AMARA

AMARA
Bab 30



Aku tak menyangka kalau Sonya masih melakukan hal yang tidak aku sukai bahkan ia sampai hamil di luar nikah lagi, dan parahnya kali ini aku tak mengetahui siapa ayah dari anak itu aku sebenarnya sudah menyuruh orang untuk mengikuti kemana pun Sonya pergi itulah sebabnya aku bisa mengetahui Sonya selingkuh lagi dan parahnya lagi ia Selingkuh dengan spupu dari rehan sahabatku.


Saat pulang jam kerja aku langsung menghampiri nya di rumah, sesampainya aku di sana aku melihat amara dan lia sekilas aku melihat mereka merasa bersalah aku sudah bertahun tahun tak pernah membiayai Amara, bahkan aku tak tau bahwa amara ada di dunia ini aku sangat menyesal atas apa yang terjadi padanya itulah sebabnya tanpa ia minta aku memberikan rumah besar ini padanya dan ibunya bukan hanya itu saja aku memberikan salah satu perusahaan ku padanya.


Yang tadinya rumah ini adalah milik sinta namun aku ganti dengan nama amara, sebelum itu aku sudah bicara dengan Sinta dan damar tentu saja mereka setuju dengan ide ku.


Damar berpikir kalau ia tak berhak apapun atas semua kekayaan yang aku punya karena ia bukan anak kandung ku namun meskipun begitu aku tetap membaginya karena aku sudah menganggap nya sebagai anakku sendiri, sedangkan Sinta ia menurut saja karena amara adalah Kaka nya dan ia aku belikan rumah terpisah dengan desain yang dia inginkan.


"Mana Sonya?"


"Ada di kamarnya?"


Aku langsung menuju ke dalam kamar terlihat ia sedang bermain hp huff sungguh menjijikan sekali aku harus mempunyai istri seperti ini, dulu aku menalak satu nya tapi ia tetap bersikeras untuk tinggal di rumah ini padahal kami sudah cerai tapi dengan begitu kami pisah kamar aku berada di kamar tamu sedang kan dia berada di kamar kami.


Aku sudah tak peduli dengan apa yang terjadi padanya apalagi dia sampai hamil di luar nikah lagi dan ia pasti akan menyalakan aku dan mengaku kalau anak itu adalah anakku, ia akan menjebak ku seperti dulu dan lebih m*n*i*i*a* nya lagi ia akan berbuat seolah akulah yang salah mungkin dulu aku masih bisa bersabar atas apa yang ia lakukan namun tidak untuk sekarang aku tidak akan pernah memaafkan nya lagi.


Mungkin dulu memang aku mengalah padanya bahkan aku mengakui anak yang ada di dalam kandungan nya karena dulu masih ada ayah nya Sonya namun tidak untuk sekarang aku tak akan pernah mengakuinya lagi.


Ku biarkan ia mengoceh dengan pendapat nya sendiri sedangkan aku masih tetap sibuk mengemasi barang-barang milik nya aku mengemasi semua nya ini adalah kali pertama aku menyentuh baju baju ini, aku sempat tercengang saat melihat beberapa baju **** bahkan berbentuk karakter yang ia miliki karena aku tak pernah mengetahui nya untuk apa dia memiliki pakaian seperti ini?


Setelah aku rasa selesai aku menyeret nya keluar dari kamar lalu aku mengusir nya awalnya ia menolak ia merasa rumah ini masih milik anaknya namun kenyataannya bukan, bahkan ia menghina anakku amara dan bukan hanya Amara saja, Lia pun ia hina.


Dan di saat kami sedang bertengkar lia menjerit oh tuhan aku lupa dengan janjiku pada amara kalau aku tak akan membuat keributan di depan lia karena itu akan membuat Lia menjadi sedih dan merasa tertekan lagi.


Setelah lia di pastikan masuk ke dalam kamar benar saja Amara meluapkan amarahnya pada kami bahkan ia mengusir Sonya dengan lantang, sebenarnya ia bisa juga mengusir ku namun tidak ia lakukan aku menyeret Sonya keluar dari rumah ini setelah aku pastikan ia tak kembali lagi ke rumah lalu aku masuk ke dalam kembali namun saat aku masuk aku tak mendapati Amara di sana.


Aku langsung menuju kamar ku dan Lia dan benar saja mereka ada di sana namun aku di usir oleh amara bahkan pintu kamar itu di kunci jadi mau tak mau aku tidur di kamar tamu seperti dulu, sedih rasanya seperti ini namun aku bisa aapa? Ini memang kesalahan ku, aku yang telah membuat lia menjadi seperti ini dia tidak g*l* namun dia depresi dan akulah penyebab nya.


Keesokan harinya


Seperti biasa aku sebelum pergi ke kantor aku sempatkan untuk sarapan terlebih dahulu dan di sana sudah ada lia namun tidak ada amara, apa mungkin anak itu belum bangun? Tapi rasanya tidak mungkin karena ada bekas minum di meja makan dan itu adalah gelas yang biasa Amara pakai.


Aku segera menghabiskan makanan ku dan aku langsung berpamitan masuk ke kantor, sebenarnya aku malas untuk pergi ke kantor namun jika aku tak kerja aku harus ngapain? Mengobrol dengan mereka pun rasanya percuma saja karena mereka pasti masih sangat marah padaku, namun aku melihat wajah cantik lia aku merasa kalau lia sudah tak marah dengan ku tapi aku tak tau dengan amara.


Gadis itu bisa saja berbuat nekad dia masih muda tenaganya masih kuat sedangkan aku sudah tua tenagaku tak sekuat dulu, aku hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah terjadi selama ini, bahkan aku merasa tak berguna sekarang karena aku berulang kali menyakiti hati Lia.


Selama ini aku selalu mengedepankan kebahagiaan Lia ya itu adalah sebagai bentuk rasa bersalahku karena aku ia menjadi seperti ini bahkan bertahun tahun ia menerima cemoohan dari warga, cibiran dari warga hingga membuatnya kepikiran dan menjadi depresi sampai puncaknya ia di pasung oleh adiknya.


Adik lia tinggal di rumah yang berbeda dengan kami mereka meminta rumah berbeda karena menurut mereka agar tidak menggangu keluarga kecil kami, dan aku memaklumi itu semua kini mereka sudah di karuniai dua orang anak.


Anak pertama bernama Erik dan anak kedua bernama Wulan, Erik dan Wulan memiliki perbedaan lahir dua tahun saat Erik berusia dua tahun Lisa hamil kembali dan lahirlah Wulan adiknya.


Dan setelah itu lia hamil anak kami berdua Lia melahirkan satu orang putra yang aku bernama Al, aku harap dia menjadi pemimpin keluarga yang seimbang nantinya menjadi pelindung ibunya kelak saat aku atau Amara sudah tiada nanti.