
Ting...
["Sayang. Mas sudah pulang, dan sekarang mas ada di kamar tamu. Di bawah, selamat tidur. Mas janji akan bercerita esok hari. Sekarang mas sudah sangat mengantuk, kamu tidur ya."]
["Anak papa yang ganteng jagain mama ya, jangan nakal karena malam ini kita tidur terpisah dulu ya ganteng."]
["Dah sayang love you."]
Aku tersenyum saat membaca pesan dari mas Andi, inilah yang membuatku semakin jatuh cinta padanya, ia sangat romantis di setiap harinya. Aku melihat jam saat pesan itu dikirim, ternyata mas Andi pulang tak lama setelah aku selesai menelfon.
Kenapa ia tidak naik ke atas saja? Padahal talia bangun tadi bersamaku. Aku kembali tidur, meskipun prasaan ku masih gak karuan tapi setidaknya mas andi sudah ada di rumah.
* * *
Pagi hari tiba. Aku bangun dan secara tiba tiba aku merasa sudah bisa lagi beraktivitas seperti biasanya. Aku turun ke bawah untuk sarapan bersama mas andi di meja makan, selama ini kami selalu sarapan di kamar, mas Andi selalu menemaniku sarapan dan sekarang aku akan kembali menemani dan melayani nya sebagai istri.
Aku berjalan menuju dapur, saat sudah berada di dapur, terlihat talia sedang menyiapkan makanan untuk di bawa ke dalam kamar.
"Biarkan saja di situ talia, saya akan makan di sini, apakah bapak sudah bangun?"
"Loh ... Ibu ... Kenapa ibu keluar kamar? Bagaimana kalau bapak marah? Ihh ibu ga kasian sama aku.... Huhu."
"Shuttt... Saya sudah kuat Talia, saya sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi, kamu belum jawab pertanyaan ku. Apakah bapak sudah bangun?"
"Oh bapak. Seperti belum bu, ibu cek saja ke kamar tamu."
"Oke. Makasih, dan tolong susun kembali ke atas meja makan. Karena saya dan suami saya akan sarapan di sini."
"Baik bu."
Aku berjalan menuju kamar tamu, ternyata pintunya tidak di kunci, dasar mas Andi ceroboh bagaimana jika ada orang asal masuk.
Cklek
Pintu terbuka dan terlihat suamiku ini masih terlelap sangat nyenyak, aku masuk ke dalam dan mengunci nya dari dalam. Aku takut ada orang masuk ke kamar ini.
"Mas. Bangun sayang, kita sarapan dulu." Ucapku lembut, membangunkan nya.
"Hmmmm."
"Bangun sayang ..."
Ia perlahan membuka matanya, ia sangat kaget saat melihat ku berada di kamar tamu. Karena tidak biasanya aku menyusul nya seperti ini.
"Astaga. Sayang. Kenapa kamu turun? Kan mas bisa kembali ke atas."
"Aku sudah lebih baik mas, anak mas ini sudah tidak seperti biasanya lagi."
"Benarkah begitu? Apa talia sudah mengecek nya?"
"Belum, karena aku baru saja memberitahu nya saat aku di dapur."
"Periksa dulu sayang. Sebentar mas cuci muka dulu, setelah itu panggil talia untuk mengecek kondisi anak kita ini."
"Hai. Anak papa, selamat pagi."
Ucap mas andi sambil mengelus perut ku yang buncit ini. Dug..
"Eh anak papa nendang, sabar ya sayang. Papa cuci muka dulu setelah itu kamu di periksa oleh sus talia, kalau kamu baik baik saja di dalam sana, papa akan menjenguk mu kembali." Ucap mas Andi sambil tersenyum ke arahku.
Aku masih duduk di atas ranjang, sambil menunggu nya bersih bersih, tak lama kemudian ia keluar dan langsung mengambil hp ku untuk menelfon Talia, ia tidak ingin menyimpan nomor talia kecuali nomor bi marni dan yang jauh lebih tua dari kami, yang tentu saja sudah bekerja lama dengan kami.
Alasannya karena ia tak ingin membuatku terluka, sungguh aku sangat beruntung memiliki suami seperti mas andi, ia tau bagaimana cara menghargai seorang istri.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Hallo bu?"
"Ini saya. Kamu bisa masuk ke kamar tamu sekarang? Dan bawa peralatan medis untuk memeriksa anakku."
"Sudah cepat lakukan saja."
"Ba-baik pak."
Aku tertawa mendengar ocehan talia itu, kenapa ia sangat takut jika mas andi marah? Apa ia pernah membuat mas andi marah padanya? Sadar aku perhatikan, mas andi. Membalas tatapan ku, ia bertanya kenapa aku menatap nya begitu lekat? Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.
Tok... Tok... Tok...
"Pak. Bu... Ini saya Talia."
Saat aku ingin membuka kan pintu, tapi mas andi lebih dulu melarang ku, ia menyuruh aku untuk tetap duduk menunggu di atas kasur.
Ceklek
Talia menundukkan kepalanya, ia terlihat sangat takut pada mas Andi. Lagi lagi aku di buat tersenyum oleh tingkah nya itu. Saat sudah dekat dengan ku, ia berbisik sangat pelan sekali, mungkin ia takut kalau suamiku itu mendengar perkataan nya.
"Ibu. Kenapa ibu turun dari kamar atas? Bagaimana kalau bapak marah lagi sama saya? Huhu."
Aku memegang tangannya agar ia tidak merasa takut kembali.
"Ayok bu kita periksa dulu."
Ia mulai memeriksa kandungan ku, setelah beberapa menit kemudian.
"Wah. Jagoan ibu sudah mulai membaik, ia bahkan terlihat sangat sehat bu. Tapi ibu harus tetap hati hati ya bu."
"Tuh kan mas. Anak kita sudah baikan mas. Kamu tidak usah khawatir, ia anak yang kuat."
"Baiklah. Terimakasih Talia, kamu boleh keluar lagi."
"Baik pak. Saya permisi."
Ia berlalu pergi meninggalkan kami, mas andi kembali mengunci pintu kamar ini, dan kembali duduk di samping ku.
"Jadi. Boleh dong mas jenguk jagoan mas.?" Aku mengangguk.
"Tapi ingat pelan pelan ya mas."
"Siap sayang ..."
Kami memulai ritual yang sudah lama tidak kami lakukan, karena menjaga agar sang buah hati tidak kenapa napa, ntah kenapa putraku ini tiba tiba saja menjadi lemah saay pertengahan bulan ke enam. Padahal sebelumnya ia sangat kuat bahkan ia lah yang memberikan kekuatan untukku selama ini.
Setelah selesai ritual, kamu membersihkan diri bersamaan. Dan bersiap untuk sarapan.
Di meja makan...
"Mas mau makan yang mana?"
"Mau ikan boleh sayang."
Kami sarapan dengan sangat lahap, bahkan mas andi sampai menambah dua kali, tidak seperti biasanya. Apa mungkin ia bahagia karena telah menjenguk anak nya?
Setelah sarapan kamu duduk di ruang tv, sambil menonton film kesukaan ku. Dan aku baru teringat tentang perkembangan kasus yang menimpa ayah itu. Hampir saja lupa, dah lagi kenapa mas andi tidak mengingat kan ku? Rasanya tidak mungkin jika ia lupa.
"Mas."
"Ya sayang?"
"Bagaimana kelanjutan kasus yang menimpa ayah serta yang lainnya?"
Kemudian mas andi menceriakan semuanya, sungguh aku ngeri saat mendengarkan itu semua, aku tidak bisa bayangkan betapa hancurnya nanti hari sinta saat mengetahui tentang kondisi rahimnya itu.
Semoga saja ia bisa menerima takdir tuhan ini, dan yang membuat ku semakin tercengang adalah, ia juga hampir membunuh istrinya yang tidak bersalah itu. Dalam kasus ini semuanya salah bagiku, karena ayah dan sinta sudah menjebak intan, dan memicu pertanggung jawaban dari damar.
Tapi Damar juga salah, karena telah menghamili adik nyaa, mau bagaimana pun juga ia masih tetap anak dari bu Sonya Karena mereka menyusu pada satu orang ibu, dan dalam agama itu tidak di perbolehkan.
Dulu Damar mengajakku menikah, tapi aku tidak mau, dengan alasan aku takut untuk menikah, aku takut akan tragis seperti ibu.