AMARA

AMARA
Bab 79 Mengelak



"mau di bawa kemana aku?" Tanyaku pada kedua lelaki yang menarik ku.


"Sudah ikut saja. Nanti nona juga akan tau."


"Aku tidak memiliki masalah apapun dengan siapapun itu, dan kamu Amar. Apa apaan ini? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?"


"Bisa diam tidak? Cepat seret dan bawa dia."


"Baik tuan."


Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Amar memperlakukan aku seperti ini? Apa ini semua karena Wulan? Apakah Amar sudah mencintai Wulan? Tapi bukan kah sejak awal ia sangat benci dengan Wulan?


Aku terus bertanya tanya kenapa dan ada apa? Aku sendiri bahkan tidak bisa meminta pertolongan pada siapapun, karena jika ibu dan papa tau mungkin mereka akan sangat kecewa padaku. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan rasa kecewa mereka alami, yang ada dalam pikiranku hanyalah Amar.


Ya Amar harus menjadi memilik ku seutuhnya, jika ia tidak bisa ku miliki maka Wulan pun tidak boleh memiliki lelaki yang aku suka ini.


Apa sih bagusnya Wulan? Udah cupu, pake kacamata, terus cuman kerja sebagai guru honorer yang gajinya kecil. Jelas jauh berbeda denganku yang bekerja sebagai model majalah terkenal.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam, percuma aku berontak pun pasti akan kalah tenaga dengan kedua lelaki ini, jelas saja tubuh mereka tinggi dan besar di bandingkan dengan tubuhku yang mungil ini.


Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya mobil ini mengarah ke rumah Wulan, mau apa mereka membawa ku kemar Apa mereka tidak ada pekerjaan lain? Bahkan aku bisa saja pergi ke rumah ini sendiri tanpa harus di barengi dengan mereka.


Aku di bawa turun dan masuk ke dalam rumah, namun sebelum itu mereka menunggu Amar terlebih dahulu. Loh ko bukannya tadi Luna di bawa sama temannya Amar untuk berbelanja? Kenapa sekarang ia ikut? Ahh jika semua ini terbongkar sekarang, dan Luna tahu. Bisa bisa gagal rencana ku untuk merebut Amar dan membuat Wulan sengsara.


"Assalamualaikum. Ibu." Ucap Luna.


"Waalaikumssalam sayang. Loh..."


"Mau apa lagi kalian ke rumah saya? Sudah saya bilang tadi bukan kalau kalian sudah mengantongi bukti yang kuat maka kalian di persilahkan kembali ke rumah ini." Sambung tante Amara.


"Saya akan jelaskan semuanya."


"Tapi kenapa membawa Dinda?"


"Karena ini semua ada sangkut pautnya dengan Dinda."


"Ibu, biarkan dulu mereka masuk dan jelaskan semuanya. Berdosa kita bu jika memisahkan anak kita dengan suaminya terlalu lama."


"Tapi ayah..."


"Ayok masuk nak. Wulan kemari sayang, ini ada suamimu datang."


Wulan pun datang lengkap dengan hijab nya yang lebar itu. Lalu ia menyalami Amar, huf dasar keluarga yang suka merebut kebahagiaan orang lain, ngga anak ngga ibu sama aja.


"Begini ayah, ibu. Saya bawa Dinda kemari ingin meluruskan kalau di antara kami tidak ada hubungan apapun."


"Bohong itu tante. Jelas jelas kami sudah melakukan hubungan bad*n saat itu, dan Wulan. Asalkan kamu tau ya, suami kamu itu sudah menanam benih di dalam rahim ku ini." Ucapku bangga. Padahal aku tau persis kalau aku dan Amar tidak pernah melakukan itu sama sekali.


"Jaga ucapanmu itu Dinda. Aku tidak pernah melakukan hal keji seperti itu, sayang tolong percaya padaku. Aku tidak mungkin melakukan hal keji seperti ini."


"Pendusta kamu Amar. Sudah jelas jelas kamu sangat menikmati nya, bukan kah kamu bilang bahwa aku ini lebih nikmat daripada Wulan."


Namun bukannya Wulan cemburu tetapi ia malah ketawa mendengar perkataan ku ini, kenapa ia tertawa seperti itu? Seperti mengejek saja.


"Kenapa kamu ketawa ha?" Tanya ku geram.


"Hmm."


"Jika sudah biar aku pertegas ya mbak. Mbak tadi bilang kalau mbak itu lebih enak daripada saya?"


"Ya."


"Ternyata suamiku berkata jujur, sekarang ibu percaya bukan? Kalau mas Amar itu tidak lah seburuk yang ibu pikir, kami saling cinta bu. Percaya lah aku sangat bahagia menjadi istri mas Amar."


Sungguh aku bingung dengan drama yang mereka peran kan ini, sebenarnya ada apa? Dan apa yang dikatakan bohong itu? Apa aku ada salah bicara sampai membuat mereka tertawa?


"Benar begitu Amar?" Tanya tante Amara.


"Benar bu."


Singkat cerita mereka berdua rujuk, bahkan aku harus menyaksikan kemesraan mereka yang membuat mataku sakit.


Rasanya prasaan ku hancur melihat ini semua. Remuk hatiku di buatkannya.


"Sekarang kamu bisa bersenang senang Wulan. Tapi tunggu saja nanti, kamu akan menangis bahkan akan mengemis padaku untuk tidak mengambil suamimu yang tampan ini." Ucapku dalam hati sambil tersenyum miring pada mereka.


"Kamu Dinda. Ada masalah apa sebenarnya dengan anak saya hah? Kenapa kamu berniat ingin menghancurkan keluarga anak saya?"


"Maksud tante apa ya? Tante jangan asal bicara."


"Apa kamu ingin mengikuti jejak ayah mu hah?"


"Jangan bawa bawa orang yang sudah mati tante, bukan kah ia seperti itu juga karena ulah tante? Dan kamu Wulan. Asal kamu tau ya ibumu ini adalah perusak kebahagiaan keluarga ayahku, dan kau tahu Wulan. Nene kandung mu itu hamil di luar nikah paham."


Plak


Tante Amara menampar ku dengan sangat kuat sungguh ini rasanya perih sekali. Seumur umur aku tidak pernah merasakan tamparan seperti ini dari siapapun. Dan baru kali ini ada yang berani menamparku dengan sangat kuat seperti ini.


"Sekarang juga kamu pergi dari rumah saya, dan jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapan saya atau keluarga saya."


"Tenang saja tante. Jangan marah marah nanti tante cepat tua, eh tapi emang udah tua ups... Lagian aku juga gerah berlama lama di sini, ini baru permulaan Wulan, silahkan tunggu kelanjutannya setelah ini dan nikmati saja hari harimu bersama suami mu ini."


"Bye Amar sayang sampai ketemu nanti." Ucapku sambil mengecup pipi Amar. Aku sengaja melakukan itu semua karena aku tidak rela jika Wulan menikmati nya terlalu lama, aku akan membuat perhitungan setelah ini.


Apapun caranya aku akan mengambil yang seharusnya menjadi milikku, tidak ada satu orang pun yang berhak mendapatkan amar ku sayang. Ia terlalu sempurna untuk di miliki Wulan yang cupu itu, bahkan gaya nya pun seperti sudah ibu ibu beranak banyak.


Aku keluar rumah tante Amara dengan perasaan kesal, terbesit dalam pikiran ku untuk menggunakan dukun agar bisa menggaet hati Amar sayangku itu.


"Ya. Aku akan mencari dukun tersakti untuk membuat amar berbalik mencintaiku sepenuh hati dan membuang wulan." Gunam ku pelan.


Aku mengambil hp ku dalam tas, dan menghubungi seseorang untuk menjemput ku, kebetulan sekali aku mendapatkan kan orderan di daerah dekat sini, jadi aku bisa sekalian saja nebeng dengannya untuk pulang.


Sebenarnya ibu sudah mengetahui pekerjaan ku ini, dan ibu sudah berulang kali menasehati ku tapi aku tidak pernah mendengarkan perkataan ibu itu. Bagiku itu hanyalah sebuah kicauan burung saja, yang berkicau tidak penting.


Kedua orang tuaku mampu membiayai kehidupan ku, tapi aku happy dengan semua ini. Keinginan l*bid* ku terpenuhi dengan cara seperti ini itulah sebabnya aku trus melakukan semuanya dengan senang hati dan tanpa paksaan.


Tak lama kemudian mobil jemputan pun tiba, seperti nya ia orang kaya terlihat jelas dari mobil yang di kendarai nya sangat bagus dan mewah. Semoga saja orang nya ganteng dan sesuai dengan yang di foto, jelas saja sebelum aku melakukan itu semua aku meminta dp. Aku bukan wanita bodoh yang mau melakukan itu semua dengan gratis, tentu saja harus ada timbal baliknya padaku, dan aku selalu meminta sejumlah uang atau barang barang mahal. Aku berencana akan menanyakan soal dukun pada nya, siapa tau ia juga mengetahui nya.