AMARA

AMARA
Bab 74



Tak terasa pernikahan ku dengan mas Andi sudah berumur dua puluh lima tahun dan di umur pernikahan ku saat ini. Aku sudah di berikan dia bidadari cantik ku, yang pertama anakku di beri nama Wulan dan yang kedua di beri nama luna. Mereka dua beradik yang berbeda karakter.


Dulu saat aku hamil Wulan, mas Andi pernah bercerita bahwa ia memiliki satu sahabat yang sangat setia dengannya. Sejak saat ia mulai merilis usaha dan mulai menggeluti dunia bisnis seperti sekarang. Namun, sayang usahanya bangkrut dan ia meminta bantuan pada kami, tepat saat Wulan sudah lahir dan usia nya saat itu sudah menginjak empat tahun.


Ia bahkan berjanji akan menjodohkan anak kami kelak, aku yang saat itu mendengar semuanya tidak langsung mengiyakan. Tetapi aku meminta waktu untuk semua ini, karena aku tak ingin memaksakan kehendak ku pada mereka, biarlah mereka memilih jalannya sendiri.


FLASHBACK 


Tok


Tok


Tok


Saat kami sedang menonton tv, aku mendengar suara ketukan pintu dari arah depan. Entah siapa yang datang malam begini, aku melirik mas Andi sebagai kode agar ia membuka pintu depan. Dan mas Andi pun bangkit dari duduk nya lalu menghampiri pintu untuk membukanya.


Cklek suara pintu di buka


"Astaga, Hartawan. Ayok masuk masuk." Aku menoleh ke arah suara, dan ternyata pak hartawan. Kenapa ia seperti itu? Dandanannya sangat lah lusuh sekali, mukanya kusut.


"Duduk lah, dan tenang kan hati dan pikiran mu Wan. Tunggu aku panggilan bi Marni dulu ya."


"Tidak usah mas. Biar aku saja. Kasian bi Marni sudah kelelahan." Aku bangkit dan me siapkan minum untuk mereka berdua. setelah selesai aku kembali menghampiri nya, dan menyerahkan minuman untuk mereka.


"Minum lah mas." Kataku.


"Terimakasih." Ia langsung meneguk habis minuman itu, tuhan. Apa yang terjadi pada nya?


"Ceritakan lah, apa yang sebenarnya terjadi?"


Ia langsung menceritakan semuanya sampai detail, aku terus memperhatikan wajah nya, dan melihat apakah ada kebohongan di dalamnya atau tidak? Dan ternyata ia berkata sangat jujur, tidak ada kebohongan di matanya.


"Aku janji, jika aku kembali sukses nanti dan anak anak kita sudah besar. Aku ingin melamar anakmu sebagai istri dari anakku nanti."


"Apa?" Kataku kaget.


"Ya. Amara ijin kan aku untuk melamar anakku kelak. Agar tali persahabatan kita tidak pernah putus."


"Aku tidak bisa menjawab wan, semua kuasa ada di istriku." Lalu mereka berdua menoleh ke arahku menunggu jawaban yang akan aku berikan pada mereka.


"Berikan aku waktu untuk memikirkan nya. Aku tidak bisa berkata iya langsung, karena aku tidak ingin anak anakku menderita karena keegoisan orang tuanya."


"Baiklah. Terimakasih banyak karena kalian telah sudi menolong ku, aku tidak akan pernah melupakan semua ini." Kami berdua hanya mengangguk saja. Setelah itu ia berpamitan untuk pulang.


Aku mengajak mas Andi untuk berdiskusi tentang ini, karena aku tidak bisa mengambil keputusan begitu saja.


"Mas."


"Ya sayang."


"Apa kamu serius tentang ini semua mas? Maksud nya tentang kita menjodohkannya anak kita dengan anak mas hartawan? Karena aku belum mengenal mereka mas, aku takut jika terjadi sesuatu pada mereka nantinya."


"Kamu percaya saja. Mereka orang baik, ia yang sudah membantu mas sedari nol. Meskipun papa orang kaya tapi mas tidak pernah memakai uang papa."


"Begitu ya mas."


"Iya. Kamu percaya saja sayang."


"Baiklah kalau begitu mas."


Flashback off 


Aku membawa wulan ke klinik, dan sekaligus mengecek ke*era****n nya. Ternyata benar dugaan ku, mereka belum melakukan nya sama sekali. Rasanya aku murka dengan perjodohan ini, kenapa amar tega melakukan ini pada anakku? Kalau dia tidak mau menikahi anakku maka tolak saja perjodohan kemarin. Usia pernikahan mereka sudah lumayan lama, dan selama ini ia tidak pernah menyentuh anakku sama sekali?


"Kamu ikut ibu ke kantor suamimu sekarang."


"Tapi Bu..."


"Tidak ada tapi tapi."


"Bukannya mas Amar tidak memperbolehkan siapapun ikut campur urusan rumah tangga kami?"


"Kamu anak ibu, kebahagiaan kamu ibu yang tanggung. Jika kamu tidak bahagia terluka hati ibu nak. Sudah ikuti saja perkataan ibu."


"Baik bu."


Alhamdulillah anakku wulan, selalu menurut dengan apa yang aku bicarakan padanya. Aku tak bisa tinggal diam mengenai ini semua. Kami berangkat menuju kantor nya, beruntung ia ada di sana.


Setelah sampai aku langsung di bawa masuk, dan ku keluarkan semua kekesalan ku pada anak itu. Saat aku sedang emosi, tiba tiba Dinda anaknya Intan datang dengan memanggil sayang pada menantuku, ada apa ini? Kenapa ia memanggil sayang pada menantuku? Aku melirik anakku Wulan ternyata ia biasa saja, apa mungkin mereka ada hubungan dan anakku mengetahui ini semua? Itu sebabnya ia diam saja?


Aku meminta jawaban dari nya namun tidak di berikan sama sekali, ia masih saja membela diri dengan mengatakan kalau ia tidak ada hubungan apapun dengan dinda.


Aku keluar dan akan langsung menuju rumah hartawan, tak lupa aku menelfon suamiku. Ia harus tau ini semua.


Tutt


Tuttt


Tutt


"Hallo assalamualaikum, mas. Kamu ada dimana? Ayok kita ke rumah sahabat mu itu."


"Kenapa sayang? Ada apa?"


"Anaknya sangat kurang ajar sekali, ia tidak pernah menyentuh anak kita mas, ia malah berselingkuh dengan dinda, anak dari pe*ac*r itu."


"Astaghfirullah, nyebut sayang. Istighfar, aku otw ke sana ya. Kamu dimana sekarang?"


"Aku di rumah sakit, abis periksa anak kita."


"Baiklah. Aku jemput ya kita pergi sama sama."


"Ya."


"Assa..."


Tut


Aku langsung menutup telfon nya begitu saja, rasanya amarahku sudah sampai ke ubun-ubun. Selama ayah dan yang lainnya meninggal, aku sudah tidak pernah lagi mengalami marah seperti ini. Tidak ada lagi sandaran untukku, bibi dan paman berada di luar negri karena anak anak mereka sekolah di sana. Jadi selama ini aku hanya di temani bi Marni saja.


Tak lama kemudian, mas Andi datang ia terlihat tergesa gesa menghampiri kami berdua. Ia takut aku kembali murka seperti dulu.


"Ayah ..." Wulan menyalami ayahnya, begitu pun denganku.


"Ayok sayang kita berangkat sekarang."


"Ya."


Aku berjalan lebih dulu menuju mobil mas Andi, sedangkan mobil yang ku bawa sudah lebih dulu di bawa pulang oleh supir kami.


Selama perjalanan tak banyak yang di bicarakan, hanya terdengar candaan antara mas Andi dan Wulan.