AMARA

AMARA
Bab 72 Kepulangan Wulan



Tak terasa kini usia pernikahan ku dengan perempuan itu sudah menginjak tiga bulan. Dan selama tiga bulan itu, aku tak pernah sekalipun menyentuh nya. Gangguan demi gangguan dalam rumah tangga kami masih saja terus berdatangan termasuk gangguan dari Dinda.


Aku heran dengan prempuan itu, kenapa ia begitu terobsesi denganku? Padahal sudah jelas aku ini suami dari saudaranya tapi ia tetap saja menggoda ku. Pernah sekali ia datang ke kantor ku, untuk menggoda aku tapi beruntung riki sahabatku datang kalau tidak... Ahh sudah lah kita sama sama tau.


Selama aku sakit waktu itu, wulan dengan sangat telaten mengurus ku. Padahal selama ini aku selalu cuekkan nya dan tidak pernah menganggap nya ada. Tapi ia masih saja sabar mengurus ku dan membersihkan badanku, hingga aku sembuh. Jujur saja masakan nya sangat enak, dan aku menyukai nya tapi aku gengsi untuk mengakui itu semua.


Pagi ini kami beraktivitas seperti biasa, kami masih satu rumah dengan mamy dan papa karena aku belum ingin pindah dari rumah ini. Namun tiba tiba saja aku melihat sepupu jauh ku, Ryan. Di rumah ini mau apa dia kemari? Si lintah darat, siapa yang tidak kenal dengan nya? Ia lelaki buaya.


"Pagi semua." Ucapku menyapa mereka yang ada di ruang makan.


"Pagi." Jawab mereka serempak.


"Mari, mas. Aku siapkan sarapan." Aku pun menuruti nya dan duduk di kursi dekat ia berada.


"Bro. Kenapa kau tak memberitahu ku kalau kau punya istri secantik dia." Ucap Ryan tiba tiba, apa maksud dari nya berkata seperti itu?


"Apakah penting untukmu?"


"Santai bro. Tapi memang kenyataannya kalau istri lo itu cantik luar biasa, udah gitu pinter masak pula."


"Jaga ucapanmu."


"Sudah mas. Ayok sarapan dulu."


"Betul itu nak, sudah sudah kalian baru saja bertemu kembali, jangan bertengkar lagi."


"Aku tidak selera, aku pergi kerja dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam, nanti aku antarkan makan siang ya mas."


"Terserah."


Panas sekali hatiku ini dengar ucapan dari ryan, apa maksud dari perkataan nya.? Berani sekali ia menyanjung istriku.


Di kantor...


Tok


Tok


Tok


"Permisi pak."


"Siapa?"


"Saya Dea, pak."


"Oh masuk."


"Permisi pak, maaf menggangu karena ada yang ingin bertemu dengan bapak."


"Siapa? Lelaki apa prempuan?"


"Bu Wulan dan... Saya tidak tau siapa pak, seorang ibu ibu."


"Kenapa menunggu? Sudah ku katakan bukan, kalau istri saya datang ke kantor suruh langsung masuk saja."


"Ma-maaf pak. Kalau begitu saya permisi."


Siapa yang datang bersama Wulan? Apa kah ibu mertuaku? Tapi tumben sekali ia datang, apa ada hal yang genting? Sampai ia datang kemari?


"Assalamualaikum nak Amar."


"Waalaikumssalam, ibu. Apa kabarnya bu? Ayah mana?"


"Ibu baik nak. Ayah mertua mu sedang ada urusan di luar, ibu hanya ingin bicara denganmu."


"Ya. Bu."


"Kenapa kamu tidak pernah menyentuh anakku? Apa kamu terpaksa menikahi nya?"


Deg


"Anakku masih p*aw*n dan itu tandanya kamu tidak pernah menyentuh anakku. Pantas saja kalian belum memiliki momongan ternyata kamu tidak pernah menyentuh anakku, jika begitu untuk apa kalian menikah?" Hardik ibu mertua.


"Bu. Sudah bu, mas Amar sedang bekerja. Biarkan ia bekerja dulu, nanti kita bicarakan lagi."


"Tidak Wulan, ibu merasa terhina dengan tindakan amar. Seolah olah anak ibu ini kotor sekali sampai ia tidak menyentuh mu sama sekali. Apa jangan jangan kalian selama ini pisah ranjang?"


"Tidak bu. Kami baik baik saja, ayok kita pulang."


"Dengar sini Amar. Tadi saat ibu sedang main ke rumah mu, wulan mengeluh sakit perut dan kami memeriksa kan nya ke dokter, dan ternyata ia masih p*aw*n."


Deg


Aku kembali kaget, kenapa dengan perut Wulan? Selama ini aku tidak pernah melihat kalau ia kesakitan, apa jangan jangan ia selama ini sering merasakan ini semua tapi ia sembunyikan?


"Ma-maaf kan aku bu. Aku...."


Cklek


"Sayang..." Sontak membuat kami menoleh ke arah sumber suara itu, ya tuhan cobaan apa lagi ini? Mau apa ia datang kemari? Dan apa kata dia barusan? Sayang?  Tuhan bawa wanita gila ini pergi.


"Apa? Sayang?" Tanya Tante Amara.


"Eh tante. Hai Wulan. Sayang aku kangen denganmu." Ucap Dinda sengaja.


Aku diam melongo dengan tindakan Dinda ini, aku tak tau apa lagi yang ia mainkan sekarang?


"Aku tunggu penjelasan mu di rumah mas." Ucapnya sambil menggandeng tangan mertua ku keluar, sebelum itu ia melirik dinda dengan tatapan tajam.


"Wulan tunggu ... Lepaskan aku ulat bulu." Aku menghentak kan tangan kotor nya itu.


Kesal sekali rasanya aku dengan wanita ini, kenapa ia seperti ini sih? Bahkan kami saja tidak memiliki hubungan spesial. Semurah ini kah dia?


Aku tidak menyusul mereka, karena aku malu pamor ku sebagai CEO di perusahaan ini akan turun jika aku mengejar nya. Biarlah nanti saat pulang ke rumah aku akan menjelaskan semuanya pada Wulan.


Dan ulat bulu ini? Aku akan meminta anak buah ku untuk mengurus nya, ntah kenapa rasanya aku panik sekali melihat kemarahan Wulan. Bahkan ia tidak menangis sama sekali saat mendengar Dinda memanggil ku seperti itu.


Tepat pukul dua belas siang, aku pulang ke rumah untuk menjelaskan semuanya pada istriku.


Saat sampai halaman, aku melihat sebuah mobil yang sangat ku kenal, ya mobil itu milik ayah mertua ku. Alamat kena ceramah papa ini mah.


"Assalamualaikum." Ucapku dengan rasa takut.


"Waalaikumssalam." Ucap mereka serempak. Aku melirik wulan ia masih sama seperti tadi. Tidak ada air mata yang jatuh di pipinya.


"Amar. Kemari Lah." Ajak papa. Aku menuruti nya dan melangkah duduk dengan mereka.


"Kenapa kau tidak pernah menyentuh menantuku hah? Sudah ku katakan jika kau tidak terima ini semua, maka silahkan pergi dari rumah ini dan kembalikan semuanya."


"Bu-bukan seperti itu pah. Aduh gimana ya, aku dengan dinda itu tidak ada hubungan apapun pah, ia mencoba trus merayuku ntah apa tujuan nya."


"Aku tidak bertanya soal itu, yang aku tanyakan kenapa kau tidak pernah menyentuh menantuku ini? Jika kau tidak menginginkan pernikahan ini, maka silahkan jatuhkan talak untuknya. Jangan kau siksa ia seperti ini terlalu lama, apa kau tidak sadar Amar. Selama ini ia melayani mu dengan setulus hati dan ia dengan telaten mengurus mu saat kau sakit."


"Sudah pah. Kami tidak apa apa, aku baik baik saja. Lebih baik kalian beristirahat saja, insyaallah kami bisa menyelesaikan semuanya ko. Iya kan mas?" Ucapnya menoleh ke arah ku, astaga aku berdosa sekali karena telah melukai prempuan sebaiknya


"Ah. I-iya. Kami baik baik saja, dan percaya lah kami bisa mengatasi semuanya sendiri."


"Tidak bisa. Wulan harus ikut pulang bersama kami, dan kamu Amar. Cepat lah mengurus surat perceraian kalian berdua." Ucap papa mertua.


Lalu mereka pergi menarik tangan Wulan untuk pergi dari rumah ini.


"Kami permisi pak Hartawan yang terhormat, dan ingat percakapan kita tadi." Aku menoleh ke arah papa, mukanya berubah menjadi pucat pasi. Sebenarnya apa yang telah mereka bicarakan? Kenapa papa terlihat ketakutan seperti itu?


Ternyata mereka benar benar membawa istriku, dan malam ini aku akan tidur sendirian di kamar sebesar itu. Papa dan mamy, trus memandangi mereka pergi, mamy menangis. Setelah mobil mereka tidak terlihat lagi, papa menoleh ke arahku dan aku harus siap siap kena marah olehnya. Ia memandang ku dengan tatapan sinis, tanpa berkata sepatah dua patah pun, lalu mamy dan papa pergi masuk ke dalam kamar mereka.


Mamy trus menangis karena kepergian Wulan, memang mereka selama ini sangatlah dekat. Aku lupa bahwa mereka tidak bisa ikut campur semua urusan rumah tangga ku dengan Wulan. Mungkin karena ini, papa dan mamy tidak ikut campur tentang ini semua. Aku merasa bersalah dengan sikap ku selama ini.