
Ntah lah aku bingung harus bagaimana lagi mencari anakku Amara, aku sudah menelusuri seluruh kota ini, bahkan aku membayar orang untuk mencari keberadaan nya, namun sampai saat ini hasil nya tetap nihil, aku tetap tidak mendapatkan informasi apapun.
Semenjak Sonya tau kebenaran nya, dia sekarang terang terangan bilang kalau dia tidak akan membiarkan aku untuk bertemu anakku lagi, dan dia bahkan tak segan untuk membunuh amara dan Lia, bahkan setiap pergerakan ku selalu saja di awasi oleh nya.
Bahkan dia sampai mengancam akan melakukan apapun demi menyelamatkan rumah tangganya, jika aku berani meninggalkan nya dia akan bunuh diri, sungguh pikiran yang dangkal bukan.?
Keadaan damar semakin membuat ku merasa kalau ini semua adalah karma untukku, dia masih saja suka termenung, tertawa dan bahkan menangis, aku tak tau kenapa dia seperti itu, kadang aku berpikir kalau Amara sudah pelet anak itu tapi rasanya tidak mungkin kalau pun Amara pelet damar apa keuntungan nya.? Toh dia bukan anak kandung ku, meskipun dulu sebelum menikah aku sempat meniduri Sonya tapi itu karena aku di jebak oleh nya. Sungguh rumit bukan kisah ku..? Ya aku pun sama pusing...!
Tepat di pagi itu saat aku sedang menunggu Sonya di pasar, aku bertemu dengan pembantuku dulu yang ku pekerjakan dengan Amara, tidak ku sia-siakan lagi kesempatan ini, aku langsung bertanya padanya kalau Amara ada dimana? Tapi sayang dia ga mau kasih tau alamat Amara yang baru, atau kah ini semua rencana Amara.? Aku sedikit curiga dengannya pasalnya dia seperti ketakutan dan gemetar saat bertemu denganku, aku sengaja pura pura percaya dan saat dia pergi aku mengikuti nya dari belakang.
Namun sayang saat dia sudah berlalu dari kerumunan rupanya aku salah mengikuti orang yang ku kira adalah Marni, sungguh dia wanita yang cerdik, bisa bersembunyi dariku, aku yakin rumah baru Amara tak jauh dari sini, Amara dan Marni cukup dekat karena dulu saat Amara berpura pura menjadi pembantu di rumah ku, mereka sering berdua dan bercerita bersama.
Suatu hari nanti akan aku cari lagi dia sampai dapat. Aku ga bakalan putus asa sebelum ketemu dengan Lia, aku akan meminta maaf padanya aku akan melakukan apapun demi menembus kesalahan ku dulu, aku berjanji kali ini aku tidak akan lari lagi seperti dulu.
Keesokan harinya aku kembali mencari lia, saat aku sedang beristirahat di sebuah rumah makan aku bertemu dengan Amara, ya gadis yang selama ini ku cari ada di depan mataku saat.
"Amara, anak ayah.!"
"Kamu kemana saja nak..? Ayah mencari mu kemana mana."
Amara tak menjawab semua perkataan ku, dia langsung ke ibu ibu warteg dan membayar semuanya, ku langsung mengejar keluar aku harus dapatkan apa yang ku cari selama ini.
"Amara.."
"Amara, tunggu nakk.."
Amara berhenti dan berbalik badan padaku.
"Apalagi..? Bukan kah ini yang nyonya Sonya mau dariku.? Aku menjauh dari ayah kandung ku sendiri, karena dia takut tak dapat harta, dengar sini aku tak ada niat sekalipun untuk menguras hartamu ayah, dan dengar sini ayah aku datang mencari mu saat itu karena aku ingin tau siapa laki-laki brengsek yang telah memperkosa ibuku dan lari begitu saja bahkan dengan teganya menggilir tubuh ibuku pada laki laki lain.. sungguh miris bukan.? Bilang pada nyonya Sonya kalau saya sudah memenuhi kemauannya. Saya permisi."
Aku diam mematung mendengarkan semua ucapan anakku, apa benar Sonya yang meminta semua ini.? Tapi untuk apa.? Kalau emang hanya untuk sebuah harta bukan kah aku sudah membagi sama rata semuanya.? Saat aku sedang memikirkan semua nya ternyata Amara sudah melangkah lebih jauh dariku. Dengan cepat aku berlari dan menyusul nya.
"Amara tunggu nak... Ayah janji ayah akan memenuhi semua kemauan mu nak.."
"Benar begitu.?"
"Ya, kenapa tidak.?"
"Kalau begitu jangan mencari ku lagi."
Amara pergi begitu saja tanpa mendengar perkataan ku lagi, benar benar sedih aku melihat nya. Aku langsung pulang ke rumah akan ku beri pelajaran Sonya karena telah memisahkan aku dan Amara.
Sesampainya di rumah aku langsung menghampiri Sonya di dalam kamar, ya aku tau jam segini Sonya selalu di kamar, aku berjalan dengan penuh emosi, saat sampai di dalam kamar aku langsung menutup pintu dan menguncinya, Sonya senyum senyum di kiranya aku bakalan minta jatah kali.
Tak hanya pintu jendela dan gorden pun ku tutup, saat semua sudah selesai aku langsung tampar Sonya dengan amarah.
Plak
Mata Sonya melotot melihat ku menamparnya dia bingung kenapa aku menampar nya Tiba tiba.
"Mas kenapa kau menamparku.? Apa salahku.?"
"Kau tak tau salah mu apa ha.?"
Plak
"Salah kau sudah memisahkan ku lagi dengan anakku dan kau tega menyuruh Amara untuk menjauhi ku." Ucapku lantang.
"A-aku ga pernah nyuruh Amara buat menjauhi mas sumpah."
"Aku dulu emang nurut dengan mu dan mau menuruti semua kemauan mu tapi kali ini aku tidak akan mengabulkan permohonan mu untuk tidak pergi darimu, dan jika kau masih mau tetap dengan ku maka berhenti lah melarang Amara untuk berada di rumah ini, aku akan membawa serta Lia pindah ke rumah ini, dengan persetujuan mu atau tidak, ingat rumah ini adalah rumah ku. Paham.? Dan satu lagi aku tidak akan begitu saja percaya dengan mu yang telah membuat ku marah seperti ini, kita akan membuat perjanjian di atas hitam putih dan kau harus menyetujui nya."
"Segitu nya kamu mas dengan wanita murahan itu, apa mungkin kamu mencintai wanita jalanan itu ha.?"
"Berhenti menghardik ibu dari anakku."
"Aku juga ibu dari anakmu mas, Sinta anak mu, damar anakmu."
"Damar bukan anakku, aku tau sebelum kau tidur dengan ku, kau lebih dulu tidur dengan laki-laki lain dan hamil."
Aku pergi begitu saja dan di rumah, aku akan mencari dimana rumah Amara sekarang aku akan membawa mereka ke rumah ku, tak masalah jika bibi dan paman nya mau ikut.
Malam ini aku kembali tidur di kamar tamu, karna aku enggan satu kasur dengan nya, rasanya muak, aku dekat dengannya aku hanya ingin menebus kesalahanku itu saja tidak lebih yali kenapa dia melebih lebihkan nya sendiri, dan dengan lancang menyuruh Amara menjauhi ku.
Padahal dulu mereka sangat dekat tapi kenapa saat dia tau kalau Amara adalah anakku dia menjadi seperti ini.? Apa dia takut tersaingi.? Ya memang aku akui Amara memiliki paras yang cantik sama seperti ibunya kalau di bandingkan dengan Sonya jauh lebih cantik Lia daripada dia wajar saja kalau Sonya merasa akan ada saingan.