AMARA

AMARA
Bab 64 S2



Aku tidak akan menerima perjodohan ini, bahkan aku tidak mengenali perempuan itu, bisa bisa nya ayah menjodohkan aku dengan prempuan itu.


Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah dengan nya, aku tidak peduli dengan perjanjian itu, toh bukan aku yang membuat sebuah perjanjian yang tidak masuk akal itu.


Aku pergi meninggalkan ibu dan ayah. Aku masuk ke dalam kamar, dan tak mau berbicara lagi dengan mereka.


Apa sih hebatnya perempuan itu? Sampai ayah trus menerus mau menjodohkan aku dengannya. Apa ayah tidak bisa membiarkan aku mencari pasangan hidup ku sendiri?


Saat aku berada di kamar, samar samar aku mendengar teriakan ibu, meneriaki ayah. Aku tak tau apa yang terjadi, tak pernah sekalipun mereka bertengkar sampai teriak teriak seperti itu.


Aku menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar, ayah memaki maki ibu, bahkan aku tidak pernah melihat ayah semarah ini pada ibu.


"Ini semua gara gara kamu."


"Kenapa aku mas? Kenapa kamu selalu menyalahkan aku? Lalu dimana peran mu selama ini mas? Apa kamu selalu membantu ku? Bahkan kamu sibuk bekerja, lalu setiap weekend atau libur kerja kamu malah memilih pergi dengan para prempuan murah*n di luar sana."


"Jaga mulut mu itu, aku seperti ini karena ulah mu, Rosa. Apa kamu tidak sadar hah? Dulu setelah Amar lahir, kamu pergi meninggalkan kami, dan kamu kembali lagi dalam keadaan hamil. Untung saja anak ha*am itu ke*u**ran, kalau tidak sudah lama aku ceraikan kamu."


"Mas, cukup. Kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi, tapi kenapa kamu masih membahas itu semua mas?"


"Karena kamu, mencoba menyudutkan aku, andai saja ayahmu tidak berhutang pada ayahku mungkin aku tidak akan menikahi gadis pel*cur seperti mu."


Plak


"Aku bilang cukup mas."


Aku masih mendengarkan pertengkaran mereka, aku tidak menyangka bahwa ibu telah tega berbuat seperti itu pada ayah.


Apa lagi yang aku tidak ketahui soal ibu? Aku harus ikut perintah siapa? Ayah atau ibu? Aku bingung.


Ayah berjalan menuju arah kamar ku. Dengan cepat aku buru buru masuk lagi ke dalam kamar, aku berpura pura tiduran di kasur. Aku tidak tau apa yang akan ayah lakukan padaku.


Terdengar suara pintu di gedor dari luar dengan sangat kuat oleh ayah. Namun, aku masih tetap diam dan enggan membuka nya. Hingga akhirnya aku jengah dan membuka pintu itu.


"Amar. Buka pintunya sekarang juga. Kalau tidak aku akan dobrak pintu ini."


Ceklekk


"Apa ayah?"


"Minggu depan kita akan ke rumah mereka, kita akan temui calon istrimu di sana, jangan berani beraninya kamu mencoba untuk kabur dan menolak ini semua. Jangan seperti ibumu yang pe**cur itu."


"Tapi ayah ..."


"Aku tidak terima penolakan apapun itu."


Huff. Ayah selalu saja egois, ia tidak pernah menanyai ku tentang apa yang aku mau. Bahkan sampai sekarang aku sudah menjadi CEO pun, ayah tetap mengatur ku.


Mau tak mau aku harus menuruti nya. Kali ini saja, aku akan menuruti kemauan ayah tapi aku harus mengajukan syarat untuknya.


Ya aku harus memberikan syarat pada ayah. Agar ia tidak semena mena lagi padaku, aku tidak mau terus menerus seperti ini.


Keesokan harinya ...


Saat aku turun, dan menuju ruang makan, aku melihat ayah dan ibu sedang sarapan. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk bicara. Aku duduk di kursi ku dan mulai mengambil sarapan, aku melihat ibu dan ayah seperti tidak pernah terjadi apapun.


"Aku akan menerima perjodohan ini." ucapku


Ibu terbatuk-batuk mendengar jawaban ku barusan ...


Ibu tersedak saat mendengar penuturan ku itu.


"Apa? Kamu menerima nya nak? Jika kamu tidak mau, jangan di paksakan sayang. Ibu tidak pernah memaksa mu untuk melakukan hal yang kamu tidak suka." Tanya ibu padaku, sepetinya ia merasa khawatir padaku.


"Apaan sih Rosa, anak kita sudah setuju dengan semua ini jadi lebih baik kamu diam saja." Protes ayah.


"Tapi ..."


"Tapi apa sayang? Katakan." Ucap ayah.


"Tapi aku memiliki syarat ayah."


"Apa itu? Katakan lah."


"Baiklah, aku akan menerima nya sebagai istriku. Tapi setelah ijab kabul itu di ucapkan, maka akulah yang berkuasa atas Wulan. Jadi ayah dan ibu diam saja tidak perlu ikut campur urusan ku dengannya."


"Itu bisa di bicarakan nanti saat kita berkunjung ke rumah sahabat ayah."


"Baiklah. Kalau begitu aku ke kantor dulu, ibu aku pamit ya."


Aku mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka, semoga saja aku tidak salah jalan, aku tak ingin melihat ibu dan ayah selalu bertengkar dengan masalah ini semua.


Biarlah aku yang berkorban, aku tak tega melihat ibu menangis sepanjang malam.


Tak terasa aku pun sudah sampai di kantor, aku langsung menuju ke arah ruanganku, sebenarnya di kantor banyak sekali bawahanku yang cantik cantik dan pintar, bahkan ****.


Tapi kenapa ayah memilih menikah kan aku dengan anak temannya itu? Apa hanya karena balas budi lalu melupakan kemauan seorang anak? Apa begini cara orang tua, orang tua bersikap? Sungguh aku tidak mengerti jalan pemikiran mereka.


Bahkan ayah yang seorang direktur utama pun, memiliki pemikiran seperti itu, kenapa tidak berikan modal saja pada mereka untuk membuka usaha? Tanpa adanya pernikahan.


Aku duduk termenung di dalam ruanganku, bahkan aku tidak menyadari kedatangan riki, asisten sekaligus sahabat ku.


"Melamun aja sih, kenapa?"


"Kapan datang?"


"Eh ditanya malah nanya balik, aku baru datang barusan, mikirin apa sih?"


"Aku di jodohkan dengan anaknya sahabat ayah."


"Seriusan? Siapa? Cantik engga?"


"Mana ku tau, ketemu aja belum, rencananya Minggu depan mau ketemu. Tapi rasanya malas lah, tapi kalau aku nolak, ayah menarik semua fasilitas. Bahkan ia menggantikan posisi ku anak buahnya."


"Udah terima aja napa sih. Mana tau kan cantik dan ****."


"Yee kamu mah."


Hari ini pekerjaan ku di kantor, tidak aku kerjakan sama sekali, karena pikiran ku tidak tentu kemana arahnya. Bahkan aku tak bisa berpikir jernih sekalipun.


Saat jam kantor bubar, aku putuskan singgah terlebih dahulu ke sebuah cafe. Rasanya mumet saja kalau langsung ke rumah, pasti pembahasan nya tentang perjodohan ini trus.


Aku duduk seorang diri sambil minum kopi, tapi saat aku sedang menikmati hidup, tiba tiba hp ku berdering saat aku lihat ternyata ibu yang menelfon. Tumben sekali, ada apa ibu menelfon ku?


Memang ibu jarang sekali menelfon, kalau bukan masalah yang sangat penting dan darurat, karena ibu tak ingin menganggu aktivitas ku.


"Hallo bu."


"Dimana kamu nak?"


"Aku sedang di caffe bu. Kenapa?"


"Pulang lah nak, ibu ingin bicara denganmu, cepat pulang sebelum ayahmu kembali, ia akan kembali pukul delapan malam nanti. Jadi kita masih ada waktu beberapa jam, jadi cepatlah."


"Baik bu." Tuttt.


ibu langsung memutuskan telfonnya, dan aku bergegas untuk pulang, aku penasaran apa yang akan ibu bicarakan padaku? Sepertinya sangat penting.


Sepanjang perjalanan aku trus memikirkan semuanya, hingga akhirnya aku sampai di depan rumah, ternyata ibu sudah menungguku.


"Hai bu, ngapain ibu tungguin aku?"


"Ayok cepat masuk nak. kita bicara di dalam kamar mu saja, biar nanti jika ayah mu pulang ia tidak akan tau."


"Baik bu, tapi sebenarnya ada apa ini?"


"Nanti ibu ceritakan."


Kami pun berjalan menuju kamarku, aku tak tau apa yang akan ibu ceritakan padaku, saat sudah sampai di dalam kamarku. Terlihat ibu menarik nafas dalam, sepertinya ia berat untuk bercerita tapi kenapa?


Ada apa dengan mereka? Kenapa ibu seperti menyimpan banyak sekali rahasia, tapi apa ya? Sekarang ibu duduk di samping ku dan akan memulai menceritakan semuanya tapi ...


"Nak. Sebenarnya ..." Ucapan ibu terpotong kala pintu kamar ini ada yang membuka.


Suara pintu di buka dari luar ...


Pintu kamar terbuka, sontak saja kami berdua kaget dan ternyata ayah sudah pulang. Tapi kata ibu bilang ayah akan pulang malam nanti. Dan ini masih sore, kenapa ia pulang cepat?


"Ayah ..." ucap kami serentak.


"Loh mas. Bukannya katamu akan pulang pukul delapan malam nanti?"


"Ya. Tapi aku ingin beristirahat di rumah saja. Amar kembalilah ke kamar mu."


"Baik ayah."


Aku masih penasaran apa yang akan di ceritakan oleh ibu? Kenapa ia seperti ketakutan saat ayah sudah pulang? Semoga ibu dan ayah baik baik saja.