
Aku kaget saat ibu mengajakku pergi dari rumah suamiku ini, jujur saja semenjak aku mengurusi suamiku, dan ia selalu di sisiku selama ini meskipun kami pisah tempat tidur tapi aku sangat menyayangi nya. Aku sudah mencintai nya, sebenarnya sejak pertama kali menikah aku sudah belajar menerima nya sebagai suamiku.
Meskipun ia sangat cuek dan acuh tak acuh padaku. Bahkan ia tak peduli sama sekali dengan apa yang aku lakukan, aku mau ngapain juga ia tidak pernah ambil pusing.
Sampai tiba saat aku sedang datang bulan, dan ibu dagang ke rumah untuk bertemu denganku, ia mengetahui semuanya. Bahkan ibu memaksa ku untuk berterus terang dengan apa yang telah terjadi selama ini, saat ibu terus memaksa aku masih diam saja. Karena bagiku ini adalah aib rumah tangga dan aku tidak mungkin membicarakan nya termasuk pada ibuku.
Setelah periksa tes ke**r*wa**n, ibu mengajakku untuk pergi ke kantor mas amar. Aku yang tadinya menolak terus di paksa oleh ibu, sampai akhirnya aku tidak bisa berbuat apapun lagi selain menuruti nya.
Saat sampai di kantor mas Amar, ibu langsung marah marah pada suamiku, aku hanya melihat nya dan menundukkan kepala karena tidak ingin melihat wajah suamiku. Aku tidak marah padanya, tapi aku tidak ingin melihat wajah nya yang kelihatan bingung dengan semua ini. Meskipun ini juga salah kami, kami tidak pernah menjalankan kehidupan suami istri dengan baik dan benar. Saat ibu sedang marah marah, tiba tiba dinda masuk ke dalam ruangan mas Amar. Dan memanggil suamiku dengan sebutan sayang, tuhan rasanya hatiku sangat terbakar bahkan aku tidak sanggup lagi untuk mendengar apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya.
Ibu merasa tidak di hargai dan memilih untuk membawa ku pulang. Namun, sebelum itu ibu mengajakku ke rumah mertua, karena akan mengambil semua pakaian ku tanpa ada yang tersisa. Aku kaget dan rasanya ingin menolak ajakan ibu, namun lagi lagi aku hanya bisa pasrah, berulang kali mas amar bilang bahwa ia dan mbak Dinda tidak ada hubungan apapun, tapi ibu seperti tutup telinga ia tidak mau mendengarnya.
Sebelum kami pergi, mbak Dinda berbisik padaku.
"Ini baru permulaan, kita lihat saja nanti kedepannya. Siapa suruh kamu tidak mau memberikan suamimu padaku secara baik baik, jadi jangan salah kan aku jika aku berbuat nekad." Aku kaget dan langsung menoleh ke arah mas Amar dan mbak Dinda.
Aku heran, sebegitu ingin kah mbak Dinda dengan mas Amar? Tapi kenapa? Bukan kah dia bisa saja mendapatkan yang jauh lebih baik dari suamiku ini? Kami pulang ke rumah mertuaku, tak banyak bicara di antara kami, dan ibu terus saja mengomel dengan ayah. Karena ayah telah membiarkan aku masuk ke dalam rumah tangga seperti ini.
Saat sampai di rumah mertua, aku langsung di suruh masuk dan mengemasi semua pakaian ku, sebelum itu ibu dan yang lainnya berbicara. Ibu terlihat sangat emosi pada mertua ku ini.
Tak lama kemudian mas Amar datang dan aku langsung di suruh mengemas semuanya, aku naik ke atas untuk mengambil baju bajuku di kamar, tanpa ku tau rupanya mas Amar mengikuti ku dari belakang sampai ke dalam kamar.
"Wulan." Sapa nya pada ku.
"Ya mas?" Jawab ku sambil menoleh ke arah nya.
"Kamu mau pergi dari rumah ini?" Aku mengangguk.
"Tapi kenapa? Bukan kah ini rumah mu juga? Sumpah aku tidak ada hubungan apapun dengan Dinda, ia terus menggoda ku, bahkan ia sering datang ke kantor untuk mengajakku makan. Maafkan aku, aku mohon Wulan."
Aku berbalik badan dan menghadap padanya.
"Mas. Aku sudah tahu ko, itu sebabnya aku banyak diam. Aku tahu mbak Dinda menginginkan mu mas, jika kamu juga menginginkan nya maka silahkan nikahi dia aku ikhlas. Aku ridho mas, kamu mampu, kamu pasti bisa berbuat adil untuk kami."
"Tidak Wulan. Aku tidak mampu, maafkan aku. Jujur aku sudah mulai terbiasa denganmu. Aku tidak tau apa jadinya jika kamu pergi dari hidupku ini, mungkin akan terasa sepi."
"Mari kita introspeksi diri terlebih dahulu mas, dan terimakasih karena kamu telah terbiasa dengan adanya aku di sisimu. Dan mulai lah terbiasa dengan ketidak hadiran nya aku di sisimu mas."
"Aku tidak akan biarkan kamu pergi Wulan."
"Maaf aku harus pergi sekarang."
"Wulan."
"Ya?"
"Boleh kah aku memeluk mu untuk pertama kalinya?" Tanya nya lirih.
"Hah?" Aneh saja suami ku ini.
"Boleh ya? Aku tau selama aku sakit waktu itu, kamu selalu mengurus ku dengan baik. Maka ijinkan aku untuk memeluk mu, aku janji aku akan datang dan membawa mu kembali pulang ke rumah ini. Dan apapun yang kamu inginkan aku akan turuti semuanya."
"Kemari Lah." Ia mulai memeluk ku dengan erat, dan inilah sisi kanan kanak yang ada pada suamiku ini. Saat ia sakit waktu itu, ia selalu saja mengigau kalau ia tidak mau di melahirkan dengan keadaan kedua orang tuanya yang selalu sibuk bekerja. Sebenarnya ia anak yang kekurangan kasih sayang oleh papa dan mamy. Kemudian ia melepaskan pelukan nya dariku.
"Nanti aku akan datang dan membawamu pulang lagi sayang." Ya tuhan. Ini pertama kalinya ia memanggilku sayang dengan keadaan sadar, dan bukan karena terpaksa atau genit seperti saat ia mengirimkan aku baju s**y saat itu. Aku mengangguk dan keluar dan di ikuti dengan mas Amar. Kamu langsung pergi, namun sebelum aku menjauh ikut dengan ibu, aku berpamitan terlebih dahulu pada suamiku dan mencium tangan suamiku.
Singkat cerita...
Tepat pukul sembilan pagi saat aku sedang asyik menanam tumbuhan di depan rumah, tiba tiba aku melihat mobil mas Amar terparkir rapih di depan rumah ibuku.
Apakah mas Amar mau menepati janjinya selama ini? Jika iya, semoga semuanya berjalan dengan lancar dan semoga ibu mengijinkan aku kembali pada mas amar.
"Assalamualaikum." Benar saja kan ia datang kemari, tapi dengan siapa ia datang?
"Waalaikumssalam, mas." Ucapku sambil mencuci tangan dan bersalaman dengannya.
"Mas akan menepati janji mas padamu sayang." Ucapnya.
"Mari masuk mas. Dan... Siapa namanya mas?" Ucapku bertanya pada suamiku ini.
"Riki. Dia asisten sekaligus sahabat mas."
"Oke. Ayok masuk, kebetulan sekali ayah sedang tidak ke kantor. Dan mas kenapa tidak di kantor? Bukan kah ini masih jam kerja?"
"Mas tidak bisa tenang tanpa dirimu sayang."
"Ekhem." Riki berdehem. Aku hanya terkekeh mendengarnya.
"Ayah, ibu. Ini ada mas Amar datang." Ibu bangkit dari duduknya dan langsung menatap nyalang pada suamiku.
"Mau apa kamu datang kemari? Mau bikin anak saya semakin sakit hati hah?"
"Bu. Maafkan aku, aku tidak bersalah bu. Aku dengan dinda tidak ada hubungan apapun. Jika ibu tidak percaya ibu boleh tanya pada temanku ini ia saksinya, iya kan Riki."
"Benar tante. Amar tidak memiliki hubungan apapun dengan yang namanya Dinda. Aku tau persis bagaimana ia, aku pernah melihat si Dinda itu mencoba untuk menggoda Amar. Tapi ia tidak sama sekali tergoda, dengan gagahnya Amar berkata bahwa ia mencintai Amara."
"Gob**k... Amara itu mertua gue, bini gua namanya Wulan."Ucap mas Amar sambil memukul tangannya.
"Oh ya. maaf tante, maksud saya Wulan."
"Sudah pergi kalian dari rumah saya. Dan kamu Amar, jika kamu mencintai anak saya dengan tulus maka buktikan, buktikan perjuangan mu untuk anak saya. Wulan, masuk ke kamar sekarang."
"Tapi bu..."
"Masuk kata Ibu bilang."
"Tapi bu. Saya suaminya Wulan, dan ia harus ikut dengan saya."
"Silahkan buktikan terlebih dahulu, jika semuanya terbukti maka silahkan bawa kembali istrimu pulang."
"Baik bu. Aku akan membuktikan semuanya, Wulan tunggu mas mu ini datang kembali dan doakan agar mas bisa membuktikan semuanya." Aku mengangguk saja. Dan mereka pulang, meskipun mas Amar terlihat ceria namun aku tau jauh di dalam hatinya ia sangat terluka.
"Mas. Semoga kamu bisa menepati janji mu itu mas." Ucapku dalam hati.