AMARA

AMARA
Perasaan Aneh



Amara terbangun, ia lalu mengucek kedua matanya. Amara pun bersiap-siap untuk pergi sekolah.


Setelah di sekolah, ia berjalan menuju kelasnya. Saat tiba di taman sekolah, ia melihat Reza yang sedang duduk di bangku taman dengan beberapa temannya. Salah satu dari temannya yang bernama Riski, memanggil Amara.


"OI RAA!! GUD MORNING!!" teriak Riski.


"Sakit kuping gue Ki" protes Ilham.


"Hahaha, makanya lo jauh-jauh dari gue" ucap Riski lagi.


"Siapa lo nyuruh-nyuruh?" kesal Ilham pada ucapan Riski.


"Anyway Ki, lo ngegebet Amara ya? Secara Amara itu cantik, pinter lagi. Idaman cowok cowok ga sih?" ujar Reza.


"Ngawur, itu lo kali. Lo juga bilang kalo dia cantik kan? Jangan-jangan lo yang suka sama Amara" protes Riski tak terima.


"Bener tuh, lo berduaan mulu sama Amara perasaan. Jangan-jangan lo yang suka deh Ja" timpal Ilham.


"Enggak ya, enak aja" jawab Ilham menolak tuduhan dari temannya yang tidak-tidak soal perasaannya pada Amara.


Di sisi lain, Amara kini tengah mengamati tingkah ketiga remaja cowok tersebut.


"Apa sih, gak jelas banget" ucap Amara lirih.


"APA WOI? NGAPAIN MANGGIL NAMA GUE? ADA PERLU?" teriak Amara pada ketiga remaja tersebut.


"GAK ADA KOK, LANJUTIN AJA JALANNYA" ujar Riski sambil berteriak agar suaranya dapat didengar oleh Amara.


Amara pun merasa kesal, ia lalu pergi berjalan menuju kelas. Di sana, terlihat Renata yang sedang membaca buku novel.


"Oi Ren, tumben lo baca buku? Lagi rajin nih?" ucap Amara sambil meletakkan tasnya.


Renata menoleh ke arah Amara.


"Nggak ya, gue ga pernah rajin. Gue baca ni buku cuma karena ceritanya seru" jawab Renata.


"Canda" jawab Amara singkat.


Amara bermain ponsel, sedangkan Renata asyik membaca buku. Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi.


Anak-anak kini bersiap untuk belajar. Mereka mengeluarkan alat tulis dan buku. Mereka sangat antusias mendengarkan penjelasan dari guru.


Setelah 2 jam lamanya mereka belajar, bel istirahat pun berbunyi.


Anak-anak kini merapikan meja mereka dan pergi ke kantin untuk mengganjal perut mereka yang lapar. Namun, beberapa ada yang masih di dalam kelas.


Reza mengajak Amara untuk pergi ke kantin.


"Gue ikut juga dong" ujar Renata.


"Boleh, ayok cepet" ajak Reza.


Amara langsung bangkit dan mereka bertiga kini pergi menuju kantin.


Mereka bertiga berjalan melewati koridor sekolah yang tak teramat panjang. Saat berjalan, entah mengapa, detak jantung Amara berdegup kencang. Ia merasa sangat tak nyaman. Amara keringat dingin. Ia sedari tadi hanya diam. Renata menyadari perubahan sikap Amara. Ia pun bertanya.


"Lo kenapa Ra? Kok jadi kalem? Kesurupan setan apa lo sampe bisa kaya gini".


"Apaansi, ngaco deh" jawab Amara sambil menoleh pada Renata.


Saat tiba di kantin, mereka mengantri untuk membeli snack dan gorengan.


"PERMISII, AKU DULU DONG BANG" teriak Renata yang sedang berjuang mendapatkan sebuah bakwan.


Amara dan Reza yang sedang duduk di bangku kantin kini tengah melihat kelakuan Renata. Mereka menggelengkan kepala.


"Temen lo Ra" ucap Reza sambil menggelengkan kepalanya karena malu pada kelakuan temannya itu.


"Temen lo juga" jawab Amara.


Tak lama kemudian, datanglah Renata dengan sekantong plastik berisi gorengan. Tak lupa, ia menenteng botol minumnya yang ia beli di kantin tadi.


"Hai guys, gue dapet nih" ucap Renata sambil mengangkat plastiknya yang berisi gorengan dengan bangga.


"Rela amat teriak-teriak kaya gitu, ga sakit tenggorokan lo?" ujar Amara.


"Hahaha lo teriak-teriak sampe suara lo kedengaran sampe sini Ren. Gila sih" Reza mengomentari kelakuan Renata tadi. Jujur saja, ia ingin tertawa karena kelakuan Renata yang lucu dan menghibur suasana hati Reza.


Amara dan Reza pun tertawa bersama.


Tanpa sengaja, Amara menatap wajah Reza ketika ia sedang tertawa. Amara pun menundukkan kepalanya karena malu. Entah kenapa, ia tersipu melihat wajah Reza.


Renata mengomel pada Amara dan Reza karena menertawainya.


"Canda Ren, segila-gila nya lo, lo tetep temen gue kok" ucap Amara dengan tersenyum lebar layaknya seorang bidadari.


"Jangan senyum, lo mirip sama Pennywise kalo senyum. Ngeri bener" ucap Renata membalas ucapan Amara.


"Lo juga mirip asal lo tau" ujar Amara sambil tertawa pelan.


Reza kini tertawa terbahak-bahak.


"Astaga, kram perut gue" ujar Reza di tengah-tengah ia sedang tertawa.


"Salah lo sendiri. Lo ketawa kayak orang gila. Gerak-gerak mulu, hampir aja muka gue kena tangan lo nih" ucap Amara sedikit kesal.


"Maaf deh, gue tadi ga kuat" balas Reza.


Saat bel masuk berbunyi, mereka bertiga lalu kembali ke kelas. Mereka pun mengikuti pelajaran hingga jam pelajaran mereka telah usai. Kini mereka pun dibubarkan.


Amara dan Reza berpisah di pintu gerbang karena mereka berbeda tujuan.


Kini, Amara tengah menunggu angkutan umum. Lalu ia melihat Reza berboncengan dengan seorang wanita yang sedang menaiki motor. Dada Amara mendadak menjadi sesak. Ada perasaan mengganjal yang mengganggu hatinya.


"Gue kenapa sih? Sesek banget dada gue, apa gue punya riwayat penyakit asma ya? Mama kok ga ngasih tau" tanya Amara pada dirinya sendiri.


Saat melihat mereka berboncengan, Amara sedikit tak suka.


Amara kini merenungkan perasaan yang ia alami.


'Apa gue suka sama Reza ya? Gue cemburu? Gue gapapa kan ini? Kalo bener gue punya penyakit asma kenapa mama ga ngasih tau? Apa sih? Sesek banget' batin Amara.


Tanpa sadar, sebuah angkutan umum lewat dan berhenti tepat di depan halte.


Amara kini pulang ke rumahnya.