AMARA

AMARA
Bab 34



Aku tak menyangka kalau ibu bisa berpikir untuk berpisah dengan ayah. Padahal yang aku tau ibu sangat menyayangi ayah, karena ia tak pernah menunjukkan ketidaksukaan nya di depan kami.


Bahkan ibu sering memperlihatkan kemesraan nya dengan ayah. Bahkan aku sampai memiliki seorang adik, namun saat ini memberitahu ku bahwa ia ingin bercerai dengan ayah. Aku di buat kaget oleh nya.


Rupanya sebelum kejadian Tante sonya ketauan selingkuh lagi. Ibu sempat menaruh hati pada ayah. Namun, semenjak itu prasaan ibu berubah menjadi benci terhadap ayah. Bahkan ibu memberitahu ku kalau ia sudah membeli rumah baru untuk kami tempati.


Ibu bilang kalau ia sudah berhasil membalaskan dendam nya dulu, apa mungkin yang ibu maksud itu perpisahan dan pertikaian antara ayah dan tante Sonya?


Ibu menyuruh kami untuk membereskan semua baju baju kami. Dan ibu pun membawa serta semua barang barang miliknya. Tepat saat ayah berangkat bekerja, selang satu jam datang satu buah truk pengangkut barang. Ternyata ibu tidak main main ibu sampai menyewa truk untuk membantu kami membawa semua barang.


Pukul sembilan pagi paman dan bibi datang ke rumah, aku sempat bingung mau kemana sebenarnya kami ini. Tapi aku tetap mengutamakan kesehatan ibu. Meskipun sejujurnya aku sangat menyangkan hal ini terjadi karena aku tak ingin adikku mengalami hal seperti ku yaitu kekurangan kasih sayang kedua orang tua.


Namun aku yakin apapun keputusan ibu itulah yang terbaik untuknya. Bibi mengutarakan semua kekesalan nya. Ia menyesal telah memberikan kesempatan untuk ayah dan ternyata ayah sudah melanggar janji antara bibi dan dirinya.


Sambil menunggu kepulangan ayah. Bibi dan paman membantu kami untuk mengemas apa yang belum di kemas kan dan mengangkut nya masuk ke dalam mobil milik paman karena sebagian tadi sudah di angkut oleh truk.


Kami sempat makan siang di rumah. Saat sedang makan ibu berkata pada bi edoh agar ia jangan bilang bilang ayah kalau kami akan pergi. Dan ia nanti akan bekerja di rumah baru kami karena di usianya yang sudah tak muda lagi ia akan sulit menemukan pekerjaan sedangkan ia tidak memiliki siapa siapa, suaminya sudah meninggal dunia sedangkan anak anaknya sudah pada menikah. Dan ia tak mau tinggal bersama mereka karena tak mau merepotkan.


Tepat pukul tiga sore akhirnya ayah pulang, ia kaget melihat bibi dan paman ada di rumah tanpa anaknya karena biasanya mereka akan datang dengan ponakan ku itu untuk bermain dengan adikku Al, namun tidak untuk saat ini.


Ayah berusaha menyembunyikan keterkejutan nya. Namun aku tetap bisa membacanya. Setelah ayah bergabung kembali dengan kami, bibi langsung berbicara pada ayah tentang semua kekesalan dan kekecewaan nya.


Bibi sangat kesal dan marah saat itu, kalau tidak ada paman mungkin bibi sudah kalap saat itu juga. namun beruntung paman bisa meredakan sedikit emosi bibi pada ayah.


Aku melihat gurat penyesalan di wajah ayah. Tapi aku tidak peduli, ayah meminta tolong padaku agar aku mau membujuk ibu supaya tidak pergi dari rumah. Namun aku tidak melakukan itu aku tak mau mengorbankan ibu demi lelaki ini.


Ia dulu yang membuat ibuku menderita dan sekarang ia harus merasakan nya. Aku telah berhasil membuat sonya pergi menjauh dari sini dan bahkan ayah menceraikannya tanpa harta Gono gini.


Kedua saudara tiriku. Mereka pergi masing masing. Damar ia pergi ke luar negeri bersama istrinya yang aku sendiri pun tak tau kapan ia menikah. Sedangkan Sinta. Ia pergi ke luar negeri bersama pacarnya.


Aku sedih karena akan berpisah dengan Sinta, kami sangat dekat karena sedari kecil sinta bersamaku. Namun, kami berjanji suatu saat nanti akan bertemu kembali di kemudian hari.


Ayah menangis, ia memohon ampun ia berjanji tidak akan mengulangi nya lagi namun ibu tidak berkata sedikit pun, ayah berjanji akan menjadi lebih baik lagi. Namun lagi lagi ibu tetap diam, kami tetap diam sampai akhirnya kami sudah berada di ambang pintu.


Bibi yang melihat adegan ini sangat geram, tanpa basa basi lagi bibi menampar ayah. Dan kejadian itu berhasil membuat semua mata tertuju pada sumber suara.


Plak


"Itu balasan untukmu karena telah berani mempermainkan kakakku." Ucap bibi lantang.


Paman yang melihatnya langsung buru-buru menarik tangan bibi agar menjauh dari ayah. Karena paman khawatir dengan bibi jika terus berada di dekat ayah. paman takut kalau nanti ayah hilang kendali dan menyerang balik bibi.


Di dalam perjalanan ku lirik ibu ternyata ia sedang menangis. Apa ia menangis kan perpisahan ini atau karena hal yang lain. Namun, setelah lima menit ibu menangis. Ibu kembali bersikap biasa saja bahkan kami bercanda bersama.


Sebelum kami ke rumah baru, kami mampir dulu ke rumah bibi untuk mengambil anak nya. Karena ia tak mungkin meninggalkan buah hati dengan orang lain berlama lama.


Setelah semua selsai kami pun melanjutkan lagi perjalanan kami. Sekitar tiga jam kami harus sampai rumah baru. Kenapa ibu membeli rumah yang sangat jauh sekali?


Ternyata di rumah ini sudah ada art, satpam bahkan supir. Ibu menyiapkan semuanya sedemikian rupa agar semua berjalan dengan sesuai rencana.


Aku tak tau apa yang terjadi sekarang pada wanita hamil itu, sebenarnya aku masih bingung ayah tau semua ini dari siapa? Karena aku belum sama sekali memberitahu ayah sama sekali. Bahkan rasanya aku malas sekali bilang pada ayah.


Tapi kali ini ayah mengetahui semuanya dan tidak segan mengusir bibi dari rumah ini dan menceraikan nya. Sonya menolak nya dan akan membalas semua perbuatan kami padanya.


Seharusnya ia sadar diri mungkin saja ini adalah karma untuknya karena menyakiti seseorang yang demi ambisinya sendiri.


Semenjak pengusiran itu, aku tak mendengar lagi berita tentang Bu Sonya ia bahkan di telan bumi, uan menghilang entah kemana.


Sesampainya nya di rumah aku langsung menuju kamar yang telah di sediakan oleh ibu dan langsung merebahkan badanku karena memang hari ini aku sangat amat melalui aku gak ada selera apapun untuk melakukan kegiatan apapun di rumah ini.


Mungkin besok aku kan mulai semuanya dan mulai beradaptasi. Mungkin juga nanti nanti saja aku tak tau itu kapan terjadi. Karena memang aku seperti kehilangan semangat untuk menjalani semua itu aku merasa badanku sangat remuk saat ini bahkan bukan hanya badanku saja yang remuk tapi hatiku juga.