
Semenjak pertengkaran malam itu. Aku dan bang damar menjadi tak betah berada di rumah, apa lagi semenjak mbak amara dan keluarga nya masuk kedalam rumah ini.
Memang sedari dulu aku di urus oleh mbak amara, dan aku sangat dekat dengannya. Namun itu sebelum diketahui bahwa ia adalah Kaka ku dan adik bang damar. Awalnya aku sangat kaget saat mendengar penuturan ayah saat itu.
Namun lama kelamaan aku berusaha menerima nya, dan tak berubah sikap ku tetap dekat dengannya bahkan semakin dekat dan semakin jauh dengan ibu kandungku, memang ibu kandungku tak sebaik ibu pada umum nya.
Aku tau skandal ibu di belakang ayah seperti apa. Bahkan aku juga tau bahwa ibu sering kencan dengan pria lain di belakang ayah tapi aku tak mau ikut campur dan memberitahu semuanya pada ayah.
Aku berpikir biar saja ibu seperti itu. Mungkin nanti ia akan berubah, namun dugaan ku salah ternyata ibu semakin merajalela bahkan ibu sampai hamil lagi dengan lelaki itu. Yang aku tau ibu dan ayah tidak pernah satu kamar, aku tau ibu sakit hati melihat ayah dan bunda lia menikah. Tapi ibu tetap berusaha untuk tersenyum dan menerima kenyataan bahwa ibu sedang di madu dengan bunda.
Ku tak bisa bayangkan bagaimana prasaan ibu saat itu. Ingin rasanya aku merangkul ibu dan memeluk ibuku. Namun aku tak bisa karena aku pun sedang marah dengannya, karena menurut ayah, aku adalah anak dari sebuah kesalahan yang ibu lakukan padanya. Dulu setalah bang damar berusia lima tahun, ibu menjebak ayah dengan obat perangsang dan terjadilah ...
Jujur aku marah, aku benci, aku kesal pada ayah dan ibu kenapa mereka mengorbankan aku yang tak tau apa apa. Dulu sebelum mbak amara berkumpul dengan kami, ayah selalu memberikan apapun yang aku mau, bahkan rumah milik ayah pun sepenuhnya menjadi milikku. Tapi semenjak mereka datang semua berantakan, ayah mulai brubah ia tak sama lagi seperti dulu bahkan rumah dan perusahaan semua di ganti nama menjadi milik mbak Amara.
Jelas saja hal itu membuat ibu sangat marah. Meskipun aku dan bang damar di berikan bagian dan di belikan satu unit rumah dan masing masing mobil. Namun, tetap saja berbeda.
Ibu semakin sering keluar rumah. Bahkan terkadang ibu tak pulang, tapi ayah bersikap biasa saja seolah istrinya hanya satu. Padahal masih ada ibuku.
Aku bercerita dengan bang Damar bahwa aku sudah tak tahan berada di rumah ini. Ayah pilih kasih antara aku dan mbak amara, rupanya setelah tiga bulan menikah bunda hamil dan jelas itu membuat perhatian ayah semakin menghilang untuk kami para anaknya.
Sembilan bulan berlalu
Adik tiriku lahir. Ia berjenis kelamin laki-laki dan ayah memberikan nya nama Eggy di panggil al, ayah semakin lupa dengan kami. Namun, tidak dengan mbak amara, ayah masih full perhatian untuk nya, jujur saja aku cemburu pada nya aku merindukan kasih sayang ayah yang dulu pada kami.
Setelah beberpa bulan al lahir, ibuku semakin liar. Namun, aneh nya ibu seperti takut pada amara, ibu yang awalnya selalu menentang mbak amara dan keluarga, kini ibu tunduk pada mereka.
Tepat pukul tiga sore saat kami sedang menonton tv. Ayah pulang dengan emosi yang meluap luap, ia mencari ibu dan tentu saja kami memberitahukan nya bahwa ibu ada di kamar.
Lama ayah tak turun lagi ke bawah. Dan sekian lama itu ayah turun dengan membawa koper milik ibu, terlihat ibu menangis sesenggukan tapi ayah tetap bersikeras untuk mengusir ibu dari rumahnya.
Ibu masih tetap ingin tinggal di rumah itu. Dan ibu mengusir mbak Amara dan keluarga nya, namun, mbak Amara membeberkan semuanya bahwa rumah serta isinya sudah menjadi milik nya saat ini.
Ibu murka pada ayah. Ibu meminta tolong padaku dan bang rama namun kami memilih untuk tidak ikut campur urusan mereka, dan ternyata ayah sudah mengetahui semua skandal ibu bahkan ayah sudah mengetahui bahwa ibu sedang hamil anak lelaki lain di luar sana.
Bunda serta yang lain berniat untuk pergi, namun sebelum itu aku dan bang Damar pun pergi, dan ternyata bang Damar sudah menikah bahkan aku pun tak tau siapa dan kapan bang Damar menikah.
Bang Damar pergi ke Singapura. Sedangkan aku stay di rumah ku yang baru, aku mulai berselancar di dunia malam.
Saat aku sedang duduk minum di bar. Aku melihat ibu dan perut buncitnya sedang menggoda bahkan digoda oleh lelaki lain, sungguh miris aku melihat pemandangan ini teriris rasanya prasaan ku melihat ibu seperti ini. Tak lama kemudian ibu tersadar bahwa aku ada di sana, ibu menghampiri ku yang sedang duduk.
"Nak. Sedang apa kau disini? Pulang lah nak nanti ayah mu cari."
"Aku dan bang damar sudah tidak tinggal di rumah itu lagi Bu. Bahkan mbak Amara dan keluarga nya sudah pada pergi meninggalkan ayah."
"Benarkah begitu? Ayok ikut ibu, disini bising dan kau ceritakan semuanya." Aku mengikuti ibu menuju sebuah ruangan, seperti nya ini ruangan khusus untuk ibu bersama para tamu nya.
"Duduk dan ceritakan semuanya nak."
Aku mulai menceritakan semuanya pada ibu. Terlihat ibu senyum senyum sendiri mendengarkan nya, aku bingung kenapa ibu bersikap seperti itu. Setelah selesai menceritakan semuanya datang seorang lelaki yang bertubuh tegap dan kekar ke dalam ruangan ini.
Ia mencumbu ibuku di depan mataku sendiri. Dan anehnya ibu tidak menghiraukan keberadaan ku saat itu, aku bingung harus berbuat apa di dalam sana.
Lalu aku putuskan untuk diam saja dan menikmati adegan demi adegan yang ada. Sampai pada puncak nya ibu dan lelaki itu akan bergulat aku tercengang melihat nya, aku berpikir apakah ibu akan melakukan itu di sini? Di depan ku? Saat ini?
Namun, ternyata aku salah. Ibu sadar aku masih berada di sana dengan cepat ia menyuruhku untuk keluar, dan memberikan ku uang untuk bekal ku.
Aku keluar dari ruangan itu dan aku bingung harus kemana. Dan tanpa sepengetahuan ibu, aku mengikuti jejak nya sampai saat ini.
Aku menjual rumah pemberian dari ayah. Aku pindah kesebuah apartemen, dan tinggal dengan bebas di sana.
Sudah berapa puluh lelaki yang bergantian dengan ku. Bang Damar mengetahui pekerjaan ku saat ini, ia melarang ku namun aku tetap melakukan nya.
Hingga akhirnya aku bertemu dengan ayah di hotel saat aku sedang besama pelanggan ku. Sungguh bertemu dengan ayah membuat mood ku hancur. Aku tak bergairah untuk melakukan tugas ku saat itu, namun aku tetap harus melakukan nya karena tuntutan pekerjaan.