
Kami sampai di rumah mbak amara pukul lima sore. Dan jelas tidak memungkinkan untuk kami berziarah sore itu juga. Saat kami sampai, ternyata mbak Amara dan yang lainnya juga baru sampai. Mereka sehabis berlibur dari bandung.
Tin ... Tin... Tin...
Mas aldi. Membunyikan klakson agar satpam di sana membukanya.
SeretttttttĀ (pagar di bukanya)
"Makasih pak." Ucapku pada satpam itu, seperti nya ia baru, karena aku baru saja melihat nya hari ini.
Terlihat mbak Amara dan yang lainnya menoleh ke arah kami. Kami pun turun dan menghampiri mereka.
"Assalamualaikum mbak."
"Waalaikumssalam, Intan. Tumben kalian kesini ada apa?"
"Kami berniat untuk liburan mbak. Tapi sebelumnya aku mengajak anak anak dan mas Aldi untuk berziarah terlebih dahulu ke makam mas Damar."
"Oh begitu. Ayok masuk ke dalam, kenapa masih berdiri di sini."
Kami semua pun masuk, dan kami di persilahkan duduk di ruang tengah.
"Jadi kalian akan berlibur kemana?"
"Aku belum tau mbak. Anak anak yang punya tujuan, kami mh ikut saja kemana mereka pergi."
"Oh. Kebetulan kami juga baru saja pulang liburan."
"Benar kah? Wah kami salah waktu dong kalau gitu, kasian mbak dan yang lain masih pada cape. Kalau begitu kami akan mencari hotel saja mbak."
"Tidak masalah. Jika kalian ingin beristirahat, istirahat lah kamar mu masih yang dulu Intan. Dan kamar anak anak masih di tempat yang sama. Sengaja aku tidak memindahkannya."
"Terimakasih mbak. Dinda."
"Ya Bu?"
"Bawa adikmu tidur nak. Kasian dia mungkin dia lelah. Tapi pamit dulu pada om dan tante."
"Ya bu. Ayok dek. Om tante, kami izin istirahat yah."
"Iya sayang. Tidur lah."
Mereka pun pergi, kini tinggal aku dan mbak Amara serta suami masing masing, kami pun memutuskan untuk sama sama beristirahat dan akan mengobrol kembali esok.
Singkat cerita lagi hari pukul delapan, kami bersiap untuk berangkat berlibur, ternyata anak anakku sudah berencana ingin pergi ke puncak.
Saat mereka menyebutkan ingin pergi ke puncak, seketika badanku melemas, menurut mbak Amara. Mas Damar dan Sinta meninggal akibat kecelakaan saat akan pergi ke puncak.
"Bu. Kami ingin berlibur ke puncak saja. Menurut temanku di sana sangat sejuk dan nyaman."
"Puncak?"
"Ya Bu."
Aku kaget dan diam. Mas Aldi yang peka dengan situasi ku saat itu pun memegang tanganku dengan erat. Ibarat kan memberikan kekuatan agar aku bisa lebih ihklas lagi.
Memang aku belum sepenuhnya ihklas, dan aku berkata jujur pada mas aldi. Dan Alhamdulillah nya ia mau mengerti, Kareena ia pernah berada di posisi ku saat ini.
"Iya Bu. Kami ingin pergi berlibur ke puncak."
"Ya sudah. Ayok bersiap dan izinlah pada tante dan om kalian ya."
"Baik pah."
Mereka pun pergi, setelah mereka pergi. Aku langsung menoleh ke arah mas Aldi, seolah bertanya kenapa ia mengijinkan mereka untuk pergi ke puncak? Padahal ia juga sangat tau. Kalau mas dima dan Sinta dulu meninggal saat akan ke puncak.
"Sayang. Aku tau kegelisahan mu itu. Tapi apa kamu mau membuat putra dan putri kita bersedih? Bukan kah ini semua kita lakukan demi membahagiakan mereka?"
"Tenang sayang. Aku akan membantumu untuk kuat dari rasa takut ini." Aku hanya mengangguk pasrah. Semoga saja tidak akan terjadi apapun nantinya. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu. Bahkan aku lebih takut jika aku kehilangan keluarga kecilku ini.
* * *
Prov Amara
Setelah sekian bulan ayah dirawat, akhirnya ayah menyerah dengan penyakit nya itu. Ia menghembuskan nafas terakhirnya satu bulan yang lalu.
Sungguh aku tidak menyangka jika ayah juga akan meninggalkan aku, kini aku sudah tidak memiliki siapapun.
Bahkan sekarang aku menjadi yatim piatu, jenazah ayah di antarkan ke rumah ku ini. Dan pemakaman ayah, di lakukan esok pagi. Dan di samping kuburan Dima dengan sinta. Agar kami mudah jika ingin berziarah.
Saat pihak rumah sakit memberitahu ku mengenai kepergian ayah. Saat itu aku sedang mengajak main anakku, namun tiba tiba saja aku mendapatkan telfon. Yang berhasil membuatku kena serangan jantung mendadak.
Suara hp ku berdering ...
"Ya. Hallo."
"Benar ini mbak amara? Anak dari bapak Dani?"
"Ya. Benar. Bapak siapa ya?"
"Saya dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa$ bapak dani sudah meninggal dunia."
"A-apa?" Aku terkejut tidak percaya.
"Silahkan bapak atau ibu datang ke rumah sakit untuk mengurus jenazah nya."
"Ayahhhhh........." Teriakku. Sampai membuat mas Andi terbangun dan heran kenapa aku berteriak.
"Kenapa sayang?"
"Ayah ... Ayah ... Ayah ..."
"Kenapa ayah?" Karena merasa tidak mendapatkan jawaban dariku, lalu mas andi mengambil hp ku. Dan sedetik kemudian ia pergi. Katanya mau mengurus keperluan ayah.
Aku ingin ikut tapi mas Andi lagi lagi tidak memperbolehkan aku, katanya biar dia saja sendiri. Aku menurut saja dan diam di rumah, menyiapkan semuanya.
Di depan rumah sudah terbentang bendera kuning, dan kursi kursi untuk warga sudah tersedia, sudah banyak warga yang berdatangan ke rumah ku untuk melayat.
Suara ambulan memasuki halaman rumah ku.
Lagi lagi suara itu yang membuat aku histeris, aku menjerit mendengar suara sirine. Sudah dua kali aku mendengarnya dan mengantarkan kesedihan bagiku.
"Tuhan. Maafkan kesalahan kesalahan ayah." Doaku dalam hati.
Peti jenazah sudah turun dari ambulan, aku menangis sejadi jadinya. Dan ternyata ayah bukan di sholat kan tapi di bawa ke tempat peristirahatan terakhir. Aku baru mengetahui nya, tapi menurut warga, karena ayah seorang mualaf jadi lebih baik sholat kan saja.
Ya ayah seorang mualaf, saat ia akan menikah dengan ibu, dan aku baru mengetahui nya. Aku tidak tau kapan ayah menjadi mualaf.
"Talia ... kenapa orang orang yang aku sayangi pada pergi Talia?" Ucapku pada Talia.
"Sabar, bu. Tuhan lebih menyayangi mereka, sekarang tuan besar sudah tidak merasakan sakit di dunia lagi."
"Tapi Talia. Ia masih akan merasakan sakitnya akhirat."
"Aku tidak tau bu. Itu urusan maha kuasa."
Aku menangis. Trus menerus. Pemakaman ayah di lakukan sore nanti. Karena ayah di antarkan agak siang.
Pemakaman pun di mulai. Kali ini aku ikut. Karena anakku sudah besar. Jadi mas andi memperbolehkan ku, dengan syarat tidak menangis lagi di kuburan. Karena menurutnya kasihan ayah jika sampai air mataku menetes ke tanah kuburan. Aku hanya mengangguk saja. Padahal aku tidak tau di sana akan menangis atau tidak.
Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, aku hanya melamun dan tak tau harus berkata apa lagi, rasanya dunia ku kini hancur. Orang orang yang ku sayangi pergi meninggalkan aku sendirian di dunia ini.