AMARA

AMARA
Bab 77 Mulai Mencintai 2



Hari ini aku harus berhasil membujuk istriku pulang, aku tidak ingin membuatnya pergi dari rumah ku ini. Aku akan lakukan apapun itu, sekarang aku sadar bahwa aku sudah ketergantungan dengan istriku ini, aku sudah melihat ketulusan nya dalam mengurus ku saat itu. Ia sangat telaten mengurus ku sampai sembuh, bahkan ia juga sering diam diam menyetrika baju bajuku, meskipun aku berulang kali melarang nya.


Setiap malam aku selalu merasa kesepian semenjak kepergian wulan, bahkan aku pernah tidur di ruangan yang sering ia pakai untuk tidur. Wangi tubuh nya masih menempel di sprei bekas dia tidur, wangi shampo dan yang lainnya. Aku pun membuka lemari pakaiannya Wulan ternyata ia sudah membawa habis pakaiannya kecuali mukenah.


Aku langsung mengambil hp ku dan menelfon Riki untuk menemani ku bertemu dengan Wulan, aku ingin ia membantuku menjelaskan semuanya pada mertua dan istriku itu.


Tuttt


Tuttt


Tuttt


"Hallo. Kenapa nelfon pagi sekali seperti ini.?" Tanyanya.


"Cepat mandi dan bersiap, aku akan datang me jemput mu rumah"


"Tunggu. Tunggu kita mau kemana ini?"


"Sudah cepat bersiaplah, jangan banyak bertanya seperti prempuan saja."


"Baiklah."


Tut...


Aku mengambil kunci mobilku di atas nakas, "sayang. Tunggu mas datang menjemput mu." Ucapku.


Aku menuruni anak tangga, ternyata di sana ada papa dan mamy, papa masih saja diam seribu bahasa padaku. Mungkin ia masih marah karena permasalahan ini semua, sungguh aku tidak berniat membuat mereka kecewa. Aku menghampiri mereka berniat untuk pamitan dan meminta doa restu dari mereka berdua.


"Mau berangkat kerja nak?" Tanya mamy.


"Aku tidak ke kantor hari ini mam."


"Mau buat kecewa seperti apa lagi kamu hah? Tidak cukup kah kamu membuat persahabatan papamu ini hancur? Apa kamu lupa, Andi itu sahabat papa yang sudah membuat papa bangkit dan kamu beserta mama mu dapat menikmati semuanya tanpa harus bekerja keras. Tapi apa? Kamu membuat semuanya hancur dalam sekejap." Ucap papa marah, ternyata benar papa sangat marah padaku.


"Aku minta maaf atas semua itu, aku akan menjemput istriku kembali pulang." Mamy dan papa hanya diam saja.


"Aku tau, aku salah karena aku telah melarang kalian ikut campur dalam urusan rumah tanggaku ini, tapi ketahuilah kalau aku sudah menyukai bahkan mencintai istriku ini. Itu sebabnya aku akan berusaha menjemput nya kembali. Doakan aku mam, papa."


"Buktikan ucapanmu itu."


"Baik mam. Aku pamit."


Aku pergi berlalu meninggalkan rumah dan menuju ke rumah riki untuk menjemput nya.


Akhirnya aku sampai ke rumahnya, dan ternyata ia sudah menunggu ku di depan dan ia sangat berpakaian rapih sekali.


Tin


Tin


Aku membunyikan klakson sebagai kode agar ia menghampiri ku di luar pagar ia berjalan menuju arah tempat mobil ku terparkir, tanpa permisi dia langsung masuk dan duduk di samping ku. Ia sempat heran kenapa aku hanya menggunakan kaos dan kemeja saja.


"Loh. Lo ko cuman pake kaos sih? Trus lo mau ajak gue kemana? Kenapa harus sepagi ini?" Tanya nya.


"Udah diem aja deh."


"Baiklah."


Aku melakukan mobil ku menuju rumah bu amara. Semoga saja mereka mau memaafkan aku dan bisa percaya dengan apa yang ku katakan nantinya. Beruntung jalanan belum macet seperti biasanya, tiba tiba hp ku berdering sebuah telfon dari asisten ku di kantor.


"Hallo? Kenapa?"


"Maaf tuan, apakah hari ini anda akan ke kantor?"


"Tidak, kenapa? Cepat katakan karena aku tidak memiliki banyak waktu lagi."


"Maaf tuan, saya ingin memberitahukan kepada anda, bahwa ada seorang prempuan mencari anda bahkan ia berteriak teriak memanggil nama anda."


"Saya tidak tau tuan, ciri cirinya sama seperti saat ada prempuan yang mengaku saudara nyonya Wulan."


"Usir dia. Dan jangan biarkan dia masuk ke dalam ruanganku."


"Baik tuan."


Tuttt


Huf untuk apa lagi wanita jal*ng itu mencari ku? Apa dia sudah bosan untuk hidup?


"Siapa yang menelepon? Dan siapa yang di usir?" Tanya Riki.


"Dinda. Saudaranya istri gue, dia datang lagi ke kantor dan membuat onar, sumpah ya tuh cewek kenapa gat*l banget padahal dia sudah tau kalau gue ini suami dari saudaranya sendiri."


"Oh gue paham sekarang, lo mau ajak gue ke rumah istri lo dan menjelaskan semuanya sama dia?" Aku mengangguk.


"Dan ya. Ada yang laporan sama gue kalau tuh cewek ternyata kupu kupu malam ya bisa di bilang dia cewek panggil*n gitu. Dan parahnya lagi, lo tau si Deni? Teman lama kita."


"Ya. Kenapa dia?"


"Dia hang out dengan prempuan itu, dan di bayar sebanyak puluhan juta."


"Benarkah? Dari mana lo tau?"


"Ya elah gue udah suruh anak anak buah gue cari informasi soal dia, karena gue tau pasti akan ada masalah di hari berikutnya."


"Bagus. Inilah alasan gue kenapa lo gue jadiin asisten pribadi."


Tak terasa akhirnya kami sampai di depan rumah mertua ku, di sana ada Wulan yang sedang menanam tumbuhan. Saat ia sadar akan kehadiran ku saat itu, ia langsung bangkit dan membersihkan tangannya lalu mencium tanganku. Bahkan ia juga mempersilahkan kami untuk masuk, hatiku tak karuan, aku takut terjadi sesuatu di dalam sana yang di luar batas kesabaran, tapi semoga saja tidak terjadi hal seperti itu.


Ibu mertua ku bangkit dan mencaci maki ku sampai akhirnya ayah mertua membuat nya sedikit agak tenang, aku pun mulai mengutarakan kedatangan ku di rumah ini. Mereka semua kaget dan tidak percaya, bahkan Riki pun sudah ikut menjelaskan.


"Aku berjanji akan membuktikan kalau aku dan dinda tidak ada hubungan apapun."


"Silahkan tepati janji mu dan jika semua itu sudah terpenuhi maka jemput kembali istrimu itu." Ucap ibu mertua.


"Dan satu lagi aku mau tanya sama kamu. Apa salah anakku sampai kamu enggan untuk menyentuh nya dan memberikannya nafkah bathin? Apa kamu merasa jijik pada anakku ha?" Ucapnya kembali emosi.


"Apa? Lo belum pernah nyentuh bini elo? Gila sih ini lo masih perja*a sampe sekarang dong?"


"Shuttt. Diam gue bawa lo kesini bukan untuk bikin harga diri gue jatuh." Ucapku sambil menepis tangan nya.


"Ya Maaf."


"Tidak bu. Aku tidak merasa jijik padanya, hanya saja .."


"Apa?"


"Sudah bu. Tidak usah di lanjutkan mungkin ia masih gugup atau belum bisa menerima status barunya itu." Ucap ayah mertua membela.


"Sudah ayah jangan ikut campur, ini semua juga salah ayah. Kenapa ayah biarkan anak kita menikah dengan lelaki seperti ini?"


"Maksud ibu seperti ini, itu apa ya bu?"


"Kamu pikir saja sendiri, dan cepat pergi dari sini. Aku berikan kamu waktu tiga hari untuk membuktikan semuanya, jika lewat maka bersiaplah untuk berpisah dengan anakku." Ucapnya tegas.


"Baik bu. Bu, ayah aku pamit pulang dulu, aku akan datang kembali dengan mengantongi banyak bukti bahwa aku tidak berselingkuh." Ucapku berpamitan.


"Sayang. Mas pulang dulu ya, percaya lah mas tidak ada hubungan apapun dengan dinda."


"Iya mas. Aku percaya dan semoga berhasil mas."


"Mas. Riki titip suamiku ya." Sambungnya.


Aku dan riki keluar rumah dengan prasaan kecewa, karena tidak berhasil membawa pulang istriku. Apa aku harus menggunakan cara keker***n untuk membuat dinda tidak mengusikku lagi? Tuhan berikan aku jalan agar rumah tanggaku kembali seperti semula lagi. Aku janji tidak akan membuat istriku kembali kecewa seperti ini, aku akan memenuhi semua keinginannya asalkan ia tidak memintaku untuk menjauh darinya, ia wanita yang sangat baik dan tulus. Berikan kesempatan kedua untukku menebus semua kesalahanku selama ini tuhan.