
Benar kan kataku setelah ke kepoan Bu Rika, ada banyak cibiran cibiran yang datang menghampiri ku, mereka mencibir ku dengan sebutan perempuan mura*an, yang rela jual di*i sama laki-laki hidung belang di luaran sana padahal semua itu tidak benar.
Semakin hari aku semakin kepikiran dengan semua cibiran yang di lontarkan oleh mereka bahkan anak anak melempar ku dengan batu, sungguh aku tak kuat dengan semua ini, keadaan ku semakin hari semakin memburuk, aku terus mengurung diri di kamar dan tak pernah mau keluar rumah karena aku merasa malu jika aku keluar rumah.
Terkadang aku suka menangis sendiri di kamar meratapi apa yang telah terjadi padaku kenapa aku yang harus merasakan ini semua.? Aku salah apa selama ini.? Kenapa tuhan tidak adik padaku apa tuhan tidak menyayangi ku.?
Aku menangis sejadi jadinya di dalam kamar, aku tak tau lagi harus bagaimana aku sudah mencoba m*n*u*u*kan janin ku ini tapi dia sangat kuat dia tak mau aku Bu*uh, bahkan semakin aku berusaha maka semakin kuat saja dia, mentalku semakin terguncang aku semakin tak karuan.
Adikku Lisa dengan sabar merawat ku, sebenarnya aku tidak gila aku hanya setres saja memikirkan semua ini, tapi kenapa adikku memasung ku.? Apa karena aku selalu mengamuk.? Tapi aku mengamuk karena aku marah pada diriku sendiri, aku membenci diriku sendiri, aku tak mau hidup di dunia lagi.
Tak terasa kandungan ku sudah semakin besar sekarang usia nya sudah sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan, tinggal menghitung hari saja dan akan lahir seorang anak manis di dunia ini, aku berdoa semoga anak ini membalaskan semua amarah ku pada Dani dan orang orang yang telah membuatku hancur seperti ini.
Hari dimana aku melahirkan pun tiba, aku melahirkan seorang putri, aku menangis melihat putriku yang cantik, anak yang dulu aku selalu berusaha m*m*b*n*h nya sekarang telah lahir dengan paras yang sangat cantik.
"Mbak, aku beri nama anak mbak Amara sebutannya Amara." Ucap adikku dan aku semakin menjadi menangis
Aku melahirkan normal dengan keadaan tangan di ikat karena takut aku menyerang mereka mungkin, padahal aku tak akan menyerang mereka, akal ku masih ada tapi ntah kenapa setiap kali aku mengingat semuanya aku menjadi sering mengamuk dan menjerit setelah itu aku akan menangis dan tertawa.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan tak terasa anakku sudah dewasa saat itu Lisa meminta ijin padaku untuk menikah dengan seorang lelaki yang bernama Ilham, beruntung masih ada seorang lelaki yang mau menerima adikku apa adanya.
Padahal dia tau kalau aku Kaka nya seperti ini, tapi dengan ihklas dia menerima adikku dan membantu membiayai anakku aku sedih karena aku tidak bisa membalas kebaikan mereka.
Aku pernah mendengar anakku bertanya siapa wanita yang ada di dalam kamar, ya dia menanyakan aku ingin rasanya aku bilang kalau aku ini ibumu nak, tapi sayang aku tak bisa.
Sekarang putriku sudah besar dia yang membantu Lisa mengurus ku, setiap hari putriku akan bercerita apapun yang dia alami termasuk dia bercerita tentang rencana nya yang akan ke kota untuk bekerja, dan dia berjanji aku mencari dani dan membalaskan semua rasa sakit yang pernah ku derita.
Aku menangis saat mendengar perkataan putriku ini, aku tak bisa bayangkan kalau aku bertemu dengan lelaki brengsek itu, hari dimana Putri ku berangkat pun tiba dia berpamitan padaku saat akan pergi, sebenarnya berat rasanya melepaskan putri ku satu satunya aku takut dia kenapa Napa.
Sebelum dia pergi dia berpamitan padaku dan bilang kalau dia di kota bersama Ella temannya sewaktu SD, bahkan aku tak tau anakku berteman dengan siapapun tapi aku berharap anakku baik baik saja aku melepaskan kepergian nya dengan tangisan.
Rasanya sepi saat anakku pergi tak ada lagi yang bercerita tentang semua hal padaku, lisa sibuk dengan barang dagangannya, meskipun dia masih selalu menyempatkan mengajakku mengobrol tapi tetap saja hari-hari ku sepi tanpa putri ku.
Enam bulan berlalu putriku pulang dengan seorang lelaki, Amara bilang kalau lelaki itu adalah dani sontak saja aku mengamuk dan menjerit saat melihat wajahnya ingin sekali rasanya aku mencakar wajahnya dan menusuk nya dengan pisau tapi sayang kaki ku di pasung aku tak bisa berbuat apapun.
Setelah beberpa menit mereka mengobrol di depan dan ntah apa yang mereka obrolkan aku tak tau, Dani berpamitan pulang dan tak besoknya dia datang lagi dengan membawa satu ambulan lengkap dengan petugasnya.
Aku di bawa masuk ke dalam ambulan aku tak tau akan di bawa kemana, aku berontak aku tak mau pergi dari kampung ini, aku melirik ke arah warga yang melihatku dengan tatapan kasihan tapi aku tak peduli.
Sekitar satu jam perjalanan ternyata aku di bawa ke rumah sakit j**a, aku di rawat di sana dan sampai akhirnya aku di nyatakan sembuh namun masih mengonsumsi obat dari rumah sakit itu.
Aku di bawa ke sebuah rumah yang kata amara ini adalah rumah miliknya rumah yang sangat mewah dan di depan halamannya terparkir mobil berwarna biru, mungkin milik Amara aku tak tau pasti itu.
Sudah dua bulan aku berada di rumah ini rasanya sangat berbeda, adikku Lisa dan Ilham pun ikut serta tinggal di rumah milik Amara.
Dani sering mengunjungi ku di rumah ini, aku berjanji akan membalaskan dendamku padanya dan pada keluarganya aku tak akan pernah lupa dengan apa yang telah dia buat, aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan selama bertahun tahun lamanya.
Tok
Tok
Tok
"Bu, boleh aku masuk.?"
"Masuk lah nak."
"Bu apa ibu baik baik saja.? Maksudku apakah ibu merasakan sesuatu.?"
"Ibu baik baik saja nak, nak boleh ibu bertanya sesuatu padamu.?"
"Apa Bu.?"
"Apa Dani sudah memiliki seorang istri.? Jujur pada ibu nak, ibu baik baik saja."
"Tapi Bu.."
Aku menatapnya dan mengangguk akhirnya dia bercerita semua tentang Dani.
"Nak ibu ingin membalas kan dendam pada mereka."
"Apa bu.? Apa aku tidak salah dengar.?"
"Tidak nak, ibu sebenarnya dulu tidak gila tapi sayangnya semua orang bilang kalau ibu ini gila, ibu ingat betul semua yang terjadi pada ibu bahkan waktu Dani datang ke rumah rasanya ingin ibu cakar saja wajahnya."
"Tenang Bu, aku sudah membalaskan rasa sakit yang ibu derita."
"Kalau nanti Dani meminta mu untuk tinggal bersamanya iyakan saja sayang, dan bawa ibu serta paman dan bibimu ibu ingin melihat seperti apa keluarga nya."
"Baik Bu, sekarang ibu istirahat ya jangan lupa minum obat."
Aku sangat senang karena putriku mau membantu ku membalaskan dendam ku selama ini, dan dia bilang kalau dia sudah mulai membalaskan semuanya, tapi aku ingin melihat dengan mata kepala ku sendiri agar aku percaya.
Aku sangat menanti hari itu tiba, dan penantianku terbayarkan setelah aku dan semuanya pindah dari rumah milik Amara kali ini Dani meminta kami agar kami tidak pergi darinya dan tinggal bersamanya di rumah mewah milik dia.
Ternyata ini semua rencana amara agar dani memohon dan memelas agar kami pindah ke rumah nya, dan Amara pun mengiyakan, kamu semua pergi ke rumah itu dan ternyata rumah miliknya sangatlah besar seperti istana,.
Dan aku baru mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan ternyata dani memperkosa ku dulu karena ulah wanita jal*ng ini dia yang telah memaksa dani untuk menikahi nya karena dia sudah terlanjur hamil oleh lelaki lain jelas saja Dani tak mau karena dia juga ternyata sudah di jebak oleh nya, dasar wanita licin menggagalkan semuanya demi kepentingan pribadi.