
Aku terus mengikuti sinta masuk ke dalam hotel. Sampai akhirnya aku tau bahwa ia sedang melakukan cek in bersama seorang lelaki yang aku tidak tau siapa itu.
Aku sangat penasaran dengan siapa sinta di sini. Dan apa hubungan mereka, jadi aku trus mengikuti nya sampai aku tau mereka masuk di kamar nomor berapa. Setelah ku pastikan mereka masuk ke dalam selang beberpa menit aku gedor pintu nya guna untuk memanggil sinta keluar kamar.
Dor
Dor
Dor
Ting tong
"Sinta ..." Teriakku lantang, setelah beberpa saat kemudian.
Ceklek
"Sinta ... Sedang apa kau di sini ha? Dan siapa dia?"
"A-ayah. Untuk apa ayah di sini?"
"Katakan siapa pria itu nak?"
"Ini semua bukan urusan ayah. Bukan kah ayah senang melihat anak anak ayah seperti ini? Seperti yang ayah lakukan ...!"
"Sayang siapa yang datang?" Ucap lelaki itu di dalam sana.
"Siapa dia nak? Jujur dengan ayah."
"Ini semua bukan urusan ayah. Ayah jalani saja hidup ayah sendiri dan aku jalani hidupku sendiri ayah, untuk apa ayah peduli dengan ku? Bukan kah yang ayah pedulikan itu hanya mbak Amara dan bunda Lia saja?"
"Bukan seperti itu nak. Ayok kita pulang dan jangan lakukan ini lagi sayang, ayah mohon ayah sedih jika melihat anak anak ayah seperti ini."
"Jangan egois ayah, selama ini aku dan bang Damar selalu diam dan menuruti perkataan ayah, bahkan aku membentak ibuku sendiri karena aku menuruti kemauan ayah. Ayah lihat bang damar? Dia sampai pindah keluar negri karena apa? Itu semua karena ia tidak bisa menerima kenyataan nya bahwa wanita yang dia cintai ternyata saudaranya sendiri, apa ayah puas sekarang?"
"Jadi lebih baik ayah pulang saja. Aku tidak akan pernah kembali ke rumah sana, kalaupun aku dan bang damar kembali mungkin hanya untuk mendatangi kematian salah satu keluarga kita" sambungnya lagi.
"Jangan bicara seperti itu nak. Itu membuat ayah terluka."
"Cukup ayah. Sudah cukup ayah memikirkan ego ayah sendiri, apa ayah tau kalau ibu saat ini selalu keluar masuk c*u* malam bahkan berganti ganti pasangan dan itu semua karena ia melampiaskan rasa sakit hatinya padamu. Aku heran kenapa ibu mencintai lelaki berhati busuk sepertimu ayah. Bahkan benar kata mbak Amara bahwa kau tidak pantas di panggil ayah."
Plak
"Cukup Sinta ayok kita pulang." Rasanya geram sekali aku mendengar ucapan anakku ini, tapi tak ku pungkiri apa yang ia katakan semua memang mungkin aku lah penyebab nya tapi tak sepantas nya ia berucap seperti itu padaku.
"Cukup ayah. Yang seharusnya pulang itu ayah bukan aku, sudah ku katakan kalau aku tak akan pernah pulang kecuali ada yang mati di rumah itu. Ayah tak pernah tau kehidupan ku dan ibu, ayah tak pernah melihat tulus nya cinta ibu coba ayah bayangkan keadaan ibu saat ini, ia hamil besar dan masih berguna ganti pasangan hanya untuk melampiaskan kesedihan nya."
"Kau tak tau apa apa nak. Ibu mu memang j*l*n* sedari dulu, bahkan kau tak tau bagaimana aku bisa menikah dengannya, kau terhasut omongan ibumu dan lihat kau mengikuti jalannya sudah nak sudahi semua ini dan kembali lah kedalam pelukan ayah. Ayah berjanji ayah akan lebih memerhatikan anak anak ayah lagi."
"Tidak ayah. Aku tidak akan pergi tolong beri aku kebebasan ayah aku mohon."
"Baiklah nak. Ayah mengalah kali ini tapi suatu saat nanti ayah akan membawamu pulang dan kita akan bersama lagi."
"Pulang lah ayah. Pelanggan ku sudah lama menunggu dan jangan pernah ganggu kehidupan ku lagi." Jeder sinta menutup pintu kamar nya dan masuk kedalam kamar. Sungguh hatiku sangat hancur saat mengetahui bahwa anakku menjajakan diri nya pada lelaki lain.
Tuhan tolong maafkan lah aku dan jangan libatkan keluargaku untuk mendapatkan karma darimu. Cukup aku saja yang mendapatkannya tuhan.
Lagi lagi aku pulang dengan membawa luka. Aku mengetahui fakta baru yang berhasil membuat ku terluka teramat amat terluka, putri kedua ku kini hidup di dunia malam.
Aku kecewa pada diriku sendiri. Sebegitu egois kah aku selama ini? Sampai aku tidak tau kehidupan anak anakku selama ini, bahkan aku tidak mengetahui bahwa damar sudah pindah ke luar negeri.
Aku berharap ia di sana baik baik saja. Aku sadar jika aku tak bisa berbuat banyak untuk anak anakku saat ini, aku tak bisa bertindak jangankan bertindak mereka bertemu dengan ku saja sudah tak ingin.
Hancur rasanya prasaan ku saat penolakan demi penolakan yang ku dapatkan, tapi aku tak bisa memaksakan kehendak ku pada mereka. Mereka sudah cukup dewasa untuk memilih apa pilihan mereka. Namun, aku tak membernarkan apa yang di lakukan oleh sinta.
Sungguh kau cantik sekali sonya. ya tak ku pungkiri kalau Sonya tak kalah cantik dengan lia. Namun sayang aku tetap memilih Lia karena ia yang pertama ku mau bahkan k*p*r*w*n*n nya pun aku yang ambil.
Itulah sebabnya aku trus mengejar Lia. Meskipun ia sudah memiliki dua anak namun ia tetap saja e*a*.
"Mas Dani. Sedang apa kamu di sini?"
"Oh aku sedang ada urusan. Aku ingin bicara dengan mu."
"Bicara apa mas? Apa kau ingin kembali padaku? Jika ya, aku sangat bersedia mas dan aku akan meninggalkan semua dunia gelap ku."
"Sudah ayok ikut aku masuk ke dalam mobil. Kita bicara di tempat lain."
"Sebentar."
Terlihat ia berbincang dengan lelaki itu. Setelah ia selesai ia menghampiri ku yang sedang menunggunya, dan kami pun pergi menggunakan mobil ku. Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya aku memilih sebuah caffe yang nuansanya agak sedikit private Karena aku ingin membicarakan mengenai sinta anak kami.
Kami duduk di pojokan lantai dua caffe ini. "Pesan lah dulu. Aku yang traktir."
"Baiklah mas."
"Begini kita langsung saja ya. Aku mengajak mu bicara hanya ingin membicarakan tentang sinta anak kita."
"Sinta kenapa?"
"Aku rasa kau tau persis seperti apa sinta saat ini."
"Hmmm. Lalu?"
"Bujuk dia agar ia tak melakukan apa yang kau lakukan Sonya."
"Maksud mu apa mas?"
"Jangan bawa anak kita di dunia gelap mu itu, paham?"
"Tapi aku tidak pernah mengajak nya. bahkan aku sendiri pun tak tau ia seperti itu, jangan mentang mentang aku seperti ini lalu kau menuduhku ya mas."
"Sadar diri lah mas. Semenjak prempuan m*r*h*n dan anak h*r*m itu masuk ke dalam rumah kita, semuanya jadi berantakan bahkan kau tak pernah peduli dengan anak anakmu mas."
"Jangan sebut Amara dan Lia seperti itu. Jika lia prempuan m*r*h*n dan Amara anak h*r*m lalu apa bedanya dengan mu dan dengan anak yang ada di dalam kandungan mu itu? Sama bukan? Bahkan kau jauh lebih m*r*h*n."
"Cukup mas. Jika kau mengajak ku berbicara hanya untuk membandingkan aku dan anak anakku dengan mereka, lebih baik kita tak usah berbicara lagi. Kau sangat egois mas aku benci itu." Lalu ia bangkit dari duduk nya.
"Mau kemana kau? Kita belum selesai. Bahkan makanan nya belum di antar."
"Bukan urusanmu mas. Aku tidak lapar kau makan saja makanan itu, makan beserta piring nya sekalian."
Astaga dia masih saja seperti itu. Bahkan ia berani berbicara dengan lantang padaku di depan umum, maafkan aku Sonya aku selalu membuatmu terluka bahkan aku tak pernah menganggap perasaanmu untuk ku.
Setelah beberapa saat kemudian makanan yang tadi kami pesan pun datang. Namun, rasanya aku sudah tak selera untuk memakan nya, ahh seharusnya aku berbicara dengan Sonya setelah makan saja. Kasian ia bagaikan kalau ia kelaparan? Aku jadi semakin merasa bersalah pada mereka.
Apa benar aku ini egois? Tuhan maafkan keegoisan ku ini tapi mau bagaimana lagi aku tak mencintai nya sedikit pun.
Kau tak mau aku tetap menghabiskan makanan yang telah di pesan tadi, hari ini benar benar hari yang buruk. Putriku sinta terjun ke dunia gelap sama seperti Sonya.
Jauh di dalam lubuk hatiku. Aku menyayangi keempat anakku, meskipun damar bukan anak kandung ku sekalipun tapi ia tetap putra pertama ku.
Aku bangga padanya. meskipun aku bukan ayah nya tapi ia tetap patuh pada semua perkataan ku, termasuk larangan untuk menikahi amara saudaranya.
Ia rela menelan dalam dalam rasa cinta nya pada amara. Dan memilih wanita lain untuk mendampingi hidup nya.