AMARA

AMARA
Renggang



Hari berganti hari, waktu pun kini berganti. Sudah 3 hari sejak pengakuan Reza kala itu. Amara kini tengah merenung di dalam kamarnya. Memegang selimutnya dan menatap jendela yang penuh dengan air hujan dengan tatapan kosong.


Pikirannya kacau. Ia teringat, ketika Reza mengakui perasaannya pada Amara. Amara menolak ia mentah-mentah.


"Gue suka lo"


Itulah kalimat yang kini terngiang-ngiang di kepala Amara. Amara yang waktu itu bingung pun lantas mengucapkan kata yang membuat Reza sedih.


"Kita temen Za... Kita ga bisa punya hubungan lebih"


Amara sangat membenci perasaan ini. Perasaan sedih, kecewa, dan bingung muncul secara bersamaan pada dirinya.


Ia telah lama menatap langit-langit yang diselimuti oleh awan hitam. Beberapa petir tampak terdengar dari kejauhan.


Amara pun tersadar dan memilih untuk tidur.


Keesokan harinya, Amara berangkat ke sekolah.


Saat di depan gerbang, Amara sekilas melihat Reza yang sedang bersama dengan teman-temannya. Ia pun menghampiri Reza yang sedang bersama dengan Riski dan Ilham.


"Good morning y'all" sapa Amara begitu sampai di depan mereka bertiga.


"Morning too Ra" sahut Ilham.


"Gabisa bahasa Inggris gue Ra" ucap Riski asal.


"Makanya belajar bodoh" ucap Ilham pada Riski.


"Hahaha, lo ga bales gue gitu Za? Jahat banget deh lo" ujar Amara cemberut.


"Ya terserah gue dong" jawab Reza.


"Bodo amat lah, yaudah gue mau ke kelas dulu. Bye...." ucap Amara sebelum meninggalkan mereka bertiga.


Amara berjalan menuju ke kelas dengan melewati koridor sekolah.


Setelah tiba di kelas, Amara pun meletakkan tasnya di atas bangkunya. Lalu ia duduk sembari berbincang-bincang dengan temannya menunggu bel masuk berbunyi.


Setelah jam pelajaran usai, kini pun berganti dengan jam istirahat. Banyak anak-anak yang berlalu lalang di depan kelas Amara.


"Ra, sini deh. Ada orang pacaran tuh" ucap Renata tiba-tiba sembari menunjuk ke luar kelas. Amara yang penasaran pun langsung menoleh ke arah yang dimaksud Renata.


"Mana mana?" ucap Amara celingukan karena ia tak menemukan orang yang dimaksud Renata.


"Rabun kali ya lo, itu di depan, lagi duduk di dekat pohon beringin loh" ucap Renata sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Eh.....? Oh itu!!" Amara kini pun senang setelah menemukan orang yang sedang berduaan tadi yang dimaksud oleh Renata.


"Ya terus gue harus ngapain dong? Hak mereka buat pacaran lah..." ucap Amara lagi seakan dirinya tak peduli.


"Bukan itu maksud gue mbak. Lo gak liat? Itu kayak Reza woi. Gila sih" Renata mulai heboh.


Amara kini terkejut lalu mulai memperhatikan seorang laki-laki yang sedang duduk tadi bersama dengan kekasihnya di bawah pohon beringin.


Setelah cukup lama memperhatikan, Amara pun langsung membelalakkan kedua matanya. Ia merasa kaget dan tak menyangka jika apa yang dikatakan Renata benar. Ia memperhatikan dari potongan rambut yang mirip sekali dengan Reza. Begitu pula ukuran badannya. Meskipun ukuran badan Reza seperti kebanyakan remaja seusianya, namun ia masih memiliki ciri khas, yaitu bahu yang lebar.


Dada Amara kini berdegup kencang. Segala pikiran negatif muncul di pikirannya. Matanya seperti penuh dengan air mata. Ia seperti ingin menangis. Terasa seluruh badannya terasa panas.


Amara pun berkata dalam batinnya.


'Gila'


'Dada gue kok sesek gini?'


Saat Amara merasakan hal yang tidak biasa pada dirinya itu, bel sekolah pun berbunyi.


Amara pun menghapus semua pikiran negatifnya dan segera mempersiapkan buku dan alat tulisnya untuk pelajaran yang selanjutnya.


Sudah dua hari berlalu setelah kejadian Amara yang menyaksikan Reza sedang berkencan dengan seorang wanita, Amara pun kini jarang berkomunikasi dengan Reza. Begitupun sebaliknya, Reza juga kini jarang mengajak Amara berjalan-jalan seperti biasanya, bahkan tidka mengajaknya mengobrol jika bukan Amara yang memulainya.


Kini Amara sedang berbaring santai di kamarnya sembari mendengarkan musik di malam hari yang tenang. Ia mendengarkan musik favoritnya.


Amara melamun. Memperhatikan langit-langit kamar dengan kedua matanya. Kedua telinga Amara tertutup oleh headset bluetooth yang ia pasang agar ia bisa leluasa mendengarkan musik favoritnya dengan volume yang cukup tinggi.


Amara terkejut ketika melihat Reza muncul begitu saja dari sudut kamarnya dengan mengenakan seragam sekolah dan memanggil namanya. Ia pun sontak kaget dan langsung berdiri. Ia berbicara kepada Reza.


"Za? Lo ngapain disitu?".


"....." Reza tak menjawab. Namun ia hanya mengulurkan tangannya bak seorang pangeran yang mengajak seorang putri kerajaan untuk berdansa dengannya.


Amara menerima uluran tangan itu dan mulai menari. Amara sangat kaget ketika tubuhnya bereaksi demikian. Ia merasa bahwa tubuhnya seperti dikendalikan oleh sesuatu. Ia pun berusaha memberhentikan tubuhnya itu. Namun, sekuat apapun usaha Amara mencoba, pasti tidak akan bisa. Ia pun hanya bisa pasrah dan menikmati tarian yang dimainkan olehnya dan Reza.


Semakin lama Amara mendalami, semakin berbeda pula suasana yang ia rasakan. Amara melihat dengan kedua matanya jika ia dan Reza kini berada di tepi tebing yang curam dengan ombak yang sangat ganas di bawah mereka. Ombak itu terlihat lapar dan ingin menyantap mereka berdua. Amara dan Reza kini tengah menari di bawah sinar bulan yang menyinari pucuk kepala mereka dan mengakibatkan efek kilau dari pucuk kepala mereka.


Pakaian Reza yang semulanya adalah seragam sekolah, kini berganti dengan pakaian indah serba putih dengan aksesoris yang berwarna merah dan kuning emas. Ia lalu memandang wajah damai Reza yang kini sedang menatap ke arahnya. Amara juga melihat jika dirinya telah berganti pakaian dengan dress putih dengan hiasan bunga mawar di dress-nya itu.


Amara seakan dibawa melayang oleh Reza. Angin kencang yang menyentuh kulit mereka berdua dengan daun-daun kering yang melayang yang terbawa angin membuat Amara merasakan kegembiraan.


Di tengah-tengah mereka sedang asyik menari, tangan kanan besar Reza kini menarik pinggang Amara agar ia lebih dekat dengannya. Tangan yang kiri kini sedang memegang jemari tangan Amara yang lentik dan lembut.


Reza pun memejamkan mata.


Lalu, tanpa diduga, ada sebuah burung gagak hitam yang beterbangan di atas kepala mereka. Cahaya bulan yang menerangi mereka pun redup. Langit menjadi hitam pekat. Lalu turun sebuah hujan deras dengan iringan petir yang menyambar. Suara petir itu cukup untuk merusak pendengaran manusia karena sangat keras.


Reza pun memberhentikan aktivitasnya itu. Ia lalu memegang kedua tangan Amara. Ia menghadap ke arah lautan. Amara bisa menebak apa isi pikiran Reza.


"Reza?" ucap Amara lirih.


Reza tak menjawab. Ia hanya melamun sembari melihat ombak lautan itu yang bergerak dengan sangat kencang.


"Ikut aku" ucap Reza dengan tatapan kosongnya.


Wajah damai itu telah berubah menjadi wajah iblis. Mata Reza kini berubah menjadi hitam. Cairan hitam keluar dari kedua matanya dan membasahi kedua pipinya.


"Reza... Jangan nakutin gue.. Please" ucap Amara pasrah.


"Tenang sayang. Ini ga semenakutkan yang kamu kira" ucap Reza lagi.


Keadaan berubah menjadi dramatis. Amara diselimuti oleh rasa takut. Ia takut pada Reza.


Saat Amara berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Reza, ia tiba-tiba tersentak dan mendapati dirinya berada di atas kasurnya.


Jantung Amara berdetak dengan sangat kencang. Bibir Amara gemetar. Suhu tangan dan kakinya dingin. Badannya berkeringat dan sekujur tubuhnya terasa kaku. Ia masih tak percaya apa yang baru dilihatnya itu. Ia menoleh ke arah pojok ruangan, dimana ia pertama kali melihat Reza. Ia merinding, lantas yang ia lihat adalah pojok ruangan itu tidak ada siapapun.


Ia pun pergi mencuci muka dan menepuk kasar pipinya.


'PLAKK'


"Aww.. sakit" Amara meringis ketika merasakan sakit dan panas di pipinya yang tadi ia tepuk.


Ia lalu pergi ke kasur dan merebahkan diri. Ia membuka ponsel dan mengirim pesan pada Renata.


Setelah lama menunggu, tak ada satupun jawaban dari Renata.


"Mungkin udah tidur" ucap Amara kecewa.


Ia lalu melihat ke arah jam.


"Masih jam dua? Kirain udah jam empat atau lima. Kapan gue tidur ya? Perasaan tadi gue kayak mimpi lama banget" ucap Amara.


"Gue tidur lagi aja deh. Masih malem banget" sedari tadi, Amara hanya berbicara sendiri, tanpa ada yang menjawab ucapannya.


Amara menarik selimutnya. Ia berusaha menutup matanya, berusaha untuk tertidur. Namun, beberapa kali mencoba, Amara tak kunjung tertidur. Malah, dia semakin tidak bisa tidur. Matanya kini terbuka lebar. Ia merasa kesal dan menjambak rambutnya sendiri. Lalu mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya.


"Mending gue nonton film aja deh" ucapnya lalu mengambil laptop miliknya dan mulai menonton film.


Pagi pun tiba, Amara kini tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Amara terlihat lesu dan tidak bersemangat. Ia terlihat seperti orang linglung. Kantung matanya berwarna hitam. Persis seperti mata panda.


Setelah selesai bersiap-siap, ia lalu berangkat sekolah dengan diantar ibunya dengan menggunakan mobil.


Saat tiba disekolah, Amara segera berlari menuju ke kelasnya dan langsung tidur. Ia tidak peduli soal pr atau jadwal piketnya, yang ia pikirkan kali ini adalah ia bisa segera tidur.


"Eh Ra, enak banget ya lo. Dateng-dateng langsung molor, piket nih!" ucap Renata pada Amara.


"Hmm? Gue ngantuk Ren. Nanti aja waktu pulang gue piketnya ya" ucap Amara dengan lirih.


"Enggak-enggak! Pokoknya piket sekarang" ujar Renata keras kepala.


"Okeyy...." ucap Amara pasrah lalu mengambil sapu dan mulai menyapu bersih lantai kelasnya.


Saat Amara sedang merogoh di bawah meja, Reza pun datang.


"Lemes amat pak" ucap Reza yang baru saja masuk ke kelas dan mengusap rambut Amara.


"Diem lo" ucap Amara membenarkan rambutnya yang berantakan akibat diusap oleh Reza.


"Eh?" ucap Amara bingung. "Itu yang megang kepala gue si Reza?" ucap Amara lagi.


Amara bingung dan melihat ke arah Reza yang sedang duduk di kursinya. Reza yang menyadari jika dirinya sedang diperhatikan oleh Amara langsung menolehkan pandangannya ke Amara. Saat kedua mata mereka saling bertemu, Amara langsung memalingkan pandangannya dari Reza. Reza pun bingung, lalu ia segera melanjutkan kembali aktivitasnya.


"Jantung gue kenapa gini sih?" ucap Amara lirih sambil memegang dadanya. Saat ini, denyut jantung Amara berdegup kencang. Ia merasa malu kepada Reza. Ia pun segera menghilangkan rasa malunya itu dan kembali menyapu.


Saat jam istirahat, Renata menghampiri Amara.


"Amara, kantin yuk" ucap Renata pada Amara yang kini sedang menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.


"Hah?" ucap Amara menaikkan kepalanya.


"Astaga, mata lo item banget kayak zombie" ucap Renata kaget setelah melihat wajah Amara.


"Gue ngantuk. Dari tadi gue tahan ngantuk waktu pelajaran" ucap Amara.


"Makanya, ayo ke kantin. Lo minum es atau apa deh, pokoknya yang seger-seger. Biar ga ngantuk lagi" ujar Renata memberi saran.


"Boleh deh, gue nitip aja tapi".


"No, ga mau gue. Lo harus ikut" tolak Renata.


"Yahh, temen lo lagi sengsara nih. Masa tega sih sama aku?" ucap Renata dengan puppy eyes nya, berharap Renata akan menuruti keinginannya.


"Okey, mana duit lo?" ucap Renata yang akhirnya pasrah dan memilih untuk membelikan Amara.


Amara tak berkata apapun dan langsung menyerahkan uangnya. Renata lalu pergi dan Amara kembali tertidur.


"Lucu banget bayi gue" ucap Reza memandangi Amara yang kini tertidur pulas di atas mejanya. Ia memperhatikan Amara dari kejauhan.


"Ra, woi pesanan lo dateng nih. Ga bangun gue minum ya" ucap Renata berusaha membangunkan Amara.


Amara terbangun dan menerima pesanannya itu dari tanga Renata.


"Thanks" ucap Amara.


"Okey, eh ngomong-ngomong, lo kenapa gitu deh?" tanya Renata.


"Kenapa apanya?" tanya Amara bingung.


"Kenapa lo ngantuk gitu sih?" tanya Renata penasaran.


"Oh, gue tadi malem nonton film sampe pagi. Bukan ga tidur sih, cuma ya gue bangun jam tiga. Terus gue ga bisa tidur, yaudah deh gue nonton film daripada ngelamun" jelas Amara.


"Lah? Kenapa lo bangun jam segitu?" tanya Renata lagi.


"Gue mimpi aneh, kayaknya sih gue ngalamin lucid dream. Kayaknya lho ya" jelas Amara lagi.


"Makanya lo gausah niruin tutorial-tutorial aneh deh. Ngeri kan" ucap Renata.


"Gue ga sengaja".


"Oh, btw nanti main yuk. Muter-muter" ajak Renata.


"Okey, pulang sekolah ya" ucap Amara menyetujui ajakan Renata.