
Dan benar saja hari itu dani datang dia menangis saat melihat ku berdiri di hadapannya lalu dia meminta maaf padaku dan berjanji akan melakukan apapun demi bisa menebus kesalahannya dulu, tentu saja ini aku manfaatkan dengan baik.
"Lia, maafkan aku aku tau aku salah dan aku harap kau mau memaafkan, aku berjanji akan melakukan apapun agar bisa di maafkan oleh mu."
"Benar begitu.?"
"Tentu saja, apapun itu."
"Apapun." Dani hanya menjawab dengan anggukan
"Baiklah, aku ingin tinggal di rumah mu."
"A-apa.?"
"Ya, aku ingin tinggal di rumah mu bersama adik, Amara dan suami nya adikku."
"Baiklah aku akan penuhi kemauan mu apapun itu, cepat lah bersiap kita akan berangkat hari ini juga karena jarak nya yang lumayan jauh kasian kamu jika harus kecapean di jalan."
Aku menyunggingkan senyum tunggu sebentar lagi wanita ******, kau akan merasakan apa yang aku rasakan aku sangat senang dengan misi balas dendam ku ini karena anakku Amara memiliki dendam yang begitu besar terhadap Dani dan keluarga nya.
Pukul tiga sore kami berangkat namun sebelum berangkat aku berpesan agar bi marni yang memasakkan aku sekeluarga, dan kamar Bi Marni harus berada dekat dengan Amara. Bukan tanpa sebab aku melakukan itu semua aku takut jika bi marni di hasut oleh Nene lampir itu nantinya dan tentu saja dani mengiyakan.
Selama perjalanan tak ada perbincangan apapun aku sudah tak sabar ingin segera sampai rumah nya, aku penasaran sebesar apa rumah milik Dani, maafkan aku tuhan aku terpaksa melakukan ini karena luka yang aku dapat terlalu sakit.
Ku lirik Lisa dan Ilham mereka berdua tertidur, dan ku lirik Amara dengan bi marni mereka pun tertidur, mobil Amara di bawa oleh supir dani yang mengikuti kami dari belakang.
Tepat pukul tujuh malam kami sampai di halaman rumahnya, saat aku melihat nya aku kaget rupanya Dani memiliki rumah yang sangat besar seperti istana, sungguh beruntung wanita yang bisa menikah dengan dia. Tapi itu semua hanya sesaat lihat saja nanti dani akan sepenuhnya memohon padaku dan akan mencampakkan wanita itu.
"Assalamualaikum" ucap Dani
"Waalaikumssalam, ayah dari mana saja.? Ibu sangat khawatir dengan ayah."
Huff lebay sekali wanita ini, dan sedikit kemudian dia melirik ku dengan penuh tanda tanya,. Lalu menghampiri amara aku dengan sigap menghalangi nya aku takut wanita ini berbuat dekat dengan anakku, namun kenapa Amara seperti yang sudah sangat akrab dengan wanita ini.? Dan bahkan memanggil ibu.
Saat pertama kali minat rumah itu waw sekali rumah nya besar seperti istana dan pembantu nya ada banyak bukan hanya satu, kaya sekali dani ini wanita itu melirik ku dengan sinis namun Dani membuyarkan lirikannya dan menyuruh kami berkenalan.
"Sonya kenalkan ini lia dan Lia akan tinggal di sini bersama kita."
"A-apa mas.? Dia tinggal bersama kita.? Tidak bisa kaya gitu dong mas."
"Ya dia akan tinggal di sini bersama kita, kenapa tidak bisa.? Yang punya rumah kan saya."
"Sonya istri sah nya."
Bangga sekali wanita ini kita lihat saja apa yang akan aku dan amara lakukan, aku dan amara saling pandang saat mendengar dia mengucapkan istri sah nya.
Kami di ajak ke lantai atas untuk memilih kamar tidur dan aku di berikan kamar yang berdampingan dengan kamar mereka, sedang kan amara memilih kamar yang bernuansa ungu dan ternyata kamar itu milik Sonya.
"Ayah aku ingin kamar ini, dan sebelah nya buat kamar Bi Marni ya ayah, karena aku tak bisa jauh jauh dari BI marni."
"Boleh sayang."
"Ga bisa gitu dong mas, itu kan kamar kesayanganku dan masa pembantu tidur di kamar majikan, pembantu itu tidur di belakang mas."
"Sekali lagi kau protes akan ku ceraikan kau Sonya, kalau kau ku ceraikan kau akan tinggal dimana ha.?"
"Baiklah mas, kalau begitu aku ke kamar dulu."
Namun sebelum berlalu dia berbisik padaku.
"Jangan senang dulu dasar pelakor di rumah ini aku yang berkuasa, kita lihat saja akan ku buat tak nyaman kau berada di sini."
"Mas kalau begitu aku ke kamar dulu ya."
Ucapnya sekali lagi dan berlalu pergi, PD sekali wanita itu kita lihat saja siapa yang akan tak nyaman tinggal di rumah ini.
Waktu nya makan malam pun tiba, bi Marni memasak untukku dan keluarga, aku sengaja menyuruh BI marni memasak khusus karena aku tak percaya pada sonya aku takut kalau Sonya berbuat jahat dan meracuni kami.
Dani terus saja melirik ku sambil senyum-senyum sedangkan sonya melirik Dani dengan tatapan amarah tapi dia tak bisa apa apa Dani kemarin mengajakku menikah namun aku bilang kalau aku belum siap menikah apa lagi menikah siri.
Dani berjanji akan memberikan apapun yang aku mau termasuk menceraikan Sonya, tentu saja ini kesempatan emas untuk membuat wanita itu sengsara, tapi tidak tidak akan secepat itu sayang aku akan membuat mu jauh lebih sengsara secara perlahan.
Kau akan menyerah dengan sendirinya tanpa harus dani menceraikan mu, ku lirik amara hanya senyum-senyum melihat Sonya yang kepanasan dan aku melihat seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran dengan Amara, dia terlihat antusias semenjak Amara pindah ke sini.
Makan malam pun usai kami semua mengobrol dan menonton tv di ruangan tv, dani mengumumkan kalau Amara anakku akan memimpin salah satu perusahaan milik nya, dan pamannya amara akan menjadi karyawan terlebih dahulu di sana baru nanti akan menjadi manajer, namun Ilham menolak Ilham ingin membuka rumah makan dan restoran saja, tentu saja dani menyetujui nya dan esok mereka akan pergi mencari Ruko yang akan di belinya untuk di jadikan usaha paman nya Amara.
Sonya hanya cemberut mendengar semua ini aku yakin dia sangat kecewa dengan keputusan Dani, dan Dani pun mengumumkan kalau besok aku akan ikut kemanapun Dani pergi, tentu saja dengan bi marni aku tak akan memberikan celah untuk sonya mengintrogasi marni.
Menurut amara dulu dia di suruh Sonya untuk menjauh dari dani dan memberikan nya uang yang sangat besar, dan di pakai untuk membuka usaha paman dan bibi nya, yang sampai sekarang rumah makan milik bibi nya masih berjalan tanpa sepengetahuan Sonya tentu nya.
Rumah yang Amara beli tempo hari di kosongkan sementara, rencana Amara akan menyuruh bi Marni tinggal di sana bersama anaknya dan mengurus rumah serta rumah makan tentu saja aku setuju karena bi marni orang nya manut saja dan dia tak pernah neko neko.