
Amara membuka matanya perlahan. Ia memperjelas pandangannya yang masih kabur. Lalu bangkit untuk duduk. Ia melihat ke arah jam yang terpasang pada dinding kamar Amara. Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 4 pagi. Amara lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar. Membukanya lalu pergi ke dapur. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah telur ayam. Amara mengambil teflon miliknya dan meletakkannya di atas kompor. Lalu Amara menyalakan kompor itu dan memberinya mentega. Amara menunggu mentega itu sampai meleleh lalu memecah telur. Ia mengambil sedikit garam dan menaburkannya di atas telur itu. Setelah dirasa telur itu matang, Amara mengangkat teflon itu lalu meletakkan telur tersebut ke piring. Ia lalu mengambil nasi dan sendok, pergi menuju meja makan lalu duduk dan sarapan.
Amara sarapan sekitar 10 menit dan langsung mandi. Selesai mandi, Amara memakai seragamnya dan mempersiapkan barang-barangnya untuk dibawa ke sekolah. Nara meletakkan itu semua ke dalam tas. Tak lupa, ia memakai parfum kesukaannya dan mengambil ponsel. Ia duduk di kursi taman yang disediakan oleh orang tuanya di halaman depan rumah.
Amara menelepon Reza, tak lama kemudian Reza pun membalas telepon Amara. Amara berkata, "Halo Za, lo jadi gak buat jemput gue?".
"Jadi kok Ra, tunggu bentar, gue mau jalan".
Reza menutup ponselnya, Amara pun bersantai sedikit sambil memainkan ponselnya dan membalas pesan dari teman sebangkunya, Renata.
'Ada pr ga sih Ra?'
Begitulah kira-kira isi pesan yang dikirimkan oleh Renata. Amara pun membalas pesannya dengan jawaban 'iya ada, IPS halaman 82'.
Amara melihat bahwa Renata tak membalas maupun membaca pesannya, entah karena ia sedang sibuk siap-siap untuk berangkat sekolah atau memang ia sudah berada di sekolah.
Setelah sekian lama menunggu, Amara mendengar suara motor Reza. Ia pun memasukkan ponselnya itu ke dalam tas. Ia lalu masuk ke dalam rumah sebentar guna meminta izin pada ibunya. Ia lalu menemui Reza dan mengambil helm yang diberikan oleh Reza. Lalu mereka pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan motor.
Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di sekolah, Reza memarkirkan motornya di parkiran. Ia lalu bersamaan dengan Amara pergi menuju ke kelas mereka. Banyak siswa yang berlalu lalang di sepanjang koridor sekolah.
Sesampainya di kelas, Amara meletakkan tasnya di bangku miliknya. Begitupun dengan Reza. Setelah meletakkan tasnya, Reza segera keluar dari kelas. Namun Amara memilih untuk duduk dan tinggal di kelas sembari menunggu Renata datang. Ternyata, Renata belum sampai di sekolah. Lalu Amara segera mengecek tugasnya dan memainkan ponsel. Ia sempat berfoto bersama teman-temannya.
Tak butuh waktu lama, Renata pun datang. Amara mengalihkan pandangannya ke arah Renata dan melihat sekilas, lalu kembali fokus pada ponsel miliknya.
"Hai Ra, ga ada pr kan?" ucap Amara sambil memeluk tangan Amara dengan manja. Kejadian ini sudah biasa bagi Amara, karena Renata sering melakukan itu padanya setiap hari. Bahkan, Amara sempat tertekan dengan tingkah Renata yang menurutnya terlalu aktif.
"Ada, IPS halaman 82. Lo ga nyatet apa gimana sih?" ucap Amara tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar ponselnya.
"Lo kok ga bilang sih? Gue belum ngerjain" Renata bertingkah heboh, ia lalu buru-buru meletakkan tasnya dan mengeluarkan buku serta alat tulis lalu mengerjakan tugasnya.
"Gue udah bilang, lo aja yang belum ngebuka pesan gue" Amara sedikit kesal karena Renata sering mengabaikan pesannya dan kerap mengeluh pada Amara, ia juga sering menyalahkan Amara atas kejadian yang ia lakukan sendiri.
Amara pun bersikap seolah-olah siap untuk memukul Renata dengan menggunakan penggaris. Renata tak mempedulikannya, ia masih lanjut menyelesaikan tugasnya.
'KRIIINGG'
Bel sekolah berbunyi. Anak-anak langsung menuju ke kelas mereka masing-masing dan duduk di tempat duduk mereka.
Renata meregangkan otot tangannya yang terasa pegal karena menulis sedari tadi. Ia pun mengembalikan buku tulis Amara dan mengucapkan terima kasih karena telah meminjamkan buku miliknya.
"Thanks bestie, love you, muah" Renata berkata sambil memonyongkan bibirnya dan berlagak seolah-olah akan mencium Amara. Amara yang merasa jijik pada tingkah Renata pun hanya berdehem pelan. Sementara itu Renata cengengesan sendiri ketika melihat ke arah Haikal. Haikal adalah orang yag disukai Renata. Entah kenapa, ia tak berani menyatakan perasaannya pada Haikal. Ia takut jika itu akan membuat Haikal risih dan menjauh pergi darinya. Lebih baik tak memiliki daripada kehilangan, apalagi jika orang itu belum menjadi milik kita. Mungkin itu pola pikir Renata.
"Eh Ra, pak botak dateng tuh" ucap Renata sambil menepuk pundak Amara pelan.
Amara menoleh dan menatap Renata dengan wajah yang menahan diri untuk tertawa.
"Eh mulut lo, awas nanti ke hukuman sama dia hahaha" ucap Amara tertawa perlahan.
Pak Damar namanya, ia memang dikenal galak oleh seluruh siswa. Terkadang, ia tak ragu-ragu untuk menghukum siapapun yang berbuat kesalahan di kelas dengan membersihkan lapangan sekolah mereka. Pak Damar juga kerap menyuruh siswa yang terlambat datang untuk berlari mengitari lapangan sekolah yang sangat luas selama 3 kali. Pak Damar kerap dipanggil dengan sebutan pak botak oleh murid-muridnya. Pak Damar mengetahui soal itu, namun ia memilih untuk diam.
Amara mengikuti jam pelajaran dengan serius, sesekali ia juga bercanda dengan Renata. Renata kerap menjahili Amara sewaktu jam pelajaran sedang berlangsung. Amara sudah terbiasa jadi ia tidak terganggu. Ia sengaja mengacuhkan Renata jika ia menjahili dirinya.
'KRIIINGG'
Terdengar suara bel berbunyi. Tanda bahwa jam pelajaran pertama telah usai. Kini, mereka memberi salam pada guru dan dilanjutkan dengan mempersiapkan diri untuk pelajaran berikutnya.
Mereka duduk di bangku masing-masing. Amara memainkan ponselnya, sedangkan Renata sibuk bergosip dengan temannya yang tempat duduknya berada di belakang tempat duduk mereka. Saat Amara sibuk memainkan ponselnya, Reza datang. Ia menyapa Amara dan menanyakan hal-hal lain yang biasa ia lakukan bersama Amara.
"Ra, lo kok ga ngebales pesan gue tadi malem sih?" ucap Reza sambil menyenderkan tubuhnya pada kaki meja. Posisi Reza saat ini adalah duduk di lantai. Sedangkan Amara duduk di kursinya.
"Yang mana sih? Perasaan lo ga nge-chat gue deh" Amara merasa bingung. Ia tidak tahu jika Reza mengiriminya pesan semalam.
"Yang itu loh, gue ngajak lo buat ke suatu tempat. Lo kayaknya udah baca deh" ucap Reza kembali meyakinkan Amara.
"Hah? Yang mana, gue ga ngerti Za". Amara berusaha mengingat, ia pun mengecek nomor Reza dan membuka isi pesannya dengan Reza. Ia menemukan pesan yang dikatakan Reza barusan. Ia pun menunjukkan ponselnya pada Reza.
"Yang ini?" ucap Amara sambil menunjukkan ponselnya pada muka Reza.
Reza mengangguk. Amara pun teringat akan kejadian tadi malam. Amara menjelaskan pada Reza jika ia sengaja mengabaikan pesan Reza karena merasa mengantuk. Reza pun geleng-geleng kepala melihat kelakuan Amara. Amara pun meminta maaf pada Reza karena telah mengabaikan pesannya.
"Maafin gue Za, gue ga bermaksud sumpah" ucap Amara menatap mata Reza.
Reza mengangguk kemudian kembali menanyai Amara.
"Gimana Ra? Lo mau ga?".
"Emangnya kemana Za? Lo ga bawa gue ke tempat yang aneh-aneh kan?" ucap Amara menginterogasi Reza.
"Engga kok, tenang aja. Lo berpikiran negatif mulu ke gue, jahat" ucap Reza berlagak sok cuek pada Amara.
"Engga lah, gue baik spek bidadari gini lo bilang jahat. Entah apa yang merasukimu Za".
"Terserah".
Reza memalingkan wajahnya dan mengambil ponsel dari dalam sakunya, lalu bermain ponsel itu.
Tak lama kemudian, Amara bertanya pada Reza.
"Za, lo beneran mau bawa gue pergi?".
Reza menjawab, "Beneran Ra, kapan gue bohong?" Reza menatap mata Amara. Amara terlihat sedang berpikir. Lalu keluarlah pertanyaan demi pertanyaan yang Amara ajukan.
"Pergi kemana emang?" Amara mulai mempertanyakan hal itu.
Reza pun menjawab dengan santai, "Kita bakal ke pantai".
"Siapa aja yang ikut?. Terus mau di pantai mana?" Amara mengajukan pertanyaan yang sudah ia persiapkan.
Reza menjawab pertanyaan Amara dengan sabar.
"Kita mau ke pantai dekat kota disini, cuma gue sama lo doang yang ikut".
"Oh, yaudah gue setuju. Mau berangkat kapan?" Amara bertanya kepada Reza.
"Besok Minggu, mau kan?"
"Mau dong, hahaha" Amara tertawa di akhir obrolan mereka. Karena guru sudah datang, juga jam istirahat yang telah usai. Kini mereka duduk di bangku masing-masing.