AMARA

AMARA
Mendung



Di pagi yang seharusnya cerah ini, mendadak gelap. Langit yang harusnya berwarna biru, kini berubah menjadi warna abu-abu. Udara dingin menusuk ke dalam lapisan kulit membuat siapa saja ingin berdiam diri di kasur mereka dengan memakai selimut tebal. Meski begitu, masih terdengar sayup-sayup suara burung-burung yang terbang.


Amara, gadis itu baru saja terbangun. Mengerjapkan matanya dan menguap. Ia merasa hari ini adalah hari yang buruk. Hawa malas menyelimuti tubuh Amara. Ingin sekali ia tertidur lagi, namun ia masih waras. Ia masih memikirkan sekolah. Hingga dengan rasa terpaksa, ia menuju ke kamar mandi.


Ia menyalakan keran air di wastafel, menyentuh air dan membasuh mukanya. Ia menggigil kedinginan. Lalu mengambil sikat dan pasta giginya lalu mulai menggosok giginya. Setelah selesai, ia pun mandi.


Amara keluar dari kamar mandi dengan tubuh gemetar menahan rasa dingin. Ia lalu mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu. Terasa hangat, membuatnya mengantuk. Tak lama kemudian, Amara pun memakai seragamnya dan turun ke bawah hendak sarapan.


Amara hanya melihat ibunya yang ada di dapur, tanpa kehadiran adiknya, Maeza. Ia pun bertanya pada ibunya dimanakah adiknya.


"Ma, Maeza mana?"


"Dia dikamar, katanya ga enak badan, jadi izin sekolah dulu. Nanti titip surat ya" jelas sang ibu.


"Oh, oke. Nanti Amara anterin ke sekolahnya" ucap Amara.


Lalu, Amara memakan sarapannya, setelah selesai ia pun pergi ke sekolah.


Amara sedang menaiki motornya, melewati jalan yang biasa dilalui adiknya untuk pergi ke sekolah.


Setelah sampai di depan pintu gerbang, ia pun memarkirkan motornya di tepi jalan. Lalu berjalan masuk melewati pintu gerbang dan menuju ke kelas adiknya. Kelas adiknya berada di lantai 2, jadi mau tak mau Amara harus menaiki tangga meskipun rasanya sangat malas.


Saat tiba di depan pintu kelas, Amara disambut oleh kedua teman adiknya, yakni Rani dan Syifa.


"Loh? Kak Amara ngapain ke sini?" ucap Syifa.


"Mau nitip surat Fa, bisa tolong nanti sampe-in ke guru gak? Maeza lagi sakit" jelas Amara sembari mengacungkan tangan yang berisi selembar amplop berisikan surat izin itu.


"Oke kak, nanti kita sampe-in" ucap Syifa sambil menerima amplop itu.


"Yaudah makasih, aku pamit dulu" ucap Amara kemudian pergi meninggalkan sekolah Maeza.


Saat berada di halaman sekolah, Amara sempat melihat jam tangannya, yang menunjukkan pukul 06.45. Amara panik, ia takut akan terlambat dan tak bisa masuk ke dalam sekolah. Pasalnya, ketika bel berbunyi, penjaga akan langsung menutup gerbang tersebut. Hingga anak-anak yang terlambat akan menunggu di luar sampai kepala sekolah memberikan mereka izin untuk masuk dan memberikan sanksi pada mereka. Segera Amara berlari kecil menuju ke tempat motor Amara diparkir. Ia lalu menyalakan motornya dan pergi ke sekolahnya.


Perjalanan dari sekolah Maeza ke sekolah Amara lumayan jauh, mungkin memakan waktu 15-20 menit, jika jalanan tidak mengalami kemacetan. Amara menaikkan laju motornya dan melesat membelah udara kota yang dingin.


15 menit kemudian, Amara tiba. Meski ia datang mepet sekali, tapi beruntung penjaga belum menutup gerbang. Ia pun buru-buru pergi ke kelasnya. Saat melewati koridor, secara tak sengaja badan Amara menabrak gadis yang tengah keluar dari kelasnya secara tiba-tiba. Itu mengejutkan Amara hingga tak sempat menghindar.


Keduanya jatuh. Dan itu menarik perhatian anak kelas gadis yang ditabraknya tadi. Ia dan gadis itu dikerumuni oleh anak-anak. Baik laki-laki maupun perempuan, mereka berkerumun untuk melihat.


Malu, malu sekali. Hingga tiba-tiba satu suara memecah kerumunan itu.


"Aurel, lo gapapa?" ucap seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan badan yang ideal. Memiliki rambut hitam legam dan berwajah tampan.


"Gapapa kok" ucap gadis itu.


Amara pun berdiri serentak dan meminta maaf pada Aurel.


"Maafin gue ya, gue ga sengaja" ujar Amara.


"Gapapa, santai aja" jawab Aurel tersenyum ramah. Lalu, Amara pun melanjutkan jalannya menuju ke kelasnya.


Amara tiba di depan pintu kelas. Dan benar saja, di dalam kelas sudah ada guru yang mengisi mata pelajaran pertama. Amara mengetuk pintu dengan sopan diiringi rasa takut dan bersalah.


"Permisi pak, maaf datang terlambat" ucap Amara sambil menundukkan kepalanya.


"Darimana saja kamu?" ucap guru itu dingin. Seluruh siswa menatap pada Amara.


"Saya mengantar surat izin ke sekolah adik saya pak" jelas Amara.


"Sekolahnya jauh?" tanya guru itu lagi.


"Sedikit pak, sedikit jauh" jawab Amara.


"Yasudah jangan diulang lagi, kamu duduk saja. Jadikan ini sebagai pelajaran Amara, jika telat lagi, saya tidak akan mentolerir ini " ujar guru.


"Baik, terima kasih pak" ucap Amara lalu pergi ke tempat duduknya.


"Eh Ra, ayo ke kantin" ajak Reza.


"Ga ah, gue males. Dingin" ujar Amara. Benar saja, ketika Reza menatap keluar jendela kelas, langit masih mendung, bahkan gerimis mulai turun. Reza berjalan ke arah jendela itu, udara dingin dari luar masuk ke dalam melalui jendela. Reza sempat menggigil karena udara dingin itu.


"Karena itu gue pengen beli yang anget-anget di kantin, gue mau bakso" ujar Renata.


"Ah, gue ga ikut deh. Mendadak gue mager" ceplos Reza.


"Yah, lo kok gitu. Ayo temenin gue dong Za" ucap Renata memohon.


"Gak ah, gue mending di kelas aja deh". Reza lalu menuju ke tempat duduknya dan menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.


"Yah, yaudah gue sama yang lain aja deh. Yakin ga mau ikut lo Ra?" tanya Renata memastikan.


"Engga kok, ga ikut" ujar Amara.


"Yaudah bye" ucap Renata sambil melambaikan tangannya dan ditanggapi dengan lambaian tangan Amara.


Amara kini mengeluarkan ponselnya dan memainkannya.


"Ra?" panggil Reza lirih.


Amara yang mendengar pun langsung menoleh ke arah Reza. "Apa?"


"Gak kok, cuma nge-tes aja" jawab Reza.


"Oh, aneh lo. Uhm, tumben ga jajan?" tanya Amara.


"Males gue" jawab Reza singkat.


Mereka pun kembali dalam pikiran masing-masing. Suasana hening muncul dalam kelas mereka, meskipun masih samar terdengar suara bising dari luar kelas.


"Ra? Lo marah ya? Kok belakangan ini Lo ngehindar dari gue" ucap Reza memecah keheningan. Amara sedikit kaget mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Reza. Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu?


"Enggak kok" ucap Amara menyembunyikan perasaan kagetnya itu.


"Pasti karena waktu itu ya?" tanya Reza lagi.


Amara hanya terdiam, lalu berkata "Bukan kok, lupain aja kejadian waktu itu".


"Ra? Gue tahu kok, lo ga usah bohong sama gue. Gue tahu kok kalo lo lagi nyembunyiin sesuatu dari gue" ujar Reza.


"Gue ga nyembunyiin apapun dari lo Za" sangkal Amara dengan susah payah menyembunyikan perasaannya.


"Ya ya... Terserah" ujar Reza


KRINGGG


Terdengar suara bel sekolah memecah kebisingan, menandakan jika telah memasuki jam pelajaran. Anak-anak yang tengah berada di luar pun bergegas masuk ke kelas.


Amara melihat sekitarnya dan mendapati kelas sudah penuh oleh siswa-siswi yang tengah duduk di bangku masing-masing.


Amara menyiapkan buku serta alat tulis, lalu ia letakkan di meja. Mengambil pensil lalu menggambar di kertas buku yang kosong. Sengaja Amara menggambar karena guru yang mengajar belum datang.


Lalu terdengar suara langkah kaki dari luar kelas yang terdengar seperti menuju ke arah kelas. Seketika siswa maupun siswi yang tengah mengobrol maupun bersenda gurau harus menghentikan aksi mereka dan duduk dengan tenang di bangku masing-masing.


Lalu terlihat seorang wanita paruh baya mengenakan seragam berdiri di depan kelas sembari diikuti oleh seorang perempuan berambut pendek dengan seragam sekolah lain.


"Ekhem, jadi saya membawa murid baru. Dia pindahan dari sekolah lain dikarenakan ikut ayahnya bekerja di sini. Baik, perkenalkan dirimu nak" suara lembut guru dengan menatap perempuan itu di akhir kalimatnya, seperti hendak mendorong perempuan itu untuk mengenalkan diri.


"Uhm, aku Brielle Putri Florien. Salam kenal" ucap gugup perempuan itu.


"Namanya kaya nama barat, lo bukan orang sini?" celetuk salah satu siswa yang duduk di bangku paling belakang.


"Aku orang sini kok, cuma ya orang tuaku ngasih namanya gitu. Oh ya, panggil aku Putri aja ya" kata gadis itu memperkenalkan diri. Setelah mengenalkan diri, ia pun disuruh duduk di salah satu bangku kosong yang berada di depan Reza. Gadis itu pun menuju ke arah bangku barunya.