AMARA

AMARA
Bab 49



Sehari setelah Sinta datang ke rumah ini, ibu langsung di larikan ke rumah sakit, ibu di diagnosa memiliki penyakit jantung.


Aku tidak tau sejak kapan ibu memiliki penyakit itu, bahkan setau ku selama ini ibu hidup dengan sehat sehat saja, aku tidak pernah membiarkan ibu memakan makanan yang tidak sehat. Bahkan adikku Al, ikutan sakit karena ia baru di ketahui memiliki riwayat sakit jantung bawaan.


Sungguh aku merasa menjadi anak sekaligus kaka yang tidak berguna, aku membiarkan dua orang yang ku sayangi, mengalami sakit selama ini tanpa sepengetahuan ku. Aku trus menyalahkan diri sendiri, di usia pernikahan ku yang masih terbilang muda, aku di berikan ujian yang sangat. Berat bahkan sedari dulu, aku merasa ujian yang Tuhan berikan tiada hentinya.


Kami masih menunggu hasil ibu di rumah sakit, ibu dan adikku di haruskan untuk rawat inap, karena penyakit nya yang sudah parah.


Saat aku sedang duduk bersama paman, bibi dan suamiku. Ibu memanggil kami untuk mendekat.


"Amara..." Suara ibu pelan, namun masih bisa terdengar


"Ya, bu. Amara di sini."


"Sini nak."


"Nak. Maafkan lah ayahmu, jangan lah membalaskan dendam lagi, ayah mu sudah mendapatkan karma nya nak. Hiduplah dengan tenang." Aku mengangguk.


"Lisa, Andi. Titip anakku Amara, jangan biarkan dia terluka atau menangis. Sayangi dia. Aku sudah tidak kuat lagi, maafkan aku merepotkan kalian, Al akan aku bawa pergi."


"Apa yang ibu katakan.? Ibu dan al. Akan tetap bersama ku Bu, aku janji aku tidak akan membalas dendam lagi pada ayah. Aku janji akan memaafkan ayah, tapi ibu dan adikku harus tetap bersamaku."


"Terimakan takdir nak. Ihklas." Tittttttttt


"Ibu...."


Kami menangis melihat kepergian ibu, ini semua berasa seperti mimpi, aku tidak percaya ibu akan meninggalkan aku secepat ini. Kini aku hanya sebatang kara, aku tidak punya siapa siapa lagi.


"Amara. Sudah nak tenang, masih ada bibi. Ihklas nak."


"Benar sayang, kamu harus ikhlas. Aku dan paman akan mengurus semuanya dulu, kamu jangan seperti ini sayang, kasian ibu. Kita harus belajar ihklas."


"Tapi mas...."


"Sudah nak. Ayok kita kemas kan, barang barang dan bersiap untuk pulang."


Mau tak mau aku mengikuti tante ku, untuk mengemasi semuanya.


"Bu. Kenapa ibu tega meninggalkan aku, setelah apa yang aku perjuangkan demi ibu, apa ini yang ibu balaskan untukku.? Ibu membalas nya dengan kepergian, sungguh aku tak menyangka ibu Setega ini padaku." Ucapku dalam hati.


"Sabar nak, semua sudah kehendak tuhan. Kamu tidak boleh bicara seperti itu sayang."


"Tapi bi ..."


Akhirnya kami semua pulang, begitu juga dengan jenazah ibu dan adikku, ternyata di sana sudah ramai orang. Hari ini aku kehilangan dua orang yang aku sayangi, mereka pergi meninggalkan aku sendirian.


Kenapa mereka tidak mengajakku sekalian.? Kenapa ibu tega meninggalkan aku.? Aku berjuang habis habisan, untuk ibu. Untuk kesejahteraan ibu, tapi ibu pergi selama lamanya.


Saat aku sedang duduk membaca ayat ayat suci Al-Quran, ternyata ayah juga hadir, ia menangis melihat kepergian ibu.


Kini aku sadar, betapa cinta dan sayangnya ayah pada ibuku, tapi semua itu tidak bisa merubah semuanya. Kini ibu sudah pergi dan tenang di alam sana, ayah menghampiri ku yang sedang menangis, dekat tante.


"Nak. Maafkan ayah nak, ayah tidak bisa menjaga ibumu."


"Untuk apa ayah datang kesini.? Lihatlah ayah, ibu sudah pergi ia meninggalkan ku ayah. Apa ayah sudah puas sekarang.?"


"Amara istighfar nak."


"Tapi tante. Ayah lah penyebab semua ini, andai saja ayah tidak bertindak semena mena saat itu, pasti ibu masih ada sampai saat ini tante."


Ayah menghampiri ku, dan memeluk ku dengan erat. Jujur dari kecil aku tak pernah merasakan pelukan seorang ayah, waktu itu. Meskipun aku sudah mengetahui semuanya, tapi aku tak sedekat ini dengan ayah. Ternyata nyaman sekali, berada di pelukan ayah, rasanya hatiku tenang.


"Ikhlaskan, nak. Ayah minta maaf, karena ayah semuanya terjadi. Jika kamu ingin memukul ayah, pukul lah nak, maki ayah, marah kan ayah sepuas nya. Tapi maafkan lah ayahmu yang penuh dosa ini, kita hidup dengan damai nak, kasian ibumu jika kita trus seperti ini."


"Lepaskan aku ayah, aku tak mau di peluk ayah." Aku trus berontak, tapi semakin aku berontak semakin kuat ayah memelukku. Hingga akhirnya aku menyerah dan tidak berontak lagi.


"Bu. Lihat lah bu, kini aku dan ayah berpelukkan, andai ibu melihat ini. Pasti ibu akan sangat senang, karena dulu ibu selalu bermimpi agar aku bisa berdamai dengan ayah, dan saling berpelukan. Kini lihat lah bu, semuanya sudah terwujud."


Pemakaman ibu dan adikku, akan di laksanakan esok hari, rasanya masih terasa seperti mimpi. Aku masih tidak menyangka jika semua ini akan terjadi, bahkan dengan begitu cepat.


Keesokan harinya...


Akhirnya pemakaman pun selesai, kami semua pulang ke rumah, termasuk ayah. Kini ayah tinggal bersama kami, untuk beberapa hari ini. Mungkin sampai tujuh hari ibu.


"Ayah..."


"Ya, nak. Kenapa sayang.?"


"Bagaimana keadaan Sinta sekarang.? Apakah ia sudah menikah dengan Damar.?"


"Sinta, ayah kurung di rumah nak. Ayah tidak biarkan ia keluar rumah, Damar di penjara sayang."


"Benar kah.? Tapi kenapa.?"


"Ia terbukti sudah melakukan pemerkosaan, penculikan, dan penganiyaan terhadap anak dari ayah kandung nya."


"Adik nya juga ayah.?"


"Benar nak."


"Berarti sama seperti ayah dulu pada ibu, ayah menculik dan memperkosa ibu, hingga lahir la aku."


"Ya, nak. Ini semua adalah karma untuk ayah, karena ayah sudah berbuat seperti itu pada ibumu. Orang yang ayah cintai sampai detik ini, ayah mohon jangan membahas ini lagi ya nak, kita mulai hidup yang baru dan lupakan semuanya. Ayah sudah mendapatkan karma setimpal dengan ini." Aku mengangguk.


Kareena aku sudah berjanji pada ibu, bahwa aku akan memaafkan ayah, aku akan menerima semuanya dengan lapang dada.


Tak terasa tujuh hari sudah, kepergian ibu dan al, kini rumah ini menjadi sepi. Biasanya akan ada ibu, yang setiap pagi sedang sibuk di dapur. Untuk menyiapkan kami sarapan.


Meskipun ada bi marni di rumah ini, tapi ibu selalu ingin turun sendiri ke dapur untuk menyiapkan semuanya, dan kini semuanya sudah berakhir.


"Bu. Semoga ibu dan adik tenang di sana, doakan aku agar nanti kita akan kembali bersama Bu."


"Tuhan, maafkan aku, jika aku masih belum bisa ihklas sepenuhnya. Aku masih merasakan keberadaan ibu di sisiku. Kenapa engkau mengambil ibuku.? Kami baru saja merasakan hidup dengan bahagia, tapi engkau mengambil semuanya tuhan, kebahagiaan yang aku mimpikan selama ini kini sudah sirna." Sambung ku dalam hati.


Memang seharusnya aku bisa menerima semuanya dengan lapang dada, aku harus ikhlaskan kepergian mereka. Tapi tetap saja, hati ini merasakan kehilangan yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak, kami baru saja merasakan kebahagiaan, tapi harus berakhir seperti ini.


Aku yang baru saja merasakan, keutuhan keluarga, kini semuanya berakhir. Apa aku tidak pantas untuk merasakan bahagia.? Di rumah ini sekarang hanya ada aku dan bi Marni.


Tante dan paman ku sudah kembali ke rumahnya, ayah sudah pulang, sedangkan mas andi sudah mulai bekerja. Meskipun ia awalnya ingin tetap berada di rumah menemaniku, tapi aku memaksakan nya untuk tetap bekerja. Meskipun perusahaan itu miliknya tapi ia tidak boleh semena mena seperti itu.


Ia harus profesional dalam bekerja, dan mencontoh kan yang baik untuk karyawan nya.


Saat aku sedang menonton tv, rasanya perut ku mulai, dan kepalaku pusing.


Hoek..... Hoekk... Hoek...


Aku memuntahkan semua isi perut ku, hingga membuat bi marni, menghampiri ku dan khawatir.


"Ya ampun non, non kenapa.? Apa non amara sakit.? Mari bibi bantu non."


"Aku tak tau bi, rasanya perutku mual dan kepalaku sangat pusing."


"Apa jangan jangan..."


"Apa bi.?"


Astaga, benar. Aku sudah dua bulan ini tidak datang bulan, apa aku hamil.?


"Aku hamil bi.?"


"Bisa jadi non, apa sebaiknya non cek saja menggunakan testpack. Biar bibi yang belikan, non tunggu di sini jangan kemana mana ya." Aku mengangguk saja, bi marni. Sudah seperti ibuku, meskipun kami bertemu di rumah ayah tapi ia menyayangiku sama seperti ia menyayangi anaknya.


Menurut bi Marni, ia sudah menganggap ku sebagai anaknya. Dan bahkan ia menyayangi ku sama hal nya seperti ia menyayangi anaknya sendiri. Tak lama kemudian ia kembali.


"Non. Ini coba di tes di dalam kamar mandi."


"Bagaimana cara menggunakan nya bi.?"


"Di situ ada petunjuk nya non." Aku mengangguk dan masuk ke dalam, setelah beberapa saat kemudian ternyata muncul garis dua. Ya tuhan, benar kah ini semua.? Apa benar aku hamil.? Aku keluar, dan memberikannya pada bi marni.


"Ya Tuhanku, non. Beneran hamil, Alhamdulillah, akhirnya bibi menjadi nene. Telfon den Andi, non. Beritahu ia, pasti ia akan sangat senang."


"Bibi benar, aku akan menelfon nya."


Tutttt..Tut..... Tut....


Namun tak ada jawaban dari nya. Mungkin ia sedang meeting.


"Tidak di jawab bi, apa sebaiknya mengirimkan nya pesan dulu, mungkin dia sedang meeting."


"Coba saja non, ayok non duduk dulu di ruang tv. Biar bibi buatkan jus buah, baik untuk bayi dan ibu." Aku mengangguk dan mengikuti saran dari bibi marni.


(Gambar foto) send


Drtttt .... Drtttt ... Drtttt ....


Mas Andi menelfon ku.


"Sayang, apakah foto itu benar sayang.? Aku akan menjadi seorang ayah."


"Benar mas. Kita akan menjadi orang tua."


"Kalau begitu tunggu papa mu yang ganteng ini nak, aku akan pulang sekarang sayang, kamu mau aku belikan apa.?"


"Tapi ini masih jam kantor."


"Ini kantorku, tidak masalah aku akan pulang jam berapa pun."


"Baiklah, papa yang ganteng, aku tidak ingin apa apa mas. Hati hati di jalan ya." Tuttt... Inilah kebiasaan mas andi, ia selalu mematikan telfon, sepihak. Tapi aku menyukai nya, ternyata bi marni sudah berada di dekat ku, aku tak menyadarinya.


"Ini jus nya non."


"Terimakasih bi, bi. Aku akan menjadi seorang ibu dan mas andi akan menjadi seorang papa."


"Iyah non. Semoga anak yang non kandung, sehat selalu, jangan terlalu cape. Kalau butuh apa apa bilang sama bibi, biar bibi yang siapkan."


"Makasih sekali lagi bi. Andai ibu masih ada, mungkin ia juga akan senang bi."


"Percaya lah. Nyonya akan selalu ada di hati non, ia pasti bahagia melihat non yang bahagia."


"Bibi benar."


"Kalau begitu bibi permisi non." Aku mengangguk.


Tak lama kemudian mas andi datang. Ia terburu buru menghampiri ku yang sedang duduk, minum jus.


"Sayang.... Istriku... Dimana kamu.?"


"Aku di ruang tv mas."


"Ahh di sini rupanya. Apa anakku nakal.? Apa ia membuat mu kesulitan.?"


"Tidak sayang, tadi hanya mual mual saja."


"Baiklah. Kita periksa ke dokter, agar mengetahui sudah berapa lama, anakku di dalam sana."


"Rasanya tidak perlu sayang."


"Ayok Lah sayang..."


"Hmm. Baiklah." Akhirnya kami pergi ke rumah sakit, untuk memeriksa kandungan ku.


* Di rumah sakit


"Ibu Amara..." Panggil suster.


Kami pun masuk ke dalam, untuk memeriksa kann anak kami..


"Mari Bu, baring dulu biar saya periksa." Aku menuruti nya.


"Ini kehamilan pertama ya bu.?"


"Iya dok."


"Selamat ya pak, bu. Anak yang ada di kandungan ibu sudah berusia lima minggu. Saya sarankan untuk ibu, tidak terlalu cape ya. Nahh sudah selesai, mari bu duduk saya akan menjelaskan."


Setelah aku duduk bersama suamiku, dokter Dewi mulai menjelaskan semuanya.


"Bapak. Harus lebih menjaga ibu dan anaknya ya pak, jangan buat si ibu kelelahan, istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi."


"Baik dok."


"Sayang. Makasih sudah menjadikan aku seorang papa, pasti anak kita akan bangga, karena memiliki ayah yang tampan seperti ku ini."


"Shutt... Malu sama dokter dewi." Aku memukul pelan tangan suamiku.


"Tidak apa bu. Sekali lagi selamat ya, ini saya resep kan vitamin untuk ibu."


"Dok. Apa saya tidak bisa menjenguk anak saya di dalam.?"


"Untuk saat ini jangan dulu ya pak, karena kandungannya masih rawan, jadi bapak puasa dulu."


"Baiklah dok. Kami permisi ya." Dokter itu mengangguk. Kami pun keluar ruangan, sungguh rasanya aku sangat bahagia.


Di sepanjang lorong rumah sakit, mas andi tak hentinya memegangi perut ku, bahkan ia menyarankan aku untuk menggunakan kursi roda.


Tapi aku gak mau, karena aku masih kuat berjalan, katanya ia khawatir pada anak yang ada di dalam kandungan ku. Takut kenapa napa, padahal kan hanya berjalan di lorong rumah sakit saja sampai parkiran.


Sungguh mas andi sangat lebay.. setelah sampai di depan loby, aku melihat ada tukang rujak di sana.


Mas andi seperti peka dengan apa yang ku lihat, ia berinisiatif membelikan ku rujak itu. Uh rasanya nikmat sekali, sepanjang perjalanan pulang,  mas andi tak melepaskan pegangannya padaku.


Meskipun aku sudah berusaha melepaskan nya, karena aku merasa ini di jalanan tidak baik, tapi ia selalu menjawab, aku tak ingin melepaskan mu walaupun hanya sebentar.


Kenapa mas andi menjadi lebay seperti ini? Padahal kan cuman di mobil saja, dan tidak akan pergi kemana mana.


Begitu pula saat sudah sampai di rumah, ia trus menggenggam tanganku, sampai ia pastikan aku duduk di atas kasur kamar kami.