
"Lia. Kamu dimana sayang? Aku merindukan mu."
Rasanya hari hari ku menjadi sepi, setelah kepergian lia dan kedua anakku. Aku tau ini semua salahku, tapi tak ada kah kata maaf sekali lagi untukku? Aku benar benar menyesal dengan semua ini.
Tak terasa seminggu sudah, Lia meninggalkan aku. Rasanya aku ingin mati saja aku tak sanggup jika terus seperti ini. Sumber semangat ku telah hilang dan ntah kapan akan kembali, atau mungkin tak akan pernah kembali? Jangan deh opsi kedua jangan sampai terjadi.
Aku telah menceraikan sonya, prempuan yang telah membuat ku seperti ini. Karena dia aku telah membuat seorang gadis malang, menanggung dosa ku itu.
Tuhan maafkan lah hambamu ini. Jika aku dapat memutar kan waktu kembali, akan ku putar kembali pada saat lia masih bersamaku. Tapi rasanya itu tidak akan pernah terjadi, aku bingung harus bagaimana lagi. Aku sudah mencari kemana mana. Namun hasil nya nihil, aku tak menemukan keberadaan mereka bahkan anak buah suruhan ku pun tidak menemukan keberadaan mereka semua.
Tidak hanya lia dan kedua anakku. Melainkan adik nya sekeluarga pun ikut menghilang, aku sudah jatuh cinta pada Lia saat pertama kali aku menemuinya kembalikan. Meskipun lia di pasung tapi aura kecantikan nya masih terpancar, apakah ini yang dinamakan cahaya orang yang di aniaya?
Aku duduk di atas balkon, tempat favorit lia saat sore hari. Pasti ia akan duduk di sini menikmati indah nya sore hari, melihat anak anak yang sedang bermain di taman komplek dekat rumah kami. Namun, Sayang semua nya hanyalah sebuah kenangan.
Hari demi hari ku lalui tanpa Lia. Aku pernah bertanya pada bi edoh pembantu ku di rumah ini, kemana lia pergi? Karena setau ku mereka sangat akrab, itu sebabnya aku menanyakan lia padanya. Namun, nihil ia tak mau memberitahu ku dimana Lia berada bahkan bi Marni pun tidak tau dimana lia.
Beberapa Minggu kemudian. Aku mendengar bahwa amara anakku sudah di lamar, oleh seorang lelaki tampan. Tapi sayang nya aku tak bisa mendapatkan informasi lagi. Karena mereka menutup rapat rapat berita ini, tuhan bantu aku untuk meluluhkan hati lia dan Amara. Aku sungguh menyesal.
Aku terus mencari keberadaan mereka. Semenjak ada kabar bahwa amara di lamar, aku semakin semangat untuk mencari mereka. Hingga akhirnya aku mendapatkan titik terang keberadaan mereka.
Saat aku sedang duduk termenung aku melihat bi marni bersama amara. Tanpa menunggu lama akupun langsung memarkir kan mobil di dekat pintu keluar dan langsung mengikuti mereka.
Aku harus tau dimana mereka tinggal, berkecukupan atau tidak kehidupan mereka. Karena bagaimanapun mereka tetap milik ku, bahkan sampai sekarang lia belum aku ceraikan.
Aku terus mengikuti mereka pergi. Hingga satu jam kemudian mereka akhirnya berhenti di sebuah rumah, yang menurut ku lumayan besar di sana juga terlihat al sedang bermain dengan Silvi.
Akupun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ternyata di sana ada seorang pemuda yang ntah siapa, mungkin itu calon suami anakku.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam, mas Dani ...!" Ucap Lia terkejut saat melihat ku sudah berdiri di depan pintu rumah mereka
"Iya ini aku sayang. Boleh aku masuk?"
"Ngapain kamu ke sini mas?"
"Tunggu. Jangan mendekat anakku, dengar sini mas aku tak akan pernah kembali ke rumah itu lagi. Jujur saja aku sudah kecewa denganmu dan dengar sini baik baik. Bahwa aku menikah dengan mu itu hanya untuk membalaskan dendam ku saja."
"Dendam? Tapi kenapa?"
"Ya dendam. Dendam ku selama ini, karena ulah mu aku di cap p*l*c*r oleh warga kampung. Aku di bilang penggoda dan lebih parahnya lagi aku di lempari batu oleh mereka. Jujur aku sakit hati karena itu semua dan Amara ..."
"Lihat Amara tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua. Dan aku benci itu semua mas, jadi lebih baik kau pergi saja dari rumah ku dan jangan pernah kembali. Karena sampai kapan pun aku tak akan pernah mau kembali ke rumah mu itu."
"Lia. Kumohon maafkan aku, aku sungguh menyesal. Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi, ku mohon lia demi anak kita Al."
"Kau bilang demi anak kita al? Lalu bagaimana dengan amara? Apa kau pernah berpikir bagaimana prasaan dia selama ini? Sudah lah mas pergi saja sana aku tak mau melihat mu lagi."
Aku pun pergi meninggalkan rumah itu dengan rasa kecewa. Ternyata lia menikah dengan ku hanya untuk membalas dendam saja, tapi bukan itu yang buat aku sakit hati. Melain kan tolakan yang bertubi-tubi dari mulut Lia, aku tidak bohong aku sayang sama dia, aku cinta, aku tak mau kehilangan nya.
Aku tak mau berpisah lagi dengan kedua anakku. Cukup dulu saja aku melakukan hal bodoh.
Semenjak pengusiran itu, aku tak henti nya berjuang untuk mendapatkan lia kembali bersamaku. Bahkan aku menggunakan anak kedua ku untuk bisa bertemu dengan nya, saat itu al sedang bermain di taman bersama silvi. Dah saat silvi pergi ke beli minum Al yang posisinya sedang duduk menunggu di bangku sendirian, dan tanpa buang waktu aku langsung mengambil al di sana. Membawanya masuk ke dalam mobilku, maafkan ayah nak, ayah terpaksa melakukan ini karena ayah sangat merindukan ibumu. Ayah ingin Ibumu kembali pada ayah.
Aku membawanya pulang ke rumahku. Al trus menangis dan membuat bi edoh kaget saat melihat aku membawa al dengan keadaan menangis.
"Maaf tuan. Kenapa den al menangis? Dan mana nyonya lia?"
"Bibi cepat suruh al untuk tidak menangis lagi, aku melakukan ini semua karena lia yang keras kepala tidak mau kembali padaku."
"Tapi tuan ..."
"Cepat lakukan perintah ku bi. Dan jangan sesekali mencoba untuk mengantarkan al pada ibunya atau bibi yang akan aku buat sengsara."
"Baik tuan."
Ya tuhan maafkan aku ini, ku sudah mencoba untuk memisahkan anakku dengan ibunya. Bahkan aku tidak bisa mendiamkannya dari menangis, ayah macam apa aku ini? Tapi aku melakukan ini semua karena agar lia kembali dalam pelukan ku itu saja. Aku tak akan membuat anakku sakit atau terluka, biarlah Lia datang kemari untuk membawa al atau lebih baik ia tinggal bersama kami di sini.