AMARA

AMARA
Bab 71 Usaha Dinda



Akhirnya aku bisa masuk juga kedalam ruangan amar.


Cklek (suara pintu di buka)


"Hai Amar."


"Ya."


Dih cuek amat sih ni cowok. Tapi aku suka hahaha, gapapa kamu cuek sekarang nanti juga kamu bakalan jadi milikku seutuhnya.


"Mau apa kamu kemari?" Tanyanya.


"Ahh tidak, aku hanya ingin bertemu dengan mu. Dan ..."


"Apa?"


"Mari kita makan siang bersama."


"Tidak. Aku akan pulang, karena istriku selalu masak makanan yang enak untukku."


"Cuih. Aku tau pernikahan mu karena apa amar, kalian tidak saling mencintai jadi jangan bersikap seolah kamu menyukai wulan di depan ku."


"Betul sekali. Aku memang menyukai nya, aku pikir ia jelek dan biasa saja. Tapi ternyata ia cantik, di balik kesederhanaan nya tersimpan kecantikan yang luar biasa."


Huff si Amar munafik banget sih jadi orang. Aku mendekatinya dan mulai duduk di pangkuan nya, aku trus menggoda dia. Aku tidak peduli dengan siapa status dia yang jelas ku ingin membuatnya jatuh kedalam pelukan ku.


"Apa yang kau lakukan, cepat turun dari situ."


Aku tak mengindahkan perkataan nya, aku trus menggesek gesek antara punyaku dan punya dia.


"Kau akan menjadi milikku."


"Sadar. Aku ini suami dari saudara mu. Cepat turun dan hentikan aktivitas itu."


Namun, saat aku tengah menggoda amar tiba tiba saja pintu ruangannya terbuka, siapa yang datang?


"Ahh... Wulan. Cukup hentikan sekarang juga."


Cklek


"Astaga Amar."


Sontak kami menoleh ke arah suara itu, dengan cepat Amar mendorong ku sampai tersungkur.


Bugh


"Aduh ..." Aku mengernyit kesakitan, kurang ajar sekali dia mendorong ku sampai terjatuh seperti ini.


"Bro ... Untung lo dateng tepat waktu, kalau tidak ..."


"Dia siapa bro?" Tanya laki-laki itu lagi, lumayan tampan juga dia.


Aku bangkit dan berdiri, memandang lelaki yang tengah bertanya pada amar siapa aku, bukannya menjawab tapi ia malah mengusir ku keluar dari ruangannya.


"Keluar kamu sekarang juga, atau aku panggil kan satpam untuk menyeret mu keluar."


"Cepat keluar." Ucapnya lantang.


"Dengar ya sayang. Mau seberapa keras kamu menolak ku, aku tidak akan menyerah dan lihat saja nanti. Kamu pasti akan menjadi milikku seutuhnya."


"Keluar..."


Dengan perasaan kesal, aku pun keluar dari ruangannya, sambil aku melewati lelaki yang tadi aku menyentuh area miliknya. Yang sontak membuatnya kaget dan aku hanya tersenyum genit pada lelaki itu.


Karena aku sedang merasakan kesal, aku pun memutuskan untuk pergi ke sebuah club' malam untuk bersenang senang di sana.


Tak terasa aku kini sudah berada di club' itu dan langsung memesan wint untuk ku minum. Aku memikirkan langkah apa lagi yang akan aku lakukan setelah ini? Mungkin aku akan pergi ke rumahnya langsung agar bisa membuat si Wulan itu menjadi cemburu dan perkelahian pun akan muncul.


Saat aku tengah asyik minum, samar samar aku melihat Amar berada di salah satu kursi di ruangan ini, aku berjalan mendekati nya sambil membawa minuman ku tadi. Dan ternyata benar saja, ia ada di sini. Wahh ini bisa menjadi awal yang baik bagiku.


"Hai sayang." Ucapku menyapa nya, terlihat ia sangat kaget saat melihat ku ada di sana.


"Mau apa lagi kamu?"


Ia bangkit dan berlalu begitu saja. Tapi tidak dengan temannya. Namun, kali ini berbeda, bukan teman yang tadi saat aku lihat di kantor.


"Lebih baik denganku saja cantik, daripada dengan amar yang sudah memiliki istri." Ucapnya padaku.


"Berani bayar berapa kamu? Kalau dengan dia aku cinta tapi kalau denganmu ya harus bayar, masa mau gratisan."


"Berapapun yang kamu minta."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja."


"Baiklah. Berikan aku lima puluh juta untuk satu malam."


"Apa? Apa kamu masih p*aw*n? Setidaknya harus sebanding dengan harga. Tapi jika tiga hari harga segitu boleh juga."


"Ya sudah kalau tidak mau. Masih banyak yang menginginkan bermalam denganku." Aku pergi meninggalkan lelaki itu. Enak saja dia pingin harga murah tapi menikmati semuanya. Saat aku hendak melangkah tiba tiba ia memanggil ku lagi.


"Hei. Baiklah aku akan bayar sesuai permintaan mu. Tapi aku ingin kau melayaniku selama semalaman penuh tanpa berhenti. Sekarang berikan nomor rekening mu."


"Tambah dua puluh juta lagi maka aku akan melayani mu."


"Ya baiklah. Cepat berikan." Aku pun memberikan nomor rekening ku padanya, dan benar saja. Ia mengirimkan ku uang sebesar tujuh puluh juta. Setelah itu aku mengikuti nya pergi kesebuah hotel ternama di kota ini.


Tapi sebelum itu aku telah memesan sebuah pil yang akan membuatnya tertidur dan ia tidak akan tau kalau aku hanya melayaninya sebentar saja.


Ya aku memang sudah sering melakukan ini semua. Semenjak lulus sekolah aku sudah terjun ke dunia seperti ini, jadi tidak ada masalah saat aku menemui pria berhidung belang seperti orang ini.


Aku mulai melancarkan aksi ku, untuk membuat nya terlelap terlebih dahulu. Setelah itu aku baru memberikan pepayanan untuknya.


"Kemari Lah sayang. Jangan membuatku menyesal karena sudah membayar mu dengan sangat mahal."


"Mari kita minum terlebih dahulu agar lebih bersemangat." Kataku sambil menyodorkan segelas minuman beralkohol padanya.


"Habiskan." Sambung ku. Dengan tanpa basa basi ia langsung menghabiskan semuanya tanpa tersisa. Dan aku langsung melayani nya saat di tengah perjalanan tiba tiba ia tertidur. Dan inilah yang aku inginkan.


Keesokan harinya...


Aku pergi meninggalkan lelaki yang aku sendiri tidak tau siapa namanya. Aku meninggalkan nya sendiri di hotel itu, dan hari ini aku pulang ke rumah ibu lalu aku akan pergi ke rumah Amar. Tapi sebelum itu aku akan mencarinya lagi di kantor, siapa tau kali ini ia dengan senang hati menerima kedatangan ku.


Sesampainya di rumah, terlihat ibu sedang bersantai di halaman bersama Arkana. Tumben anak itu diam di luar, biasanya ia selalu di kamar saja.


"Pagi semua ..."


"Dari mana kamu ka?" Tanya Arkana.


"Bukan urusanmu."


"Ka. Apakah tadi malam kamu ke club' lagi? Ibu dan papa mencari mu di apartemen tapi kamu tidak ada di sana nak, dimana kamu tadi malam?"


Apa? Ibu mencari ku? Untuk apa ia mencari ku segala? Biasanya juga ia tidak peduli aku mau kemana aja kenapa kali ini ia menjadi seperti ini?


"Ya. Aku di club' tadi malam, kenapa?"


"Sudah lah nak. Hentikan jangan lakukan ini lagi, kasian ayah mu di alam sana. Semua dosa dosa mu di tanggung oleh ayahmu nak."


"Diam lah bu. Bukan kah ibu sendiri yang bilang kalau ayah juga seperti ini? Mungkin ini adalah karma untuknya tapi sayang, ia sudah mati duluan."


Plak


Arkana menamparku, berani sekali ia berbuat seperti ini pada kakaknya.


"Jaga ucapanmu ka. Ini semua bukan masalah karma, tapi masalah tebiat mu yang sangat jelek ini. Dan jangan sekali kali kamu membuat ibu kita terluka."


"Alah diam aja kamu anak kecil, tau apa kamu tantang ku ha? Bukan kah kamu juga tau, kalau ayah dan nene sama sama seorang h*perse*s bahkan dengan teganya ayah menghamili kedua adik kandung nya."


"Kataku jangan pernah membuat ibu terluka, atau aku akan menghamili mu sama seperti yang ayah lakukan." Ucap Arkana penuh dengan emosi.


Deg


Seketika aku terdiam mendengar perkataan arka. Tidak biasanya ia banyak mulut seperti ini, karena aku takut dengan ucapannya. Aku pun berlalu masuk untuk beristirahat dan mengemasi pakaian ku, aku akan keluar dari rumah ini dan tinggal di apartemen ku saja. Aku tidak ingin tinggal satu atap dengan orang orang sok suci seperti mereka semua, tapi kemana papa? Tumben sepagi ini ia sudah pergi? Biasanya juga suka siangan, karena ia seorang CEO dan pemilik perusahaan nya.