AMARA

AMARA
Bab 55 Prov Intan3



Sinta dan ayah mertua meninggalkan ku dengan kedua pengawal nya ini. Aku masih b*r*g*m*l dengan mereka, bahkan setelah mereka kelelahan, datang lagi seorang lelaki lain.


Dan mereka bergantian, kedua pengawal tadi keluar. Rasanya kepalaku masih pusing aku sudah setengah sadar. Aku bisa melihat lelaki ini sudah mulai membuka pakaiannya, dan seketika nafsuku kembali memuncak. Dan saat kami akan memulai tiba tiba saja...


Jedar ...


Pintu kamar ini berhasil di dobrak oleh seseorang, dan ternyata itu adalah mas Damar. Oh tuhan kenapa ia ada di sini? Meskipun aku begini, tapi aku setengah sadar.


Ia berjalan menghampiri ku, dan ia menarik paksa tanganku, setelah aku terlepas dari lelaki tu, mas Damar seperti mencari sesuatu dan ini semua kami manfaatkan untuk kembali memakai baju. Dan dengan cepat pula lelaki tadi pergi, kini hanya tersisa aku di dalam kamar ini. Aku ingin lari menghindar dari mas Damar tapi rasanya kepalaku sangat berat sekali.


Sadar benda yang di carinya tidak ia temukan, ia kembali menoleh ke arahku ia menampar ku berulang kali. Bahkan ia menghina ku juga.


Dan ternyata Sinta sudah berada di ambang pintu dengan kedua pengawal tadi yang b*e*g*m*l denganku. bahkan ayah mertua pun ada di sana, tapi kali ini ia menjadi banyak diam tidak sepeti tadi saat di bawah.


Perlahan kesadaran ku semakin pulih, bahkan kepala ku sudah tidak sesakit tadi. Kini aku bisa mencerna semua kejadian saat ini, terjadi adu mulut antara sinta dan mas Damar.


Mas Damar kembali naik pitam, saat ia mendengar perkataan Sinta yang sebenarnya tidak benar. Aku di hajar habis habisan oleh nya. Bahkan sampai aku terkulai lemas pun mas Damar masih menghajar ku.


"Tuhan. Selamat kan aku, aku tidak ingin meninggalkan anak anakku. Mereka masih sangat kecil." Batin ku.


Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk tetap sadar, meski kenyataan nya aku sudah tidak kuat lagi.


Aku melihat mas Damar berkelahi dengan kedua pengawal tadi, ntah mas Damar berkelahi karena apa, karena menurut Sinta kalau mas Damar itu tidak mencintai ku sama sekali. Tapi kenapa ia membela ku sedemikian rupa?


Bugh


"Awwwwww... Aduh ... Perutku sakit... Tolong..." Suara teriakan Sinta, sat aku melihat ke arah nya. Astaga. Banyak sekali darah yang keluar, bahkan ayah mertua pun sudah tergeletak di sana, entah apa yang di lakukan mas Damar pada mereka.


Aku berusaha bangkit dan kabur dari sini, aku tidak ingin menjadi korban kemarahan mas Damar selanjutnya, ia sudah gelap mata karena amarahnya itu.


Aku merayap menuju arah pintu, sampai akhirnya aku berhasil keluar dan melewati mas Damar yang sedang sibuk dengan aksinya menyakiti sinta. Bahkan ak lu sempat melihat mas Damar melakukan itu lagi pada sinta.


Padahal Sinta sudah merintih kesakitan, aku rasa ia keguguran. Meskipun mereka telah jahat padaku tapi rasanya aku tidak tega melihat ia seperti itu. Kini aku telah sampai di ujung tangga, aku melihat ke arah bawah, di sana ada dua orang penjaga lain. Apa mereka tidak mendengar teriakan Sinta? Atau mereka pura pura tuli?


Aku berusaha bangun, dan berjalan tertatih. Dengan perlahan lahan, aku menuruni anak tangga, sambil berpegangan. Satu demi satu anak tangga ku turun. Sampai akhirnya aku telah sampai di tangga terakhir.


Tapi sayang, satu langkah lagi aku turun, mas Damar keluar dari kamar itu, terlihat di celana dan bajunya banyak sekali darah. Tuhan, apa yang sudah suamiku itu lakukan? Semoga saja ia tidak membunuh ayah dan adiknya. Sungguh ia sangat mengerikan.


"Hei. Pela**r mau lari kemana kamu?" Teriaknya. Yang berhasil membuat dua orang itu menoleh ke arahnya, dan bergantian ke arahku.


"To-tolong selamatkan aku. Telfon polisi dan ambulan, di atas ada korban."


"Salah satu penjaga itu menghampiriku, dan membantu ku untuk duduk di kursi, ia juga memanggil pembantu di rumah ini. Dan setelah itu ia mengikuti saranku untuk memanggil polisi dan ambulan.


Mas Damar, berjalan menuruni anak tangga, ia terus melangkah mendekat ke arah kami. Aku trus berdoa dalam hati semoga aku masih di berikan keselamatan, kedua orang tadi memanggil teman temannya. Dan sedetik kemudian mereka masuk ke dalam rumah.


Aku kaget saat melihat begitu banyak pengawal di rumah ini. Mereka bertarung melawan mas Damar, aku menjerit menyaksikan mereka bertengkar. Mau bagaimana pun ia tetap suamiku, dan aku tidak ingin suamiku terluka apalagi sampai meninggal. Tapi di sisi lain, aku juga sangat takut padanya aku takut ia akan berbuat lebih nekad lagi dari ini.


Mas Damar, berhasil di amankan oleh pihak kepolisian, ia di borgol dan di bawa keluar rumah. Namun sebelum itu ia berteriak ke arahku.


"Dengar ini Intan. Suatu saat nanti aku akan kembali dan membuat hidupmu hancur, aku menyesal telah menikahi mu intan." Aku menoleh ke arahnya, aku tak menyangka kalau mas Damar tega berbicara seperti itu. Padaku yang telah memberikannya gelar seorang ayah, bahkan aku berikan dua anak untuknya.


Salah satu polwan menghampiri ku yang sedang di obati oleh tim medis. Aku tidak langsung di bawa ke rumah sakit, aku di obati terlebih dahulu di rumah.


"Apakah ada korban lain di rumah ini bu.?" Tanya salah satu polwan.


"Ada di atas sana. Di kamar yang pintunya terbuka." Ucapku.


Dengan cepat mereka berlari ke arah atas, dan tak lama kemudian mereka keluar lagi. Terlihat Sinta berlumuran darah, dan ketiga orang lainnya luka luka. Tiga di antara mereka adalah ayah mertua ku, ia juga terluka akibat anak tirinya itu.


Sungguh aku menyesali perbuatan mas Damar, kenapa ia menjadi gelap mata seperti ini?


Akhirnya kami di bawa ke rumah sakit Bhayangkara untuk di obati di sana, sinta langsung di operasi, untuk mengangkat rahim karena terjadi pembengkakan infeksi akibat ulah mas damar. Sedangkan ayah masuk ruang ICU. Aku dan kedua pengawal tadi di rawat di beda ruangan.


Tok... Tok... Tok...


Ceklek


Masuk satu orang polwan, yang aku rasa saat kejadian di rumah tadi, ia tidak ada. Siapa dia?


"Permisi bu Intan. Saya Bripda Handayani, bagaimana keadaan ibu saat ini.?" Tanyanya ramah.


"Sudah lebih baik."


"Baik. Apakah ibu sudah bisa di mintai keterangan? Karena mengingat ketiga pasien tadi masih dalam keadaan kritis, dan beberpa saksi yang lain mengaku, bahwa mereka tidak mengetahui detail nya seperti apa."


"Ya. Silahkan. Tapi boleh saya bertanya?"


"Bagaimana keadaan anak anak saya? Apa mereka aman?"


"Mereka aman di bawah lindungan petugas kami yang lain, apakah bisa kita mulai?" Aku mengangguk dan mulai menceritakan semuanya, setengah jam aku di minta keterangan oleh nya.


"Baik bu. Saya rasa cukup untuk saat ini, nanti jika saya membutuhkan informasi lainnya lagi saya harap ibu berkenan kembali untuk menjelaskan detailnya." Aku kembali mengangguk.


"Saya permisi Bu."


"Ya."


Polwan itu pun keluar kamar ku, rasanya aku merasa kesepian berada di ruangan ini, biasanya aku akan bermain dengan anak anakku.


"Nak. Maafkan mamy karena mamy telah meninggalkan kalian begitu lama." Gunam ku dalam hati.


Aku berusaha memejamkan mata ku ini, tapi sangat sulit bagiku, ntah kenapa rasanya sulit sekali untukku tidur.