
Aku tak sadar kalau aku telah melakukan hal b*j*d dengan Kaka ku sendiri, bahkan kami melakukan nya bergiliran, aku tak menyangka kalau Kaka ku tega melakukan ini semua.
Bagaimana jika aku hamil? Apa yang akan aku katakan jika mbak Amara bertanya padaku? Aku bingung, saat aku terbangun dari tidur ku. Aku kaget saat melihat kami tidur di ruang tv dengan ke adaan nak*d.
Aku langsung mengambil baju bajuku, dan langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan badan, setelah bersih dan mengganti pakaian ku dengan yang baru.
Ku bangunkan mereka bertiga, terlihat mereka biasa saja, apa mungkin mereka merencanakan ini semua? Tapi kenapa?
"Bangun kalian semua. Kurang ajar sekali kalian menjebak ku?"
"Bang Damar bangun, apa maksud dari semua ini bang?"
Akhirnya mereka bangun. Dan langsung membersihkan diri masing masing, setelah selesai aku tetap menunggu nya di meja makan. Bahkan aku merasa ji**k untuk duduk di sofa, aku memang wanita malam, tapi aku tak menyukai sikap mereka yang seperti ini padaku.
Mereka bertiga ikut duduk bersama ku, ku pandangi mereka satu satu dengan tatapan ji**k, sampai akhirnya bang damar bersuara.
"Dek, kamu baik baik saja?"
"Apa maksudnya ini semua bang? Kenapa Abang menjebak ku?" tanya ku tanpa menoleh ke arah nya.
"Aku tidak menjebak mu dek, semua mengalir begitu saja."
Brak
Aku menggebrak meja makan dan berhasil membuat mereka kaget.
"Sudah jelas kalian merencanakan ini semua. Aku tidak terima di perlakukan seperti ini bang, apa salahku sampai Abang tega melakukan ini semua?"
"Oke fine. Aku memang merencanakan ini semua, aku ingin membuatmu menyukai sesama jenis, tapi sayang. Saat aku melihat dua bukit kembar mu yang besar itu, semua rencana ku berubah total, aku dan pacarku asalnya tidak ingin menyentuh mu. Tapi kami menginginkan sebuah permainan yang berbeda, jadi kami buat kamu sebagai b*d*k nya, kau tau. Aku pacar ku dan ia. Kami sering melakukan nya bertiga, dan kali ini kita berempat hahaha,,,, ini sungguh menyenangkan bukan?"
"Sudah g*l* kamu bang, keluar kalian dari apartemen ku sekarang. Kenapa kau berbuat hal bejad seperti ini bang?"
"Aku benci dengan mu Sinta, kau hidup dan lahir dari hubungan yang halal sedangkan aku? Aku bahkan baru mengetahui ayahku saat aku sudah menikah, dan Amara si wanita b*d*h itu. Ia bisa hidup dengan penuh harta dari ayah tiriku itu dengan mudah, awalnya aku ingin melakukan ini semua pada Amara, tapi sayang ia sangat sulit untuk di jangkau."
"Aku sudah merencanakan ini semua jauh jauh hari. Puas kau?"
"Ini semua g*l*, kalian keluar dari apartemen ku sekarang."
"Hahaha ... tidak bisa begitu sayang, kau harus melayani kami dulu seperti tadi malam. Sebelum kami pergi."
"Ku mohon keluar sekarang."
Bukannya mereka menjauh, tapi mereka malah mencengkeram kuat tangan ku, dan menyeret ku ke sofa lagi. Mereka m*l*c*t* pakaian ku hingga tak tersisa, tuhan selamatkan lah aku, aku mohon.
Ntah lupa atau bagaimana, beberapa temanku yang sering datang kemari menerobos masuk, dan melihat ku sedang seperti ini. Sontak membuat mereka kaget dan langsung bertindak, sampai terjadi perkelahian antara mereka, aku hanya bisa menangis di pelukan temanku Widya.
Setelah mereka pergi dan aku sudah memakai kembali semua pakaian ku, mereka menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, lalu aku menceritakan semuanya pada mereka dan membuat mereka semakin geram pada bang damar dan teman temannya.
"Lalu sekarang mau lo kaya gimana? Gue ga mungkin buat biarin lo sendirian di sini."
"Antarkan aku ke rumah sodara tiri aku aja, aku tak mau tinggal di sini lagi."
"Dimana rumah sodara tiri lo?"
"Bentar. Aku masukin dulu baju bajuku ke dalam koper, nanti aku tunjukkan jalannya, kalian bawa mobil?"
"Bawa, udah gampang mobil kami, lo pergi sama gue, biar mobil gue mereka yang bawa ngebantuin kita dari belakang."
"Oke sebenar."
Setelah semua selesai, aku pun bergegas pergi menuju rumah mbak Amara, ntah apa yang akan ia katakan padaku nantinya, aku bingung harus berbuat apa dan harus mengadu dengan siapa? Aku tak mau pergi dengan ayah aku tak mau itu.
Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya kami sampai, terlihat di sana ada mbak Amara dan mas andi yang sedang duduk.
"Mbak ..." Aku berlari sambil menangis.
"Hei. Kenapa ini? Ada apa dengan adikku? Kalian apa kan ia?"
"Sorry mbak, bukan kami pelakunya bahkan kami yang menolong Sinta."
"Hah? Ia kenapa? Ayok masuk dan ceritakan semuanya."
Kami pun masuk bersamaan, bunda yang baru saja turun dari atas kaget saat melihat ku menangis, dan ramai teman temanku ikut masuk.
"Loh loh ada apa ini? Kenapa anak bunda menangis?"
Widya langsung menceritakan semuanya pada mbak amara. Tanpa ada yang di tutupi, sungguh aku malu dengan keluarga ini, aku sangat malu.
"Aku akan telfon ayah. Ia harus tau ini semua."
"Jangan mbak, aku tak mau ayah tau. Aku benci dengan ayah."
"Ia ayah mu juga, ia harus tau dan harus bertindak." Akhirnya aku hanya pasrah dengan apa yang mbak amara lakukan.
Mbak amara memang seperti ini sifatnya. Ia tidak pernah membenciku sekalipun aku anak kandung ayah, bagi nya aku sudah seperti adik.
Tak lama kemudian ayah datang dengan tergesa, mata nya memerah pertanda amarah memuncak, aku tak tau apa yang akan ia lakukan padaku saat ini. Saat ia sudah semakin dekat dengan ku, terlihat tangannya mengangkat dan ..
Plak
"Dasar anak m*r*h*n, sama seperti ibu kalian, sudah aku katakan kemarin, pulang ke rumah ku tapi kau malah bersikeras ingin tinggal di apartemen mu itu. Dan hidup dengan dunia gelap sama seperti ibu mu, dan lihat sekarang? Apa kau tau ibumu sudah mati."
"Apa.? Ka-apan ibu meninggal? Ayah jangan bercanda."
"Ia sudah mati dua hari yang lalu, setelah melahirkan ia langsung bekerja melayani tamunya. Apa kau mau bernasib seperti ibumu ha? Jika kau mau seperti itu lalu untuk apa kau kembali ke rumah bunda mu?"
"Ayah. Maafkan aku, aku tau aku salah."
"Berdiri kau anak kurang ajar, bikin malu saja."
Ayah melepaskan ikat pinggang nya dan mencambuk ku hingga aku lemas. Sungguh aku tidak pernah melihat ayah semarah ini, bahkan amarah ayah saat ini jauh lebih menyeramkan daripada saat marah dengan ibu.
"Sudah mas sudah, lihat anakmu ia sudah lemas."
"Jangan kau bela anak ini Lia,, ia kurang ajar ia ingin mati di menyusul ibunya."
"Ayah sudah hentikan, kasihan Sinta. Mas Andi tolong pegang ayah, kalian bantu pegang ayah."
Mereka semua membantu merelai kamu. Tapi kekuatan ayah sangat besar sampai mereka kewalahan, aku tau aku sangat salah aku sudah banyak dosa.
"Biarkan anak ini mati di tanganku, bangun kamu, cepat ikut denganku pulang ke rumah itu."
Ayah menyeret ku dalam keadaan lemas, aku di seret sampai masuk ke dalam mobil, samar-samar aku melihat mereka mengikuti ku dan berteriak.
Sampai akhirnya kami sampai di rumah, ayah kembali menarik ku, karena aku sudah lemas tak sanggup lagi untuk berjalan.
Saat sudah di dalam rumah, ayah membanting ku ke sofa, dan kembali memukuli ku. Kali ini ia memukuli dengan sapu lidi yang jumlah nya sedikit, Karen semakin sedikit jumlah nya maka semakin terasa sakit pula.
Sampai akhirnya aku lemas dan pingsan, setelah aku pingsan aku tak tau lagi apa yang terjadi, karena aku sudah berada di kamar ku yang dulu saat masih berada di rumah ini.
Pakaian ku pun sudah di ganti, rasanya badanku sakit semua, terlihat banyak sekali bekas luka di tubuhku ini.
Aku paksakan untuk bangun, tapi saat aku bangun aku kaget melihat ayah sedang memegang gunting, untuk apa ayah memegang gunting seperti itu? Ia berjalan mendekati ku, dan kembali menyeret ku masuk ke dalam kamar mandi.
Ia menggunting habis rambutku, aku menangis memohon pada ayah, tapi ia tak mengindahkan perkataan ku.
"Aku mohon ayah berhenti, aku mohon maafkan aku."
"Ayah, jangan gunting habis rambutku. Aku bisa malu ayah."
"Ayah dengarkan aku, aku mohon."
Setan setelah selesai ia, mengguyur ku dengan air yang dingin, aku menggigil kedinginan, setelah ayah puas ia meninggalkan ku begitu aja di kamar mandi, sambil kedinginan.
Kenapa ayah tega melakukan ini semua? Apa sebegitu marahnya ia padaku? Bahkan aku sendiri tak tau kematian ibu, apa anak yang di kandung ibu selamat? Atau bahkan ikut dengan ibu? Banyak sekali pertanyaan di kepalaku yang ntah akan terjawab kapan dan oleh siapa. Aku sendiri tak tau.
Aku merangkak menuju kamar ku, aku berusaha meraih baju ku untuk menggantinya, setelah selesai di ganti, tiba tiba pintu kamar terbuka, aku takut kalau itu ayah lagi tapi ternyata itu bi Edoh.
"Non. Makan dulu ya, ya Allah non kasian sekali kamu nak."
"Andai dulu ayahmu tidak di paksa menikah, mungkin sifatnya tidak akan sekejam ini pada anak kandungnya."
"Bi. Apa benar ibuku sudah meninggal? Lalu bagaimana adikku?"
"Benar non, adik non juga meninggal setelah beberapa saat di lahir kan, bibi tidak tau pasti bagaimana ceritanya karena bibi hanya mendengar sekilas saja."
Seketika tangisku pecah kembali, aku tak menyangka ucapan ku terwujud, aku pernah bilang pada ayah.
Kau aku akan pulang ke rumah ini jika sudah ada yang meninggal, dan sekarang? Ibuku yang meninggal dan aku beneran kembali ke rumah ini, tuhan maafkan aku.