AMARA

AMARA
Bab 43



Aku masih tidur di rumah bunda. Ya memang aku belum berniat untuk meninggalkan rumah ini, aku merasa nyaman di sini, dibanding kan berada di ruang ayah.


Rasanya di rumah ayah terlalu banyak kenangan yang menyakitkan bagiku. Bagi Kaka ku juga, masih terbayang saat ayah mengusir ibu tempo hari. Dan sekarang ibu harus menghidupi dirinya sendiri dan adik tiriku yang masih ada dalam kandungan nya.


Bahkan ia sampai menjajakan tubuhnya, pada orang lain dalam keadaan hamil besar. Ingin rasanya aku membantu nya, namun sayang aku juga masih serba kekurangan. Tapi aku berjanji aku akan membawa ibu hidup dengan layak, mau bagaimana pun ia tetap ibuku, ibu yang melahirkan aku.


Mbak Amara dan mas Andi, sedang keluar untuk berbelanja, sedangkan ibu sedang mengantar al adikku sekolah, al sekarang sekolah paud. Karena sudah mencukupi umur. Tinggal aku sendiri di rumah ini, aku bingung harus berbuat apa di rumah sebesar ini. Jadi aku memutuskan untuk berdiam diri di dalam kamar sampai mereka pulang.


Tingg


Suara notifikasi hp ku. Tertera nama mbak amara.


["Kamu sudah makan?"] Dia memang selalu perhatian, padahal jika di pikir pikir ini kan rumah nya. Aku bisa saja ke dapur sendiri untuk makan.


["Belum, sebentar lagi mungkin aku akan makan. Mbak jam berapa pulang? Aku bosan."] Send


Ting


["Sebentar lagi mbak pulang, maaf ya mbak ninggalin kamu sendirian. Kalau kamu bosan jalan jala saja."]


["Iyah mbak. nanti saja."] Send


Ting


["Ya sudah mbak kembali bantu suami mbak lagi ya."]


["Oke mbak."]


Huf padahal aku sedang benar benar bosan di rumah ini, aku ingin berkeliling namun aku tak berani, karena mbak amara pernah mengajarkan aku, kalau di rumah sodara atau orang lain itu tidak boleh asal menggeledah saja. Dan itu Yang aku tetap kan sampai saat ini, padahal sah sah saja aku jalan jalan di sini, ini juga kan rumah ibu tiriku.


Ting


Saat aku sedang melamun tiba tiba notifikasi hp ku bunyi kembali. Kali ini mas damar yang mengirimkan ku pesan.


["Dek. Abang sudah mendarat, ini mau langsung ke apartemen mu. Kamu ada di sana kan?"]


Apa? Bukannya ia datang lusa? Kenapa sekarang sudah datang?


["Bukannya abang bilang lusa ya? Ko sekarang sudah datang. Aku lagi di rumah mbak Amara ni bang."] Send


Ting


["Aku sudah tak tahan dek. Pulang lah kau ke apartemen, atau ngga kunci nya titipkan saja pada ojek online atau apa gitu. Cepat lah."


["Ya sudah aku telfon dulu mbak Amara. Biar dia gak nyariin nanti pas pulang."]  Send


["Ya.]"


Siapa sih prempuan yang di bawa oleh bang Damar? Sampai membuat abangku itu seperti sedang kesurupan saja.


Aku langsung menelfon mbak amara untuk meminta ijin pulang.


Tutt


"Assalamualaikum mbak. Hallo."


"Waalaikumssalam kenapa dek?"


"Mbak. Aku mau pamitan pulang dulu ke apartemen. Nanti aku pulang lagi ke sini, kebetulan bang Damar sedang menuju ke arah apartemen ku."


"Oh begitu. Ya sudah hati hati ya dek, bilang sama bunda biar dia ga nyari."


"Oke mbak. Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam."


Setelah selesai menelfon. Aku langsung mandi dan berdandan, bersiap untuk pulang. Huf dasar bang Damar ga bisa apa liat adek nya seneng dikit. Aku tuh niat buat libur dandan eh malah di suruh pulang.


Aku turun ke bawah. Namun ternyata bunda sudah ada di rumah. Sejak kapan bunda pulang.? Kenapa tidak terdengar suaranya? Apa bunda memakai mode senyap?


"Aku mau pulang dulu ke apartemen bund. Bang damar katanya menuju ke sana,."


"Oh begitu. Kenapa dia tidak kemari saja? Apa dia marah dengan bunda?"


"Tidak bund. Ia datang hanya sebentar saja, nanti aku akan bujuk bang damar agar mau di ajak kemari. Bunda jangan sedih nanti aku ikut menangis nih bund."


"Hehehe maaf ibu lupa. Ya sudah nanti ajak dia main kemari ya."


"Baik bund. kalau begitu aku permisi yah. Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam, hati hati di nak. Jangan ngebut bawa mobil nya ."


"Baik bund. Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam."


Aku melaju menuju apartemen ku, aku sangat penasaran siapa yang mas damar bawa kali ini? Setelah beberapa saat berkendara akhirnya aku sampai di apartemenku. Aku langsung menuju arah kamar ku, dan ternyata saat aku memasuki lobby utama, di sana sudah ada bang damar tapi tunggu... Siapa lelaki yang bersama nya? Atau jangan jangan.


"Sinta..." Panggil mas Damar saat sadar aku sudah ada di dekat nya.


"Hai mas. Apa kabar?"


"Baik. Ayok cepat kita ke kamar mu sin. Lucky ayok kita ikuti adikku."


Sepanjang perjalanan menuju kamar ku. Aku hanya diam tanpa banyak bicara, karena aku bingung harus bicara apa pada abang ku ini. Aku tak tau siapa lelaki yang bersamanya itu, ia teman atau... Arg pikirkan ku kemana mana.


Saat kami sudah di depan kamar ku. Kami langsung masuk saja, mas damar dan Lucky langsung duduk di sofa sedang kan aku masuk ke dalam kamar ku,  dan keluar lagi menemui mereka.


"Jadi ...?"


"Oh ya. Aku hampir lupa, sinta kenalkan ini lucky kekasih mas."


Apa? Mas damar belok? Tapi sejak kapan?


"Hah."


"Hai sinta. Aku lucky kekasih nya damar, salam kenal yah ..."


"Tunggu-tunggu mas apa ini maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti mas."


"Iyah dia kekasih ku sin. Ini dia yang aku akan bawa kemari, dan lihat kami disini."


"Tunggu. Tapi sejak kapan mas? Bukannya mas.. ahhh pusing palak ku liat nya."


"Sejak mas tau jika ibu m*n*j*j*k*n tubuh nya pada lelaki lain. Saat itu mas benar benar tak tau lagi harus berbuat apa, dan kau tau dek. Mas sudah tau siapa ayah mas sebenarnya."


"Siapa mas?"


"Namanya Doni. Ia lelaki kemayu, yang lemah gemulai, menurut nya ia melakukan itu semua karena ia sakit hati dengan pasangannya yang menikah dengan wanita lain, dan kau tau yang di maksud dari kekasihnya itu siapa?"


"Siapa mas?"


"Dia sesama lelaki sin. Ayah ku belok, mungkin aku juga mengikuti nya, jujur saja saat amara menolak ku, saat itu aku sudah tidak tertarik lagi dengan yang namanya wanita. Aku terpaksa menikahi intan agar aku tidak terlalu terlihat sebagai g*y."


"Jadi ayah mas Damar ..."


"Ya. Aku mohon terimalah kami di sini, kenapa kami tidak berani di tempat kami tinggal, karena jika kami nekad di sana. Terlalu berbahaya. Selalu banyak paparazi yang bertebaran dan siap untuk membuat gosip di akun akun mereka."


"Baik lah. Berapa lama mas di sini?"


"Mungkin tiga bulan."


"Mas tau kan pekerjaan ku sekarang apa."


"Ya mas tau. Santai saja mas tidak akan mengganggu kalian. Mas dan lucky tidak tertarik dengan perempuan."  Aku mengangguk.


Aku benar benar tidak habis pikir. Kenapa saudara lelaki ku bisa seperti ini? Apa salah ku? Apa mungkin ini semua adalah karma untuk kami? Lebih tepat nya karma untuk ayah dan ibu, karena mereka telah menyakiti wanita yang tidak bersalah. Tapi kenapa aku dan mas damar yang menerima nya? Kenapa tidak langsung saja dengan mereka? Kan mereka yang berbuat. Ahh kesal sekali aku dengan jalan hidupku ini.