AMARA

AMARA
Bab 61 Double Prov



Prov Amara


Setelah anakku berumur satu tahun, ternyata umur ayah tidak bisa bertahan lama, ayah lebih memilih untuk menyerah dengan penyakit yang di deritanya.


Hatiku kembali terluka, aku terluka karena merek telah tega meninggalkan aku seorang diri. Kini aku tidak punya saudara kandung lagi, semua keluarga ku telah pergi.


Setelah kepergian ayah, mas Andi mengajak kami untuk pindah rumah, meskipun rumah ini tidak kami jual. Dan masih di rawat oleh bi marni dan anak-anaknya.


Bi Marni yang selalu ada di saat aku merasa terpuruk. Intan sudah menikah lagi dengan seorang lelaki, dan anak anaknya sudah masuk sekolah.


Alhamdulillah nya, Intan sudah bisa memaafkan dirinya sendiri dan tidak menyalahkan diri, atas kepergian Damar. Aku merasa iba dengan kedua anaknya itu, mereka tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, semoga saja suami Intan bisa menjadi imam dan ayah sambung yang baik untuk mereka semua.


Aku sangat berharap bahwa mantan iparku itu bahagia, dan ponakan ponakan bahagia selalu. Wulan sudah bisa berjalan dan ia sangat pintar. Talia masih bekerja denganku, aku sudah menyuruhnya untuk mencari pekerjaan yang jauh lebih layak tapi ia menolak. Menurut nya ia sudah nyaman bekerja denganku, dan ia tidak mau mencari pekerjaan yang lain. Di tambah lagi ia sudah sangat sayang dengan Wulan.


Aku dan mas Andi hanya di karuniai seorang anak, kami sudah berusaha untuk mendapatkan anak lagi. Tapi tuhan belum memberikan kepercayaan kembali pada kami. Itulah sebabnya sampai sekarang Wulan tetap menjadi anak satu satunya.


Tujuh belas tahun berlalu ...


Ponakan ponakan ku sudah masuk SMA semua, sedang Wulan masih SD. Karena Wulan paling bungsu di antara mereka. Intan juga tidak di berikan momongan lagi dengan pernikahannya yang sekarang.


Menurut Intan, ia dan suami sudah sepakat tidak menambah anak lagi, karena mereka takut tidak akan adil pada anak anak mereka nanti.


Andai Damar masih hidup, mungkin ia akan sangat bangga dengan kedua anaknya. Pasalnya mereka menjadi anak tercerdas di kelas nya. Bahkan mereka beberapa kali menang kejuaraan lomba sains, mereka memiliki keturunan IQ yang sama tinggi dengan Damar.


Dulu juga Damar memiliki IQ yang tinggi, itu sebabnya ia menjadi arsitek, karena kemampuan berpikir nya yang sangat luar biasa.


* * * *


Prov Intan


Sudah beberpa tahun kepergian mas Damar, akhirnya aku memberikan diri untuk menerima pinangan mas Aldi. Ia adalah duda tanpa anak, sedangkan aku janda beranak dua.


Kami bertemu saat aku sedang berjualan nasi lemak, dan ia adalah salah satu pelanggan setiaku kala itu. Awalnya aku tidak tau siapa mas aldi sebenarnya, sampai ia memberanikan diri untuk melamar ku, dan menjadikan ku pengganti Andini istrinya.


Kedua anakku kini sudah besar, mereka menjadi kebanggaan ku satu satunya, sebab mas Aldi tidak menginginkan anak lagi. Menurut nya sudah cukup dengan kehadiran kedua anakku dari mas Damar.


Namun, selang berjalannya waktu aku mengetahui fakta baru, bahwa ternyata mas Aldi itu mandul, itu sebabnya ia tidak bisa memiliki anak. Aku tidak masalah ia mau mandul atau tidak, yang terpenting ia mau menerima ku dan kedua anakku itu saja sudah lebih dari cukup.


Ternyata mas Aldi sangat menyayangi mereka berdua, sampai kedua putera dan putri ku


sekolah, yang cukup bagus bahkan terbilang internasional.


Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti mas Aldi. Meskipun ia terpaut lebih muda dariku, tapi ia bisa berpikir jernih dan mengayomi kami semua.


"Sayang. Nanti weekend kita ajak anak anak jalan jalan ya."


"Kemana mas?"


"Kemanapun kalian mau, rasanya mas sudah lama tidak mengajak kalian berlibur."


"Tentu saja boleh dong sayang. Apapun yang kalian mau pasti mas akan turuti, karena kebahagiaan kalian juga ke bahagian mas."


"Terimakasih mas. Anak anak pasti sangat senang mendengar ini semua. Terimakasih juga karena mas sudah mau menerima kami sebagai pelengkap hidup mas."


"Sama sama sayang. Kalau begitu ayok kita tidur, hari sudah sangat malam."


Akhirnya kami pun tidur. Aku berniat esok saat sarapan akan memberitahu mereka, bahwa ayah mereka mengajak berlibur. Mereka pasti sangat bahagia.


Karena mereka sudah lama tidak pergi berlibur, sebab mas Aldi sangat sibuk di kantor nya.


Pagi hari ...


Saat kami sarapan. Aku memberitahu mereka bahwa mas Aldi mengajak liburan weekend nanti.


"Sayang. Ibu ingin bicara."


"Bicaralah ibu."


"Ayah kalian ingin mengajak kalian berdua liburan. Dan kalian bebas ingin pergi kemana. Tapi yang kompak ya, jangan membuat kami bingung dengan perbedaan argumen kalian berdua."


"Ya, Bu. Biarkan kami berpikir dulu."


"Nanti sebelum kita liburan, kita akan berziarah dulu ke makam papa kalian."


"Ya." Ucap mereka cuek dan serempak.


Memang seperti inilah sikap mereka, jika aku membahas soal mas Damar. Mereka tidak peduli apapun itu yang bersangkutan dengan mantan suami pertamaku itu.


Bahkan Dinda. Pernah marah besar padaku, karena aku terus menerus menangisi kepergian mas Damar. Padahal sudah ada mas Aldi yang menemaniku dan masa depanku.


Weekend pun tiba.


Kami semua berangkat menuju rumah lama kami, tujuan utama setelah rumah adalah makam mas Damar, setelah itu ke rumah mbak Amara, aku sudah sangat rindu dengannya.


Ternyata apa yang di katakan mas Damar tentang mbak Amara itu salah. Ia tidak sejahat yang ada di dalam cerita mas Damar, bahkan ia wanita yang sangat baik.


Ia bisa langsung akrab dengan ku, padahal dulu kami hanya bertemu sekali saja. Dan ia juga masih mau mengurus pemakaman mas Damar dan Sinta.


Ia wanita yang berlapang dada. Ia bisa menerima semuanya cobaan yang pahit ini, menurut nya. Ia dulu merasa dendam pada  semua yang berhubungan almarhum ayah mertua. Tapi dengan kesabaran mas andi. Yang selalu menasehati mbak amara, dan perpustakaan almarhumah ibu nya. Akhirnya ia mencoba untuk ihklas dan memaafkan.


Begitu juga denganku, karena mbak Amara mengajarkan aku untuk ihklas dengan segala cobaan yang tuhan berikan, percaya akan indah pada waktunya.


Dan benar saja. Kini aku merasa bahagia dan beruntung bisa bersanding dengan mas Aldi. Yang penyayang dan royal padaku, bahkan ia juga menyayangi kedua anakku.


Sepanjang perjalanan, kami hanya diam tanpa ada bersuara. Ku lirik mereka berdua di bangku belakang, rupanya mereka tertidur mungkin mereka kelelahan karena sehari sebelum pergi mereka berdua habis camping. Awalnya aku mengusulkan untuk di undur saja, tapi mereka tetap bersikeras untuk pergi berlibur.


Padahal aku tau kalau mereka sedang sangat lelah dan cape, tapi mereka tetap saja memaksa kan keinginannya untuk pergi.