
Aku cemas memikirkan sinta, yang tak kunjung pulang sedari tadi. Ia berpamitan hanya sebentar untuk menemui damar, tapi sampai larut malam seperti ini ia belum juga pulang, kemana ia? Tidak biasanya ia begini, meskipun ia sudah lama tidak tinggal bersamaku tapi aku tau, kalau sinta akan keluar pasti bilang dulu padaku. Atau bahkan jika ia akan menginap dan tidak pulang, tapi ini ...? Kemana anak itu? Apa ia pulang ke rumah nya? Ahh **** bahkan aku tak tau dimana rumah nya yang baru, karena sepengetahuan ku rumah dari ayah sudah ia jual.
"Sayang. Sudah lah jangan terlalu di pikirkan, sinta sudah besar, biarkan ia bebas." Ucap suamiku.
"Tapi pah. Tak seperti biasanya sinta seperti ini. Aku khawatir dengan nya pah." Balasku.
"Mungkin dia pulang ke rumah nya yang baru, dan ketiduran sampai lupa memberikan kabar pada kita. Sudahlah mah."
"Begitu ya pah? Ya sudah semoga saja besok ia memberikan kabar pada kita, aku benar benar khawatir padanya pah, aku kangen juga sama anak itu."
Akhirnya aku putuskan untuk tidur, karena hari sudah malam, semoga saja kau baik baik saja nak.
Puluk lima subuh aku terbangun. Dan langsung mengecek hp ku di atas nakal, dan ternyata sinta sudah memberikan kabar padaku.
["Mbak. Maaf tadi malam aku ketiduran di apartemen ku, aku tidur di apartemen dengan bang damar."]
["Mungkin lusa aku pulang kembali ke rumah mbak. Mbak jangan khawatir aku bersama bang damar."]
Alhamdulillah ia naik baik saja. Syukur lah ia bersama damar, aku jadi lega. Setidaknya ia ada yang jaga, sebenarnya setelah aku tau ia pindah rumah. Aku jadi was was, aku takut ia kenapa-napa, tapi ternyata sekarang ia tinggal di apartemen aku tidak terlalu khawatir jika ia tinggal di sana.
["Syukur lah. Kamu baik baik saja nak, mbak sampai tidak bisa tidur mikirin kamu, mbak khawatir denganmu nak."] Send.
Ting
["Tak usah khawatir mbak, aku aman bersama bang damar. Besok ia akan berangkat ke bali untuk bekerja, mungkin lusa aku pulang ke rumah mbak."]
["Kenapa tidak besok saja kamu pulang ke rumah? Mbak minta kamu tinggal lah di rumah ini, selama satu bulan. Ntah kenapa mbak menginginkan itu."] Send
Ting
["Apa mbak sedang mengandung ...? Tapi bukan kah mbak menikah baru hitungan Minggu?"]
["Astaghfirullah. Ngga lah, ini aja mbak lagi datang bulan. Ada ada saja kamu ini."] Send
Ting
["Hahaha. Mana tau kan? Ya sudah aku mau tidur dulu mbak, ngantuk aku. Bye"]
Aneh sekali kenapa ia bilang ngantuk sekali. Apa mereka tidak tidur semalaman? Aku jadi penasaran.
Saking asyik nya chatan dengan sinta, aku sampe ga sadar kalau sekarang sudah jam setengah enam pagi. Aku cepat cepat mandi dan membersihkan diri, aku bersiap untuk menyiapkan bekal untuk suamiku bekerja.
Meskipun aku bisa masak, tapi kalau untuk bekal suami, aku yang menyiapkan nya. Karena menurut bibiku, agar suami betah di rumah maka kenyangkan lah perut nya.
Tepat pukul setengah tujuh. Suamiku sudah turun dari kamar, di susul dengan penghuni rumah ini yang lainnya.
Kami sarapan bersama, saat sedang sarapan paman dan bibi datang, sekarang anak anak mereka sudah besar. Sudah memasuki SMA, ia tampan dan gagah.
"Assalamualaikum. Wahh enak nih lagi pada sarapan."
"Waalaikumssalam, ahh Lisa. Kemana saja kamu.? Apa kamu sudah lupa kalau Kaka mu ini masih hidup?"
"Apa sih? Ngga lah, maaf kami sibuk mengurus usaha kami."
"Ya sudah. Ayok ikut sarapan, dimana putramu?"
"Ia sedang kemah."
Akhirnya kami sarapan bersama, inilah yang aku rindukan. Saat saat bersama seperti ini,, jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi suamiku berpamitan pergi ke kantor.
"Ibu, bibi, paman, semua. Aku pamit ke kantor dulu ya. Assalamualaikum."
Aku mengantarkan suamiku sampai ke depan pintu. Memang sudah kebiasaan kami seperti ini, aku selalu melihat ibu melakukan ini pada ayah dulu, meskipun ibu memiliki dendam padanya tapi ibu masih melayani ayah dengan baik.
Bahkan sampai terjadi adanya adikku. Aku tak membenci adikku, tapi aku membenci ayah kami. Sampai saat ini aku membencinya, bahkan aku bersumpah agar ia merasakan apa yang kami rasakan.
Dan aku dengar Sonya, sudah melahirkan di c*u* malam itu, aku tak menyangka bahwa mengalahkan Sonya itu sangatlah gampang.
Ada rasa kasihan juga pada anak yang di melahirkan nya itu. Karena ia tidak bersalah, tapi orang tuanya lah yang be**d, andai orang tua Sonya tidak memaksa ayahku untuk menikahinya. Mungkin aku tidak akan lahir dari orang tua yang seperti ini.
Saat aku sedang berdiri di depan pintu. Samar-samar aku melihat bayangan ayah, karena aku penasaran aku, mengirimkan pesan pada satpam ku untuk mengecek nya.
["Pak. Tolong lihat di depan pagar itu ada siapa? Seperti ayahku."] Send.
Terlihat satpamku, langsung keluar dari pos ia melihat ke luar pagar, sambil menunggu balasan nya. Aku duduk di bangku teras, dan tak lama kemudian ia membalas pesanku itu.
Ting
["Benar non. Itu tuan Dani yang datang, suruh masuk apa usir saja non? Tadi ia meminta saya untuk menanyakan ini pada non Amara."]
Mau apa lagi ayah kemari? Dan sepagi ini pula, ku jadi penasaran.
["Ya sudah. Suruh ia masuk."] Send
Terlihat ayah berjalan menuju arahku. Tapi ko muka nya terlihat sedih, ada apa ini? Apa ia sudah menerima karma nya? Kenapa secepat ini? Bahkan aku masih ingin bermain main dengannya.
"Terimakasih sudah mengijinkan ayah masuk nak. Boleh ayah Dudu?"
"Oh ya. Silahkan, jadi mau apa lagi ayah datang kemari?"
"Ayah..."
"Ya kenapa?"
"Ayah. Ingin menitipkan sinta, bantu ayah untuk meluruskan jalan hidup sinta, kau boleh benci dengan ayah dan sonya. Tapi ayah mohon, jagalah sinta dengan baik, ia sudah terlalu jauh terjun ke dunia malam."
Deg
Apa sinta masuk dunia malam? Apa ia melakukan itu tadi malam? Makanya ia tidak pulang?
"Kenapa tidak ayah saja?"
"Ayah sudah mencobanya nak. Tapi ia tidak mau."
"Hmm. Biarkan dia bersama Damar, Damar kakaknya, dan ia ada di sini."
"Benarkah?"
"Ya. Jadi apa lagi yang mau ayah sampaikan?"
"Ayah, anu ... Ayah rindu dengan kalian, kembali lah pada ayah nak, dan baiklah ibumu agar kembali ke rumah itu. Itu rumah kalian."
"Kalau soal itu, lebih baik ayah pergi saja. Aku tidak ingin membuat ibuku sakit untuk kedua kalinya."
"Ayah janji tidak akan membuat ibuku terluka lagi."
"Aku permisi."
Aku meninggalkan ayah seorang diri di luar. Bukan aku tidak sopan, tapi aku muak dengannya yang terus memaksa ibuku untuk kembali pada ayah.
Apa benar Sinta masuk ke dunia g*l*p? Tapi kenapa? Sejak kapan ia seperti itu? Aku akan menanyai nya nanti jika ia sudah pulang ke rumah ini.