AMARA

AMARA
Bab 73



Hari demi hari aku lewati semua ini sendirian, aku masih belum melakukan apapun agar wanita itu kembali pulang ke rumah ini. Aku ingin bertanya pada mamy tapi aku gengsi, karena aku tidak memperbolehkan mereka ikut campur apapun itu.


Kini aku sadar bahwa aku sudah mulai ketergantungan padanya, aku benar benar merasakan kesepian tanpa kehadiran wanita itu. Saat sesudah makan malam, aku kembali gelisah dan tiba tiba mamy menghampiri ku.


"Nak. Apa kamu sakit sayang? Mamy lihat kamu seperti sedang gelisah saja." Tanya mamy.


"Eh mamy, tidak mam. Aku baik baik saja." Ucapku. Aku memang baik-baik saja tapi hati ini yang sedang tidak baik.


"Katakan pada mamy, apa yang telah membuat putra mamy gelisah seperti ini?" Tanya nya lagi.


"Jujur saja aku merasa kesepian dan kehilangan my, semenjak kepergian Wulan dari rumah ini. Apa yang harus aku lakukan my?" Tanya ku dengan wajah menunduk.


"Benar kah?"


"Ya."


"Jika begitu pergilah ke rumah nya, dan jelaskan semuanya pada Wulan. Mamy yakin ia wanita baik dan mau memaafkan mu."


"Aku malu my."


"Tidak ada kata malu kalau masalah istri atau suami. Cepat sebelum ia benar benar menceraikan mu."


"Cerai?" Tanya ku tidak percaya.


"Ya. Kedua orangtuanya meminta Wulan untuk bercerai dengan mu, dan persahabatan papa mu dengan mas Andi berantakan semenjak kejadian hari itu. Itulah sebab nya papamu tidak ingin bertegur sapa denganmu nak. Ia merasa kecewa padamu." Jelas mamy padaku. Sebegitu kecewa nya kah mereka? Hingga memutuskan untuk membuat ku bercerai dengan istri ku sendiri?


"Seperti kah? Jika memang benar, aku akan pergi dan memperbaiki semuanya. Sungguh aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Dinda sepupu dari Wulan."


"Ya, mamy percaya pada anak mamy."


"Aku pergi dulu, assalamualaikum."


"Hati hati nak, waalaikumssalam."


Apa separah itu kah? Memang dulu aku tidak ingin perjodohan ini terjadi, tapi saat aku melihat wanita itu pertama kali. Jujur saja aku sudah menyukai nya, tapi aku malu untuk mengakui semuanya.


Saat akan pergi tiba tiba saja aku di hadang oleh dinda. Si wanita gatal itu, untuk apa lagi ia datang kemari? Apa ia tidak puas karena ulah ke gatalannya lah rumah tangga ku hancur, setelah ini. Aku akan membawa Wulan ke rumah yang baru, agar tidak ada yang menganggu kami lagi.


"Hai sayang." Ucap Dinda.


Aku menoleh ke belakang, melihat apakah mamy masih ada di sana atau sudah pergi, dan ternyata ia masih ada.


"Minggir wanita jal*ng, gara gara kau semuanya berantakan. Istriku pergi dari rumah ini karena kau." Bentak Ku.


"Bukan kah kau menginginkan nya Amar? Dan bukan kah kau tidak mencintai istrimu itu?" Tanya nya masih dengan sikap genit.


"Jangan pernah datang lagi kedalam kehidupan rumah tanggaku atau kau akan menyesal seumur hidup, minggir." Aku mendorong tubuh nya yang jenjang itu sampai mundur.


Aku benar benar tak habis pikir, dengan bangganya ia mengakui semua perbuatan nya.


Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan bagaimana reaksi semuanya saat melihat aku datang dan membujuk istriku pulang, rasanya aneh saja jika aku melakukan ini. Tapi jika tidak begitu semua akan lebih kacau lagi.


Saat tiba di depan rumah nya, aku masih diam mematung di dalam mobil, sampai tiba tiba datang sebuah mobil dari belakang klasoni ku.


Tin


Aku kaget dan reflek menoleh ke belakang, ternyata itu mobil ayah mertua ku, pasti ia baru saja bekerja. Akhirnya aku pun masuk ke dalam, dan di susul oleh mobil mertua ku. Kami turun bersamaan dari mobil, aku menghampiri nya dan salam padanya.


"Waalaikumssalam, ada apa kamu kesini? Mau menyakiti anakku lagi?" Tanya nya dengan nada yang tegas.


Deg


Rupanya ayah mertua ku masih menyimpan luka karena kejadian kemarin.


"Tidak ayah, aku ingin menjelaskan semuanya pada kalian dan membawa istriku pulang, aku sangat kesepian ayah." Jawab ku.


"Benar kah?"


"Benar ayah. Ijin kan aku untuk menjelaskan semuanya."


"Baiklah, ayok masuk. Biasanya jam segini Wulan sedang masak bersama ibunya."


Aku mengikuti nya dari belakang, dan masuk. Ternyata benar, aku celingak-celinguk mencari keberadaan istriku, sampai ayah mertuaku sadar akan itu. Hingga membuat nya memanggil Wulan untuk bergabung dengan kami.


Sungguh aku rindu dengan masakannya, aku rindu setiap pagi sarapan bersamanya. Tuhan ijinkan aku untuk bersama kembali dengan istriku tersayang.


Tak lama kemudian ia datang, dan benar saja. Ia sedang masak, terlihat dari pakaiannya yang masih menggunakan celemek khas untuk masak. Ia kaget saat melihat ku ada di rumah ini. Rambutnya yang panjang di ikat, sungguh selama ia tinggal di rumah ku. Aku tak pernah melihat ia melepaskan jilbab nya itu. Tapi aku tak tau jika di ruangan khusus untuknya itu ia membuka jilbab. Ia sangat cantik dan bersinar. Ia sadar aku perhatikan dengan cepat ia berlari menuju atas entah apa yang akan ia perbuat, aku masih setia menunggu nya di ruangan tengah yang dekat dengan dapur ini.


Tak lama kemudian ia datang lagi, dan kali ini ia memakai jilbab, jadi rupanya ia ke atas hanya untuk pakai jilbab? Padahal kan ga haram juga aku liatnya, toh aku suaminya. Lebih tepat nya suami yang tak pernah memberikan nafkah batin pada istrinya.


Ia menghampiri kami dan duduk di dekat ibunya, tatapan ibu mertua sangat tajam padaku, dan membuat nyali ku menciut tapi aku tetap akan berusaha membuat istriku kembali ke rumah.


"Mas." Ucapnya sambil mencium tangan ku, dan duduk di dekat ibunya.


"Cepat jelaskan." Kata ibu.


"Baiklah. Jujur saja, aku dengan Dinda tidak memiliki hubungan apapun, demi tuhan. Ia terus menerus datang padaku dan menggoda ku, bahkan setiap sering kali ia datang ke kantor untuk menggoda. Karena ia tau, jika datang ke rumah papa, maka ia akan kepanasan melihat Wulan yang dengan senang hati melayaniku, menyiapkan semuanya untukku."


"Lalu?"  Ucap ibu lagi, Wulan dan ayah mertua hanya diam saja.


"Aku berani sumpah, aku tidak memiliki hubungan apapun, dan mengenai aku tak pernah menyentuh wulan. Aku minta maaf memang aku yang salah karena telah bersikap seperti itu, jadi aku benar benar minta maaf atas itu, aku janji tidak akan mengulangi nya lagi."


Lalu aku menoleh ke Wulan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Sayang. Maafkan mas, mas janji tidak akan membiarkan mu kembali pergi dari kehidupan mas. Mas akan mendengar kan semua perkataan mu dan permintaan mu. Tapi mas mohon, pulanglah ke rumah sayang."


Ia terpana mendengar itu semua, karena selama pernikahan ini aku tak pernah merayu atau berkata manis padanya. Semua perlakuan ku buruk, sampai akhirnya ia berbicara juga padaku.


"Aku percaya padamu mas, karena jujur saja saat kita menikah waktu itu. Dinda pernah berkata padaku, kalau dia akan merebut mu dari ku. Dengan berbagai cara, dan ia benar benar melakukan itu."


"Apa?" Ucap kami serentak. Aku benar benar kaget mendengar semua itu.


"Berani sekali ia berkata seperti itu pada anakku, sungguh ia sama seperti nene dan ayah nya."


"Maksud ibu?" Ucap Wulan.


"Sayang jangan katakan itu pada anak anak, biarkan la mereka menjalani kehidupan rumah tangganya." Tegur ayah.


"Biarkan mereka tau mas, sebenarnya ..."


"Assalamualaikum." Suara Luna, sampai perkataan ibu mertua ku terpotong. Sebenar nya apa? Aku sangat penasaran.