamaah."
"Oke."
Lalu mas Amar masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Alhamdulillah kini ia sudah benar benar brubah, sekarang ia tidak marah lagi jika aku ajak menunaikan ibadah tidak seperti awal pertama.
Akhirnya kami menunaikan ibadah berjamaah, setelah selesai aku memutuskan untuk turun kebawah dan menyiapkan makan makan nanti.
"Mas mau makan apa nanti malam.? Biar ku buatkan."
"Apa saja." Aku hanya mengangguk dan turun ke bawah, saat aku sudah sampai di bawah ternyata papah dan mamy sedang duduk menonton tv, memang di jam jam segini beliau selalu menonton bersama.
"Assalamualaikum. Mamy, papah."
"Waalaikumssalam nak. Sini duduk, mamy ingin bicara." Aku pun menuruti nya.
"Nak. Apakah Amar bertindak kasar lagi padamu sayang.? Atau ia bersikap tidak baik.? Jika ia maafkan lah mamy dan papah mu ini sayang. Kami telah gagal mendidik anak kami satu satunya, tapi tolong jangan pergi lagi dari rumah ini ya nak."
"Benar itu nak. Papah marah dengan Amar, itu sebabnya papah tidak berbicara dengannya sampai sekarang. Papah telah gagal mendidik putra papah itu." Sambung papah.
"Ngga ko. Alhamdulillah mas Amar sudah berubah, semoga saja ia tetap seperti ini dan tidak berubah menjadi seperti dulu."
"Syukurlah. Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini sayang.?"
"Alhamdulillah. Aku bahagia mamy."
"Alhamdulillah. Lalu mana Amar.? Apa ia tidak ikut turun ke bawah.?"
"Mas Amar, sedang ada di kamar. Mungkin ia sedang sibuk."
"Baiklah."
"Mamy. Papah. Aku permisi pamit ke dapur yah, mau siapkan untuk makan malam nanti."
"Duduk lah di sini nak. Wajah mu terlihat letih sekali, istirahat lah. Biarkan bi Ijen yang menyiapkannya, kamu ingin makan apa sayang.?"
"Gapapa mamy. Aku baik baik saja, aku permisi yah." Aku pun bangkit dan mereka hanya mengangguk.
Sumpah aku merasa malu sekali mendengar penuturan mamy, apakah sebegitu terlihat nya wajah ku ini habis melaksanakan tugas ku.? Ya tuhan malunya aku.
Malam ini aku memasak makanan yang mereka suka. Khususnya untuk suamiku tercinta, aku memasakan cumi sambal balado. Aku mengetahui itu dari bi Ijen. Tentu saja aku di bantu oleh nya.
Alhamdulillah masakan kami selesai sebelum magrib, pas saat magrib tiba aku pun sudah selesai mandi dan siap melaksanakan ibadah, tentu saja sekarang ibadahnya bersama suamiku tercinta ini.
Setelah selai beribadah kami pun turun untuk makan malam, makan malam kali ini berbeda karen ini kali pertama mas amar memuji masakan ku langsung di depan mataku sendiri.
Kalau di ingat ingat, ada lucunya juga pernikahan kami tiga bulan lalu.
Flashback
"Ya tuhan, enaknya masakan Wulan, kalau begini aku tiap makan siang akan pulang saja ke rumah." Ucap mas Amar saat sesudah selesai makan siang, ia tidak sengaja pulang ke rumah karena ada berkas yang ketinggalan dan kebetulan aku dan mamy sedang makan, jadi mas amar pun ikut makan bersama kami.
Aku yang sedang memotong buah untuk di jadikan salad pun tertawa kecil mendengarnya, dan ternyata bukan hanya aku saja tapi mamy pun mendengarnya.
"Enak yah masakan istri sendiri." Ucap mamy.
"Apa sih mamy nih ad ada aja. Masakannya biasa saja, lebih enak masakan bi Ijen." Ucapnya mengelak
"Sudah kamu jangan bohong, buktinya kamu habis dua piring."
"Ah masa.?"
"Iya."
"Ah sudahlah aku mau kembali ke kantor dulu. Wulan. Sedang apa kamu.?"
"Iya mas.? Aku sedang menyiapkan salad buah, apa mas mau.?"
"Cepat." Aku dan mamy saling beradu pandang, dan langsung menyiapkan salad untuk mas Amar. Ternyata ia lucu juga kalau sedang malu malu seperti itu. Setelah selesai aku pun memberikannya pada mas Amar dan ia pun berlalu pergi setelah menerima bingkisan dariku. Aku duduk bersama mamy sambil menikmati salad yang ku buat.
"Yang sabar yah sayang, amar memang seperti itu anaknya gengsian. Tapi ia sebenarnya baik ko." Aku mengangguk.
Setelah kejadian itu, benar saja mas Amar setiap pukul sepuluh ia sudah berada di rumah. Padahal jam istirahat sebentar pukul dua belas, tapi terserah dia lah. Toh dia juga bos nya.
Flashback off
Setelah selesai makan malam, seperti biasa kami berkumpul di ruang tv, sambil menonton film kesukaan mamy. Yaitu sinetron ikatan batin.
Di sela sela iklan papah menegur mas Amar, mengenai masalah kemarin. Alhamdulillah papah sudah mau berbicara lagi dengan suamiku.
"Amar."
"Ya pah."
"Jangan sekali kali kamu menyakiti istrimu lagi. Cukup papah saja yang sudah banyak dosa dengan mamy mu, kamu jangan nak. Karena hanya istrimu lah yang akan menemani mu sampai akhir hayat nanti."
"Aku berjanji pah, tidak akan menyakitinya lagi."
"Bagus itu."
"Oh ya. Mam, pah. Aku ingin memberitahukan bahwa Wulan ingin belajar membina rumah tangga, di rumah yang baru."
"Benarkah itu sayang.?" Tanya mamy padaku.
"Benar mam. Tapi kami akan sering berkunjung ke rumah ini."
"Tidak apa sayang, bina lah rumah tangga kalian dengan bahagia dan percepat lah berikan kami ini cucu. Mamy sudah tidak sabar ingin menimang cucu."
"Sedang di proses mam, doakan saja."
"Alhamdulillah. Semoga cepat cepat yah nak, rencana kalian akan pindah kemana sayang.? Apa kedua orang tuamu tau.?"
"Belum cari tempat rumah yang bagus mam, mereka belum mengetahui ini. Karena aku saja baru bilang tadi pagi pada mas Amar."
"Cepat lah laksanakan permintaan istrimu ini Amar."
"Baik mam."
Alhamdulillah aku memiliki keluarga baru yang sangat baik hati, aku memiliki mertua yang sangat baik, dan sangat beruntung juga aku tidak memiliki saingan di rumah ini hehehe. Bercanda.
Setelah berkumpul kami pun masuk ke kamar masing masing, inilah malam pertama bagi ku, karena malam ini aku tidur di satu kasur dengan mas Amar. Dan ini adalah awal dari pernikahan kami sesungguhnya.