
Hari Minggu tiba. Terdengar suara burung yang berkicau. Sinar matahari pagi yang terbit mengenai kelopak mata Amara melewati celah di jendela. Amara pun terbangun dengan keadaan segar. Entah kenapa hari ini terasa sangat bahagia untuknya. Amara dengan bersenandung kecil berjalan ke kamar mandi. Ia menggosok giginya dan memulai ritual mandinya.
Setelah selesai, Amara menuju kamar. Ia mengambil kaus oblong berwarna hitam dengan setelan celana jeans kulot. Setelah selesai berpakaian, Amara turun ke bawah untuk memasak sarapan. Ia mengambil mie instan di lemari, juga sebutir telur. Ia memasukkan mie tersebut ke dalam panci berisi air yang telah mendidih. Lalu Amara juga memasukkan daun bawang iris dan telur. Ia menunggu mie tersebut matang sembari menonton televisi.
Saat mie matang, Amara segera meletakannya di mangkuk. Lalu mengambil sumpit dan pergi ke ruang tengah tempat ia menonton televisi tadi. Terlihat beberapa saudara sepupu Amara sedang menonton televisi. Mereka melihat Amara yang sedang memegang mangkuk panas.
"Bagi dong Ra" celetuk Rafa.
"Gak dulu deh kak, lo kemaren gue mintain tolong ga mau" balas Amara dengan nada mengejek.
"Rasain lo Fa" ucap Rendra ikut mengejek Rafa.
Rafa yang tadinya berwajah senang pun kini berwajah masam. Ia sedikit kesal, bukan karena kesal dengan Amara melainkan karena Rendra.
"Paan sih lo, lo itu ga diajak Dra" ujar Rafa.
"Ya" Rendra membalas ucapan Rafa dengan acungan jempol.
Amara kini memakan mie yang ia buat tadi. Setelah selesai, ia mencuci piring bekas makanannya tadi. Setelah itu ke kamar dan bersantai. Saat sedang bersantai, amara mendapatkan pesan dari Reza.
'Gue otw ke rumah lo' begitulah isi pesan Reza.
Amara tersenyum, kini ia segera mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Reza. Ia meminta izin pada tante Keyla bahwa dirinya akan pergi. Tante Keyla mengiyakan. Amara kini kegirangan, karena ia mendapatkan izin dari tante Keyla. Ia langsung pergi ke teras untuk menunggu Reza.
Tak berselang lama, Reza datang dengan motornya dan memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Amara. Amara membuka gerbangnya dan menyapa Reza. Amara pun memakai helm dan naik ke atas motor Reza. Saat selesai, mereka pun pergi menuju ke pantai dengan motor Reza.
Saat sampai di sana, Amara terkesima melihat hamparan pasir putih dengan ombak tenang yang terlihat enak untuk dipandang. Terdapat burung-burung beterbangan dan juga pohon kelapa yang terlihat mendayu-dayu. Reza memandangi Amara yang terlihat sumringah dengan senyum manisnya yang menghiasi wajah Amara.
"Seneng lo? Sampe senyum-senyum gitu?" ledek Reza.
"Menurut lo? Kalau seneng ga boleh senyum gitu?" Amara membalas ledekan Reza.
"Enggak" balas Reza.
Amara terdiam, begitupun dengan Reza. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari melihat ombak laut yang terlihat tenang.
"Masih siang ni Za, masih panas juga. Mending cari makan dulu" ujar Amara memberi Reza saran.
"Boleh juga" balas Reza menyetujui saran dari Amara.
Mereka pun berjalan-jalan sebentar mencari warung makan ataupun pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar pantai itu. Tak lama mereka berkeliling, mereka melihat ada pedagang kaki lima yang menjual cilok dan siomay. Mereka pun bergegas menuju ke pedagang tersebut.
"Mang beli" ucap Reza.
"Silakan atuh mas, mau beli apa ya?" jawab penjual tersebut.
"Lo mau apa Ra?" tanya Reza pada Amara.
"Gue siomay aja deh, 10 ribu ya. Pake uang lo dulu tapi, nanti gue ganti" jawab Amara.
"Oke" balas Reza singkat.
Reza pun memberitahu penjual tersebut bahwa ia ingin membeli siomay.
"Beli siomaynya aja atuh mang, 10 ribu dua ya".
"Kalo boleh tau, kalian pacaran ya?" tanya penjual tersebut dengan rasa penasaran.
"Engga kok mang, kita cuma temen astaga" jawab Amara sambil malu-malu.
"Bener tuh, kita ga pacaran mang" timpal Reza.
Penjual tersebut pun terkekeh mendengar jawaban mereka.
"Cuma bercanda ya mbak, mas. Kalaupun beneran mah saya doain biar kalian langgeng terus sampe ke pelaminan" ledek penjual tersebut.
"Ah mamang bisa aja" jawab Reza sambil sedikit tertawa.
Setelah pesanan mereka selesai dibuat, mereka pun membayar dan segera berbalik ke arah motor yang terparkir di parkir pinggiran jalan tersebut.
"Nih uang lo, lunas ya utang gue" ujar Amara memberikan uangnya pada Reza.
"Makasih" jawab Reza.
Mereka berjalan menuju ke taman yang tersedia dan memakan makanan yang mereka beli tadi. Mereka menaiki sebuah ayunan dan keduanya terfokus pada ponsel masing-masing.
Saat mereka bosan, mereka berlari menuju ke arah pantai dan bermain dengan ombak. Berlarian ke sana kemari sambil bersenda gurau.
Tanpa sadar hari pun sudah menjelang senja.
Mereka kini berhenti karena lelah. Walau terasa lelah, namun mereka sangat bahagia. Mengingat bahwa ini pertama kalinya mereka pergi ke pantai hanya berdua maka bisa lebih bebas untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Mereka duduk di pasir putih dan menatap langit. Matahari berada di pucuk cakrawala dan langit yang berwarna oranye membuat suasana semakin indah.
Angin dingin menyentuh kulit mereka berdua, menjadi saksi bisu sejarah cerita cinta mereka.
Amara merasa nyaman saat berada dengan Reza. Di kala ia kedinginan karena terkena angin tersebut, ia pun memeluk Reza.
"Lo ngapain?" heran Reza.
"Dingin Ja" jawab Amara.
Reza tak mengucapkan sepatah katapun dan ia mengambil jaketnya yang berada di samping tubuhnya dan meletakkannya di atas tubuh Amara.
"Gimana? Udah ga dingin?" tanya Reza.
"Iya, makasih Ja" jawab Amara.
Mereka pun kembali terfokus pada pemikiran masing-masing. Menatap langit oranye dan merasakan cipratan air ombak yang sedikit tenang membuat mereka sangat bahagia. Tanpa sadar, Amara tersenyum dan melihat wajah Reza. Reza yang tak menyadari hal itu pun tetap melihat ke langit.
"Enak nih kalo tiduran" celetuk Reza membuyarkan tatapan Amara. Amara pun menjadi salah tingkah dan menjawab asal ucapan Reza tadi.
"Iya ya".
Mereka berdua pun kini berbaring di atas pasir. Pantai itu sepi, jadi tidak ada yang melihat aktivitas mereka itu. Mereka menyaksikan matahari yang tenggelam sambil mengobrol ringan. Saat hari sudah mulai malam, mereka memutuskan untuk pulang.
Saat ini mereka sedang berada di warung makan dan mereka berdua memesan minuman hangat. Untuk menghangatkan tubuh karena terkena angin pantai. Setelah selesai meminumnya, mereka membayar dan pulang ke rumah.