AMARA

AMARA
Bab 68 Amar Sakit



Saat aku sedang asyik mengobrol dengan ibu mertuaku, tiba tiba saja mas amar pulang. Entah apa yang membuatnya pulang secepat ini, karena baru saja beberapa jam pergi, tapi sudah pulang kembali.


Tapi kenapa wajah nya sangat pucat? Bahkan ia terlihat lesu dan banyak keringat bercucuran di dahi nya.


"Mas. Kenapa ko pulang lagi? Apa kamu sakit?" Ucapku khawatir padanya.


"Tidak. Aku hanya ingin beristirahat saja." Jawab nya lemah.


Aku tidak percaya padanya, aku melangkah menghampiri nya dan meraba kening mas Amar. Astaga badannya sangat panas sekali, sejak kapan ia demam seperti ini?


"Ayok mas kita masuk kamar. Kamu istirahat saja di kamar." Ucapku mengajaknya masuk, tapi ia menolak menurut nya ia bisa pergi sendiri.


"Tidak usah sok perhatian. Aku bisa pergi sendiri." Tapi baru saja satu langkah, ia sudah oleng.


"Tuh kan mas. Udah deh jangan sok kamu itu, ayok aku bantu." Yang akhirnya ia menurut dan mau aku ajak masuk ke dalam kamar. Gini aja susah, dasar bayi besar tapi gengsi.


Sesampainya di kamar aku langsung membaringkannya. Aku mulai membuka sepatu dan yang lainnya, mas Amar kalau diem keliatan ganteng juga. Tapi kenapa kami harus menikah dengan cara seperti ini mas? Tapi meskipun begitu, aku akan mencoba untuk menerima mu sepenuh hati. Aku ingat pesan ayahku.


"Mau bagaimana pun kondisi suami/istri. Ia tetap pasangan hidup kita, yang akan terus berada di samping kita, yang akan merawat kita saat sakit. Yang akan menemani kita sampai ajal menjemput." Begitu lah kata ayah.


Jadi aku berusaha untuk trus mencoba menerima mas Amar dengan sepenuh hati. Biarpun dia seperti kulkas dua belas pintu sekalipun.


Aku mulai mengompres nya, dan memberikannya obat parasetamol agar panas nya menurun. Saat aku sedang mengompres aku kaget melihat papa dan mamy mertua rupanya mereka sudah berada di ambang pintu, menyaksikan aktivitas ku saat itu.


"Astaga. Papa, mamy. Sejak kapan kalian berada di sana? Kenapa tidak masuk saja?" Namun, bukannya menjawab mamy malah bicara dengan papa.


"Lihat lah pah. Rupanya pilihan mu untuk menikahi nya dengan anak mas andi tidak salah. Ia begitu telaten mengurus anak kita."


"Kamu benar my. Apa kataku bilang, aku tidak akan salah pilih. Kamu sih."


"Ya ya ya, baiklah aku salah."


Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas mereka pasti sedang bicara tentang rumah tanggaku. Memang sejak awal mas amar tidak membolehkan siapapun imut campur dengan kehidupan kami. Bahkan kedua orang tua ku pun di larang trus menerus mengunjungi ku, semenjak aku menikah dengannya aku jadi berhenti untuk mengajar. Mas Amar bilang, uang gajiku satu bulan bisa ia bayar asal aku diam di rumah.


Sebenarnya bukan permasalahan uang, hanya saja aku merasa bosan jika tidak melakukan aktivitas apapun, di rumah sudah ada banyak pembantu. Bahkan menyiapkan sarapan pun aku di larang.


"Nak. Sejak kapan kamu demam seperti ini? Mamy panggilkan dokter ya nak."


"Ti-tidak usah my, aku baik baik saja."


"Sayang apakah kamu lupa."


"Lupa apa mas?"


"Dokter anak kita sekarang sudah ada di depan mata." Reflek aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang di bicarakan papa. Namun, sayang aku tak menemukan siapapun.


"Ahhh. Iya sayang aku lupa, kalau begitu ayok kita keluar dan biarkan menantu kita ini mengurus anak lelaki mu yang keras kepala itu."


"Ia juga anak mu mas. Dan keras kepala nya itu ikut dengan mu."


"Mamy, papa. Sebaiknya kalian keluar saja, perdebatan kalian hanya menambah sakit kepala ku."


Sontak kami semua menoleh ke arah mas Amar, lagi sakit pun masih aja galak. Tapi mereka hanya tertawa dan berlalu keluar. Kini hanya ada aku dan mas Amar.


Aku kembali mengurusnya, sore hari tiba aku kembali mengganti pakaian mas amar dan memberikannya makan, lalu meminum obat. Semoga saja dia cepat sembuh.


Keesokan harinya...


Saat subuh tiba, aku mengecek keadaan mas Amar. Ternyata ia sudah tidak panas lagi, dan bahkan muka nya sudah tidak terlalu pucat seperti sebelumnya.


Saat aku masuk kedalam kamar, ternyata mas Amar sedang duduk bersandar di ranjang. Syukur lah ia sudah bisa bangun, dan lebih terlihat bugar.


"Mas. Sarapan dulu." Ucap ku sambil meletakan bubur di atas meja.


"Siapa yang suruh kamu bikin sarapan? Aku tidak ada menyuruh." Ucap nya galak.


"Tidak ada yang nyuruh, cuman aku kasian aja liat kamu lemes belum makan, ayok dimakan setelah itu minum obat."


Ia diam tanpa berkata kata lagi, aku putuskan untuk masuk kedalam ruangan ku. Dan berbaring di sana, karena semalaman aku menjaga bayi besar itu yang selalu saja mengigau dan membuat tidur ku terganggu.


Saat sudah sampai ruanganku, aku tidak langsung masuk. Namun, aku menoleh ke arah mas Amar, rupanya melahap habis bubur itu tanpa tersisa. Syukur Alhamdulillah ia suka bubur buatan ku.


Tak terasa lima belas menit aku berbaring di ruangan ini, tiba tiba mamy mengetuk pintu kamar. Dengan cepat aku langsung keluar dan membuka pintu.


"Sayang. Itu di depan ada saudara kamu."


"Siapa my?" Tanya ku penasaran.


"Katanya sih nama dia Dinda, coba deh kamu lihat." Lalu ia menoleh ke arah mas Amar.


"Bubur nya enak ya sayang? Pasti enak lah kan di buatin sama istri tercinta." Ucapnya terkekeh.


Aku pun ikut tertawa kecil mendengar kan ocehan mamy. Tapi ada apa mbak Dinda datang kemari? Apa ia masih ingin mencoba menganggu rumah tanggaku? Aku pun turun ke bawah untuk menemui nya. Namun, sebelum itu aku berpamitan dulu dengan mas Amar.


"Mas. Aku ke bawah dulu ya, kalau ada apa apa panggil aja."


"Hmm." Jawab nya cuek.


Huf dasar kulkas, aku ngomong panjang kali lebar dia cuman jawab hmm aja. Sekarang aja benci, awas nanti kamu jadi cinta dengan aku mas.


Saat masih berada di tangga, aku melihat mbak dinda sedang duduk di kursi bersama kedua mertua ku. Namun, ada yang lain dari tatapan wajah mereka, mereka berdua seperti tidak menyukai mbak Dinda. Tapi kenapa?


"Assalamualaikum, mbak." Sapa ku padanya.


"Waalaikumssalam. Hai Wulan, gimana kabar mu?" Jawab nya.


"Aku baik, ada apa mbak? Tumben kemari?"


"Ah tidak. Aku hanya rindu dengan mu saja. Ngomong-ngomong dimana suamimu? Apa ia bekerja? Tapi tadi aku ke kantornya ia tidak ada di sana." Jelas nya.


"Apa? Mbak ke kantor suamiku? Kenapa?" Rasanya tidak percaya mbak Dinda melakukan itu, ia masih saja nekad mendekati suamiku. Padahal sudah jelas jelas mas amar itu sudah memilik istri.


"Kamu ngapain ke kantor anak saya? Apa ada pekerjaan bersama?" Tanya mamy.


"Tidak tante. Aku hanya ingin bertemu saja dengan ipar ku itu."


"Lebih baik kamu jangan ganggu rumah tangga anakku." Ucap papa.


"Apa sih? Oh ya, Wulan. Kalau begitu aku pamit pulang saja ya, seperti nya di rumah ini tidak seseram yang ku kira."


"Iyah mbak. Makasih ya udah mampir." Ia mengangguk, sebelum ia pergi. Mbak Dinda berbisik padaku.


"Tunggu tiba waktunya Wulan, dan aku akan mengganti kamu menjadi nyonya di rumah ini." Ucap mbak Dinda.


Astaga. Mbak Dinda, apa sih yang ada di pikirannya itu? Kenapa ia masih saja ngotot ingin merebut mas Amar selesai? Padahal bisa saja ia mendapat kan yang jauh lebih baik dari suamiku ini.