AMARA

AMARA
Bab 78 Usaha Pembuktian



"Trus sekarang apa yang bakalan lo lakuin?" Tanya Riki.


"Ntalah. Gue juga bingung, jujur gue ga mau kehilangan istri gue."


"Yeeee. Trus gimana? Mertua elo cuman ngasih waktu tiga hari."


"Itu juga gue tau. Bantu gue mikir napa."


"Kenapa lo ga minta bantuan orang tua lo aja sih?"


"Ga bisa, gue udah bilang dari awal sebelum pernikahan itu terjadi. Kalau apapun yang akan terjadi ga boleh ada satu orang pun yang ikut campur, karena saat itu gue mikir kalau istri gue bakalan ga betah kalau trus gue cuekin kaya gini."


"Atau gini aja kita cari tuh prempuan trus kita paksa dia biar ngaku apa tujuan nya deketin lo, gimana?"


"Tapi mau cari dimana?"


"Gampang soal itu mh, kita cari aja di club' malam toh dia kan sering ke sana."


"Ide bagus, sekarang kita ke caffe dulu ngopi mumet kepala ku ini."


Kami berdua memutuskan untuk pergi ke sebuah caffe terlebih dahulu, yang berada tak jauh dari rumah mertua ku.


Ting


Tiba tiba hp ku mendapatkan notifikasi pesan dari Wulan dengan cepat aku langsung membuka nya.


["Maafkan atas sikap ibu ya mas, aku tahu kamu tidak berselingkuh dengan mbak Dinda. Semoga usahamu untuk membuktikan semuanya terwujud."] Tanpa terasa aku tersenyum membaca pesan itu. Memang selama ini ia selalu mengirimkan pesan pesan romantis dan penyemangat untukku, tapi tak pernah ku hiraukan sekali pun tapi untuk saat ini rasanya pesan itu sangat berarti bagiku.


["Terimakasih."] Send. Balas ku singkat.


Di caffe...


Kami memilih kursi di pojokan karena kami berniat ingin mengistirahatkan kepala ku yang penuh ini.


"Mbak." Panggil Riki pada pelayan.


"Silahkan mas. Mau pesan apa?"


"Mau kopi signature satu, lo mau pesan apa?"


"Samakan aja. Males mikir gue."


"Oke itu aja mbak."


"Baik, silahkan di tunggu ya mas."


Kami kembali termenung dengan pikiran masing masing, aku memikirkan bagaimana caranya membuktikan semuanya pada mertua dan istriku ini, sungguh ini pertama kalinya aku bersikap seperti ini. Biasanya prempuan lah yang akan mengincar ku, tapi kali ini? Aku lah yang berusaha untuk mengambil hari keluarga dari istriku ini.


"Woi. Lihat ke belakang lo." Ucap Riki.


"Apaan sih? Males gue."


"Liat aja be*o."


Akhirnya aku pun terpaksa melirik ke arah belakang dan ternyata... Astaga itu kaget aku wanita itu ada di sini, terimakasih tuhan karena telah memudahkan jalanku untuk membuktikan semuanya.


"Ayok kita samperin dia."


"Tunggu, sabar dulu. Itu lihat dia pergi sama siapa?"


"Mana?"


"Itu. Cewek yang lagi duduk di kursi itu."


"Oh itu adiknya Wulan. Namanya Luna, tapi kenapa mereka bisa bersama?"


"Udah deh, ayok kita samperin tuh cewek." Aku bangkit dari duduk ku dan menghampiri Dinda, aku akan memintanya untuk berterus terang apa tujuan ia berbuat seperti ini pada rumah tanggaku dan Wulan.


Aku berjalan menuju arah tempat duduk mereka, dan tanpa permisi kami langsung ikut bergabung. Yang sontak membuat mereka kaget dengan kehadiran ku ini.


"Loh mas Amar. Kenapa mas ada di caffe? Apa tidak ke kantor? Trus apa mbak Wulan tau?" Luna memberikan pertanyaan bertubi-tubi padaku.


"Mas sedang bosan saja, tadi mas habis dari rumah ibu. Kamu kenapa tidak kuliah dan malah nyantai di caffe bersama dengan kupu kupu malam ini?" Tanya ku balik pada adik ipar ku ini.


"Maksudnya mas?"


"Lebih baik kamu pulang sayang, ibumu menunggu di rumah, apa perlu aku antarkan kamu ke rumah?" Ucap r6iki, huff dasar buaya darat sempat sempatnya menggoda ipar ku.


"Apaan sih. Mas siapa dia?"


"Dia asisten pribadi mas. Lebih baik kamu pulang bersama dia, mas ada urusan sebentar dengan Dinda. Oh ya Riki. Tolong lo anterin adik ipar gue, dan jangan macam macam sama dia."


"Beres bos. Ayok nona cantik ikut denganku."


"Tapi aku belum mau pulang mas. Lagian kuliah ku juga lagi libur aku bosan di rumah."


"Tenang saja, bawa kartu ATM ini dan pergunakan untuk membeli apapun yang kamu mau. Pin nya tanggal pernikahan mas dengan Kaka mu."


"Waw... So Sweet sekali bos ku ini."


"Diam lo."


"Baiklah aku akan pulang, tapi kita jalan jalan dulu ya om." Ucapnya pada Riki. Hahaha dia di panggil om.


"Hei anak manis. Jangan panggil aku om dong, aku bukan om om tau. Bahkan aku belum menikah, tapi kalau nona cantik ini mau menikah dengan ku boleh saja."


"Sudah sana cepat balik, dan lo telfon dulu yang tadi kita bicarakan suruh cepat."


"Oke. Aku pamit telfon sebentar. Nona manis tunggu om ganteng mu ini ya sayang."


"Ihh genit."


Sementara Riki menelfon aku trus melirik wanita itu. Bahkan untuk menyebut namanya saja aku enggan, aku benar benar kesal dengannya karena ulah nya rumah tangga ku berantakan. Tak lama kemudian riki masuk dengan beberpa orang di belakang nya, aku tau pasti orang orang itu adalah orang suruhan riki.


"Bos. Lapor sudah siap semua."


"Oke baiklah. Bawa prempuan itu dan ikuti mobil saya dari belakang." Ucapku menunjuk dinda.


"Loh. Kenapa aku? Aku salah apa Amar?"


"Cepat bawa dia. Kalau dia tidak mau maka seret dan paksa dia."


"Baik bos." Ucap mereka serempak. Lalu aku beralih memandang Luna yang terlibat kebingungan dengan semua kejadian ini.


"Luna sayang. Kamu pergilah jalan jalan dan belanja sesuka hatimu, mas pamit dulu ya."


"Tapi mas. Mas mau bawa ka dinda kemana? Boleh kah aku ikut mas? Karena aku juga ada sesuatu yang mau di bicarakan dengan mas."


"Benar kah? Jika seperti itu, ayok masuk ke mobil mas. Rik. Lo ga jadi temenin adik ipar gue, lo ikut ke rumah mertua sekarang."


"Baik pak bos." Ucap Riki dengan nada mengejek, ya kami memang seperti ini. Meskipun kami terlibat seperti bukan bos dan bawahan, tapi kami tau batasan batasannya.


Kami menuju parkiran dan bersiap melaju ke rumah ibu mertua, semoga saja mereka bisa percaya dengan semua ini. Aku mohon mudahkan lah rencana ku tuhan.


Sepanjang perjalanan luna menceritakan semuanya. Dari awal pernikahan sampai tadi ia di ajak ke caffe bersama Dinda. Karena berniat ingin menghasut adik ipar ku ini. Beruntunglah ia tidak terhasut oleh dinda, maka inilah alasannya ia ingin ikut bersama aku.


Karena ia berpikir bahwa aku bisa menjaga kaka nya. Menurut nya, istriku ini selalu membangga banggakan namaku di hadapan semua orang. Padahal semua yang di bicarakan oleh nya adalah kebalikan nya.


"Maafkan aku Wulan. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya."