AMARA

AMARA
Bab 58 Kondisi



Kini aku sudah berada di rumah sakit sekitar satu minggu, ternyata aku harus di angkat rahim karena ada infeksi, ini semua karena ulah bang damar. Ia harus mendapatkan balasan yang setimpal.


Aku sangat tidak rela jika ia hanya di berikan hukuman yang ringan, saat aku sedang terbaring, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar rawat ku.


Tok... Tok... Tok...


Kenapa tidak langsung masuk saja sih? Pake acara ketuk pintu segala, biasa nya juga suka pada langsung masuk.


Ceklek


Aku trus memperhatikan siapa yang akan datang menjengukku, dan ternyata....


"Mbak Amara huhu ..." Ya yang datang mbak Amara bersama sang suami, sungguh aku malu bertemu mereka dengan keadaan yang seperti ini.


"Cup.. cup.. cup... Sayang, jangan menangis. Kenapa kamu menangis ha?"


"Huhu... Aku malu mbak, aku malu bertemu dengan mbak, aku malu karena aku telah membuat aib besar bagi keluarga kita. Pasti banyak sekali tetangga yang mencemooh kita karena ulah ku mbak."


"Tidak sayang. Ini semua tidak benar, kami semua baik baik saja dan lihat sampai kami ada di sini sekarang, itu artinya semua baik baik saja."


Aku diam melihat ekspresi mbak Amara, ia memang seperti tidak menyembunyikan sesuatu, tapi wajah mas andi tidak bisa berbohong, aku melihat bahwa ada ketidaksukaan mas Andi padaku.


Aku baru ingat dengan kondisi ayah, bagaimana dia? Dan bagaimana kondisi wanita itu? Aku sudah terlalu lama tertidur sampai aku tidak mengetahui perkembangan di luaran sana.


Aku beranikan bertanya pada mbak Amara, dan mbak Amara menjelaskan semuanya dengan sangat telaten. Semuanya sampai tidak ada lagi yang di tutupi, awalnya mbak amara tidak mau tapi karena aku paksa dan mas andi juga menyuruhnya untuk jujur, akhirnya ia menceritakan semuanya.


Sungguh aku hancur saat mengetahui kalau ayah harus masuk ruangan ICU, dan ini adalah karena ulah ku, maaf kan aku ayah. Aku belum bisa membahagiakan mu malah aku memberikan beban untukmu.


Hidupku sekarang penuh dengan dendam, meskipun mbak amara terus menyuruh ku untuk ihklas tapi rasanya itu semua tidak mudah.


Aku penasaran kenapa mbak Amara begitu gampang memaafkan ayah yang sudah menelantarkan nya, selama belasan tahun? Apa ia sudah tidak ingat bagaimana dulu ayah memperlakukan ibunya? Dan dengan mudah nya ayah meninggalkan bunda Lina.


Menurut informasi yang aku dapatkan, ternyata bang damar melakukan ini semua karena perintah ibu, aku tidak menyangka ibu telah tega berbuat hal sekeji ini pada ku anak kandungnya.


Kenyataan demi kenyataan seolah menampar ku secara bersamaan, aku sungguh tidak menyangka, bahwa tuhan akan membalas semua ini dengan sangat cepat.


Aku sadar bahwa aku tidaklah sempurna bahkan aku sama kotornya seperti ibu, aku pantas mendapatkan ini semua.


"Sudah Sinta jangan di pikirkan semua sudah menjadi takdir tuhan, kita tidak bisa berbuat banyak."


"Tapi mbak. Aku masih tidak bisa terima bahwa dalang dari semua ini adalah ibu. Kenapa ibuku telah tega melakukan ini padaku mbak? Apa aku bukan anak kandung nya?"


"Istighfar Sinta, kamu tidak boleh berbicara seperti itu tentang ibumu. Kasihan dia di alam sana. Ia pasti akan sangat sedih jika mendengar semua ini."


"Biarkan saja dia mbak. Aku sungguh kecewa dengan ibu, andai saja ibu masih hidup rasanya aku ingin menanyakan maksud dari ini semua itu apa?"


"Sudah istirahat lah. Mbak dan mas Andi pamit pulang, karena mbak juga harus periksa kandungan mbak ke dokter."


"Iya mbak. Hati hati di jalan."


Aku sangat iri dengan kehidupan mbak Amara, ia sangat bahagia setelah apa yang telah ia lalui, aku tidak yakin jika suatu saat nanti akan ada lelaki yang mau menerima ku dengan tulus.


Karena yang ku tahu, para lelaki di luar sana menikah demi mendapatkan keturunan, sedangkan aku? Aku tidak akan pernah bisa memberikan keturunan pada suamiku.


* * *


Hari kepulangan ku pun tiba. Mbak Amara tidak menjemput ku, karena aku tidak ingin merepotkannya. Aku memilih untuk pulang ke apartemen ku, rasanya aku sudah lama tidak pulang ke sini.


Selama perjalanan aku terus memikirkan langkah apa yang akan aku lakukan. Aku mengambil hp ku yang sudah lama tidak aku sentuh. Saat sudah aktif ternyata banyak sekali pesan masuk.


Ting


Ting


Ting


["Sinta. Aku yakin, jika nanti kau keluar dari rumah sakit. Kau akan membuka pesan ku ini."]


["Ingat ini Sinta. Meskipun kamu adalah adikku tapi aku tidak akan melepaskan mu begitu saja, aku akan terus mencengangkan mu dalam genggaman ku."]


["Kamu akan menjadi teman hidupku. Dan kamu akan trus seperti itu sampai kita dipanggil sang maha kuasa. hahahaha."]


["Bahkan aku tau. Tentang operasi mu itu.bagiku itu tidak masalah, karena aku sudah memiliki anak dari intan."]


Aku kaget, saat membaca pesan demi pesan, yang dikirimkan oleh bang Damar, ternyata ia tidak pernah menyerah. Bahkan ia berniat menjadikan ku pendamping nya, aku menjadi seperti ini karena ulah nya.


Saat itu aku mengalami k*g***ran, akibat di dorong nya dengan sangat kuat, dan saat itu juga mas damar bukannya menolong tapi ia malah menambah luka ku dengan bringas, sampai aku kehabisan da**h oleh perbuatan nya.


Aku tak menyangka mas Damar akan berbuat seperti ini padaku. Aku menjadi gemetaran tapi sekuat tenaga aku berusaha menguatkan diriku, agar aku tetap kuat dan bisa melawannya.


Aku harus menyusun strategi, untuk melayani bang damar. Aku tidak bisa diam saja. Di tempat ini aku teringat bagaimana bringas nya mereka melakukan itu padaku.


Aku tak menyangka bahwa prempuan yang di jadikan nya umpan, adalah selingkuhan nya bang Damar juga, bahkan yang lebih membuat ku tercengang adalah mereka terbiasa melakukan ini semua bertiga. Sungguh tidak tau malunya mereka.


Kejadian demi kejadian menumbuhkan rasa benci ku para lelaki, aku benci dengan mereka, aku benci dengan perbuatan mereka yang semena mena terhadap perempuan, bahkan dengan gampang nya mereka menjadikan kami sebagai budaknya.


["Aku akan menunggu kedatangan mu bang."] Send


Ternyata centang dua. Apa selama ini bang damar tidak di penjara? Atau bahkan ia dinyatakan bebas? Tapi kenapa manusia seperti dia harus bebas berkeliaran? Kenapa ia tidak di penjara seumur hidup saja? Sungguh aku semakin membencinya.


Aku akan menyusun strategi mulai sekarang untuk melawan nya. Aku tidak akan diam saja seperti dulu, bukan aku yang akan menjadi budak nya. Tapi dia, dia yang harus menjadi budakku.


Mungkin aku akan berpura pura terlebih dahulu agar ia tidak curiga padaku, dan sampai rencana ku berjalan dengan mulus, setelah itu akan ku buat dia menjadi tunduk padaku.


* * * *


Prov Damar


Mereka kira, mereka bisa memenjarakan ku? Jelas mereka tahu salah karena sudah berani melawan Damar.


Aku masih geram dengan Sinta, ia telah berani bermain api denganku. Tunggu saja kamu Sinta. Aku akan menunggumu keluar dari rumah sakit, bahkan aku tau kalau sinta telah mengalami operasi besar. Jelas saja aku berbuat seperti itu karena di sengaja.


Awalnya aku kalah telak dengan mereka, tapi kali ini merekalah yang akan kalah dengan ku, aku tak mendengar bahwa Amara ikut serta dalam semua ini. Bahkan aku mendengar kalau kandungan Amara lemah, aku berharap bahwa anak yang di kandung oleh nya tidak bertahan lama dan menin**al. Agar ia di ceraikan oleh andi, setelah itu aku akan masuk kedalam kehidupan amara sebagai pahlawan.


Waw sungguh spektakuler ide di kepala ku ini. Aku tidak sabar menunggu hari hari ku bersama sang pujaan hati.


* * *


Aku terus mengirimkan pesan pada Sinta. Aku tau hari ini ia di perbolehkan untuk pulang, tapi tidak dengan ayah, aku tidak peduli dengan pria itu. Biarkan dia ma** di rumah sakit, sungguh aku tidak ada rasa peduli sedikit pun terhadap nya.


Saat aku sedang memakan buah, ada pesan masuk dari Sinta. Ternyata ia membalas pesan ku hahaha.


["Aku akan menunggu mu bang "]


Begitulah isi balasan dari Sinta. Ternyata ia sekarang sudah mempunyai nyali yang besar, dan berani menantang ku. Hebat sekali dia, tunggu sinta tunggu kamu pulih dulu sebentar, dan kita akan bersenang senang.


Kita akan menghabiskan malam malam indah bersama, menikmati gelap nya malam dan dingin nya udara di malam hari.


Aku yakin tidak akan ada lelaki manapun yang mau menikah dengan mu. Dan aku yakin ia tidak akan pernah menemukan lelaki itu.


Lelaki mana yang mau dengan wanita tidak memiliki rahim? Jelas semua lelaki menginginkan sebuah keturunan untuk menerus kan harta mereka.


Semenjak kejadian itu, aku sudah tidak tau lagi dimana keberadaan istri dan juga anak anakku. Aku sungguh menyayangkan Intan kabur, padahal ia adalah istri yang sangat letih terhadap ku. Ia juga tidak banyak bicara tapi saat itu, baru pertama kali ia banyak bicara padaku.


Dan semua isi pembicaraan nya, adalah sebuah fakta.


Flashback


"Apa kamu bilang mas? Kamu bilang aku menjajakan tubuh ku ini pada lelaki hidung belang? Asalkan kamu tau mas. Dulu saat aku berumur tujuh belas tahun, aku mengalami p*merkos**n oleh sekelompok preman, dan tidak lama setelah kejadian itu ayahku sendiri mencoba untuk m*mepek**a ku juga mas. Dan kamu dengan mudah nya memfitnah ku seperti itu? Maaf mas aku bukan ibu dan juga adikmu. Jangan samakan aku dengan mereka."


Plak


"Jaga bicaramu Intan, jangan pernah kamu berani berbicara seperti itu lagi, aku tidak peduli bagaimana masalalu mu itu, yang jelas kamu telah di jual oleh ayah mu sendiri demi uang."


"Aku tidak peduli. Sekarang juga aku minta cerai dengan mu mas. Aku tidak mau lagi melanjutkan pernikahan ini."


"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu."


"Kalau begitu aku yang akan menceraikan mu mas. Kita tunggu saja nanti."


Mendengar ancaman Intan, aku menajdi naik pitam aku menyiksa nya dengan tanpa ampun sampai ia lemas tak berdaya.


Namun sayang. Dugaan ku salah, Intan berhasil kabur, bahkan ia melaporkan semua ini pada polisi.


Flashback off


Aku mendengar bahwa Intan di rawat karena mengalami luka luka, akibat ku siksa, dan semenjak itu aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengan nya dan anak anakku. Aku tidak tau mereka tinggal dimana sekarang, aku sudah mencari mereka kemana mana tapi tidak ketemu.


Hari ini aku bersiap untuk mendatangi Sinta di apartemen nya, aku tau ia di sana karena rumah ayah sangat sepi seperti tidak ada kehidupan.


Bahkan garis polisi masih terbentang di sana, selama perjalanan aku terus memikirkan langkah apa yang pertama aku ambil, karena aku tidak mungkin mempercepat proses ini.


Aku akan mempermainkan nya terlebih dahulu, sampai ia benar benar tunduk padaku, aku akan membuatnya takut dengan dunia luar dan tidak berani untuk keluar apartemen.


Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya aku sampai di apartemen milik sinta, aku langsung menuju kamar nya.


Singkat cerita aku sudah sampai di depan kamar milik sinta.


Tok... Tok... Tok....


Tok... Tok... Tok...


Cklek


"Mas Damar. Berani juga kamu datang kemari."


Aku menyelonong masuk ke kamar nya itu, tanpa menunggu persetujuan dari Sinta terlebih dahulu.


"Sinta. Apa kabar mu sayang? Bagaimana rasanya telah kehilangan rahim?"


"Ga sopan banget sih bang. Maen masuk aja, ini loh tuan rumah nya masih berdiri di ambang pintu."


"Sudahlah sayang. Jangan mempersulit keadaan, ayok kita nikmati masa masa ini bersama, jangan munafik kamu Sinta ."


"Oh ya. Bagaimanapun keadaan lelaki tua itu.? Apa ia sudah m**i.?"


"Maksudmu ayah.?"


"Ya siapa lagi lelaki tua.?"


"Jaga ucapanmu mas. Bagaimana pun dia telah menerima mu dan juga ibu, jika dia tidak menerima kalian, aku tak tau bagaimana nasib mu itu bang."


"Diam kamu sinta. Lebih baik cepat sekarang masakan aku makan, aku sangat lapar."


"Aku ga mau bang."


"Cepat masakkan aku."


Dengan terpaksa sinta, memasakkan ku makanan kesukaan aku sedari dulu. Memang selain amara, dialah yang selalu membuat masakan menjadi sangat enak bahkan aku bisa menambah sampai berulang kali, karena saking enaknya. Aku sangat ingin memiliki sinta. Andai saja aku dengannya bukan Kaka beradik sudah ku nikahi dia.  Sinta juga sama dengan amara, ia berkata bahwa ia tidak akan menikah denganku karena aku adalah kakaknya.


Sekitar jam dua belas aku sangat mengantuk, dan aku tertidur di sofa bekas kami dulu, lebih tepat nya bekas aku menjebak dia bersama kedua temanku yang lainnya.


Aku berjalan masuk ke dalam kamar milik sinta, di sana aku mengambil pakaian  miliknya. Ya aku akan menggunakan ilmu hitam untuk membuat nya tidak bisa lepas dariku.


"Maafkan abang, dek. Abang terpaksa melakukan ini semua, karena abang membenci kalian, Abang benci sikap ayah, Abang benci kenapa abang tidak bisa di sayangi oleh ayah seperti ia menyayangi anak kandungnya itu."  Gunam ku dalam hati.


Setelah aku mendapat kan apa yang aku mau, aku langsung meninggalkan sinta yang masih tidur di sofa. Mungkin ia kelelahan karena sudah memasakkan aku makan. Biarlah dia seperti itu. Aku tidak peduli padanya biarkan ia kedinginan nanti pun dia bangun sendiri.


Aku pergi meninggalkan nya, dan tentu saja aku tidak lupa membawa kunci apartemen miliknya, agar sinta tidak bisa kabur dari sana. Ia tidak boleh pergi tanpa sepengetahuan ku, ia boleh keluar jika denganku. Dan tidak untuk dengan orang kan, aku tidak akan rela jika ia bersama orang lain, sudah cukup Amara saja dengan Andi, Intan kabur tapi tidak dengan sinta, kekasih baruku itu.