
Aku benar benar bingung harus seperti apa lagi, mas Dani begitu marah padaku, sampai kami pindah pun mas Dani meminta pisah kamar.
Jelas aku menolaknya aku tak mau pisah dengannya dan aku berikan tawaran padanya, aku meminta pembantu di rumah untuk memberikan ku kasur yang berbeda dengan mas dani ya itu aku lakukan agar aku tak berada jauh darinya lagian kamar ini cukup besar jadi gak masalah kalau ada dua kasur di kamar.
Awalnya mas Dani menolak namun dengan upaya ku memelas dan memohon padanya akhirnya dia pun menyetujui, aku tau para pekerja di rumah ini pasti bingung kenapa aku meminta dua kasur di dalam satu kamar, sedangkan anakku berada di kamar lain bersama baby sitter nya.
Satu Minggu sudah kami pindah namun mas Dani masih saja bersikap seperti itu, atau aku p*l*t saja dia agar dia tunduk padaku, saat aku sedang melamun memikirkan itu semua sayup sayup aku mendengar suara art dan juru masak ku sedang mengobrol soal p*l*t yang hanya bertahan dua Minggu, jelas kesempatan ini tak akan ku sia siakan, aku melangkah menuju arah suara itu yang berada di belakang rumah, ya para pekerja ku sedang bersantai karena perkejaan rumah susah selesai.
Aku membebaskan mereka tapi masih ingat dengan kewenangan masing-masing, sesaat sudah sampai aku langsung duduk bergabung dengan mereka yang sontak langsung kaget melihat ku.
"Ibu ..."Ucap bi marni, bi marni dulu bekerja dengan ku sebelum dia di bawa ke rumah baru oleh Amara s*a*a* itu.
"Tenang bi, tadi aku mendengar kalau bibi sedang membicarakan soal p*l*t ya, emang nya dimana pelet itu bi? Kasi tau saya, saya ingin m*m*l*t orang" Ucapku.
"P*l*t bapak ya Bu? Eh astaghfirullah maaf Bu bukan maksud saya" ucap Ita.
"Gapapa ita, iya saya mau p*l*t mas dani, jadi dimana saya bisa mendapatkan nya? Gapapa bayar mahal asl mas Dani kembali padaku."
"Tapi hanya Tahan dua Minggu" Ucap ita.
"Gapapa, aku akan manfaat kan saat itu."
Lalu Ita menoleh ke arah bi marni, aku bisa melihat dari gurat wajahnya kalau dia mengkhawatirkan aku, aku tetap meyakinkan mereka sampai akhirnya mereka setuju untuk mengantarkan aku ke dukun itu.
Singkat cerita selama dua Minggu ini Dani memperlakukan aku sangat baik, dan dia memberikan nafkah batin padaku, dua Minggu berlalu aku hamil, awalnya dia gak yakin kalau anak yang ku kandung adalah anaknya, namun aku berani tes DNA kalau itu adalah anak dia.
Tak terasa kandunganku sekarang sudah berumur sembilan bulan, sebentar lagi aku akan melahirkan semoga setelah ini rumah tanggaku dengan dani baik baik saja.
Hari yang di tunggu tunggu pun tiba, aku melahirkan seorang putri yang cantik dan di beri nama sinta, Dani sangat menyayangi Sinta daripada damar anak pertama ku.
Imbasnya damar selalu mengadu dan merengek kenapa ayah pilih kasih, aku bingung harus bicara seperti apa padanya, Dani hanya menafkahi Sinta tidak dengan damar.
Enam tahun berlalu anakku Sinta sudah berusia enam tahun, juru masak di rumah ku terpaksa harus berhenti bekerja karena harus pulang kampung ibunya sakit parah.
Bukan hanya masakannya yang enak tapi juga parasnya yang cantik, aku berniat untuk melamar nya sebagai istri damar agar aku tak letih untuk bayar pembantu di rumah ini.
Namun sayang sebuah kenyataan lah yang menampar ku, rupanya dia adalah anak mas dani dari wanita lain yang dia p*r*o*a dulu, aku sama sekali tak menaruh curiga padanya dan mas Dani.
Karena mereka tidak menunjukkan tanda-tanda seorang ayah dan anak, mereka seperti majikan dan pembantunya.
Hingga dia tiba tiba berhenti bekerja, dan saat anakku Sinta berumur tujuh belas tahun, dia datang dan menceritakan semuanya bahwa dia adalah anak kandung mas dani, di tambah dia memberikan foto foto mas Dani sedang mengunjungi wanita itu di luar sana, bahkan dia juga memberikan hasil tes DNA aku tak bisa berdiam diri aku harus bertindak.
Mas Dani sudah mau menerima ku dan jangan sampai dia kembali membuang begitu saja. Tanpa pikir panjang aku menyuruh dia untuk menjauhi mas dani karena kalau dia masih berada di lingkungan ini aku takut mas Dani akan kembali pada wanita itu.
Aku memberikan sebuah cek senilai lima milyar untuk nya, dan dia berlalu pergi benar saja setelah kejadian itu dia tak pernah terdengar lagi soal kabarnya, aku bisa bernafas lega.
Namun sayang semua nya harus berakhir, anakku damar seperti orang setres, dan mas dani marah besar padaku karena aku sudah menyuruh anak nya pergi jauh bahkan dia mengancam akan menceraikan aku dan akan membawa mereka ke rumah ini.
Aku tak bisa biarkan, jelas aku akan melawan mas Dani namun sayang kedua anakku mendengar cekcok kami, sampai mas Dani bilang kalau damar itu bukan anaknya yang sontak membuat damar semakin murung saja.
Semenjak itu damar tak pernah keluar rumah, bahkan makan pun di antarkan oleh pembantu baru, karena dulu bi Marni di suruh mas Dani ikut dengannya tapi aku tak tau dia bawa kemana.
Padahal dulu aku sangat suka dengan cara kerja nya, dan aku dekat dengan dia tapi mas Dani membawa dia dariku.
Yang ku takutkan akhirnya tiba, Amara gadis s*a*a* itu muncul di rumah ku, bahkan kamarnya sangat bagus dan luas, Amara dan Sinta memang sudah akrab sedari dulu, mungkin karena ikatan batin mereka ya karena mereka adalah adik dan kaka kandung yang sedarah.
Namun dimana wanita itu? Apakah dia tidak ikut bersama mereka? Kalau begitu aku masih aman, tapi sayang dugaan ku ternyata salah rupanya dia datang juga bersama dua orang mungkin seumuran dengan wanita itu. Aku mendengar kalau nama wanita itu adalah lia.
Anakku Sinta di kenalkan nya pada sinta dan memanggilnya dengan sebutan bunda, aku tak bisa bertindak apapun karena kalau aku bertindak pasti aku akan di ceraikan,dan aku tidak mau itu terjadi.
Semakin hari semakin akrab saja Sinta dan lia, dia semakin jauh dariku ibu kandung nya wajah mas Dani terlihat berseri, bahkan damar pun berangsur membaik, mereka semakin akrab dengan lia, lalu aku? Ya aku mereka lupakan, kenapa aku mendapat kan seperti ini?
Beruntung saat ada kesempatan aku bisa berbicara dengan Lia dan meminta nya pergi dari rumah ini karena rumah ini adalah milikku dan dia tidak berhak untuk tinggal di sini.