AMARA

AMARA
Bab 47



Aku masih memikirkan, bagaimana caranya untuk memboyong kembali keluarga kecilku, sungguh aku tidak akan pernah ihklas, untuk melepaskan lia.


Meskipun aku harus mengenalnya dengan cara yang salah, tapi aku mencintainya, aku sangat mencintainya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Siapa yang datang? Apakah ia tidak memiliki jam? Sampai menganggu orang malam malam. Aku tak beranjak sedikit pun dari tempat dudukku, aku menyuruh bi Edoh yang membuka kan pintu. Karena aku merasa malas sekali, ntah kenapa akhir akhir ini, aku selalu merasa malas berlebihan, terlebih saat lia dan kedua anakku pergi meninggalkan aku seorang diri.


"Bi ..."


"Ya tuan.!"


"Tolong dong bukakan pintu, lihat siapa itu yang datang malam malam."


"Baik tuan."


Bi Edoh, berlalu pergi menuju arah pintu, aku mendengar banyak sekali orang di luar. Sebenarnya ada apa? Tak lama kemudian, bi Edoh muncul, tapi dari raut wajahnya sepertinya ia baru saja mendapat kabar buruk.


"Maaf tuan, di luar dari pihak kepolisian katanya ingin bertemu dengan tuan."


"Hah? Ada apa memang nya bi?"


"Maaf tuan. Saya juga kurang tau, saya permisi dulu tuan."


"Oh, oke. Terimakasih bi."


Ada apa polisi datang kemari? Apa salah satu keluarga atau anak anakku membuat masalah? Tuhan, cobaan apa lagi ini? Bahkan aku masih memikirkan bagaimana caranya, membawa lia, tapi engkau malah menambah cobaanku seperti ini.


"Dengan bapak Dani?"


"Ya. Saya sendiri, ada apa pak?"


"Benar bapak suami dari saudari Sonya?"


"Bukan, pak. Saya bukan suaminya lagi, saya sudah menceraikan nya. Tapi kenapa dengan dia?"


Ada masalah apa lagi dengan wanita itu? Kenapa ia tak henti hentinya membuat masalah?


"Jadi begini, pak. Saudari Sonya kami temukan sudah tidak bernyawa, didalam kamar sebuah c*u* ternama di kota ini. Dan kami menemuka foto beserta alamat rumah bapak."


"Apa? Sonya meninggal? Lalu dimana jasadnya pak.? Dan kalau boleh tau ia meninggal karena apa?"


"Jasadnya sedang di bawa menuju kemari pak, menurut pemeriksaan tim dokter kami, beliau meninggal akibat pendarahan hebat. Dan di ketahui bahwa beliau habis lahiran, lalu melayani seorang lelaki atau lebih tepat nya berhubungan."


"Baiklah, pak. Terimakasih informasinya. Silahkan bawa saja jasad nya kemari, dan saya mohon kebumikan saja di TPU dekat sini. Agar nanti anak anaknya kelak bisa melihat kuburan ibunya."


"Dan dimana bayinya?"


Aku mengangguk, ya tuhan. Berdosa Kah aku karena telah menceraikannya? Dalam keadaan hamil? Tapi itu bukan anakku. Bahkan aku saja tidak mengetahui siapa ayah dari anak itu.


Setelah beberapa saat menunggu, jasad Sonya dan anaknya pun datang, rumah ku saat ini ramai orang yang melayat. Dan akan di kebumikan esok hari, di bantu oleh tim kepolisian.


Banyak kasak kusuk tetangga, yang membicarakan Sonya, menurut mereka Sonya telah mendapatkan karmanya. Karena ia dulu selalu saja menyakiti orang lain, bahkan Sonya telah tega merebut kebahagiaan orang demi kepentingan nya.


Keesokan harinya ...


Aku, warga dan tim kepolisian. Menguburkan jenazah Sonya berserta anaknya, sungguh aku tidak menyangka Sonya akan bernasib seperti ini.


Setelah tiga hari kematiannya, aku mendapat kan kabar bahwa Sinta anakku. Ada di rumah Amara tapi ia dalam keadaan menangis, Amara menjelaskan, bahwa ia telah berhubungan dengan kaka tirinya. Sungguh cobaan apa lagi ini? Tidak kah cukup untuk saat ini? Aku ingin beristirahat sejenak.


Tidak menunggu lama, aku langsung bergegas menuju rumah Amara. Aku tak peduli orang orang di rumah ku, yang jelas aku sangat geram dengan perbuatannya.


Aku mengendarai mobil, dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai, rasanya amarahku sudah di ubun ubun. Setelah sampai di depan rumah nya, aku memarkirkan mobil di tepi jalan. Aku sengaja meletakkan nya di sana, agar aku mudah untuk keluar.


Saat ku masuk, di ruang tengah terlihat sangat ramai orang orang yang tak ku kenal, mungkin mereka teman teman Sinta. Aku belum mengucapkan apapun pada mereka, mereka sepertinya peka dengan tatapan ku, tanpa ku minta pun teman teman amara menjelaskan dengan sangat detail.


Seketika amarahku kembali memuncak, tanpa aba-aba, aku langsung menampar putriku itu. Sungguh sangat geram aku dengan tingkahnya.


Plak ...


"Ayah ... Kenapa ayah menamparku?"


"Kamu itu, sama seperti ibumu. Kenapa kamu melakukan ini semua pada ayah? Apa kata ayah kemarin, ikut pulang dengan ayah. Tapi apa? Kamu tetap bersikeras untuk tinggal sendiri, dan bahkan dengan bangganya kamu berucap, kamu akan pulang jika ada salah satu di rumah ayah ada yang meninggal. Dan kamu berhasil tiara, apa kamu tau? Ibumu meninggal tiga hari yang lalu."


"A-apa? Ini tidak mungkin ayah. Ibu masih hidup, ia tinggal di c*u* tempat nya bekerja."


"Kamu berhasil Sinta, ucapanmu telah terwujud, dan sekarang pulang ke rumah. Aku tidak akan melepaskan mu kembali, sudah cukup kalian membuatku malu. Apa kalian sadar hah jika kalian itu saudara, dan kamu dengan tidak malunya melakukan ini semua dengan saudaramu sendiri.? Apa kamu ingin seperti ibumu.? Yang meninggal karena pendarahan."


"Maaf kan aku ayah, aku benar benar minta maaf. Lalu bagaimana dengan bayi yang di kandung ibu.? Aku menyesal ayah sungguh."


"Bayinya meninggal. Cepat ikut dengan ku, kamu harus tetap tinggal di rumah itu, suka atau tidak. Dan aku akan menyuruh orang orang ku untuk mencari Damar. Kurang ajar sekali dia, beraninya dia melakukan ini pada adik nya."


"Amara. Maafkan adik tirimu ini, sungguh aku tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi." Amara hanya mengangguk saja tanpa menjawab perkataan ku.


Aku menyeret Sinta keluar rumah, rasanya aku sudah tidak bisa lagi menahan emosi. Sepanjang perjalanan, Sinta trus meminta maaf padaku. Namun, tidak satupun perkataannya yang aku jawab, aku akan meluapkan semuanya saat di rumah nanti. Sudah cukup mereka membuatku malu, kenapa ibu dan anak sama saja? Mereka mewarisi watak ibunya. Meskipun aku bej*d dan tidak adil, setidaknya aku tidak berganti ganti pasangan seperti mereka.


Sebenarnya aku sudah mengetahui pekerjaan Sonya, sejak awal menikah, karena ia hamil dari hasil hubungan gelapnya. Dengan suami orang, dan akulah yang menajdi sasaran nya. Sungguh aku sangat dendam dengannya, bahkan karena dia, aku sampai membuat masa depan orang lain hancur di tanganku.


Setelah sampai di rumah, aku menyeretnya masuk ke dalam kamar, aku mengunci nya dari dalam. Ku buka ikat pinggang ku, dan aku cambuk c*m*u* badannya, ia merintih kesakitan karena perlakuan ku ini.


Tapi aku tak peduli sedikit pun. Ini tidak seberapa dengan rasa maluku, yang di buat oleh mereka. Aku trus mencambuk cambuk badannya, sampai ia terkulai lemas. Dan aku menyuruh bi Edoh untuk membantu nya, bangun serta membersihkan diri, rasanya duniaku semakin hancur masalah demi masalah datang silih berganti.