
Sebenarnya aku ingin sekali datang ke acara pernikahan anakku. Namun aku berpikir Kemabli jika aku datang, mungkin hanya akan membuat huru hara di sana karena jauh jauh hari lia sudah memberitahu ku agar aku tak perlu datang di acara penting itu.
Sungguh terluka hatiku mendengar nya. Aku ayah nya tapi aku tak bisa menyaksikan momen penting itu, lia tunggu aku.
Aku akan membawa mu kembali dalam pelukan ku. Dan tak akan pernah aku lepaskan kembali, kemarin aku mengirimkan nya paket berupa boneka beruang dan di dalam nya terdapat kamera tersembunyi. Aku sengaja menyimpan nya di sana agar aku tau kegiatan apa saja yang di lakukan mereka, karena aku tau kalau lia akan menyimpan boneka besar itu di tengah rumah.
Saat aku termenung memikirkan acara penting itu. Sonya datang ke rumah ini lagi, dan terlihat jelas sekarang perut nya semakin membesar saja. Mau apa lagi dia kemari?
"Mas. Aku mohon kita kembali seperti dulu lagi, toh lia juga sudah mencampakkan mu bukan? Untuk apa lagi kamu masih memikirkan mereka?"
"Untuk apa kau kemari lagi ha?"
"Ya. Tadi kan awal aku datang sudah di utarakan, sudah lah mas lupakan saja mereka toh ada aku yang sayang padamu."
"Diam kau. Gara gara kau semua ini terjadi, dengar sini baik baik, dulu mungkin aku sempat menyayangi mu namun itu hanya sekedar sesaat dan sekarang semua rasa sayang ku padamu sudah hilang Sonya. Jadi lebih baik kau pergi dari sini karena percuma saja kau di sini."
"Beri aku kesempatan mas. Aku akan perbaiki semuanya."
"Pergi atau aku akan buat kau menyesal seumur hidup."
"Tapi mas ..."
"Pergi kataku bilang. Atau kau sekarang bukan hanya jal*ng tapi juga tuli?"
"Sebegitu besar kamu cinta dengan wanita g*l* itu mas?"
"Dia tidak g*l*. Paham kau ...!"
Aku menyeret nya keluar rumah. Sungguh dia datang kemari hanya membuat ku tambah pusing saja, tak sudi aku kembali dengannya bahkan ia lebih murah daripada wanita wanita lain di luar sana.
Sudah dua bulan ini. Aku tak mendapati kabar kedua anakku yaitu damar dan sinta, aku tak tau mereka kemana. Tak ada satu orang pun yang tau keberadaan mereka saat ini, mungkin saja mereka sudah menikah sama hal nya seperti amara putriku.
Nanti malam aku bertekad akan mendatangi rumah Amara. Aku ingin bertemu dengan mereka dan aku ingin bicara dengan menantu ku sebagai laki laki dan laki laki.
Malam hari tiba
Aku bersiap untuk pergi ke rumah lia. Namun sebelum itu aku sempatkan untuk membeli beberpa buah tangan untuk di bawa kesana, setelah aku rasa semuanya sudah siap aku melajukan mobil menuju ke sana.
Prasaan ku tak tentu bagaimana perasaannya. Ntah senang ntah sedih, aku merasa takut jika nanti mereka akan menolak ku sama hal nya saat aku datang menjemput anak istriku tempo hari.
Setelah perjalanan akhirnya aku sampai juga ke rumah nya. Terlihat sudah agak sepi karena acara sudah selesai, aku pun turun dari mobil dengan prasaan sedikit ragu untuk masuk namun aku paksakan diri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam." Ucap lia sambil menoleh ke arah ku. Mungkin ia tak akan menyangka kalau aku akan datang ke acara pernikahan anakku.
"Selamat ya nak. Semoga pernikahan mu langgeng dan bahagia."
"Untuk apa kamu datang kemari mas? Bukan kah aku sudah menyuruh mu tidak usah datang?"
"Aku ingin melihat pernikahan anakku apa salahnya?"
"Lebih baik kau pergi dari rumah ini mas. Aku tak mau melihat mu di sini."
"Buang jauh jauh harapan itu mas. Apa kau tidak ingat saat menculik anakku? Bayangkan mas anak sendiri saja kau culik seperti itu, dimana letak hati nurani mu mas?"
"Aku melakukan itu semua untuk membuat mu kembali padaku lia. Pahami lah itu sayang, aku melakukan semua ini hanya untukmu saja."
"Pergi mas. Aku bilang pergi dari rumah ini, dan kembali lah pada istrimu Sonya."
"Sonya bukan istriku lagi. Aku sudah menceraikan nya."
"Bagus kalau seperti itu. Dan sekarang aku yang akan menceraikan mu mas."
"Ku mohon jangan pernah bicara seperti itu sayang. Aku tak ingin mendengar nya."
"Pergi ..." Usir lia dengan lantang, aku diam beribu bahasa saat mendengar teriakan lia padaku.
Terlihat lelaki muda memperhatikan aku sedari tadi. Mungkin itu suami amara, ya aku akan bicara padanya. Mungkin saja ia bisa membantu ku untuk kembali dengan lia.
"Nak. Boleh aku bicara denganmu." Ucapku pada lelaki itu, ku lirik amara. Ia sedang sibuk bersama ibunya dan tidak memperdulikan aku saat itu.
"Boleh ayah."
Apa? Ia memanggil ku ayah? Berarti benar dia adalah suami Amara.
Kami berjalan keluar rumah. Menuju taman yang ada di halaman rumah ini, aku sengaja mengajak nya ke taman karena aku gak ingin amara marah saat melihat aku mengajak suaminya duduk dan bicara berdua.
"Nak. Siapa namamu?"
"Arul."
"Begini nak arul. Aku titipkan putri ku padamu, sebagai ayah kandung nya aku sangat menyayangi nya dan kau sayangi lah ia sebagai mana aku menyayangi nya. Jangan pernah kau buat ia terluka dan menangis, setetes air mata yang keluar dari matanya itu ibaratkan luka bagiku. Memang selama ini aku bukan lah ayah yang baik baginya, bahkan aku tak pernah memberikan kasih sayang yang penuh untuknya."
"Baik ayah. Aku akan mengingat nya."
"Terimakasih nak. Aku mohon bujuk lah amara agar ia membujuk ibunya untuk kembali padaku, masih ada adik nya yang perlu kasih sayang kedua orang tuanya."
"Insyaallah nanti akan aku ajak bicara Amara."
"Kalau begitu. Aku permisi dulu titip amara dan ibunya."
"Baik ayah. Hati hati di jalan."
Aku pulang dengan rasa kecewa. Meskipun ada sedikit lega karena amara memiliki suami yang pengertian padanya. Semoga saja lelaki itu tidak membuat nya terluka.
Jujur saja saat aku sedih karena aku tidak bisa membawa pulang Lia. Semoga saja lelaki itu bisa membujuk amara dan bicara pada ibunya.
Selama perjalanan aku termenung. Sampai saat berada di lampu merah samar samar aku melihat sinta bersama seorang lelaki, namun aku tak mengenali lelaki itu siapa.
Terlihat sinta. Begitu mesra dengan pria itu, siapa sebenarnya pria itu? Aku begitu penasaran namun aku tak bisa berhenti begitu saja di lampu merah. lagi pula saat itu sinta sedang berada di dalam mobil, dan aku memutuskan untuk mengikuti nya dari belakang.
Lama aku mengikuti nya. Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah hotel mewah, ya tuhan apa yang di perbuat anakku di dalam hotel sana? Mengapa ia masuk dengan lelaki? Apa mungkin itu suaminya? Rasanya aku tak tahan untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya secepat ini. Hatiku masih terluka dan sekarang luka itu semakin membesar saat melihat putri ku dari sonya masuk ke dalam hotel bersama pria. Tuhan mengapa kau memberikan karma begitu cepat padaku? Tidak bisa kah kau menunggu sampai Lia kembali padaku? Agar aku ada kekuatan untuk bertahan menghadapi karma yang kau kirimkan padaku.