AMARA

AMARA
Bab 56 Prov Amara



No Komen itu sih derita elo


Masa bodo ga mau tau


Amara kaget tiba tiba saja hpnya berdering, saat itu ia sedang beristirahat karena menurut dokter ia harus Basterds, karena kandungan nya tidak terlalu kuat.


"Siapa yang menelfon?" Aku mengecek nya dsn ternyata nomor baru.


No komen itu sih derita elo


Masa bodo ga mau tau


Hp Amara kembali berdering, kali ini Amara langsung menjawab telepon tersebut.


"Hallo assalamualaikum."


"Waalaikumssalam. Apa benar ini dengan ibu Amara? Anak dari bapak Dani?"


"Ya. Saya sendiri, ada apa dengan ayah saya?"


"Ibu di mintai datang ke rumah sakit Bhayangkara, untuk menemui ayah anda."


"Ayah kenapa? Katakan Bu, jangan berbelit Belit sepeti ini."


"Ayah anda kritis setelah terjadinya percobaan pembunuhan, yang di lakukan oleh sodara Damar."


"Apa ...?"


Aku langsung terkulai lemas dan bersimpuh di lantai, saat itu mas Andi baru saja masuk ke dalam kamar kaget melihatku seperti ini ia langsung berlari menghampiri ku.


"Kenapa sayang? Ada apa?"


"Mas. Ayah mas."


"Ayah kenapa? Ceritakan sayang. Ingat kata dokter kalau kamu tidak boleh banyak pikiran."


"Ayah kritis dan ini semua karena ulah Damar."


Aku menyodorkan hp ku padanya. Dan mas damar langsung mengambil nya, ia berbicara dengan orang di sebrang sana. Tak lama kemudian, mas Andi ijin padaku. Ia akan pergi mengecek semuanya di rumah sakit.


"Sayang. Aku pergi dulu ya, aku akan mengecek nya."


"Aku ikut mas. Aku ingin tau seperti apa ayah sekarang."


"Sayang. Kamu harus banyak istirahat, insyaallah ayah tidak kenapa Napa sayang."


"Tapi mas ..."


"Dengarkan kata suamimu ini sayang."


"Baiklah. Tapi kabari aku apapun itu." Mas Andi mengangguk, dan membantuku untuk naik ke atas ranjang, tak lupa ia juga memanggil Talia asisten pribadi ku untuk menemani di dalam kamar.


Talia adalah suster sekaligus asisten ku. Semenjak aku hamil, aku tidak bisa melakukan apapun, perutku selalu saja sakit setiap kali aku beraktivitas berlebihan.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Siapa?"


"Talia. Bu."


"Oh. Masuklah talia."


Ceklek


Kini aku bersama Talia, ia gadis yang baik dan pakaiannya juga tertutup inilah salah satu alasan ku memilih nya untuk bekerja di rumah ini.


Kini talia duduk di kursi yang ada di dalam kamar ini, ia sedang bermain tok tok. Memang aku membebaskannya asalkan semua tugas ia sudah selesai kan, dan setiap kali aku membutuhkannya ia harus siap siaga.


"Talia ..."


"Ya."


"Kemari Lah, aku ingin bercerita." Ia menghampiri ku, yang sedang duduk di atas kasur.


"Kenapa bu?"


"Aku sangat khawatir dengan keadaan ayah dan juga adik tiriku. Mereka sedang kritis talia, di tambah lagi mas Andi belum memberikan kabar terbaru padaku. Aku sangat khawatir terhadap mereka."


"Ibu yang sabar ya. Berdoa semoga mereka semua di berikan umur yang panjang, dan bisa berkumpul kembali bersama kita di sini."


"Kamu benar Talia."


Sudah satu jam mas Andi pergi tapi belum juga ada kabar, sampai akhirnya ada notifikasi masuk dan ternyata mas andi.


["Sayang. Alhamdulillah ayah tidak apa apa, sinta masih belum sadarkan diri setelah ia melakukan operasi dadakan. Karena harus mengangkat rahimnya."]


Aku menutup mulut kaget, membaca pesan mas andi, apa yang di lakukan damar pada sinta? Sampai ia di haruskan untuk mengangkat rahim? Bukan kah Sinta sedang hamil? Banyak sekali pertanyaan di kepala ku ini.


["Syukur lah kalau ayah baik baik saja. Sinta kenapa mas? Bukan kah ia sedang hamil? Dan apakah ada korban yang lainnya?"] Send


Ting


["Nanti mas akan ceritakan saat sudah sampai di rumah, saat ini mas masih harus menguruskan semua nya di sini. Mungkin esok atau malam mas akan pulang, kamu suruh saja Talia tidur bersamamu di kamar."]


["Iya mas. Mas jangan lupa sholat dan makan, kabari trus ya mas."] Send


Ting


["Iya sayang."]


Tuhan semoga saja mereka baik baik saja, selamat kan lah mereka, dan berikan lah balasan yang setimpal untuk Damar. Ia sudah tega menghamili adiknya sendiri, mencoba membunuh keluarga nya. Sungguh terbuat dari apa hatinya itu? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran Damar.


Ku lirik talia yang kembali asyik bermain tok tok, aku senang memiliki asisten seperti dia, ia di bawah ku satu tahun. Dan katanya tahun depan ia akan menikah, semoga saja pernikahan nya langgeng.


Tak terasa kini sudah pukul setengah delapan malam, talia sudah terlelap di sofa tempat biasa aku beristirahat sambil baring.


Aku yang sangat ngantuk karena menunggu kepulangan mas damar, akhirnya ikut tidur juga.


* * *


Aku terbangun lagi di jam dua belas malam, aku melirik talia masih terlelap sangat pulas, aku mencari sosok suamiku. Tapi ia tidak ku temukan, apa ia masih di rumah sakit? Kenapa lama sekali?


Aku akan menelfon nya dan menanyakan keberadaan nya saat ini.


Tut.... Tut.... Tut....


Tidak ada jawaban dari mas andi...


Tut.... Tut..... Tut.....


"Ya. Hallo sayang.? Maaf aku tadi sedang mengobrol dengan pihak kepolisian, sebentar lagi aku pulang."


Mas Andi seperti tau, apa yang akan ku tanyakan padanya hingga langsung to the poin seperti itu.


"Baiklah mas. Hati hati di jalan saat pulang nanti."


"Iya sayang. Kamu tidur lah lagi, besok pagi akan mas ceritakan, talia tidur di kamar kita?"


"Ya mas. Ia tidur bersamaku."


"Baguslah. Kalau begitu mas nanti tidur di kamar tamu saja ya seperti biasa."


"Iya mas."


"Dah sayang." Tut...


Mas andi memang seperti itu, saat talia tidur bersamaku, ia lebih memilih tidur di kamar lain, karena ia tidak ingin satu kamar dengan wanita yang bukan muhrim nya.


Aku sangat bangga padanya, ia sekarang menjadi pengganti ibuku yang sudah tiada. Bahkan bagiku ia juga seperti sosok ayah, yang menyayangi anaknya. Sosok ayah yang tidak pernah aku dapatkan dari ayah kandung ku.


Aku merasa lapar. Aku turu dari tempat tidur dan membuat roti, di kamar ku selalu sedia roti. Karena aku selalu lapar tengah malam seperti ini, itu sebabnya mas Andi selalu menyiapkan cemilan untukku.


Kini kandunganku sudah berusia enam bulan. Perut ku sudah mulai membuncit dan besar. Tapi meskipun aku seperti ini, mas andi tidak pernah berpaling dariku, bahkan ia menjadi semakin romantis dan lengket padaku.


"Ibu ... kenapa tidak bangunkan saya kalau ibu lapar." Aku kaget saat mendengar suara Talia yang tiba tiba.


"Ihhh talia. Biasa saja dong, saya kaget ini. Bagiamana kalau saya kena serangan jantung mendadak?"


"Ya ibu. Jangan dong nanti saya ga ada teman lagi, sini bu biar saya saja yang buatkan, ibu kembalilah ke atas kasur."


"Hanya bikin ini saya, aku bisa Talia."


"Bu. Saya mohon jangan mempersulit pekerjaan saya bu. Nanti bapak marah padaku."


"Baiklah."


Talia memang seperti itu, ia selalu bilang jangan mempersulit pekerjaan nya. Padahal aku hanya mempermudah nya saja, agar ia beristirahat, kasian ia sudah seharian bekerja dan menjagaku.


"Di makan Bu. Lain kali ibu bangunkan lah saya, nanti kalau bapak tau bu. Saya yang akan kena marah bapak." Ucapnya sambil memasang muka sedih.


"Baiklah baiklah. Maafkan aku ya, habis saya lapar sekali, kenapa anak ini selalu saja lapar tengah malam seperti ini."


"Maklum lah bu. Namanya juga orang hamil."


"Ya sudah. Sana kamu tidur lagi aja." Ia mengangguk dan kembali tertidur, huh dasar cepat sekali ia tidur, berbeda denganku yang sangat sulit untuk memejamkan mata, kecil kalau aku memaksa nya untuk pejam.